INICIAR SESIÓNBagaimanapun, Reno sudah membuka jalan. Sayang sekali jika tidak Aryan manfaatkan. Jadi, selagi ada kesempatan, tak ada salahnya coba melancarkan secuil muslihat.“Kayaknya tetap perlu ada sentuhan fisik, tapi …”Aryan menghela napas pendek. Jeda singkat pun dibuat agar situasinya menjadi lebih dramatis.“Nggak mungkin, kan?” ujar Aryan sembari beranjak dari tempat duduknya.“Mau ke mana?” Freya refleks bertanya saat Aryan hendak melangkah pergi. Aryan tersenyum samar. Reaksi Freya benar-benar persis seperti yang ia harapkan.“Udah hampir tengah malam. Waktunya minum obat,” jawab Aryan apa adanya.Aryan tidak ingin buru-buru, sengaja menunggu apa lagi yang mungkin akan dikatakan Freya padanya.Kesabarannya pun berbuah manis. Aryan sungguh baru jalan dua langkah ketika suara lirih Freya menjelma lampu merah untuknya.“Nggak usah minum obat, Yan,” kata Freya seraya menatap punggung pria yang lantas menoleh ke arahnya itu.Aryan pura-pura tak mengerti maksud ucapan Freya. “Kenapa nggak
Setahu Freya, hanya ada dua hal yang bisa bikin Aryan tidur nyenyak. Pertama, tentu saja minum obat. Praktis, efektif, dan telah menjadi andalan Aryan selama bertahun-tahun.Misal Aryan enggan meminum obatnya, ada cara lain yang lebih menyenangkan. Katanya, hubungan seks yang luar biasa menggairahkan juga dapat membuat pria itu tidur lelap.“Yan, kalau malam itu kamu nggak minum obat, berarti kita …?”Di balik tutur kata yang lagi-lagi menggantung, Freya berharap Aryan segera menepis segala kekhawatirannya. Namun, pria itu malah tersenyum.“Bukannya aku udah pernah bilang, ya? Malam itu, aku bisa tidur nyenyak karena tidurnya sambil pelukan sama kamu.”Aryan yang kini duduk di sofa berbeda perlahan kembali memandang Freya yang tampak begitu gelisah. Tertunduk memeluk bantal segi empat, gantian perempuan itu yang menghindari adu tatap dengan lawan bicaranya.Senyuman Aryan mengembang seketika. Sorot matanya perlahan menjadi jauh lebih cerah. Binarnya lantas berubah jenaka ketika tawa k
Freya sangat bersyukur karena Aryan ternyata tidak merenggut mahkotanya. Meski kepalang bergairah, Aryan bersumpah tidak melakukan apa pun yang tak semestinya terhadap Freya.Malam itu, Aryan mengaku khawatir bukan main melihat Freya nekat menenggak anggur yang tersisa hingga tandas. Lebih cemas lagi saat Freya jadi hilang kesadaran setelahnya.Dalam kondisi panik, Aryan segera menghubungi dokter pribadinya. Namun, sebelum panggilannya diangkat, Freya yang kala itu masih dalam dekapan, mendadak bangun.Aryan cepat-cepat menekan tombol pengeras suara dan menaruh ponselnya di meja. Dia bertelepon dengan dokter sambil menuntun Freya agar duduk menyandar sofa.‘Selamat malam, Pak Aryan. Ada yang bisa saya bantu?’ ‘Dok, teman saya pingsan gara-gara kebanyakan minum. Ini dia barusan bangun, tapi sepertinya belum sepenuhnya sadar.’Aryan berujar sembari terus memperhatikan Freya yang memandangnya dengan tatapan kosong.‘Dia bukan orang yang biasa minum alkohol. Sekitar dua jam lalu juga sem
‘Freya, apa saya benar-benar boleh jadi yang pertama?’Memori Freya mendadak terlempar ke momen itu. Freya teringat ciuman memabukkan yang terjadi pada hari ketika dirinya bertekad membujuk Aryan menjadi selingkuhannya.Kala itu, di bawah pengaruh alkohol, Freya mengizinkan Aryan melakukan apa pun padanya. Namun, Aryan tetap kelihatan tidak yakin setelah Freya mengangguk tanpa ragu.Jadi, Freya sambar saja bibir Aryan duluan, memagutnya buru-buru, mumpung hasrat di dalam dirinya masih berkuasa.Aryan sempat terpaku, tetapi cuma sedetik. Menyambut persetujuan Freya, Aryan berbalik menekan bibir si perempuan lebih dalam, mengulang dan melanjutkan cumbuan panas yang sempat terjeda.Freya mencengkeram bahu Aryan saat ciuman mereka semakin intens dan basah. Sentuhan Aryan di pinggangnya terasa kian posesif, membuat Freya bergerak gelisah merapatkan tubuh mereka.Aryan menggeram rendah merasakan gesekan yang menggoda titik intimnya. Freya benar-benar sudah tidak terkendali dan Aryan dengan s
Aryan tertunduk mendengus senyum. Dia sungguh tak habis pikir dengan hadiah yang tadi disebut-sebut Reno.Pantas saja Reno percaya diri sekali mengatakan bahwa Aryan pasti bisa tidur nyenyak. Entah apa akal bulus sekretarisnya itu, Reno jelas telah melakukan sesuatu yang akhirnya membuat Freya ingin tidur bersama Aryan malam ini.“Kamu kenapa, sih? Senyum-senyum sendiri.”Senyuman Aryan melebar, lalu berkembang menjadi tawa tanpa suara. Senang sekali rasanya karena Freya akan menginap di apartemennya.Tingkah Aryan yang terkesan tak lazim bikin Freya menyesali keputusannya. “Aku ke tempatnya Kak Chika aja, deh. Kamu aneh banget, Yan. Aku takut,” ujarnya sambil menatap Aryan yang masih cekikikan sendiri.Aryan panik kecil, meski wajahnya tetap berseri-seri. “Maaf, aku cuma terlalu bahagia karena kita bakal tidur bareng,” katanya jujur.Mereka saat ini sudah ada di dalam lift menuju lantai 20. Tak lama lagi, keduanya akan tiba di lantai tempat unit apartemen Aryan berada.“Oh, jadi kam
Reno salah lagi. Tadi perkara makanan favorit Freya, sekarang perihal perasaan bosnya. Barangkali memang seharusnya dia tidak usah banyak bicara seperti biasanya saja.“Maaf, maksud saya …” Reno berupaya menutupi gugupnya. “Itu cuma seperti, bukan situasi sebenarnya, jadi …”“Bosmu nggak mungkin jatuh cinta sama saya,” kata Freya menyela.Senyuman yang sebelumnya memudar kembali merekah. “Lagian sebentar lagi urusan kami selesai. Dalam hitungan hari, saya dan dia akan kembali menjadi dua orang asing yang tidak perlu saling terlibat lagi.”Freya lanjut menikmati makanan penutupnya sambil tetap tersenyum. Di sisi lain, Reno terdiam menatap Freya yang tampak begitu yakin tidak akan berurusan dengan Aryan lagi.Padahal, baru-baru ini Reno mendengar perkataan yang bertolak belakang dengan keyakinan Freya itu.‘Penasaran sampai kapan saya main-main begini?’‘Nggak lama, kok. Harusnya cuma tinggal sebentar lagi.’‘Setelah ini berakhir, saya janji nggak akan main-main lagi.’“Bu Freya.”“Hm?”
Aryan tak bisa menghilangkan senyum kecil di bibirnya saat terbayang kelakuan Freya sebelum mengusirnya dari kamar beberapa saat lalu.“Sengaja banget menguji kesabaran pacarnya,” gumam Aryan sembari berjalan santai memasuki area bar atap hotel.Sekitar 10 menit lalu, tak lama setelah Aryan ditelep
Aryan mulanya tak tertarik dengan benefit yang ditawarkan Freya. Perihal citra perusahaan dan promosi produk bisnis, Harsa Group sudah tidak terlalu butuh dukungan eksternal. Meski begitu, tentu tak ada ruginya juga menerima penawaran Freya. Hanya saja, setelah menilai kualitas pekerjaan Freya dan
Chika tersenyum melihat rombongan pelanggan yang baru saja datang. Ada lebih dari 10 orang yang kehadirannya seketika menyedot perhatian karena berisik minta ampun.Dua orang tampak berbicara dengan seorang pramusaji, bertanya soal ketersediaan meja. Lainnya asyik mengobrol sendiri, sebagian sambil
Freya tersenyum menatap Juan yang berdiri di hadapannya dengan wajah tertekuk. Situasinya terasa familiar, seperti sudah pernah terjadi sebelumnya, tetapi Freya lupa-lupa ingat.“Kenapa aku nggak boleh ketemu Sara?”Juan bertanya dengan nada curiga. Melipat kedua tangan di depan dada, pria yang ber







