Share

Bab 7. Datang Ke Kantor

Author: Diary94
last update Last Updated: 2024-04-30 14:22:01

“Berhentilah menatap ku, aku tau kalau aku ini sangat tampan.”

Sylvia langsung mengalihkan pandangannya saat Edgar menyindirnya. Ucapannya Edgar memang benar, dengan bentuk tubuh yang tinggi, atletis serta kulit yang putih dan bersih, Edgar terlihat sangat tampan bak selebritis papan atas. Namun, ketampanannya itu selalu tertutupi dengan sikapnya yang sangat menyebalkan.  

Sambil beranjak dari sofa Sylvia berucap, “Gak usah terlalu narsis, kucing liar di luar, jauh lebih tampan daripada kamu, tau!” 

Sylvia yang enggan bertengkar pagi-pagi dengan Edgar, langsung mengambil handuk serta pakaian. Bahkan ketika Edgar juga berjalan ke arah lemari pakaian untuk mengambil pakaiannya. Sylvia kembali memperingatkan Edgar untuk memakai pakaian yang rapi.

“Pakai jas dan kemeja yang rapih. Jangan lupa juga pilih dasi yang bagus. Ingat! Kamu akan berperan sebagai Edward hari ini di kantor, bukan sebagai Edgar.” 

“Iya, Nyonya!” Edgar terdengar kembali menyindirnya. Tidak seperti ucapannya yang sopan, ekspresi pria itu terlihat dingin. “Dasar bawel!"

Sylvia yang masih bisa mendengar ucapannya Edgar sebelum menutup pintu kamar mandi, hanya melirik sinis dan mendengus. Seharusnya Edgar beruntung memiliki istri seperti dirinya. Kalau bukan Sylvia tetap setuju menikah tanpa Edward, sudah pasti ibu akan selalu merendahkannya dan terus membandingkannya.

Brak!

Sebagai pelampiasan kekesalannya, Sylvia menutup pintu kamar mandi dengan keras. Ia tidak peduli kalau pria itu kembali mengomel di dalam kamar.

***

Hampir satu jam Sylvia habiskan waktu untuk bersiap. Kini, ia sudah tampil sangat cantik dengan blouse berwarna merah maroon yang dipadukan dengan rok hitam ketat selutut yang memiliki belahan pendek. Wajahnya dipoles make up elegan, lipstiknya yang berwarna nude membuat bibir itu tampak lebih sensual.

Rambut bergelombang kecokelatan Sylvia diikat satu, membuat leher jenjangnya terlihat seksi. Setelah menyemprotkan parfum, ia segera keluar dari kamar Edgar untuk sarapan pagi terlebih dahulu. 

Ketika dirinya berjalan ke arah meja makan, Sylvia mengerutkan keningnya saat melihat Edgar dengan santainya duduk di sofa. Tangannya malah sibuk memainkan ponsel.

“Kamu kenapa masih di sini? Ayo cepat kita sarapan!" 

Namun, Edgar malah berdecak. “Iya, sabar, lagi tanggung nih game-nya."

Bagi Sylvia setiap sedetik sangat amat berharga, sikap Edgar yang pemalas dan hobi membuang waktu untuk melakukan hal yang tidak penting, tentu saja hal itu membuat Sylvia kesal. Wanita itu mendekat, lalu berdiri tepat di depan Edgar, sampai bayangannya menutupi pria itu.

Sylvia melipat tangannya di dada. “Hentikan game-nya sekarang juga! Atau aku akan membatalkan untuk membantumu dalam mencari investor untuk bisnis pribadimu itu.” 

Sepertinya, ancaman Sylvia berhasil. Pria itu langsung mendengus dan menurunkan tangannya. Ponselnya dimatikan, lalu tanpa berbicara apa pun, ia segera berpindah ke meja makan. Edgar bahkan dengan sengaja menyenggol sedikit bahu Sylvia.

Sylvia mengurut keningnya sendiri. Mengurus pria menyebalkan dan susah diatur seperti Edgar, lebih sulit dari merawat seekor kucing liar. Sylvia memang harus menggunakan sedikit ancaman. Kalau tidak begitu, Edgar akan bertindak seenaknya.

Jika hal itu terjadi, Sylvia-lah orang yang akan kerepotan untuk memperbaiki setiap kekacauan yang dilakukan oleh Edgar.

Sarapan dilakukan dalam hening. Catherine juga ikut sarapan, walaupun sedikit telat. Wanita itu terus mengoceh dan menasehati Edgar agar mengikuti perkataan Sylvia nanti. Namun, yang namanya sudah bebal, pria itu hanya menanggapi seadanya.

Setelah sarapan, mereka berangkat bersama dalam satu mobil. Walaupun hati Sylvia sama sekali tidak mau, tapi ia terpaksa melakukan itu. Ia harus menunjukkan kepada khalayak umum jika pernikahannya dengan Edward (palsu) berjalan dengan harmonis.

Sylvia hanya berharap bahwa pria itu tidak melakukan hal bodoh yang akan membuat karyawan di perusahaan ini curiga dengan Edgar.

Sambil berjalan memasuki kantor, Sylvia berbisik untuk memperingati Edgar, “Pandangan harus tetap ke depan. Jaga wibawamu, jangan bersikap narsis. Ingat! Sekarang, kamu ini Edward, bukan Edgar.” 

“Iya, aku juga tau. Gak usah diingatkan terus kali,” sahut Edgar.

Sylvia berusaha mempercayai ucapan Edgar kali ini. Namun, seketika kepercayaannya itu langsung runtuh ketika melihat Edgar jelas-jelas memberikan kedipan genit kepada resepsionis perempuan. Langsung saja Sylvia menghadiahkan cubitan "mesra" di pinggang Edgar.

“Shhh!" Edgar meringis, sambil m enoleh ke arah Sylvia dengan mata melotot, tapi mulutnya masih berusaha tersenyum. "Kamu ngapain cubit pinggang aku? Sakit tau!” bisik Edgar.

Sekarang, Sylvia yang memasang wajah tersenyum kepada para karyawan. Ia menjawab, “Ini kantor, bukan forum jumpa fans. Para karyawan akan curiga kalau melihat bos mereka mendadak narsis dalam satu hari."

Edgar lagi-lagi hanya mendengus, terlihat ingin protes banyak tapi ia tahan. Akhirnya, pria itu mempercepat langkahnya untuk menuju ke ruangan Edward. Begitu pun dengan Sylvia, ia bergegas menyusul Edgar. 

Hari ini seperti ia harus banyak bersabar, karena sepertinya, membimbing Edgar untuk menjadi pengusaha sukses seperti Edward tidak semudah membalikkan telapak tangannya.

Buktinya, baru datang ke kantor saja, ia sudah dibuat kesal oleh sikap Edgar yang tidak bisa menunjukkan wibawanya seperti Edward di depan para karyawan.

‘Ya Tuhan, tingkatkan stok kesabaranku untuk menghadapi pria menyebalkan itu...’ batin Sylvia sambil terus mengikuti Edgar berjalan ke ruangan Edward.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Terjerat Pernikahan Tanpa Cinta    Bab 73. Saran Dari Andre

    Disisi lain, Edgar yang sudah sampai di kantor, ia langsung bersiap untuk rapat pagi ini. Meskipun ruangan kerjanya terlihat tampak sepi tanpa adanya kehadiran Sylvia, Edgar harus semangat dan bersikap professional. Pagi itu, untuk mengalihkan pikirannya, Edgar menyibukkan diri dengan setumpuk pekerjaannya. Mulai dari rapat dengan para kepala divisi kantor, hingga rapat dengan 2 klien pun ia lakukan.Siang harinya.Setelah lelah dengan setumpuk kegiatan pada pagi hari, Edgar akhirnya bisa duduk santai di ruangannya. Namun, baru sejenak ia beristirahat, Andre justru masuk ke ruangannya."Ahh!! Akhirnya aku bisa istirahat juga." Edgar berucap sambil melonggarkan dasinya.Ceklek! "Lagi nyantai kayaknya nih." Andre berucap sambil melangkah masuk kedalam ruangan Edgar."Lo mau ngapain sih kesini? Ganggu gue aja," tanya Edgar."Ngapain ya? Mmm... Gak ada. Gue lagi gabut plus boring aja. Makanya gue main kesini," ucap Andre.Ketika Andre melirik ke arah sofa tempat biasa Sylvia duduk, ia pu

  • Terjerat Pernikahan Tanpa Cinta    Bab 72. Hari Pertama Kembali Ke Rumah

    Keesokan harinya. Setelah selesai sarapan, Sylvia langsung pergi ke kamar untuk mengambil koper dan juga tas nya. Melihat istrinya akan pergi, Edgar pun bergegas menyusul istrinya. Sesampainya di kamar, Edgar langsung mengambil koper dan tas milik istrinya untuk ia bawa ke mobil."Udah gak usah, biar aku aja yang bawa koper dan tasnya. Kamu lebih baik berangkat ke kantor aja." Sylvia berucap saat mencoba merebut kopernya."Aku aja yang bawain barang-barang kamu. Ini tuh berat, nanti kamu kecapean kalau bawa koper dan tas seberat ini," sahut Edgar.Sylvia hanya bisa menghela nafasnya saat mendengar ucapan suaminya. Kemudian Edgar pun keluar dari kamarnya dengan membawa tas dan juga koper milik istrinya. Sedangkan Sylvia sendiri hanya mengekori Edgar dari belakang. Setelah berada di halaman depan, Edgar langsung membuka bagasi mobil nya. Kemudian ia pun memasukkan koper dan tas milik istrinya kedalam bagasi."Ayo kita berangkat," ucap Edgar setelah menutup bagasi mobilnya."Kamu seriu

  • Terjerat Pernikahan Tanpa Cinta    Bab 71. Pulang

    Sylvia hanya menggelengkan kepalanya saat mendengar ucapan suaminya mengenai Oma Beatrice. Kemudian Sylvia pun beranjak dari tempat tidur, untuk pergi ke kamar mandi. Sambil menunggu istrinya selesai mandi, Edgar yang merasa mengantuk, ia pun memilih untuk tidur sejenak. Beberapa menit kemudian, Sylvia yang sudah selesai mandi, ia langsung keluar dari kamar mandi dengan memakai jubah handuk. Melihat suaminya tertidur pulas, Sylvia langsung bergegas menghampiri suaminya."Edgar! Bangun Edgar!" Sylvia berucap sambil mengguncangkan tubuh suaminya.Bukannya bangun, Edgar justru memiringkan tubuhnya sambil memeluk guling yang ada disampingnya. "5 menit lagi, sayang. Aku masih ngantuk.""Baiklah, aku kasih waktu sampai aku selesai pakai baju. Kalau aku udah selesai pakai baju, tapi kamu belum bangun juga, aku siram nanti," ucap Sylvia."Hhmm." Edgar berdeham dengan mata tertutup.Sylvia pun membiarkan suaminya tertidur, sampai dirinya selesai memakai pakaian. Selang 10 menit kemudian, Sylv

  • Terjerat Pernikahan Tanpa Cinta    Bab 70. Super Duper Nyebelin

    Setelah selesai makan malam, Edgar dan Sylvia langsung pergi ke kamar Sylvia untuk beristirahat dikamar. Saat berada dikamar, Edgar yang merasa sedih karena keputusan yang dibuat oleh Oma Beatrice, ia pun hanya bisa duduk dipinggir tempat tidur dengan raut wajah yang cemberut. Melihat ekspresi suaminya, Sylvia langsung duduk disamping suaminya."Kenapa sih, dari tadi kok cemberut terus?" tanya Sylvia.Edgar pun menghembuskan nafasnya. "Hhmph... Aku lagi bingung sayang.""Bingung kenapa?" tanya Sylvia."Bingung lah, masa iya sih cuma karena dokumen pernikahan, kita harus pisah rumah selama 3 bulan ke depan. Tiga hari aja aku udah stres, apalagi 3 bulan. Bisa gila yang ada," ucap Edgar.Sylvia pun tersenyum saat mendengar ucapan suaminya. Lalu, Sylvia meraih tangan suaminya. "Sabar, pernikahan kita kan udah berjalan 3 bulan, tinggal tunggu 3 bulan lagi aja, supaya kita bisa mengajukan surat pembatalan surat pernikahan atas nama aku dan Edward."Edgar pun menatap wajah istrinya. "3 bulan

  • Terjerat Pernikahan Tanpa Cinta    Bab 69. Ketegasan Oma Beatrice 

    Malam harinya.Setelah hidangan makan malam sudah siap, Larissa beserta suami dan juga ibu mertuanya langsung berkumpul di meja makan. Saat melihat ke arah jam dinding, Beatrice langsung menyunggingkan bibirnya karena Sylvia maupun Edgar belum juga datang."Sebenarnya mereka itu tinggal dimana sih? Kenapa sudah jam 7 lewat, mereka belum datang juga?" tanya Beatrice."Sabar mom. Paling sebentar lagi mereka sampai," sahut Danuel yang merupakan ayahnya Sylvia."Sebagai ayahnya, seharusnya kamu mengajarkan tentang kedisiplinan yang tegas pada Sylvia. Bukan membiarkan dia membuang-buang waktu seperti ini," sahut Beatrice."Sylvia itu sudah besar, mommy. Dia pasti bisa mengatur waktu nya sendiri," ucap Larissa.Mendengar ucapan menantunya, Beatrice langsung menoleh ke arah Larissa. "Ini pasti karena ulah kamu yang terlalu memanjakan dia kan? Makanya dia jadi tidak disiplin seperti ini.""Ayolah, mom. Kita lagi ada dimeja makan loh. Masa iya sih, kita bertengkar di depan makanan," ucap Danue

  • Terjerat Pernikahan Tanpa Cinta    Bab 68. Ajakan Makan Malam

    Tidak adanya sahutan dari putranya, hal itu membuat Catherine merasa bingung. Ia pun mencoba memanggil putranya. Tak lama barulah Edgar menyahuti ibu."Halo... Gar. Edgar! Kamu masih ada disana kan?" tanya Catherine."I-iya, bu. Edgar masih disini," ucap Edgar."Kamu tadi kenapa diem? Lagi ngelamun?" tanya Catherine."E-enggak, bu. Aku gak ngelamun. Kayaknya ada masalah di sinyal nya deh, bun. Suara ibu kadang suka gak jelas kedengeran nya," ucap Edgar."Ohhh begitu. Ya udah kalau begitu ibu tutup dulu aja deh. Inget ya, yang aku sama Sylvia," sahut Catherine."Iya, bu," sahut Edgar.Setelah mengakhiri panggilan telponnya, Catherine langsung pergi untuk mencari penginapan ataupun hotel. Selang 30 menit kemudian, Sylvia yang sudah selesai mandi dan berganti pakaian, ia langsung keluar dari kamar untuk menyuruh suaminya mandi.Namun, ketika Sylvia membuka pintu kamarnya ia sama sekali tidak melihat Edgar di ruang santai yang ada di lantai atas. "Kemana lagi perginya si Edgar."Berhubung

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status