Se connecter“Kamu sedang apa di tangga?”
Pertanyaan itu keluar dari mulut Catherine saat Sylvia berbalik untuk pergi ke kamarnya. Sylvia berbalik badan lagi dan mengulaskan senyum kaku. Dengan gugup, Sylvia berusaha menjawab pertanyaan ibu mertuanya.
“I-itu, Bu… A-aku mau ambil air minum di dapur.”
Sylvia meneguk air liurnya ketika Catherine tidak menjawab. Pasalnya, di lantai atas juga ada dispenser air. Mungkin saja Catherine curiga.
‘Apakah aku ketahuan?’ pikirnya.
“Kalau air dispensernya habis, kamu suruh pelayan untuk mengisinya.” Ibu mertuanya berucap sambil menepuk pundaknya Sylvia, lalu menaiki anak tangga.
Sylvia hanya bisa tersenyum dan menganggukkan kepalanya. “Iya, Bu.”
Saat melihat ibu mertuanya sudah menjauh, Sylvia langsung menghela napasnya. Ia pun memutuskan kembali ke kamarnya Edgar dengan cepat.
Ceklek!
Sylvia bersandar di pintu. “Kira-kira Edgar pergi ke mana ya?”
Meskipun Edgar sangat menyebalkan baginya, Sylvia sedikit merasa khawatir. Pria itu bukan pria jahat, hanya omongannya saja yang pedas. Apalagi, itu pertama kalinya Sylvia melihat pria itu marah-marah.
“Sebaiknya aku telepon dia,” ucap Sylvia, lalu teringat sesuatu. “Astaga… aku kan gak punya nomor teleponnya.”
Sylvia melempar ponselnya ke kasur, dan tidak mau peduli lagi. Lebih baik ia beristirahat sekarang, daripada memikirkan anak manja yang baru saja bertengkar dengan ibunya.
‘Udahlah, dia juga udah besar. Nanti juga bisa pulang sendiri,’ pikir Sylvia sebelum memejamkan mata.
Malam semakin larut. Entah sudah jam berapa, tapi Sylvia bisa mendengar bunyi pintu kamar dibuka. Tak lama kemudian, ia merasakan seseorang yang naik ke kasur. Ia memang mudah sekali terbangun jika tidur. Gerakan sedikit saja sudah bisa membangunkannya.
Sylvia membuka mata dan langsung berbalik badan. Di sisi kasur satunya, ia sudah melihat punggung lebar seorang pria. Tanpa banyak bicara, Edgar ternyata sudah pulang dan tidur membelakanginya.
“Edgar?” panggil Sylvia sambil setengah duduk di kasur.
Tidak ada jawaban yang keluar dari mulutnya Edgar. ‘Mungkin udah tidur.’ pikir Sylvia.
Saat Sylvia ingin kembali tidur, Edgar menjawab. “Kenapa?”
“Aku kira kamu udah tidur,” kata Sylvia dengan posisi sama. Namun, Edgar kembali hanya diam seribu bahasa, membuat Sylvia bertanya lagi, “Kamu dari mana?”
“Kamu ingat perjanjian kita?”
Sylvia berdecak sambil memutar bola matanya. Ia tidak bodoh, tentu saja masih mengingat kalau mereka tidak boleh saling ikut campur. Namun, apa salahnya dengan sedikit menunjukkan simpatinya, sih?
Malas berdebat, akhirnya Sylvia hanya bisa menghela napas.
“Ya udah terserah.”
Sylvia menarik selimutnya dan berbalik badan, ingin kembali tidur. Suara napas Edgar terdengar teratur di belakangnya, tapi itu justru membuat Sylvia semakin penasaran.
‘Kok, dia bisa setenang itu abis berantem sama Ibu, ya?’
“Kenapa kamu bertengkar sama Ibu?”
Tiba-tiba, Edgar berbalik badan. “Dari mana kamu tau?”
Sylvia menutup mulutnya sendiri karena tanpa sadar mengucapkan isi kepalanya. Ia panik. Ia lupa kalau tadi dirinya diam-diam mengintip pertengkaran tersebut.
Ia bisa merasakan tatapan marah Edgar di belakang punggungnya. Pria itu pasti sudah duduk sambil menunggu penjelasan darinya.
“S-suaramu keras banget sih!” Sylvia berteriak sambil ikut duduk di kasur, sekarang mereka duduk berhadapan.
Edgar masih menatap tajam Sylvia. “Walaupun suaraku keras, apa kamu diizinkan untuk mendengarnya?”
Sylvia tanpa sadar menelan air liurnya. Pria itu berbeda dengan Edgar yang ia tahu beberapa saat ini. Edgar dalam mode serius terlihat sangat menakutkan.
“A-aku punya telinga!” balas Sylvia. “Aku yakin, kamu yang buat Ibu marah, kan? Ibu gak pernah semarah itu sebelumnya.”
Edgar mendengus. “Tau apa kamu?”
“Apa itu ada hubungannya dengan kamu memintaku membantu untuk dapatkan investor dan koneksi?”
Edgar yang ingin kembali tidur pun membeku. Ia menatap Sylvia lagi. “Apa maksudnya?”
Sylvia mengangkat bahu. “Perusahaanmu yang ditentang Ibu…. aku akan membantumu untuk mendapatkan investor,” ucap Sylvia.
“Ya tentu saja harus, itu perjanjian kita,” jawab Edgar dengan alis terangkat, terlihat sedikit merasa bingung.
“Iya, tapi seperti kataku, karena kamu harus berperan sebagai Edward, kamu juga harus mau menerima jabatan CEO untuk menggantikan posisinya.”
Mata Edgar membulat. “Gak! Sudah cukup aku berpura-pura menjadi dia!”
“Berhenti menyamakanku dengan dia!” lanjutnya dengan suara tertahan.
“Kamu emang bukan Edward,” jawab Sylvia sinis, lelah mengingatkan kalau Edgar sama sekali tidak bisa menjadi Edward. “Gak ada yang bisa menyamakan pria itu.”
“Terus apa gunanya?”
Sylvia mendengus, sifat egoisnya muncul karena melihat reaksi Edgar yang bebal dan tidak mau mendengarkannya. “Jangan salah paham. Aku ngelakuin ini bukan hanya untuk kamu, tapi untuk aku juga. Aku gak mau disangka punya suami yang gak kompeten.”
“Apa kamu gak berpikir, dengan jadi CEO perusahaan Wijaya, kamu gak akan direndahkan lagi,” lanjut Sylvia. “Tapi ya… jika kamu masih berharap aja sama usaha rongsokan itu, terserah—ah!”
Belum sempat Sylvia menyelesaikan ucapannya, pria itu sudah mencekal kuat dua tangan Sylvia dan mengurung tubuhnya di bawah tubuh kekarnya. Mata Sylvia membulat. Antara kaget dengan tindakan Edgar, juga terhadap dirinya sendiri.
‘Kenapa aku bisa keceplosan mengulang kata-kata Ibu? Padahal gak begitu maksudku…’ Sylvia merutuki dirinya sendiri.
“B-bukan… maksudku, Ibu—”
“Tutup mulutmu!” Edgar menggeram dengan rahang terkatup rapat. Matanya menatap tajam Sylvia. “Gak ada yang boleh menghina mimpiku yang satu itu.”
Edgar tidak peduli jika ada orang yang menghinanya pemalas, tidak bisa diatur, dan sebagainya. Namun, ketika usahanya itu dilecehkan, ia akan marah besar.
Bisnis kecil-kecilan yang menjual berbagai aksesoris dan sparepart motor maupun mobil itu adalah perwujudan impiannya. Ketika tidak ada yang mau mendengarnya, otomotif-lah satu-satunya teman Edgar.
Edgar yang tidak terima Sylvia sudah menghina bisnis yang ia rintis dengan derih payahnya sendiri. Edward langsung mengungkung Sylvia.
Dengan memegang kedua tangannya Sylvia, Edgar langsung mengancam Sylvia. “Jangan pernah menghina bisnis pribadi ku, atau aku akan merenggut sesuatu yang amat berharga dari dirimu.” Tubuh Edgar semakin turun, merapat pada tubuh Sylvia. Tidak seperti sebelumnya, Sylvia semakin berani menantangnya. Walaupun tubuhnya terasa gemetar, Sylvia tidak mengalihkan tatapannya dari Edgar.
“K-kalau begitu, kau pilih, usahamu hancur, atau kamu mendengarkanku?” tawar wanita itu.
Sylvia hanya menggelengkan kepalanya saat mendengar ucapan suaminya mengenai Oma Beatrice. Kemudian Sylvia pun beranjak dari tempat tidur, untuk pergi ke kamar mandi. Sambil menunggu istrinya selesai mandi, Edgar yang merasa mengantuk, ia pun memilih untuk tidur sejenak. Beberapa menit kemudian, Sylvia yang sudah selesai mandi, ia langsung keluar dari kamar mandi dengan memakai jubah handuk. Melihat suaminya tertidur pulas, Sylvia langsung bergegas menghampiri suaminya."Edgar! Bangun Edgar!" Sylvia berucap sambil mengguncangkan tubuh suaminya.Bukannya bangun, Edgar justru memiringkan tubuhnya sambil memeluk guling yang ada disampingnya. "5 menit lagi, sayang. Aku masih ngantuk.""Baiklah, aku kasih waktu sampai aku selesai pakai baju. Kalau aku udah selesai pakai baju, tapi kamu belum bangun juga, aku siram nanti," ucap Sylvia."Hhmm." Edgar berdeham dengan mata tertutup.Sylvia pun membiarkan suaminya tertidur, sampai dirinya selesai memakai pakaian. Selang 10 menit kemudian, Sylv
Setelah selesai makan malam, Edgar dan Sylvia langsung pergi ke kamar Sylvia untuk beristirahat dikamar. Saat berada dikamar, Edgar yang merasa sedih karena keputusan yang dibuat oleh Oma Beatrice, ia pun hanya bisa duduk dipinggir tempat tidur dengan raut wajah yang cemberut. Melihat ekspresi suaminya, Sylvia langsung duduk disamping suaminya."Kenapa sih, dari tadi kok cemberut terus?" tanya Sylvia.Edgar pun menghembuskan nafasnya. "Hhmph... Aku lagi bingung sayang.""Bingung kenapa?" tanya Sylvia."Bingung lah, masa iya sih cuma karena dokumen pernikahan, kita harus pisah rumah selama 3 bulan ke depan. Tiga hari aja aku udah stres, apalagi 3 bulan. Bisa gila yang ada," ucap Edgar.Sylvia pun tersenyum saat mendengar ucapan suaminya. Lalu, Sylvia meraih tangan suaminya. "Sabar, pernikahan kita kan udah berjalan 3 bulan, tinggal tunggu 3 bulan lagi aja, supaya kita bisa mengajukan surat pembatalan surat pernikahan atas nama aku dan Edward."Edgar pun menatap wajah istrinya. "3 bulan
Malam harinya.Setelah hidangan makan malam sudah siap, Larissa beserta suami dan juga ibu mertuanya langsung berkumpul di meja makan. Saat melihat ke arah jam dinding, Beatrice langsung menyunggingkan bibirnya karena Sylvia maupun Edgar belum juga datang."Sebenarnya mereka itu tinggal dimana sih? Kenapa sudah jam 7 lewat, mereka belum datang juga?" tanya Beatrice."Sabar mom. Paling sebentar lagi mereka sampai," sahut Danuel yang merupakan ayahnya Sylvia."Sebagai ayahnya, seharusnya kamu mengajarkan tentang kedisiplinan yang tegas pada Sylvia. Bukan membiarkan dia membuang-buang waktu seperti ini," sahut Beatrice."Sylvia itu sudah besar, mommy. Dia pasti bisa mengatur waktu nya sendiri," ucap Larissa.Mendengar ucapan menantunya, Beatrice langsung menoleh ke arah Larissa. "Ini pasti karena ulah kamu yang terlalu memanjakan dia kan? Makanya dia jadi tidak disiplin seperti ini.""Ayolah, mom. Kita lagi ada dimeja makan loh. Masa iya sih, kita bertengkar di depan makanan," ucap Danue
Tidak adanya sahutan dari putranya, hal itu membuat Catherine merasa bingung. Ia pun mencoba memanggil putranya. Tak lama barulah Edgar menyahuti ibu."Halo... Gar. Edgar! Kamu masih ada disana kan?" tanya Catherine."I-iya, bu. Edgar masih disini," ucap Edgar."Kamu tadi kenapa diem? Lagi ngelamun?" tanya Catherine."E-enggak, bu. Aku gak ngelamun. Kayaknya ada masalah di sinyal nya deh, bun. Suara ibu kadang suka gak jelas kedengeran nya," ucap Edgar."Ohhh begitu. Ya udah kalau begitu ibu tutup dulu aja deh. Inget ya, yang aku sama Sylvia," sahut Catherine."Iya, bu," sahut Edgar.Setelah mengakhiri panggilan telponnya, Catherine langsung pergi untuk mencari penginapan ataupun hotel. Selang 30 menit kemudian, Sylvia yang sudah selesai mandi dan berganti pakaian, ia langsung keluar dari kamar untuk menyuruh suaminya mandi.Namun, ketika Sylvia membuka pintu kamarnya ia sama sekali tidak melihat Edgar di ruang santai yang ada di lantai atas. "Kemana lagi perginya si Edgar."Berhubung
Setelah selesai menyantap makanan masing-masing, Edgar dan Sylvia kembali fokus menyelesaikan pekerjaan mereka. Hari itu baik Edgar maupun Sylvia sama-sama memiliki urusan yang super sibuk. Edgar beberapa kali harus keluar dari ruangan nya hanya untuk melakukan kunjungan proyek maupun rapat dengan para client nya. Begitu pun dengan Sylvia, ia juga tidak kalah sibuk nya merancang desain yang di inginkan oleh client nya. Saking sibuknya, tanpa mereka sadari, waktu berjalan dengan sangat cepat."Akhirnya, selesai juga desainnya." Sylvia berucap sambil meregangkan persendiannya. Ketika melihat ke arah jam dinding yang ada di ruangan Edgar, Sylvia seketika langsung terkejut. "Astaga! Udah jam 7?! Perasaan tadi baru jam 10 pagi deh."Ceklek! "Sayang... Kamu udah selesai belum, desain nya? Kita pulang yuk." Edgar bertanya saat memasuki ruangan nya.Mendengar ucapan suaminya, Sylvia langsung menoleh ke belakang. "Memangnya rapat nya udah selesai?"Edgar pun berjalan ke arah meja kerjanya. S
Mendengar ucapan suaminya, seketika kedua pipi Sylvia langsung memerah. Melihat hal itu Edgar pun bertambah gemas. Lalu, ia pun merangkul pinggang istrinya. Saat Edgar akan mencium bibir istrinya, tiba-tiba seseorang pun masuk kedalam ruangannya.Ceklek! "Oow... Sorry... Sorry, gue gak liat." Andre berucap saat memergoki Edgar dan Sylvia.Seketika Edgar pun berdecak ketika ia melihat keberadaan Andre. Sedangkan Andre sendiri yang merasa tidak enak sudah mengganggu kemesraan sahabatnya, ia pun memutuskan keluar. Namun, saat Andre akan menutup pintu dari luar, Edgar langsung menghentikannya."Udah... Udah. Lo masuk aja. Percuma juga kalau Lo pergi. Momen romantis gue juga udah berantakan gara-gara Lo," sahut Edgar."Ya sorry. Gue mana tau kalau kalian berdua lagi mesra-mesraan," ucap Andre. Sementara itu Sylvia yang tidak familiar dengan wajahnya Andre, ia langsung menyikut lengan suaminya dan berbisik. "Dia siapa, mas?" "Dia Andre. Salah satu sahabat ku," ucap Edgar saat memperkenal







