MasukEryas menyajikan secangkir cappucino hangat ke hadapan Eira, aroma kopi yang lembut berpadu dengan susu menguar pelan di udara. Di sampingnya, sepiring sandwich isi steak dengan tingkat kematangan rare telah tersusun rapi di atas piring porselen putih, uap daging masih mengepul.
"Silahkan dimakan, Eira. Kalau kurang, aku akan membuatnya lagi," ucap Eryas pelan, duduk dengan tenang di seberang meja. Suaranya tenang, namun ada gurat perhatian dalam nadanya. Eira haHelios tersenyum tipis, seolah telah menemukan potongan puzzle yang sejak tadi ia cari. Senyum itu bukan sekadar kepuasan biasa, melainkan senyum seorang predator yang akhirnya berhasil melihat arah mangsanya bergerak.'Bagus. Eryas adalah anak yang polos, penurut, dan penuh harapan. Dia akan sangat mudah diarahkan. Sementara Nomor 190, dia memang sedikit pembangkang. Namun, kewaspadaannya, insting alaminya untuk tidak percaya pada dunia, akan sangat berguna untuk organisasi ini,' batin Helios, matanya berkilat penuh perhitungan."Bayarannya, ya?" tanya Helios akhirnya, dengan nada lembut namun penuh jebakan. Ia menyunggingkan senyum tenang sebelum memberikan jawaban yang seolah menenangkan. "Tidak ada.""Bohong!" bentak Nomor 190 tiba-tiba, suaranya menggema di ruangan seolah menampar ketenangan palsu yang dibangun Helios. Anak itu mengepalkan tangannya, wajahnya memerah oleh amarah. "Pasti ada harga untuk ini semua! Tidak ada yang gratis di sini!"
Nomor 190 menoleh cepat ke belakang begitu mendengar suara Darius yang menyebut Eryas terluka. Matanya membelalak, seolah tersadar sesuatu. Pandangannya jatuh pada noda merah samar di punggung baju Eryas. Rasa bersalah seketika menggerogoti dadanya, membuat tenggorokannya tercekat."Ti- tidak, kak! Tidak sama sekali. Sepertinya ini karena luka sebelumnya yang aku dapatkan saat masih tinggal bersama orang tua—" ucap Eryas terbata, mencoba menutupi kebenaran.Sebelum kalimatnya selesai, Darius sudah menarik tubuh kecil itu dan memeluknya erat. Bahunya bergetar, air mata jatuh satu per satu, membasahi rambut Eryas."Eryas, jadi ayahmu juga sering memukulmu? Kau juga bernasib sama denganku? Betapa malangnya dirimu. Padahal kau masih sangat kecil." Suaranya pecah, penuh getir. Perlahan, dia melepas pelukan itu hanya untuk mengusap kepala bocah mungil tersebut dengan lembut, seakan berusaha menenangkan luka yang jauh lebih dalam dari sekadar goresan di kulit. "T
"Itu tidak benar!" ucap Eryas dengan lantang, suaranya terdengar serak namun penuh tekad setelah batuknya mereda. Napasnya masih tersengal, namun tatapan matanya begitu serius. "Aku yang mencetuskan ide itu secara tidak langsung saat kakak Nomor 190 memberi nampannya yang berisi emas. Lalu aku membagikan emas itu sama rata pada nampan yang—" Nomor 190 menggertakkan giginya dengan keras, wajahnya memerah karena kesal. Suara gemericik air sungai seakan tidak mampu menutupi ketegangan yang meledak di antara mereka. "Jangan dengarkan apa yang anak kecil ini katakan! Dia masih balita, belum mengerti apa yang dia katakan. Sayalah yang mencetuskan ide itu!" Nada suaranya tajam, penuh amarah bercampur kepanikan terselubung. "Tidak benar! Aku yang mencetuskan—" Eryas mencoba melawan, suaranya bergetar namun tidak ragu sedikit pun. "Cukup!" teriak mandor dengan suara membahana, membuat beberapa anak lain yang tadinya pura-pura tidak memperhatikan j
"Apa yang kau bicarakan, Nomor 190? Aku tidak mengerti!" ucap Darius, air matanya menetes, membasahi pipinya yang pucat. Bahunya bergetar hebat, seperti anak kecil yang baru saja kehilangan pegangan. Nomor 190 mencengkeram kerah bajunya dengan kasar. Urat-urat di tangan remajanya menegang, sementara tinjunya terkepal kuat di belakang kepala, siap menghantam. Tatapannya tajam, penuh amarah bercampur kebencian. "Kita buktikan apakah kau benar-benar anak Helios atau bukan." Suaranya datar, tetapi dingin menusuk, seakan menyalurkan niat mematikan ke udara. Darius memejamkan mata erat-erat, tubuhnya kaku. Ia bersiap menerima pukulan, detak jantungnya berpacu tak terkendali. Napasnya terputus-putus, seperti sedang menunggu eksekusi. Namun, sebelum tinju itu mendarat, sesosok kecil berdiri di hadapannya. Eryas. Tubuh mungilnya langsung menerima hantaman yang seharusnya untuk Darius. Bunyi pukulan itu nyaring, mengha
Di tepi sungai yang keruh, deru air yang menghantam bebatuan terdengar bercampur dengan suara serak para anak-anak yang sibuk menyaring pasir. Wajah mereka penuh keringat, tangan kecil mereka bergerak cepat seperti mesin yang dipaksa bekerja tanpa henti. Bau logam samar dari emas yang kadang muncul di saringan menambah beratnya suasana. Tidak ada yang berani berhenti, karena bayangan paman Helios dan orang-orangnya selalu mengintai dari kejauhan. Di tengah hiruk pikuk itu, Eryas melambai penuh semangat. "Kak Darius, ini kak Nomor 190!" serunya lantang, memperkenalkan kedua orang itu seakan mempertemukan dua sekutu penting. "Salam kenal Nomor 190, aku Darius!" ucap Darius sambil mengulurkan tangannya. Senyumnya ramah, matanya seolah berbinar penuh ketulusan. Nomor 190 menoleh. Tatapannya tajam, penuh pertimbangan. Jemarinya sempat kaku di udara, seolah enggan menerima. Baru setelah beberapa detik tegang, dia akhirnya meraih jabat tangan it
Darius berlutut, menundukkan kepala dengan penuh takzim. Tangan kanannya diletakkan di dada kirinya, seolah bersumpah setia. "Baik, yang mulia. Permintaan Anda adalah perintah untuk saya."Helios menatap anak itu dengan sorot mata penuh kebanggaan. Senyum tipis tersungging di bibirnya, samar namun menyimpan nuansa ambisi kelam. "Bagus, Darius! Kelak, kau akan menjadi pewarisku yang paling berbakat."Darius bangkit berdiri dengan sikap tegap, lalu berjalan mundur beberapa langkah sebelum berbalik. Langkahnya mantap, penuh wibawa meski usianya masih belia. Di balik tubuh kecil itu, tersimpan aura yang hampir menyerupai ayahnya sendiri. Sang penjaga segera menggiringnya menuju koridor gelap, berliku-liku menuruni tangga menuju penjara anak-anak.Udara di sana pengap, bau anyir besi berkarat dan keringat bercampur menjadi satu. Rantai-rantai beradu, menimbulkan bunyi yang menggema di sepanjang lorong."Silakan masuk," ucap penjaga dengan suara serak,







