INICIAR SESIÓNBeberapa menit sebelum pertarungan, Seorang pengamat berdiri di atas menara, tangannya menggenggam spyglass dengan erat hingga buku-buku jarinya memutih. “Yang Mulia Pangeran! Pasukan Aurenthia menyerbu dengan sangat banyak! Beberapa menit lagi mereka akan sampai dengan kuda mereka!” Suaranya terdengar tegang, nyaris pecah oleh tekanan situasi.
“Kuda, ya?” Aldren menunduk, memegangi dagunya sendiri, pikirannya bergerak cepat di tengah tekanan waktu yang semakin sempit. Wajahnya tetapKuda yang ditunggangi Aldren dan Alianne akhirnya melewati gerbang besar istana Obsidian. Besi hitam yang membentuk gerbang itu berderit pelan saat terbuka, seolah menyambut mereka kembali dengan keheningan yang khas. Di baliknya, istana berwarna gelap itu berdiri kokoh, tua, dingin, dan jauh dari kesan megah yang mencolok, namun justru memancarkan kewibawaan yang tidak mudah runtuh oleh waktu.Dinding-dinding batu hitamnya menyerap cahaya senja yang mulai meredup. Tidak ada kilauan mencolok seperti di Silverkeep, hanya bayangan yang dalam dan suasana yang sunyi.Aldren menarik tali kekang kudanya perlahan, menurunkan kecepatannya saat memasuki halaman istana. Langkah kuda itu menjadi lebih tenang, teratur, seolah memahami bahwa mereka telah kembali ke wilayah yang aman.Di depan, butiran putih mulai jatuh lebih lebat.Salju.Sementara Aldren mengarahkan kuda dengan fokus, Alianne justru tampak tenggelam dalam dunianya sendiri. Tangannya terangkat, menadah butiran salju yang jatuh s
Aldren hanya berdiri di tempatnya, menatap pertengkaran kecil antara adiknya dan istrinya dengan ekspresi datar yang cenderung malas. "Sudah! Sudah! Istana Obsidian dan istana Silverkeep memang diciptakan untuk dua tujuan berbeda. Keduanya bagus untuk kebutuhan yang berbeda."Nada suaranya tegas, namun tidak keras. Kalimatnya sederhana, tetapi cukup untuk memotong perdebatan yang mulai berlarut-larut."Maksudku begitu..." jawab Alianne yang masih diguncang Caelum.Suaranya sedikit terguncang mengikuti gerakan tubuhnya yang masih dipegang. Ia mencoba mempertahankan keseimbangan, meskipun kepalanya mulai terasa ringan.Caelum akhirnya melepaskan tubuh Alianne dengan kesal. Lepasan itu tidak sepenuhnya halus, membuat tubuh Alianne sedikit terhuyung ke belakang.Untuk sesaat, keseimbangannya hilang.Namun sebelum tubuhnya benar-benar jatuh, Aldren sudah lebih dulu bergerak. Tangannya terulur dengan sigap, menahan tubuh Alia
"Baiklah, untuk pilar teleportasi yang ini, mau diledakkan lebih dulu untuk mengetes efektivitasnya atau tidak?" tanya Alianne dengan penasaran.Matanya berbinar, bukan karena takut, melainkan karena rasa ingin tahu yang sulit dikendalikan. Baginya, ini bukan sekadar ancaman, tetapi juga sebuah mekanisme yang menarik untuk dipahami."Aku akan meledakkannya!" jawab Caelum tanpa ragu.Keputusan itu keluar begitu saja, tegas dan tanpa pertimbangan ulang. Ia melangkah maju, seolah sudah mempersiapkan diri untuk tindakan itu sejak awal.Tangannya merogoh sebuah kantong kecil yang tergantung di pinggangnya. Perlahan, ia mengeluarkan sebuah benda, bulatan logam kecil dengan sumbu yang menjuntai di bagian bawahnya. Permukaannya kusam, tetapi jelas dirancang untuk satu tujuan."Itu bom!" teriak Alianne, menunjuk benda tersebut.Nada suaranya berubah tajam, antara terkejut dan antusias. 'Akhirnya lihat langsung…!' batinnya bergetar, dipenuhi rasa penasaran yang semakin membesar."Kakak! Bawa Al
Aldren akhirnya bersuara."Tapi aku juga setuju dengan Caelum," sahut Aldren dengan santai. "Bentuknya seperti pilar, fungsinya bisa untuk teleportasi Ratu Seraphine dan pasukannya. Pilar teleportasi adalah nama yang cocok."Nada suaranya tenang, hampir terlalu tenang untuk situasi yang sarat misteri ini. Namun justru ketenangan itulah yang memberi bobot pada ucapannya. Ia tidak sekadar menyetujui, tetapi juga memperkuat legitimasi nama yang baru saja diputuskan.Caelum langsung bereaksi. Dada dibusungkannya dengan bangga, ekspresinya berubah penuh kemenangan."Benar, bukan? Pilihanku memang yang terbaik."Ada nada puas yang tidak disembunyikan sedikit pun. Seolah perdebatan barusan adalah kompetisi kecil yang berhasil ia menangkan.Di sisi lain, Alianne menatapnya dengan tatapan kesal. Alisnya berkerut, jelas tidak terima dengan keputusan yang terasa sepihak. Namun perlahan, ekspresinya melunak.Ia menunduk. Bahunya tur
Tatapannya Caelum beralih ke Alianne dengan dingin, penuh kekesalan yang belum sepenuhnya mereda."Sialan sekali anak ini melemparkan benda keras itu ke wajahku yang tampan!"Nada itu terdengar lebih personal daripada sebelumnya. Luka di dahinya seolah kembali berdenyut hanya karena mengingat kejadian itu.Alianne hanya terkekeh pelan, jelas tidak merasa bersalah sepenuhnya. "Maaf..."Permintaan maaf itu terdengar ringan, hampir seperti formalitas. Ia bahkan tidak benar-benar mengalihkan pandangannya dari titik tak terlihat di depan mereka.Caelum mengusap keningnya sendiri yang masih menyisakan bekas luka. "Untung saja lukanya tidak terlalu parah karena yang dilempar hanya serpihan kecil. Tapi tetap saja!"Nada suaranya meninggi di akhir kalimat, menunjukkan bahwa ia masih menyimpan kesal yang cukup besar.Aldren yang sejak tadi memperhatikan akhirnya melangkah lebih dekat. Tanpa banyak bicara, ia mengangkat tangannya d
"Bisa dibilang... Ini pertama kalinya aku melihat salju," jawab Alianne.Suaranya terdengar jujur, tanpa dibuat-buat. Ia kembali menengadah, membiarkan beberapa butiran salju jatuh ke wajahnya. Rasa dingin itu membuatnya sedikit meringis, tetapi juga tersenyum di saat yang sama.Aldren menunduk, memperhatikan ekspresi itu dengan lebih saksama. "Apa di dunia asalmu, kau tinggal di tempat yang tandus dan tidak ada salju?"Ada rasa penasaran yang terselip di balik pertanyaannya, namun juga kehati-hatian. Ia masih berusaha memahami dunia yang begitu asing baginya.Alianne menggeleng pelan. "Tidak di gurun pasir juga. Tepatnya aku tinggal di negara iklim tropis. Jadi tidak ada salju di sana."Jawaban itu sederhana, tetapi cukup untuk menjelaskan kekaguman yang terpancar di wajahnya. Baginya, ini bukan sekadar fenomena alam, melainkan sesuatu yang selama ini hanya bisa dibayangkan.Aldren tersenyum lembut. "Besok pasti jalanan akan dip
Setelah sekitar satu jam perjalanan tanpa henti, kecepatan pasukan mulai melambat. Pepohonan yang rapat perlahan berganti dengan hamparan lahan terbuka. Di kejauhan, terlihat deretan rumah sederhana dengan atap jerami dan dinding kayu.Sebuah desa kecil. Terlalu tenang jika dibandingkan
Derap kaki kuda terdengar semakin jelas, memecah kesunyian hutan yang sejak tadi dipenuhi ketegangan. Sekelompok prajurit muncul dari kejauhan, masing-masing membawa dua ekor kuda di sisi kanan dan kiri mereka. Pelana-pelana tambahan itu bergoyang mengikuti langkah cepat, menandakan mereka datang
Caelum menunduk dalam diam, menatap kedua tangannya seolah-olah itu bukan miliknya sendiri. Jari-jarinya bergetar halus, sementara bayangan dari mimpi itu kembali menghantui benaknya dengan kejam. Dalam ingatannya, kedua tangannya dipenuhi darah pekat, hangat, dan tak terhapuskan. Darah itu bukan m
Setetes air mata kembali jatuh, membasahi pipi Alianne tanpa bisa ia tahan. Seolah bendungan yang selama ini ia bangun runtuh begitu saja.Aldren tidak mengatakan apa pun pada awalnya. Ia hanya mengangkat tangannya perlahan, lalu dengan sangat hati-hati menghapus air mata yang terus meng







