LOGIN“Setelah tiga tahun nggak dekat sama siapa pun, datanglah serigala berbulu domba ini.”
Freya sekali lagi meninggikan nada bicaranya. Juan pun merespons dengan memberi usapan pelan di lengan Freya, berusaha menenangkan tanpa mengetahui bahwa dialah yang paling bertanggung jawab atas gejolak emosi kekasihnya saat ini.
“Si cewek awalnya skeptis, nggak tertarik cinta-cintaan lagi. Cuma katanya cowok sialan ini gigih banget bikin dia percaya kalau nggak semua laki-laki sejahat bapak dan mantan-mantannya.”
“Bukan salah dia kalau akhirnya luluh juga. Selama pacaran sampai mantep tunangan, cowok ini juga katanya baik banget, bahkan disebut-sebut hampir nggak pernah mengecewakan dalam hal apa pun.”
Freya menghela napas kasar. Dadanya sesak lagi, air mata juga sudah menggenang di pelupuknya kembali.
“Semua sempurna banget rasanya, tapi siapa sangka H-7 nikah malah …”
Kata-kata Freya terhenti lantaran Juan tiba-tiba memeluknya. “Nggak usah dilanjutin, Sayang,” tuturnya sambil mengelus lembut punggung Freya.
“Tapi kalau mau nangis, nggak apa-apa. Nangis aja, Sayang. Aku paham kenapa kamu bisa sesedih ini, jadi nggak apa-apa banget misalnya sekarang mau nangis lagi. Jangan ditahan, Sayang.”
Tangis Freya sungguh pecah setelahnya. Dalam pelukan Juan yang telah mengkhianatinya, Freya menangis sejadi-jadinya. Semakin erat rengkuhan Juan, air mata Freya pun mengalir kian deras.
***
Juan tersenyum saat menyajikan makanan untuk Freya yang sedang duduk bersandar di kursi restoran. Jemarinya terulur membelai rambut panjang Freya, lalu mengecup kening sang pacar.
“Lepas dulu masker matanya, Sayang. Nanti bisa lanjut maskeran lagi setelah makan.”
Juan kembali mendaratkan kecupan ringan, kali ini pada bibir pucat Freya yang belum dipulas lipstik.
“Kebiasaan banget cium-cium sembarangan. Kalau ada yang lihat, gimana?” gerutu Freya yang malas-malasan menegakkan duduknya.
“Memangnya kenapa kalau ada yang lihat? Apa salahnya cium-cium pacar sendiri?” balas Juan yang tak lantas beranjak dari tempatnya berdiri.
Freya mencebik melihat Juan mengulurkan telapak kanannya. Meski begitu, dia menurut saja ketika Juan tanpa kata menyuruhnya menaruh masker mata bekasnya di sana.
“Makasih, Chef,” ucap Freya dengan senyum manisnya. “Yuk, kita makan!”
Juan mengusak rambut Freya dengan satu tangannya yang menganggur. “Sebentar, ya, Sayang. Aku buang ini dulu, cuci tangan, terus baru makan sama kamu. Oke?”
Freya mengangguk kecil, lalu membiarkan Juan berjalan cepat meninggalkannya sejenak.
“Pacarku manis banget. Sayangnya selingkuh …,” gumam Freya dengan senyuman yang seketika sirna.
Tak lama kemudian, mereka pun makan bersama. Sudah sangat terlambat untuk disebut sarapan, tetapi juga belum waktunya santap siang. Meski begitu, kelezatan soto ayam kampung yang disajikan tetap sukses memanjakan lidah keduanya.
“Sotonya enak, kan?” tanya Juan sambil menikmati makanannya. “Lebih enak mana sama warung soto langgananmu itu?”
Freya tersenyum simpul. Bohong jika dia bilang tidak enak. Soal memasak, Juan nyatanya memang jago.
“Ini enak banget, sih. Kaldunya mantep, koyanya bikin nagih, ayamnya juga pas empuknya, tapi …” Freya sengaja menggantungkan kalimatnya.
“Tapi …?” Juan waswas bukan main, seolah reputasinya sebagai koki ternama sangat bergantung pada penilaian dangkal Freya.
“Soto Ayam Pak Warno tetep juaranya,” kata Freya yang kemudian tertawa pelan karena melihat wajah kecewa Juan.
Tertunduk lesu, Juan lirih berkata, “Padahal ini bahannya aku pilih yang terbaik semua, lho. Masaknya juga dengan sepenuh hati. Kok, bisa masih kalah sama bikinannya Pak Warno.”
‘Soalnya Pak Warno nggak selingkuh kayak kamu’, batin Freya.
“Pak Warno nggak pelit micin, Sayang. Beda sama punyamu yang umaminya premium,” tutur Freya seraya meraih tangan Juan.
Cemberutnya Juan hilang begitu Freya mengusap lembut tangannya. Diraihnya jemari sang kekasih untuk kemudian dikecup sambil tersenyum senang.
Selesai makan, Juan menemani Freya berdandan di ruangannya. Freya sebenarnya bisa saja melakukannya di dalam mobil, sekalian jalan menuju kantornya. Namun, Juan merasa tak perlu terlalu buru-buru begitu.
Kata Juan, masih ada banyak waktu sebelum rapat redaksi dimulai pukul satu. Dia juga masih ingin menghabiskan waktu bersama Freya sebelum nantinya sama-sama sibuk bekerja sampai malam.
“Sayang, semalam kamu masak apa, sih? Tumben banget jam segitu sibuk di dapur.”
Freya membuka obrolan sembari mengaplikasikan cushion ke wajahnya.
“Aku juga sempat dengar suara perempuan ngomong, ‘Masak apa kita malam ini?’ Itu kamu masaknya sambil nonton konten apaan, deh?”
Freya diam-diam kecewa setelah melirik Juan sekilas. Sama seperti dirinya yang bicara dengan nada santai, Juan kelihatan tenang-tenang saja, padahal Freya bermaksud menyindir.
“Jujur kaget tiba-tiba dengar suara perempuan pas kamu telepon semalam. Takut banget pacarku diam-diam selingkuh.”
Barulah ketika Freya mengucap kata selingkuh, Juan tampak mengernyit tak suka.
“Aku nggak selingkuh,” bantah Juan. Suaranya pelan, tetapi tegas.
‘Bohong!’ sanggah Freya dalam hati.
Kalau mau, Freya sangat bisa membuat situasinya memanas. Dia cuma perlu menyangsikan ucapan Juan untuk memulai perdebatan sengit dengan pria yang semalam jelas-jelas selingkuh itu.
Akan tetapi, rencana Freya bakal berantakan jika mereka bertengkar sekarang. Belum waktunya Freya meledak-ledak. Balas selingkuh dulu biar Juan tahu kalau bukan hanya dia yang bisa jadi pengkhianat.
“Iya, percaya.”
Freya enteng berujar tanpa drama. “Nggak mungkin kamu selingkuh,” katanya sambil memilih lipstik dalam tas makeup.
“Mustahil seorang Juan Raditya tega menyakiti pacar tercintanya ini.”
Namun, sialnya tidak ada yang benar-benar mustahil di dunia ini. Perselingkuhan Juan dan Lucy buktinya.
Freya sebenarnya tidak sesaklek itu. Perihal mesra-mesraan dengan Juan, Freya pada dasarnya malah sangat menyukainya.Freya bukan orang yang menghindari sentuhan fisik. Meski awalnya sempat canggung, Freya perlahan terbiasa menunjukkan kemesraan di depan umum. Dia bahkan bisa cemberut hanya karena Juan lupa menggandeng tangannya saat mereka jalan berdua.Mau bagaimanapun situasinya, Freya selalu senang dipeluk. Dia hampir tidak pernah menolak pelukan Juan. Dia juga suka lebih dulu memeluk Juan yang tentu saja bakal disambut senang hati oleh sang pacar.Ciuman pun Freya suka, mulai dari sekedar kecupan kupu-kupu hingga pertarungan lidah penuh gairah.Momen favoritnya adalah berciuman sambil saling merengkuh erat. Freya juga merasa sangat nyaman dan begitu dicintai setiap kali tidur berpelukan dengan Juan. Itulah mengapa Freya lumayan sering menginap di apartemen kekasihnya itu.Meski begitu, Freya tidak mau terjadi interaksi yang lebih intim. Mereka bisa berciuman hingga kehabisan napa
Ciuman Juan mulanya terasa ringan, cuma kecupan singkat yang membuat Freya terkesiap.Keduanya hanya diam saling memandang ketika Juan menaruh cangkir di meja. Pria itu lalu mencengkeram pinggang Freya dengan kedua tangan. Rasanya lebih posesif ketimbang pelukannya tadi, bahkan mungkin terlalu erat hingga membuat Freya meringis tak nyaman.Dalam satu gerakan cepat, Juan kemudian mengangkat tubuh Freya dan mendudukkannya di atas meja dapur.Juan ingin mencium Freya lagi. Namun, saat bibir mereka nyaris menyatu, Freya tiba-tiba memalingkan wajah. Gerakannya halus, tetapi jelas menolak.Terdiam sejenak, Juan lantas tersenyum tipis, mengira Freya hanya ingin menggodanya sedikit. Ia pun mencoba lagi, mendekat lebih cepat dan pasti.Akan tetapi, Freya lagi-lagi menghindar. Tak cuma melengos, perempuan itu juga menarik tubuhnya menjauh.Dua kali ditolak, pikiran Juan seketika dikuasai prasangka buruk. Rahangnya mengeras, emosinya tersulut. Marah rasanya membayangkan Freya tidak mau berciuman
Sebelumnya, Lucy nyaris sempurna di mata Aryan. Itulah mengapa dirinya sama sekali tidak keberatan dengan perjodohan mereka.Semenjak mau tak mau mesti mendedikasikan hidupnya untuk Harsa Group, prinsip Aryan sederhana saja. Selama itu menguntungkan untuk perusahaan, pada dasarnya apa pun bisa dia lakukan.Lucy Amara merupakan Direktur Komersial KalanaBusana. Sebagai cucu dari pemilik perusahaan retail yang bergerak di industri mode, Lucy tumbuh dengan insting bisnis yang tajam. Saat pertama berkenalan dua tahun lalu, Aryan sangat terkesan dengan keahlian Lucy membaca tren pasar. Obrolan seputar bisnis membuat keduanya cepat akrab. Setiap kali berjumpa dalam berbagai kesempatan, Aryan bahkan tidak jarang yang menyapa terlebih dahulu. Mereka pun berteman sebelum akhirnya menjadi partner ranjang setahun kemudian.Perihal mengejar kepuasan duniawi, Lucy rupanya juga tidak mengecewakan. Aryan menyukai Lucy yang penuh kejutan dan tak ragu mengeksplorasi lebih jauh. Lucy pun tidak rewel pe
Hening beberapa detik.Dunia seolah berhenti sejenak saat Freya mendengar Juan berucap sarkas padanya. Tidak ada mata yang berkilat marah, usapan lembut pun kembali Freya rasakan pada puncak kepalanya.Juan bahkan tersenyum padanya. Meski begitu, entah mengapa Freya refleks menahan nafas. Sikap baik pria itu justru membuatnya merasa terancam dan waswas.“Sayang …,” suara Freya sedikit bergetar. “Nggak usah ngomong aneh-aneh, deh. Maksudmu apa?”Jemari Juan turun perlahan menyentuh wajah Freya. Ibu jarinya lalu mengelus pelan pipi mulus Freya. “Maksudku—”“Hotel ini nggak berhantu, kan?” potong Freya seraya mengedarkan tatapan cemas ke sekitarnya. “Takut banget kalau ternyata beneran ada yang diem-diem nemenin aku di sini.”Chika yang sempat agak panik gara-gara mendengar ucapan Juan sebelumnya, segera menyadari bahwa Freya berusaha mengalihkan topik pembicaraan. “Nggak ada hantu di sini!” sergah Chika.“Hei, Juan! Bercandanya jangan sembarangan, dong. Ribet nanti urusannya kalau hote
Aryan tak bisa menghilangkan senyum kecil di bibirnya saat terbayang kelakuan Freya sebelum mengusirnya dari kamar beberapa saat lalu.“Sengaja banget menguji kesabaran pacarnya,” gumam Aryan sembari berjalan santai memasuki area bar atap hotel.Sekitar 10 menit lalu, tak lama setelah Aryan ditelepon Chika, Freya mendadak sibuk sendiri. Tahu Juan datang, Freya merasa harus segera menyiapkan beberapa bukti perselingkuhan.Begitulah. Alih-alih memastikan tidak ada hal mencurigakan, Freya malah sengaja meninggalkan jejak yang sekiranya gampang disadari Juan.Hal pertama yang dilakukan Freya adalah memulas bibirnya dengan lipstik. Tipis saja, sekadar cukup untuk membikin noda khas pada gelas minumannya.‘Dia tahu aku sama Kak Chika belakangan ini suka banget pakai lipstik yang nggak transferproof. Jadi, mestinya dia langsung curiga waktu lihat cuma satu gelas yang ada bekas lipstiknya begini.’Duduk di depan meja bartender, senyum tipis Aryan melebar saat melihat jas yang ia taruh sembara
Aryan mulanya tak tertarik dengan benefit yang ditawarkan Freya. Perihal citra perusahaan dan promosi produk bisnis, Harsa Group sudah tidak terlalu butuh dukungan eksternal. Meski begitu, tentu tak ada ruginya juga menerima penawaran Freya. Hanya saja, setelah menilai kualitas pekerjaan Freya dan timnya, Aryan jadi tertarik bekerja sama sungguhan. Tidak apa-apa mengeluarkan sedikit uang, terlebih jika itu membuatnya lebih mudah bertemu Freya.“Untuk kerja sama dengan jangka waktu enam bulan, plus nantinya mencakup beberapa brand sekaligus, angka segitu sebenarnya malah terbilang hemat.”Freya tahu, skala bisnis Harsa Group memang sangat besar. Meski begitu, bukankah tetap lebih baik tidak mengeluarkan uang sepeser pun?“Kerja sama ini mungkin juga akan berguna untuk mengantisipasi hal-hal yang tidak menguntungkan bagi perusahaan di kemudian hari.”Wajah Aryan tampak menjadi lebih serius, membuat Freya tanpa sadar ikut menunjukkan ekspresi serupa.“Apa yang kita lakukan sekarang, saya
Setelah air madu semalam, teh jahe menjadi minuman pereda mabuk kedua yang disuguhkan Aryan untuk Freya pagi ini. Rasa pedasnya ringan, berpadu wangi aromatik yang mestinya bisa bantu menenangkan pikiran.Mual dan pusing kepalanya memang mereda, tetapi tidak dengan kesemrawutan dalam benak Freya. T
Aryan sudah lupa kapan terakhir kali paginya terasa hangat dan menenangkan. Setelah sekian lama, barangkali inilah momen bangun tidur favoritnya.Jam dinding analog di kamar telah menunjukkan pukul tujuh lewat saat Aryan bangun terlebih dahulu. Sudah terlalu siang untuk memulai rutinitas pagi, tapi
Juan terpegun menatap layar ponselnya. Freya sungguh membuatnya tak habis pikir. Tidak biasanya kekasihnya itu bersikap dingin padanya.Freya memang sering tidak bisa dihubungi sebab pekerjaan. Ada masa di mana Freya berhari-hari menghilang dari jangkauan Juan. Hanya saja, sebelum benar-benar mengab
Juan sangat jarang marah. Freya bahkan sudah lupa kapan terakhir kali Juan memandangnya tanpa ekspresi begini.“Marah?” tanya Freya walau sudah tahu jawabannya.Duduk tegak sambil menyilangkan tangan, Juan mendengus pelan. Kentara sekali upayanya menahan emosi.“Maaf,” ucap Freya seraya meraih tang







