LOGINCiuman Juan mulanya terasa ringan, cuma kecupan singkat yang membuat Freya terkesiap.Keduanya hanya diam saling memandang ketika Juan menaruh cangkir di meja. Pria itu lalu mencengkeram pinggang Freya dengan kedua tangan. Rasanya lebih posesif ketimbang pelukannya tadi, bahkan mungkin terlalu erat hingga membuat Freya meringis tak nyaman.Dalam satu gerakan cepat, Juan kemudian mengangkat tubuh Freya dan mendudukkannya di atas meja dapur.Juan ingin mencium Freya lagi. Namun, saat bibir mereka nyaris menyatu, Freya tiba-tiba memalingkan wajah. Gerakannya halus, tetapi jelas menolak.Terdiam sejenak, Juan lantas tersenyum tipis, mengira Freya hanya ingin menggodanya sedikit. Ia pun mencoba lagi, mendekat lebih cepat dan pasti.Akan tetapi, Freya lagi-lagi menghindar. Tak cuma melengos, perempuan itu juga menarik tubuhnya menjauh.Dua kali ditolak, pikiran Juan seketika dikuasai prasangka buruk. Rahangnya mengeras, emosinya tersulut. Marah rasanya membayangkan Freya tidak mau berciuman
Sebelumnya, Lucy nyaris sempurna di mata Aryan. Itulah mengapa dirinya sama sekali tidak keberatan dengan perjodohan mereka.Semenjak mau tak mau mesti mendedikasikan hidupnya untuk Harsa Group, prinsip Aryan sederhana saja. Selama itu menguntungkan untuk perusahaan, pada dasarnya apa pun bisa dia lakukan.Lucy Amara merupakan Direktur Komersial KalanaBusana. Sebagai cucu dari pemilik perusahaan retail yang bergerak di industri mode, Lucy tumbuh dengan insting bisnis yang tajam. Saat pertama berkenalan dua tahun lalu, Aryan sangat terkesan dengan keahlian Lucy membaca tren pasar. Obrolan seputar bisnis membuat keduanya cepat akrab. Setiap kali berjumpa dalam berbagai kesempatan, Aryan bahkan tidak jarang yang menyapa terlebih dahulu. Mereka pun berteman sebelum akhirnya menjadi partner ranjang setahun kemudian.Perihal mengejar kepuasan duniawi, Lucy rupanya juga tidak mengecewakan. Aryan menyukai Lucy yang penuh kejutan dan tak ragu mengeksplorasi lebih jauh. Lucy pun tidak rewel pe
Hening beberapa detik.Dunia seolah berhenti sejenak saat Freya mendengar Juan berucap sarkas padanya. Tidak ada mata yang berkilat marah, usapan lembut pun kembali Freya rasakan pada puncak kepalanya.Juan bahkan tersenyum padanya. Meski begitu, entah mengapa Freya refleks menahan nafas. Sikap baik pria itu justru membuatnya merasa terancam dan waswas.“Sayang …,” suara Freya sedikit bergetar. “Nggak usah ngomong aneh-aneh, deh. Maksudmu apa?”Jemari Juan turun perlahan menyentuh wajah Freya. Ibu jarinya lalu mengelus pelan pipi mulus Freya. “Maksudku—”“Hotel ini nggak berhantu, kan?” potong Freya seraya mengedarkan tatapan cemas ke sekitarnya. “Takut banget kalau ternyata beneran ada yang diem-diem nemenin aku di sini.”Chika yang sempat agak panik gara-gara mendengar ucapan Juan sebelumnya, segera menyadari bahwa Freya berusaha mengalihkan topik pembicaraan. “Nggak ada hantu di sini!” sergah Chika.“Hei, Juan! Bercandanya jangan sembarangan, dong. Ribet nanti urusannya kalau hote
Aryan tak bisa menghilangkan senyum kecil di bibirnya saat terbayang kelakuan Freya sebelum mengusirnya dari kamar beberapa saat lalu.“Sengaja banget menguji kesabaran pacarnya,” gumam Aryan sembari berjalan santai memasuki area bar atap hotel.Sekitar 10 menit lalu, tak lama setelah Aryan ditelepon Chika, Freya mendadak sibuk sendiri. Tahu Juan datang, Freya merasa harus segera menyiapkan beberapa bukti perselingkuhan.Begitulah. Alih-alih memastikan tidak ada hal mencurigakan, Freya malah sengaja meninggalkan jejak yang sekiranya gampang disadari Juan.Hal pertama yang dilakukan Freya adalah memulas bibirnya dengan lipstik. Tipis saja, sekadar cukup untuk membikin noda khas pada gelas minumannya.‘Dia tahu aku sama Kak Chika belakangan ini suka banget pakai lipstik yang nggak transferproof. Jadi, mestinya dia langsung curiga waktu lihat cuma satu gelas yang ada bekas lipstiknya begini.’Duduk di depan meja bartender, senyum tipis Aryan melebar saat melihat jas yang ia taruh sembara
Aryan mulanya tak tertarik dengan benefit yang ditawarkan Freya. Perihal citra perusahaan dan promosi produk bisnis, Harsa Group sudah tidak terlalu butuh dukungan eksternal. Meski begitu, tentu tak ada ruginya juga menerima penawaran Freya. Hanya saja, setelah menilai kualitas pekerjaan Freya dan timnya, Aryan jadi tertarik bekerja sama sungguhan. Tidak apa-apa mengeluarkan sedikit uang, terlebih jika itu membuatnya lebih mudah bertemu Freya.“Untuk kerja sama dengan jangka waktu enam bulan, plus nantinya mencakup beberapa brand sekaligus, angka segitu sebenarnya malah terbilang hemat.”Freya tahu, skala bisnis Harsa Group memang sangat besar. Meski begitu, bukankah tetap lebih baik tidak mengeluarkan uang sepeser pun?“Kerja sama ini mungkin juga akan berguna untuk mengantisipasi hal-hal yang tidak menguntungkan bagi perusahaan di kemudian hari.”Wajah Aryan tampak menjadi lebih serius, membuat Freya tanpa sadar ikut menunjukkan ekspresi serupa.“Apa yang kita lakukan sekarang, saya
“Saking gelisahnya, dia mungkin bakal datang ke sini.”Freya sejenak menatap langit-langit kamar tipe suite room tempatnya berduaan dengan Aryan. Matanya lalu terpejam, seiring helaan napas panjang yang terdengar berat di tengah keheningan.Duduk menyamping dengan menyandarkan tubuhnya pada punggung sofa juga, Aryan anteng memperhatikan Freya. Ia nyaris tak berkedip, memandangi Freya yang tampak mengatur napas sambil tetap memejamkan mata.Freya tentu sedang menenangkan dirinya sendiri. Namun, tanpa dia sadari, pria yang duduk di sisinya juga jadi merasa lebih tenang karenanya.“Teleponnya boleh aku angkat, nggak? Biar dia lebih cepet datang ke sini.”Mendengar apa yang dikatakan Aryan, Freya tersenyum tipis. Membuka matanya perlahan, ia lalu berucap, “Buru-buru banget, sih? Udah bosen, ya, jadi selingkuhan?”Aryan sontak mendengus tawa. Kekehannya pelan dan singkat, tetapi cukup menunjukkan betapa pria itu tergelitik dengan tutur kata Freya.“Benefit yang disepakati serbatanggung, ma
Setelah air madu semalam, teh jahe menjadi minuman pereda mabuk kedua yang disuguhkan Aryan untuk Freya pagi ini. Rasa pedasnya ringan, berpadu wangi aromatik yang mestinya bisa bantu menenangkan pikiran.Mual dan pusing kepalanya memang mereda, tetapi tidak dengan kesemrawutan dalam benak Freya. T
Juan sangat jarang marah. Freya bahkan sudah lupa kapan terakhir kali Juan memandangnya tanpa ekspresi begini.“Marah?” tanya Freya walau sudah tahu jawabannya.Duduk tegak sambil menyilangkan tangan, Juan mendengus pelan. Kentara sekali upayanya menahan emosi.“Maaf,” ucap Freya seraya meraih tang
Juan terpegun menatap layar ponselnya. Freya sungguh membuatnya tak habis pikir. Tidak biasanya kekasihnya itu bersikap dingin padanya.Freya memang sering tidak bisa dihubungi sebab pekerjaan. Ada masa di mana Freya berhari-hari menghilang dari jangkauan Juan. Hanya saja, sebelum benar-benar mengab
Orang yang mudah curiga dan menuduh pasangannya selingkuh biasanya justru dialah antagonisnya. Dia pikir semua orang seperti dirinya yang diam-diam punya selingkuhan.“Sara ini bukan akal-akalan kamu selingkuh sama cowok yang jauh lebih kaya dari aku, kan?”Jika belum tahu Juan selingkuh, Freya mun







