LOGINDerap kaki kuda terdengar semakin jelas, memecah kesunyian hutan yang sejak tadi dipenuhi ketegangan. Sekelompok prajurit muncul dari kejauhan, masing-masing membawa dua ekor kuda di sisi kanan dan kiri mereka. Pelana-pelana tambahan itu bergoyang mengikuti langkah cepat, menandakan mereka datang bukan hanya untuk mencari, tetapi untuk mengevakuasi.Di barisan terdepan, dua sosok bangsawan memimpin dengan wibawa yang tak tergoyahkan: Count Edward Arcelmont dan Marquess Theodosius Redmond. Tatapan mereka tajam, menyapu keadaan sekitar dengan penuh kewaspadaan, seolah ancaman bisa muncul kapan saja dari balik pepohonan."Bantuan sudah datang!" ucap Hery, melambaikan tangannya yang terluka akibat terkena serangan panah.Gerakannya terlihat dipaksakan. Darah yang mengering di lengannya memperlihatkan betapa berat situasi yang baru saja mereka lalui. Namun suaranya tetap lantang, seakan menolak menunjukkan kelemahan di hadapan bala bantuan.Sebuah kere
Caelum menunduk dalam diam, menatap kedua tangannya seolah-olah itu bukan miliknya sendiri. Jari-jarinya bergetar halus, sementara bayangan dari mimpi itu kembali menghantui benaknya dengan kejam. Dalam ingatannya, kedua tangannya dipenuhi darah pekat, hangat, dan tak terhapuskan. Darah itu bukan milik musuh… melainkan milik kakaknya sendiri.Napasnya tercekat. Dada Caelum terasa sesak, seolah ada beban tak kasatmata yang menekan tanpa ampun. 'Apakah ini takdir yang tak bisa kuubah…?' pikirnya, getir. Kilasan wajah kakaknya yang roboh kembali muncul, membuat jemarinya mengepal semakin erat hingga buku-bukunya memutih."Kalian semua..." Caelum mengepalkan kedua tangannya dengan erat. "Pasti sangat menderita karena keputusanku."Suasana di sekitar mereka seketika terasa lebih dingin. Aliran sungai di dekat mereka terdengar semakin jelas, seakan mempertegas kesunyian yang menggantung di antara ketiganya. Magnus memperhatikan Caelum tanpa berkedip, tatapannya tajam dan sarat penilaian, se
Setetes air mata kembali jatuh, membasahi pipi Alianne tanpa bisa ia tahan. Seolah bendungan yang selama ini ia bangun runtuh begitu saja.Aldren tidak mengatakan apa pun pada awalnya. Ia hanya mengangkat tangannya perlahan, lalu dengan sangat hati-hati menghapus air mata yang terus mengalir di wajah Alianne. Sentuhannya ringan, nyaris tak terasa. Namun justru itu yang membuat pertahanan Alianne semakin goyah."Meskipun suatu hari kau kembali ke tubuh asalmu dan aku memiliki kesempatan untuk menyentuhnya, aku tetap tidak akan menyentuhnya dengan tujuan melukai."Nada suaranya rendah. Stabil. Tidak tergesa-gesa. Seolah setiap kata telah ia timbang dengan sangat matang.Tanpa memberi ruang bagi Alianne untuk menjauh, Aldren memutar tubuhnya perlahan hingga kini mereka saling berhadapan. Gerakannya tenang, tetapi pasti, tidak memaksa, namun juga tidak memberi celah untuk menolak.Lalu ia menarik Alianne ke dalam pelukannya. Dekapan itu hanga
'Kenapa dia selalu memanggil menggunakan nama asliku?' batin Alianne, alisnya sedikit berkerut meski tangannya tetap bekerja. 'Dia memang mengatakan lebih suka jiwaku daripada tubuhku. Tapi... itu hanya gombalan semata saja! Fix!'Ia menghela napas pelan, memaksa pikirannya kembali ke situasi yang jauh lebih mendesak. Luka. Darah. Dan waktu yang tidak bisa disia-siakan.Tanpa ragu, Alianne kembali fokus pada lengan kiri Aldren. Dengan gerakan cepat namun tetap terukur, ia mulai membalut luka itu menggunakan kain basah yang telah ia siapkan sebelumnya. Kain itu dililitkan dengan tekanan yang pas, cukup kuat untuk menahan aliran darah, tetapi tidak sampai membuat sirkulasi terhambat.Setiap lilitan terasa krusial. Setiap simpul harus tepat."Jangan dilepas sebelum darahnya benar-benar berhenti!" titah Alianne tegas, nyaris seperti perintah yang tidak boleh ditawar.Namun respons yang ia terima justru bertolak belakang. Aldren hanya tersenyu
Alianne kembali memusatkan seluruh perhatiannya pada Aldren. Tanpa ragu, tangannya bergerak cepat membuka satu per satu kancing pakaian pria itu. Setiap bunyi kecil dari kancing yang terlepas terasa begitu jelas di tengah suasana yang tegang. Begitu semuanya terbuka, ia menarik pakaian itu hingga tersingkap sepenuhnya.Namun, di baliknya, masih ada lapisan jirah besi yang menutupi bagian vital.'Sepertinya bagian ini aman,' batin Alianne, matanya menyapu permukaan logam itu dengan cermat. 'Tapi tetap saja. Ini jirah besi! Jika dibiarkan dan ternyata di dalamnya ada luka, luka sekecil apapun akan bergesekan dengan besi dan semakin bertambah parah.'Rahangnya mengeras. Ia tidak punya pilihan selain memastikan."Aldren!" Alianne menatap suaminya dengan sorot mata serius, nyaris menekan. "Jirah besinya boleh ikut dibuka saja untuk sementara? Nanti jika ternyata tidak ada luka sama sekali di dalam, kau boleh memakainya lagi. Aku tahu itu untuk melindun
"Tapi—""Tapi apa?" Suara Alianne memotong ucapan Aldren dengan keras. Nada suaranya tajam, tidak memberi ruang untuk bantahan. Ia bahkan tidak menunggu Aldren menyelesaikan kalimatnya. Dengan gerakan cepat, Alianne menunjuk ke arah lengan kiri Aldren."Lihat ini! Ini masih menancap di sini! Jika kau memaksakan diri untuk menggendong orang lain, ada kemungkinan orang tersebut malah ikut tertusuk panah ini dan membuat luka orang itu semakin parah!"Anak panah itu masih tertancap dalam. Ujungnya berlumuran darah, sebagian sudah mengering, sebagian lagi masih merembes perlahan. Setiap gerakan kecil dari Aldren membuat luka itu sedikit bergeser, cukup untuk memperparah kondisi tanpa ia sadari.Aldren terdiam. Matanya menatap luka itu sejenak."Masuk, akal. Baiklah. Aku akan membersihkan lukaku dulu," ucap Aldren akhirnya. Nada suaranya lebih rendah dan lebih tenang. Namun ada sedikit keengganan yang masih tersisa.Ia berjalan ke arah







