MasukNaya menundukkan kepalanya dalam-dalam. Perempuan itu sungguh tidak sanggup beradu pandang dengan Freya yang akhinya mengetahui kelakuan tak pantasnya selama ini.Malam ini, Naya mengakui semua perbuatannya. Naya jujur kepada Freya bahwa dirinya sudah lebih dari dua tahun menjalin hubungan terlarang dengan Juan.“Saya benar-benar minta maaf.”Entah sudah berapa kali Naya memohon maaf. Namun, reaksi Freya selalu sama, hanya diam seribu bahasa sambil terus menatap Naya datar tanpa ekspresi.“Saya tahu itu salah, tapi saya tetap melakukannya karena …”Suara Naya menjadi sangat lirih saat dirinya lanjut mengatakan, “... karena saya cinta Chef Juan.”Cinta? Freya muak luar biasa mendengar Naya mengucapkannya. Berani-beraninya berlindung di balik cinta saat melakukan sesuatu yang jelas-jelas salah dan menyakiti perasaan orang lain.Freya menghela napas panjang, mengusir rasa sesak yang sejak tadi menderanya.“Sepertinya saya juga harus minta maaf,” ucap Freya kepada perempuan yang masih tak
“Bu Freya baik-baik saja. Lukanya tidak parah. Sebelum dokter datang, Bu Freya bahkan sudah begitu terampil membersihkan dan mengobati sendiri luka lecetnya.”Aryan mendengar laporan Reno dengan perasaan campur aduk. Dia mengkhawatirkan Freya, inginnya langsung mengecek sendiri kondisi perempuan itu. Sayangnya, dia benar-benar harus menahan diri untuk sementara waktu.“Soal insiden yang menimpa Bu Freya, saya sudah minta untuk diselidiki. Tampaknya memang ada unsur kesengajaan dan hingga saat ini masih ditelusuri siapa dalangnya.”Aryan menarik napas panjang dan mengembuskannya kasar. Jika terbukti ada pihak yang sengaja coba mencelakai Freya, dia bertekad tidak akan memberi ampun.“Soal bodyguard, gimana reaksinya Freya? Dia ada protes, nggak?” tanya Aryan.Biarpun baru ketahuan siang ini, Jefri sebenarnya sudah mulai bertugas sejak kemarin. Jefri selalu ada di sekitar Freya, baik kala si perempuan makan siang di tepi pantai bersama Sara maupun saat malamnya panik pergi ke rumah sak
Tangan dan kaki Freya terluka. Cuma lecet ringan, tapi sakitnya lumayan bikin dia meringis kesakitan. Perihnya seketika bertambah saat dia membersihkan lukanya dengan antiseptik.“Bu Freya yakin tidak perlu ke klinik atau rumah sakit?”Freya melirik sekilas pria yang menolongnya tadi. “Nggak perlu. Luka kayak begini, nggak usah dibikin ribet,” ucapnya dingin.Biarpun sempat ada insiden tak menyenangkan, Freya tidak mengurungkan niatnya bersantai di taman kota. Setelah mampir minimarket untuk membeli antiseptik dan plester luka, di sinilah Freya sekarang. Duduk-duduk di bangku taman sembari mengobati lukanya sendiri.“Jangan lapor bosmu juga. Dia sedang sibuk mengurus banyak hal lain yang lebih penting. Jangan sampai fokusnya terbelah cuma gara-gara insiden kecil.”Freya sungguh tidak ingin menambah beban pikiran Aryan. Lagipula, dia juga tidak kenapa-kenapa berkat kesigapan pengawal pribadi bernama Jefri yang kini berdiri di belakangnya itu.Iya, ternyata Aryan sungguh menyewa jasa bo
Freya menoleh ke belakang karena penasaran dengan obrolan yang tertangkap indra pendengarannya. Gerakannya lambat, sebisa mungkin berharap tak ketahuan sengaja mencuri dengar.“Salahnya di mana? Si cewek, kan, baru gandengan sama yang lain setelah mereka putus. Nggak kayak dia yang jelas-jelas mesra-mesraan sama orang lain waktu mereka masih pacaran.”Freya mengangguk-angguk kecil. Dia setuju dengan omongan satu orang yang tampaknya berada di pihaknya itu.“Siapa tahu perempuan yang namanya Freya ini sebenarnya malah selingkuh duluan, tapi dia berlagak jadi korban biar dapat simpati dari orang-orang.”“Wah, iya juga, ya. Mereka sebenarnya sama-sama selingkuh, tapi Freya lebih licik. Dia membuat seolah-olah cuma Juan yang salah.”Freya berdecak tak suka. Tanpa sadar, suara decakannya ternyata lumayan keras hingga terdengar oleh gerombolan di belakangnya itu.Ketika mereka melihat ke arahnya, barulah Freya menyadari kecerobohannya. Dia kemudian berlagak sibuk mengamati sekitar hingga ak
“Kamu masih khawatir soal si Aryan?”Freya mengangguk tanpa berusaha mengelak sedikit pun. Chika menghentikan aktivitasnya sejenak. Melihat Freya yang sama sekali tidak berupaya menutupi rasa cemasnya, ia pun mengulum senyum.“Apa coba yang bikin kamu khawatir sampai sebegininya?” Chika kembali bertanya sambil lanjut berdandan. “Dia itu cuma pulang ke rumahnya, bukan pergi ke medan perang.”Duduk di ujung kasur kakaknya, Freya cuma diam memperhatikan Chika yang kini tengah memulas maskara pada bulu mata lentiknya.“Justru karena itu, Kak.”Setelah Chika beres dengan riasan mata, barulah Freya mulai buka suara. “Suasana rumah keluarganya Aryan mungkin setara medan perang, makanya aku khawatir.”Jawaban Freya membuat Chika tertawa. Dia paham kenapa Freya bisa berpikir seperti itu. Akan tetapi, lucu saja mendengar sang adik menyamakan ketegangan di rumah orang tua Aryan dengan medan perang.Sambil memilih-milih lipstik, Chika lalu berkata, “Bapaknya Aryan itu murni pebisnis, bukan pengu
Freya menyimak penjelasan dokter dengan seksama. Setiap kali ada yang terasa mengganjal atau tidak dimengerti, dia tak ragu menyela dan bertanya. Alih-alih orang terdekat pasien, Freya kini lebih mirip jurnalis kesehatan yang sedang melakukan liputan khusus. Dia begitu gigih meminta si dokter menerangkan semuanya secara mendetail dengan bahasa yang lebih mudah dipahami orang awam.Sesekali Freya juga berbicara dengan nada menjebak, seolah ingin mengetes kemampuan sang dokter. Benar-benar seperti saat dirinya reportase.“Jadi, intinya pasien nggak perlu rawat inap?” tanya Freya, masih dengan ekspresinya yang sangat serius.“Iya, Bu,” jawab dokter setelah diam-diam menarik napas. Lelah rasanya menghadapi tipe pendamping pasien seperti Freya.“Berdasarkan hasil observasi kami, pasien tidak perlu rawat inap. Cukup istirahat di rumah dan diberi obat sesuai yang diresepkan.”“Namun, jika ke depannya ada keluhan seperti nyeri atau sakit yang tak tertahankan, pasien bisa dibawa kembali ke ru







