LOGINUdara malam yang tenang hanya dipecah oleh suara napas dua insan yang kini berada dalam ruang yang sama—ditemani aroma lembut minyak aromaterapi yang menyelimuti seluruh ruangan. Cahaya lampu redup memantul di kulit Eira, menciptakan bayangan halus di sepanjang lekuk punggungnya yang dipijat perlahan oleh tangan Eryas. "Jadi, kita tidak perlu melakukan hal seperti itu untuk mendapatkan anak?" tanya Eira dengan polos, suaranya terdengar lembut namun menggantung di udara. Eryas tersenyum kecil, tetap fokus pada pijatannya. "Sebenarnya hal itu diperlukan untuk foreplay. Tapi rencanaku adalah membuatmu relaks. Otot tubuhmu terlihat tegang. Ditakutkan jika melakukan penetrasi akan merasa sakit." Ia menekan lembut punggung Eira, suaranya terdengar lebih dalam namun tetap menenangkan. "Yang penting sekarang, nikmati dulu pijatannya. Buat dirimu relaks dan katakan jika ada yang membuatmu tidak nyaman!" Eira hanya mengangguk pelan. Ia menutup matanya perlahan, menyerahkan diri pada kehang
Matahari sudah sepenuhnya tenggelam, meninggalkan langit dalam balutan gelap pekat. Lampu di kamar menyala redup, menyebarkan cahaya hangat yang memantul di dinding. Di atas ranjang, sepasang suami istri itu telah berbaring berdampingan. Eryas memiringkan tubuhnya, menghadap Eira. Tatapannya lembut, namun di balik ketenangan itu ada aura dominan yang samar—seolah ia mengamati, menilai setiap reaksi kecil yang muncul di wajah Eira. Eira, yang menyadari tatapan itu, menoleh perlahan. Sorot matanya bertemu dengan mata Eryas, dan dalam sekejap udara di antara mereka menjadi begitu sunyi. Detak jam dinding terdengar jelas, berdenting pelan seperti menghitung waktu yang melambat. Eryas mengulurkan tangan, jemarinya menyentuh pipi Eira dengan lembut. Suaranya pelan, nyaris seperti bisikan. “Sudah malam. Ayo tidur,” titahnya lembut. Eira menggeleng cepat. “Tidak mau! Aku belum bisa tidur. Aku masih penasaran.” Eryas mengangkat alis sedikit, suaranya tetap tenang. “Tentang apa? Tentang c
“Kau mau uang?” tanya Eryas dengan nada datar tapi matanya menyiratkan rasa ingin tahu yang dalam. Ia kemudian merogoh sakunya perlahan, mengeluarkan dompet kulit berwarna hitam yang tampak sudah sering dipakai. Gerakannya tenang, penuh perhitungan, seolah bahkan tindakan sekecil itu memiliki makna tersendiri. Dari sela lipatan dompet, Eryas menarik selembar uang berwarna ungu, halus dan masih kaku, lalu menyerahkannya kepada Eira. “Karena kau baru pertama kali memegang uang, aku akan mengawasimu. Sekarang, ayo kita ke kantin dan aku akan mengajarimu cara menggunakan uang.” Eira menerima uang itu dengan kedua tangan, memandangi kertas berwarna ungu itu seperti benda asing dari dunia lain. Mata peraknya menatapnya penuh kebingungan dan kekaguman sekaligus. “Kantin?” gumamnya pelan, seolah kata itu sendiri terdengar aneh di telinganya. Eryas bangkit dari kursinya, jas dokternya berayun ringan. Ia mengulurkan tangan ke arah Eira dengan sikap penuh wibawa tapi lembut. “Benar. Kita a
Di ruang pemeriksaan, Eira hanya duduk diam di atas ranjang pasien yang terasa dingin. Bau antiseptik menusuk hidungnya, membuat dada terasa sedikit sesak. Tubuhnya tegang ketika alat-alat medis mulai dipasang satu per satu di kulitnya—beberapa terasa dingin, sebagian lainnya menggelitik. Eira menoleh ke samping, matanya menangkap gelembung aneh yang perlahan membesar di lengannya. Cairan transparan di dalamnya beriak lembut, seperti hidup. Jantungnya berdetak lebih cepat. 'Apa ini normal? Kenapa rasanya seperti tubuhku sedang diperiksa sampai ke tulang?' pikirnya, menelan ludah gugup. Beberapa menit kemudian, suara pena dokter yang menari di atas kertas terdengar begitu jelas di telinganya. Ketika pemeriksaan selesai, dokter itu menutup berkas hasil dengan suara klik lembut, lalu menyerahkan selembar catatan ke tangan Eira. "Ini adalah hasil pemeriksaan dan masa suburmu. Silakan tunjukkan ke suamimu," ucap dokter Marisa dengan suara lembut namun tegas. Eira memandangi lembaran it
Ara masuk ke dalam rumah sakit dengan langkah ringan, sebelah tangannya membawa segelas es teh manis yang masih berembun dingin. Cairan kecokelatan itu bergoyang lembut setiap kali ia melangkah cepat di lantai rumah sakit yang mengilap. Udara di dalam terasa jauh lebih dingin dibanding di luar, membuat embun pada gelas plastik itu menetes perlahan di sepanjang jari Ara. Tatapannya berputar mencari Eira, hingga matanya menangkap sosok berambut silver terang yang berdiri kaku di tengah koridor. Eira terlihat mencolok—seperti potongan cahaya yang tersesat di antara lautan jas putih dan seragam perawat. Ara segera berlari menghampiri, langkahnya bergema pelan di lantai ubin. “Kak Eira, ada apa?” tanyanya cepat, nada suaranya sedikit terengah namun tetap ceria. Begitu mendekat, senyum Ara perlahan memudar. Ia menatap wajah Eira yang tampak pucat, matanya berair, dan bibirnya sedikit bergetar. Ada sesuatu yang tidak beres. Ara mengikuti arah pandang Eira. Matanya menajam, menyipit sedik
"Memangnya kenapa?" tanya Eira dengan ekspresi bingung. Tatapan matanya polos, seolah tidak paham kenapa Ara tiba-tiba berubah nada. "Lupakan saja! Yang terpenting sekarang, kita harus berjalan ke arah rumah sakit itu. Kau mau bertemu dengan suamimu, kan?" Ara menunjuk lurus ke depan, ke arah gedung tinggi berwarna putih keabu-abuan yang menjulang di kejauhan. Logo rumah sakit di atasnya berkilau terkena sinar matahari, tampak megah dan sedikit menakutkan bagi orang yang belum pernah ke sana. Dari tempat mereka berdiri, gedung itu terlihat tidak terlalu jauh—tapi cukup untuk membuat keringat mengalir jika harus berjalan kaki ke sana. Eira mengangguk cepat, matanya berbinar seperti anak kecil yang baru melihat taman hiburan. "Ayo!" serunya bersemangat, lalu berlari ke arah rumah sakit tanpa pikir panjang. Langkahnya ringan, namun penuh energi—seolah semua rasa lelah di perjalanan tadi menguap begitu saja. "Kak Eira! Aku bilang berjalan saja! Jangan berlari!" teriak Ara sambil berus
"Elanora. Dia." Evelyn tampak ragu. Pandangannya melayang kosong, bibirnya sedikit terbuka seolah sedang menggali ingatan yang sudah lama terkubur. "Kalau tidak salah, saya pernah mendengar nama itu," lanjutnya pelan. Ia kemudian menunduk, jari-jarinya saling bertaut, wajahnya tampak larut dalam
Eryas membuka pintu rumah dengan langkah tenang namun penuh kewaspadaan. Begitu masuk, matanya langsung tertuju pada televisi yang menyala. Pandangannya seketika mengeras saat layar menampilkan adegan ciuman dari sebuah drama romantis. Tanpa berkata sepatah kata pun, ia berjalan cepat ke arah mej
'Apa yang biasanya disukai manusia biasa dalam memakan daging mentah? Ugh... Apa ya? Harus alasan yang logis,' batin Eira. Kedua bola matanya bergerak gelisah, mencoba mencari celah alasan yang bisa menutupi kegemarannya terhadap cairan merah pekat itu.Namun sebelum ia bisa mengatur jaw
Eira menatap Eryas dengan sorot mata kesal. Namun, tubuhnya terlalu lelah untuk meluapkan protes. Akhirnya, dia memilih memejamkan mata, menyerah pada keheningan, dan membiarkan cairan manis dari dot botol susu mengalir perlahan ke dalam mulutnya.Eryas terkekeh pelan, nada suaranya terd







