Share

Bab 6. Menyetujui Permintaan Sylvia

“Sial! 

Edgar mengumpat setelah menyingkir dari atas tubuhnya Sylvia. Ia tahu betul, bahwa ibunya tidak akan main-main dalam bertindak. Ini seperti berjalan di atas es, salah sedikit, ia akan jatuh ke kubangan es dan mati membeku.

Edgar menggeram sambil mengepalkan tangannya. Ia masih menatap Sylvia dengan tajam.

“Baik," jawabnya. "Aku akan mengikuti keinginanmu.”

Jantung Sylvia yang tadinya berdetak cepat, mulai tenang. Ia menggenggam ujung selimutnya, dan perlahan menariknya sampai menutupi leher. Ia sebisa mungkin menghindari tatapan Edgar. 

“K-kupegang ucapanmu,” ucap Sylvia. 

Sambil memiringkan tubuhnya Edgar bergumam, “Kalau bukan karena ingin melindungi bisnisku dari ancaman Ibu, aku gak sudi mengikuti keinginan dia.” 

Sylvia yang masih bisa mendengar ucapannya Edgar,  kembali membuka matanya dan menoleh ke belakang. “Kamu bilang apa barusan?” 

“Tidak penting,” ucap Edgar, dan langsung mematikan lampu kamar di atas nakas. 

***

Keesokan paginya.

Sebagai tipe yang lumayan gila kerja, Sylvia sudah terbiasa bangun pagi. Ia bahkan tidak membutuhkan alarm untuk bisa bangun pukul 6 pagi. Sylvia bangun dari tidurnya dan menyibak selimut. Namun, ketika ia melihat ke sisi samping, ia justru menemukan sisi tempat tidurnya kosong.

'Loh? Pria menyebalkan itu udah bangun duluan?' pikirnya bingung. Menurutnya, Edgar itu tipe pria yang malas bangun pagi, tapi kenapa pria itu justru bangun lebih awal dari dirinya.

'Jangan bilang... dia kabur?! Tidak mungkin!' 

Sylvia buru-buru menyibak selimut, dan berlari ke luar kamar. Bisa saja pria itu membohonginya, dan kabur karena tidak mau berperan sebagai Edward. Ketika melihat seorang pelayan berjalan ke arahnya, Sylvia langsung menghentikan pelayan tersebut. 

Dengan mengulurkan tangannya, Sylvia berucap, “Tunggu sebentar.” 

Pelayan tersebut langsung menundukkan kepalanya, “Ada apa, Nyonya muda?” 

“Apa kamu tau Edgar ada di mana?”

“Tuan muda sedang berenang, Nyonya muda."

Sylvia tanpa sadar menghela napasnya. Bahunya yang tegang kembali turun. Namun, begitu ia sadar, ia langsung berdeham dan kembali menegakkan bahunya. Ia tidak boleh kehilangan keanggunannya.

Sylvia mengibaskan tangannya pelan. “Terima kasih.” 

Pelayan tersebut menganggukkan kepalanya dan membalas dengan sopan. Setelah pelayan itu menjauh, Sylvia pun pergi ke kolam renang, masih dengan piyama tidurnya.

Sesampainya di sana, Sylvia melihat Edgar sedang berenang. Seolah semalam tidak ada yang terjadi di antara mereka semalam, Edgar berenang dengan santainya. Bahkan setelah menyadari kehadiran Sylvia pun, Edgar tampak tidak peduli.

Dengan melipat kedua tangannya, Sylvia berucap, “Bagus ya, aku dari tadi udah panik. Ternyata kamu malah enak-enakan berenang di sini.” 

Edgar akhirnya mau menoleh, lalu berenang ke tepi kolam renang. “Kenapa? Apa kamu takut kalau suamimu ini kabur seperti calon suamimu itu?”

Leher Sylvia menengang. Edgar benar, tapi ia tidak mau mengakui itu.

Memang, sejak Edward melarikan diri dari pernikahannya, ada sedikit ketakutan di hatinya  bahwa Edgar akan melakukan hal yang sama. Namun, Sylvia yang tidak ingin terlihat sedih karena pernikahnya dengan Edward gagal pun membantah ucapannya Edgar.

Dengan menyunggingkan senyumnya, Sylvia berkata, “Aku justru sangat bersyukur kalau kamu pergi dari hidupku”.

Sylvia sedikit menundukkan kepalanya, agar bisa sejajar dengan Edgar di kolam renang, “Justru aku kasihan denganmu. Kalau aku gak ada di samping kamu, Ibu pasti dengan mudah menghancurkan hidupmu dan juga bisnismu itu.” 

Edgar tampak terpancing dengan ucapan Sylvia. Wajah pria itu tempak tegang, dengan mata menatap Sylvia tajam. Ia bergegas keluar dari kolam renang dalam satu gerakan. Pria itu sekarang berdiri tepat di depan Sylvia.

“Akan aku hancurkan siapapun yang menghancurkan bisnisku. Tidak perduli entah itu kamu atau Ibu sekalipun.” 

Pria itu pergi begitu saja.

Sylvia kembali menghela napasnya setelah Edgar pergi.

Meskipun  sudah menjadi istrinya Edgar, tidak banyak hal yang Sylvia tau tentang kehidupannya. Bahkan Sylvia juga tidak mengetahui dengan jelas mengenai bisnis pribadi yang Edgar miliki.

“Ah... udahlah biarkan aja. Mau seperti apa pun kehidupannya dia itu bukan urusanku. Yang terpenting hari ini, aku harus bisa membawa Edgar ke perusahaan untuk mulai menggantikan tugasnya Edward. Kalau dia terlalu lama membuang waktu untuk urusan yang gak penting, aku juga yang rugi,” ucap Sylvia.

Mengurusi Edgar sama repotnya dengan mengurus kucing-kucing liar. Pria itu susah diatur, suka seenaknya sendiri, dan pemarah. Sylvia mulai skeptis bisa mengendalikan pria itu dengan mudah.

Akhirnya, Sylvia memutuskan untuk pergi ke kamar dan bersiap untuk ke perusahaan keluarga Wijaya. Ia juga harus menyeret Edgar agar mau ikut dengannya. Huhh... banyak sekali pekerjaan Sylvia pagi ini. Belum apa-apa ia sudah capek duluan.

Ceklek! 

“Aaaaaaa!”

Sylvia menjerit keras ketika melihat Edgar telanjang bulat di kamar itu. Tidak hanya sebatas bertelanjang dada, Sylvia bahkan hampir menodai matanya dengan melihat apa yang seharusnya tidak ia lihat.

Brak! 

Sylvia kembali membanting pintunya. Pria itu tidak bereaksi apapun, mungkin terlalu terkejut atau memang terlalu narsis memamerkan tubuhnya. Entahlah, yang penting, wajah Sylvia memanas sekarang. Antara malu dan kesal.

Sylvia hanyalah manusia biasa yang memiliki hawa nafsu. Apalagi ini sudah kedua kalinya ia melihat Edgar melepas bajunya. Sambil mengipasi wajahnya, Sylvia berucap, “Tenang Sylvia, kamu gak boleh gugup seperti ini. Lagi pula kamu kan gak suka sama dia. Bisa kepedean dia, kalau tau aku gugup karena melihat dia telanjang.” 

Setelah merasa cukup tenang, Sylvia mencoba membuka kembali pintu kamarnya Edgar. Pria itu sudah tidak ada di dekat kasur.

Sylvia menghela nafasnya, “Sepertinya dia udah masuk ke kamar mandi.” ucap Sylvia diiringi dengan adanya suara gemericik air yang ia dengar. 

Sambil menunggu Edgar selesai mandi, ia memilih duduk di sofa untuk melanjutkan desain bajunya. Tak lama kemudian Sylvia mendengar suara pintu terbuka.

Refleks, Sylvia langsung menoleh ke arah pintu kamar mandi. Seketika jantungnya kembali berdebar.Edgar keluar dari kamar mandi dengan handuk yang melilit di pinggangnya. Pemandangan ini tidak jauh berbeda dari malam pertama mereka kemarin.

Tanpa sadar, Sylvia meneguk air liurnya. Meskipun pria itu tampak tak peduli dan langsung berjalan ke depan cermin sambil mengeringkan rambutnya dengan handuk kecil, Sylvia tidak bisa mengalihkan tatapannya. Aneh sekali. Tubuhnya bereaksi sangat aneh pagi ini.

‘Kenapa dia terlihat sangat tampan setiap kali mengibaskan rambutnya seperti itu....’ batin Sylvia sambil terus menatap Edgar.

Related chapters

Latest chapter

DMCA.com Protection Status