LOGINAldren bergerak tanpa tergesa, seolah apa yang ia lakukan hanyalah hal sepele. Tangannya yang dingin meraih borgol besi di pergelangan tangan tahanan yang telah mengaku, lalu membukanya dengan bunyi klik yang nyaring di tengah kesunyian penjara.
Para tahanan lain langsung menoleh serempak. Mata mereka membelalak, tidak percaya dengan apa yang baru saja terjadi. Di tempat seperti ini, kebebasan sekecil apa pun adalah sesuatu yang mustahil. Namun kini, salah satu dari mereka justru dilRoda kereta kuda yang melaju di jalan berbatu tiba-tiba menghantam sebuah batu besar yang tidak terlihat di bawah bayangan malam. Benturan itu cukup keras hingga membuat seluruh badan kereta terguncang tajam, suara kayu berderit terdengar jelas di dalam ruang sempit tersebut.Alianne yang tidak siap langsung terhempas dari posisi duduknya. Tubuhnya terdorong ke depan, kehilangan keseimbangan dalam sekejap. Jantungnya seakan terhenti sesaat saat ia merasa tubuhnya akan jatuh tanpa penopang.Namun sebelum itu terjadi, sebuah lengan dengan sigap menahannya.Aldren.Tanpa ragu, ia menarik tubuh Alianne ke arahnya, menjadikan dirinya sebagai penopang yang kokoh. Satu tangannya menahan bahu Alianne, sementara yang lain menjaga agar tubuhnya tidak kehilangan keseimbangan sepenuhnya. Gerakannya cepat, refleks, seolah itu sudah menjadi kebiasaan yang terlatih.Alianne terdiam.Jarak di antara mereka kini terlalu dekat. Ia bisa merasakan kehangatan tubuh Aldren, bahkan detak jantungnya sendiri
"Baik, Yang Mulia!" Para pengawal di sekitar gerbang langsung mengangguk serempak. Tanpa ragu, mereka bergerak maju, tangan-tangan kuat mereka mencengkeram lengan dan bahu Leon. Tidak ada lagi penghormatan yang tersisa dalam gerakan itu. Tidak ada lagi jarak antara seorang bangsawan dan bawahan. Mereka menarik tubuh Leon dengan kasar, menyeretnya menjauh dari tempat yang selama ini ia kuasai. "Tunggu! Ini tidak benar! Aku adalah pemilik kediaman yang asli! Aku adalah duke yang asli!" Suara Leon menggema, penuh amarah dan keputusasaan yang mulai bercampur menjadi satu. Ia berusaha memberontak, tubuhnya menegang, namun kekuatannya tidak sebanding dengan para pengawal yang menahannya. Namun pengawal tidak peduli. Wajah mereka datar, langkah mereka tidak terhenti. Mereka terus menyeret Leon, membawanya keluar dari kediamannya sendiri, melewati gerbang yang kini terasa seperti batas antara kekuasaan dan kehinaan. Kerumunan rakyat yang menyaksikan pemandangan itu langsung meledak
"Yang Mulia Duke telah menyerang barak militer, menyerang pasukan kami, bahkan menyerangku dan ayahku juga. Kemudian, barulah dia menculik para tabib." Suara itu keluar dengan tegas, meski masih tersisa getaran emosi yang belum sepenuhnya stabil. Orang-orang yang dibawa oleh Thalira berdiri dengan canggung, namun keberanian mereka perlahan tumbuh di bawah sorotan semua mata yang kini tertuju pada mereka. "Itu benar!" ucap salah seorang tabib, suaranya gemetar ketakutan. "Kami semua diikat dan diseret paksa. Kami tidak bisa melawan sama sekali." Ia menunduk, tangannya saling menggenggam erat seolah mencoba menahan ingatan yang masih segar di benaknya. "Kami sangat ketakutan... Saat itu hanya sedikit pasukan yang berjaga di barak militer. Kami sama sekali tidak bisa membela diri." Setiap kata yang mereka ucapkan menambah beban yang menekan Leon. Tuduhan demi tuduhan kini bukan lagi sekadar dugaan, melainkan rangkaian kesaksian yang saling menguatkan. Suasana berubah drastis.
"Jawabannya sudah jelas!" Suara itu memotong ketegangan yang menggantung, tajam namun tetap terkontrol. Elyana melangkah maju dari barisan belakang dengan gerakan anggun yang kontras dengan kekacauan di sekitarnya. Setiap langkahnya terukur, seolah ia telah menunggu momen ini sejak awal. Di tangannya, selembar surat terangkat jelas untuk dilihat semua orang. Dia menunjukkan surat yang bertuliskan pemberhentian anggaran untuk Count Arcelmont. "Yang Mulia Duke memang menghentikan anggaran untuk Count Arcelmont." Kalimat itu sederhana, tetapi dampaknya langsung terasa. Beberapa bangsawan saling bertukar pandang, sementara rakyat mulai mengangkat kepala mereka sedikit lebih tinggi, mencoba melihat bukti yang ditunjukkan. Leon yang masih berada di tanah menggerakkan tubuhnya dengan susah payah. Wajahnya kotor, napasnya tidak teratur, namun sorot matanya tetap menyala. Ia tidak berniat menyerah begitu saja. "Kalau mau menyalahkan, salahkan saja Yang Mulia Raja!" selaknya tajam.
Alianne melangkah maju tanpa ragu, posisinya kini sejajar dengan Aldren. Tatapannya tajam, tidak menunjukkan sedikit pun keraguan meski berada di tengah para bangsawan dan rakyat yang menyaksikan. Dengan gerakan yang jelas dan tegas, ia mengangkat tangannya lalu menunjuk Leon dengan sangat tidak hormat. "Aku, Alianne, ratu kerajaan Valtarian, memberi saran untuk mencabut Leon dari jabatannya sebagai duke." Kata-kata itu jatuh seperti petir di siang bolong. Semua orang terdiam. Tidak ada bisikan, tidak ada gerakan. Bahkan udara terasa berat, seolah menekan dada setiap orang yang hadir. Beberapa bangsawan menahan napas, sementara rakyat hanya bisa saling berpandangan dengan mata melebar, mencoba mencerna apa yang baru saja mereka dengar. Leon tetap berlutut, namun bahunya sedikit bergetar. Lalu, perlahan, suara tawa kecil keluar dari bibirnya. Leon terkekeh pelan, mencoba menghibur dirinya sendiri. "Mencabut jabatan? Apa-apaan ini?" Nada suaranya terdengar meremehkan, tetap
"Biarkan kami masuk!" "Kami menderita menghadapi musim dingin andai jika Yang Mulia Raja tidak membantu kami!" "Biarkan kami bertemu Yang Mulia Duke!" Teriakan itu bergema tanpa henti, saling bertumpuk hingga menciptakan riuh yang memekakkan telinga. Halaman depan kediaman. Wajah-wajah pucat, pakaian lusuh, serta mata penuh keputusasaan memenuhi setiap sudut gerbang besi yang tertutup rapat. Di kejauhan, Alianne berdiri dengan sikap santai, seolah semua kekacauan itu hanyalah pertunjukan yang telah lama ia nantikan. Tatapannya menyapu kerumunan, memperhatikan setiap detail dengan cermat, sebelum senyum tipis terukir di bibirnya. "Sudah dimulai ternyata. Silakan, para aktor!" Dari dalam halaman, langkah kaki tergesa terdengar mendekat. Leon muncul lebih dulu, wajahnya tegang dan napasnya sedikit memburu. Ia berjalan cepat menuju gerbang, matanya membesar melihat kerumunan yang nyaris tak terkendali. "Apa-apaan ini?!" bentaknya, suaranya meninggi, berusaha menutupi kegelisaha
"Kalian cocok, deh! Kapan menikah?" tanya Alianne yang otaknya langsung membentuk ship baru.Ucapan itu meluncur begitu saja dengan ringan, nyaris tidak selaras dengan suasana mencekam yang masih menyelimuti hutan. "Sekarang bukan waktunya untuk itu!" ucap Aldren. Suaranya tega
“Thalira! Hery! Sudah aman! Kalian boleh keluar sekarang!” teriak Caelum lagi, suaranya menggema di antara sisa-sisa hutan yang porak-poranda.Angin berembus pelan, menggeser daun-daun kering dan serpihan kayu yang berserakan di tanah. Suasana sempat hening. Seolah dunia menahan napas.
Di ruang tengah, pintu kembali terbuka. Aldren melangkah masuk.Suasana yang sebelumnya sudah berat kini terasa semakin padat, seolah udara di ruangan itu mengeras. Semua mata langsung tertuju padanya, bukan dengan rasa ingin tahu, melainkan dengan tekanan yang tidak diucapkan.
"Aku sudah menjawab pertanyaanmu tentang pendapatku tentangmu. Aku setuju denganmu. Tapi kita tetap berbeda. Kau masih bisa merasa bersalah karena membunuh orang tuamu bahkan menerima saat ada yang menganggap mu iblis. Aku? Tidak ada rasa bersalah sama sekali saat aku meninggalkan orang tuaku unt







