LOGINBiarpun pelan, Freya masih bisa mendengar apa yang dikatakan Lucy pada Juan. Dia juga dapat melihat dengan jelas sorot mata Juan yang kemudian berbinar kian cerah karenanya.
Begitu pula saat Juan tidak menanggapinya dengan kata-kata, melainkan sebuah ciuman yang tentu saja bersambut.
Freya menyaksikan pemandangan menyakitkan itu nyaris tanpa berkedip. Kamera ponselnya pun terus merekam setiap detik kemesraan Juan bersama perempuan yang lagi-lagi bukan dirinya.
Freya baru menurunkan tangannya setelah Juan mengajak Lucy kembali masuk ke apartemen. Bersandar pada tiang beton rubanah, perlahan ia mengatur napas, berusaha mengusir sesak yang mendera hatinya.
“Lain kali, jangan seperti ini lagi.”
Suara rendah Aryan menyadarkan Freya bahwa dirinya hampir lupa perihal pria lain yang saat ini bersamanya.
“Bukti yang kamu punya sudah cukup banyak, kan? Buat apa terus-menerus menyakiti diri sendiri dengan berulang kali memastikan perselingkuhan mereka begini?”
Freya menarik napas dalam-dalam, memejamkan mata sejenak sebelum beradu pandang dengan calon partner balas dendamnya.
“Apa yang kamu …”
Freya menggigit bibir bawahnya, mengambil jeda singkat untuk mengoreksi cara bicaranya.
“Apa yang Pak Aryan lakukan hingga membuat tunangan Pak Aryan tidak jadi pulang?”
Ditanya begitu, Aryan dengan santai menunjukkan layar ponselnya. Dia tanpa ragu mempersilakan Freya membaca riwayat obrolannya dengan Lucy.
[Sorry, ada urusan mendadak.]
Aryan tidak menyebutkan alasan spesifik. Tidak jelas urusan mendadak apa yang dimaksud. Namun, nyatanya itu sudah cukup untuk membuat Lucy senang lantaran dirinya bisa lanjut menghabiskan waktu di apartemen Juan.
“Kamu cuma ingin memastikan Lucy ada di apartemen ini atau tidak, kan? Sejujurnya saya sedang tidak mau bertemu dia malam ini. Jadi, setelah tahu bahwa …”
“Terima kasih atas waktu dan bantuannya malam ini,” potong Freya sambil menundukan kepala. “Selamat malam, Pak Aryan. Sampai bertemu kembali.”
Freya tidak hanya berpamitan kepada Aryan, melainkan juga Reno yang tampak baru saja keluar dari mobil milik bosnya. Cuma menunduk sedikit, kemudian berjalan meninggalkan dua pria yang lantas hanya saling lempar tatapan tanda tanya.
***
“Kamu kenapa, Sayang? Matamu, kok, sembap banget? Kayak habis nangis semalaman.”
Pertanyaan Juan berbuah senyum sendu di bibir Freya. Terlalu sulit untuk berlagak baik-baik saja, jadi sengaja Freya membiarkan Juan tahu betapa buruk kondisinya pagi ini.
“Ada masalah apa, Sayang?” Juan kembali bertanya setelah mendudukkan dirinya di ranjang empuk pacarnya.
“Soal kerjaan? Bosmu bikin gebrakan apa lagi emangnya?” imbuh Juan sambil memerhatikan Freya yang menyusul duduk di sampingnya.
Penampilan mereka sungguh bertolak belakang. Juan sudah rapi dengan setelan kasual, sedangkan Freya masih mengenakan kaus oblong lusuh dan celana kolor pendek sepaha yang hampir selalu jadi baju tidur andalannya.
“Semalam pas mau tidur, Kak Chika tiba-tiba ngirim utas viral yang katanya barusan banget bikin geger jagad dunia maya,” ungkap Freya setengah berdusta.
“Ternyata itu sedih banget, Sayang. Aku bacanya sambil nangis, terus jadi nggak bisa tidur juga karena kepikiran terus.”
Juan sebenarnya berharap Freya bergegas mandi agar mereka bisa segera sarapan bersama di restoran miliknya. Namun, mendengar curahan hati sang kekasih agaknya jauh lebih penting sekarang.
“Kok, bisa sampai segitunya, Sayang? Emangnya itu tentang apa?” tanya Juan sambil mengusap rambut Freya lembut.
Freya tersenyum simpul, matanya berkaca-kaca lagi. Di antara banyaknya hal manis yang membuat Freya sangat bersyukur memiliki Juan, ini adalah salah satu favoritnya.
Kapan pun Freya butuh, Juan selalu siap menjadi pendengar yang baik untuknya. Freya jatuh pada pesona Juan yang pandai mendengar tanpa menghakimi.
Bagi Freya, Juan sungguh merupakan pasangan idaman.
Oh, tentu saja itu sebelum Freya tahu bahwa Juan aslinya cuma penipu rendahan.
“H-7 nikah, calon suaminya ketahuan selingkuh. Laki-laki yang dia kira adalah obat dari trauma terbesarnya, ternyata pengkhianat juga.”
Freya menatap lurus Juan, berharap menemukan setitik gelisah di mata pria itu. Dia ingin Juan kelihatan tidak nyaman sedetik saja saat mendengar kata selingkuh terucap dari bibirnya.
“Cewek ini ngerasa putus asa karena lagi-lagi dipertemukan dengan cowok yang pada akhirnya menghancurkan hatinya.”
Namun, apa yang Freya harapkan dari pria yang diam-diam jago berbohong ini? Alih-alih terusik, Juan malah menunjukkan tatapan simpatik. Juan bersikap seolah langsung paham mengapa Freya bisa menangis semalaman gara-gara utas yang katanya viral tersebut.
“Sebelum sama calon suami berengseknya itu, dia ngaku pernah pacaran dua kali dan putusnya selalu karena yang cowok selingkuh.”
“Ironisnya, orang tua cewek ini ternyata juga cerai setelah bapaknya berkali-kali ketahuan main gila sama perempuan lain.”
Freya tidak mengarang cerita. Semalam, dirinya sungguh menangis karena membaca curhatan anonim yang dibagikan lewat akun menfess. Hanya saja, bukan semata efek berempati, melainkan juga akibat kewalahan dengan perih perasaannya sendiri usai kembali memergoki Juan bermesraan dengan Lucy.
“Sedih banget, kan? Dia nggak mau berakhir menderita seumur hidup kayak ibunya, tapi setiap kali jatuh cinta, entah kenapa dia selalu terjebak dalam hubungan menyakitkan.”
“Ketemunya sama tukang selingkuh lagi, tukang selingkuh lagi!” imbuh Freya seraya menatap marah Juan.
Aryan menambahkan madu pada segelas air hangat di meja dapur apartemennya. Senyumnya mengembang perlahan, terbayang tatapan memohon itu lagi—mata berkaca-kaca Freya yang nyaris membuatnya terhipnotis.'Mau jadi selingkuhanku?'Namun, begitu teringat dengan pertanyaan yang dilontarkan Freya tadi, mata yang berbinar seketika meredup. Begitu pula dengan senyuman yang lantas memudar dari bibir Aryan. "Perempuan menyedihkan," gumamnya seraya berdecak sinis.Mengabaikan sesak yang tidak diharapkan tiba-tiba menjalar di hatinya, Aryan pun membawa air madu bikinannya ke ruang tamu. Minuman pereda mabuk tersebut lantas ia berikan pada Freya yang duduk canggung di sofa."Terima kasih, Pak."Aryan menghela napas sebelum mendudukkan dirinya di samping Freya. Perempuan yang kini bahkan tak berani menatapnya itu sudah kembali bicara formal."Oh, udah sadar? Mabuknya nggak separah itu ternyata."Freya diam saja mendengar cibiran Aryan. Alih-alih membalas, dia anteng minum air madu yang dibuat Aryan
[Kenapa cuma sebulan?]Freya barusan selesai rapat saat notifikasi pesan masuk muncul di layar ponselnya. Satu alisnya terangkat begitu membaca pesan yang dikirim Aryan.“Cuma? Sebulan dia bilang ‘cuma’?” Freya heran.Lebih dari sejam lalu, tak lama sebelum dirinya dipanggil editor lain untuk segera masuk ruang rapat, Freya mengirim draf kesepakatan bersama perihal rencana perselingkuhan mereka.Selayak surat perjanjian kerja sama profesional, ada beberapa hal yang dijabarkan Freya. Perempuan itu menjelaskan semuanya dengan detail, mulai dari tujuan yang ingin dicapai, aturan main, hingga durasi hubungan terlarang mereka.Di antara berbagai hal yang Freya uraikan, siapa sangka Aryan cuma mempertanyakan lamanya perselingkuhan mereka nantinya. Padahal ada poin tawaran benefit yang menurut Freya lebih mungkin diprotes, tetapi Aryan malah menyorot perkara waktu.Sambil berjalan menuju mejanya kembali, Freya memikirkan jawaban terbaik untuk disampaikan. Namun, sebelum ia sempat mengetik ap
“Setelah tiga tahun nggak dekat sama siapa pun, datanglah serigala berbulu domba ini.”Freya sekali lagi meninggikan nada bicaranya. Juan pun merespons dengan memberi usapan pelan di lengan Freya, berusaha menenangkan tanpa mengetahui bahwa dialah yang paling bertanggung jawab atas gejolak emosi kekasihnya saat ini. “Si cewek awalnya skeptis, nggak tertarik cinta-cintaan lagi. Cuma katanya cowok sialan ini gigih banget bikin dia percaya kalau nggak semua laki-laki sejahat bapak dan mantan-mantannya.”“Bukan salah dia kalau akhirnya luluh juga. Selama pacaran sampai mantep tunangan, cowok ini juga katanya baik banget, bahkan disebut-sebut hampir nggak pernah mengecewakan dalam hal apa pun.”Freya menghela napas kasar. Dadanya sesak lagi, air mata juga sudah menggenang di pelupuknya kembali.“Semua sempurna banget rasanya, tapi siapa sangka H-7 nikah malah …”Kata-kata Freya terhenti lantaran Juan tiba-tiba memeluknya. “Nggak usah dilanjutin, Sayang,” tuturnya sambil mengelus lembut p
Biarpun pelan, Freya masih bisa mendengar apa yang dikatakan Lucy pada Juan. Dia juga dapat melihat dengan jelas sorot mata Juan yang kemudian berbinar kian cerah karenanya.Begitu pula saat Juan tidak menanggapinya dengan kata-kata, melainkan sebuah ciuman yang tentu saja bersambut. Freya menyaksikan pemandangan menyakitkan itu nyaris tanpa berkedip. Kamera ponselnya pun terus merekam setiap detik kemesraan Juan bersama perempuan yang lagi-lagi bukan dirinya.Freya baru menurunkan tangannya setelah Juan mengajak Lucy kembali masuk ke apartemen. Bersandar pada tiang beton rubanah, perlahan ia mengatur napas, berusaha mengusir sesak yang mendera hatinya.“Lain kali, jangan seperti ini lagi.”Suara rendah Aryan menyadarkan Freya bahwa dirinya hampir lupa perihal pria lain yang saat ini bersamanya. “Bukti yang kamu punya sudah cukup banyak, kan? Buat apa terus-menerus menyakiti diri sendiri dengan berulang kali memastikan perselingkuhan mereka begini?”Freya menarik napas dalam-dalam,
Semenjak tahu dirinya diselingkuhi, Freya jarang bisa tidur nyenyak. Setiap kali mendapat bukti baru perselingkuhan Juan dengan Lucy, perempuan itu selalu menutup harinya dengan sesenggukan di kamar. Dia juga sering mendadak terbangun karena mimpi buruk.Malam ini, mungkin Freya akan kembali berlinang air mata. Walau begitu, hal itu tak mengurungkan niatnya untuk mendatangi apartemen Aryan yang terbilang jauh dari tempat tinggalnya.Setelah sekian lama menahan diri, sekarang mungkin adalah waktu yang tepat untuk menangkap basah Juan dan selingkuhannya. Bukan sekedar memotret atau merekam kelakuan mereka dari kejauhan, kali ini Freya ingin langsung melabrak keduanya saja.Pikir Freya, biar saja dirinya semakin hancur setelah memergoki Juan dan Lucy. Rasanya itu jauh lebih baik ketimbang menangis sepanjang malam tanpa melakukan apa pun untuk membuktikan kecurigaannya.Freya menarik napas dalam-dalam di depan pintu lift yang barusan terbuka. Langkahnya mendadak terasa berat, seolah kakin
Aryan sungguh membuat Freya sadar betapa amatiran dirinya. Pria itu jelas hanya menggodanya dengan kecupan ringan di pipi, tetapi refleks Freya benar-benar merusak suasana.Jika nantinya sungguh menjadi pasangan selingkuh, mereka mungkin perlu melakukan yang lebih dari itu, kan? Freya bahkan sudah membikin skenario agar Juan melihatnya bermesraan dengan Aryan. Namun, rupanya masih terlalu sulit bagi Freya untuk abai terhadap sesuatu yang bertentangan dengan prinsipnya. Siapa pun yang melakukan hal serupa padanya, sebenarnya reaksi Freya hampir bisa dipastikan bakal sama.Lumrah saja kalau Freya refleks menampar Aryan hingga tunangan selingkuhan pacarnya tersebut meringis kesakitan. Bahkan jika memang diperlukan, Freya sangat bisa bertindak lebih dari itu.Untungnya, situasi yang lebih buruk tidak terjadi. Aryan memang sempat diam seribu bahasa saat Freya berulang kali mengucap kata maaf. Namun, Aryan lalu menanggapinya dengan mengatakan kalimat yang membuat Freya lumayan terkesan.“S







