LOGIN“Berhentilah menatap ku, aku tau kalau aku ini sangat tampan.”
Sylvia langsung mengalihkan pandangannya saat Edgar menyindirnya. Ucapannya Edgar memang benar, dengan bentuk tubuh yang tinggi, atletis serta kulit yang putih dan bersih, Edgar terlihat sangat tampan bak selebritis papan atas. Namun, ketampanannya itu selalu tertutupi dengan sikapnya yang sangat menyebalkan.
Sambil beranjak dari sofa Sylvia berucap, “Gak usah terlalu narsis, kucing liar di luar, jauh lebih tampan daripada kamu, tau!”
Sylvia yang enggan bertengkar pagi-pagi dengan Edgar, langsung mengambil handuk serta pakaian. Bahkan ketika Edgar juga berjalan ke arah lemari pakaian untuk mengambil pakaiannya. Sylvia kembali memperingatkan Edgar untuk memakai pakaian yang rapi.
“Pakai jas dan kemeja yang rapih. Jangan lupa juga pilih dasi yang bagus. Ingat! Kamu akan berperan sebagai Edward hari ini di kantor, bukan sebagai Edgar.”
“Iya, Nyonya!” Edgar terdengar kembali menyindirnya. Tidak seperti ucapannya yang sopan, ekspresi pria itu terlihat dingin. “Dasar bawel!"
Sylvia yang masih bisa mendengar ucapannya Edgar sebelum menutup pintu kamar mandi, hanya melirik sinis dan mendengus. Seharusnya Edgar beruntung memiliki istri seperti dirinya. Kalau bukan Sylvia tetap setuju menikah tanpa Edward, sudah pasti ibu akan selalu merendahkannya dan terus membandingkannya.
Brak!
Sebagai pelampiasan kekesalannya, Sylvia menutup pintu kamar mandi dengan keras. Ia tidak peduli kalau pria itu kembali mengomel di dalam kamar.
***
Hampir satu jam Sylvia habiskan waktu untuk bersiap. Kini, ia sudah tampil sangat cantik dengan blouse berwarna merah maroon yang dipadukan dengan rok hitam ketat selutut yang memiliki belahan pendek. Wajahnya dipoles make up elegan, lipstiknya yang berwarna nude membuat bibir itu tampak lebih sensual.
Rambut bergelombang kecokelatan Sylvia diikat satu, membuat leher jenjangnya terlihat seksi. Setelah menyemprotkan parfum, ia segera keluar dari kamar Edgar untuk sarapan pagi terlebih dahulu.
Ketika dirinya berjalan ke arah meja makan, Sylvia mengerutkan keningnya saat melihat Edgar dengan santainya duduk di sofa. Tangannya malah sibuk memainkan ponsel.
“Kamu kenapa masih di sini? Ayo cepat kita sarapan!"
Namun, Edgar malah berdecak. “Iya, sabar, lagi tanggung nih game-nya."
Bagi Sylvia setiap sedetik sangat amat berharga, sikap Edgar yang pemalas dan hobi membuang waktu untuk melakukan hal yang tidak penting, tentu saja hal itu membuat Sylvia kesal. Wanita itu mendekat, lalu berdiri tepat di depan Edgar, sampai bayangannya menutupi pria itu.
Sylvia melipat tangannya di dada. “Hentikan game-nya sekarang juga! Atau aku akan membatalkan untuk membantumu dalam mencari investor untuk bisnis pribadimu itu.”
Sepertinya, ancaman Sylvia berhasil. Pria itu langsung mendengus dan menurunkan tangannya. Ponselnya dimatikan, lalu tanpa berbicara apa pun, ia segera berpindah ke meja makan. Edgar bahkan dengan sengaja menyenggol sedikit bahu Sylvia.
Sylvia mengurut keningnya sendiri. Mengurus pria menyebalkan dan susah diatur seperti Edgar, lebih sulit dari merawat seekor kucing liar. Sylvia memang harus menggunakan sedikit ancaman. Kalau tidak begitu, Edgar akan bertindak seenaknya.
Jika hal itu terjadi, Sylvia-lah orang yang akan kerepotan untuk memperbaiki setiap kekacauan yang dilakukan oleh Edgar.
Sarapan dilakukan dalam hening. Catherine juga ikut sarapan, walaupun sedikit telat. Wanita itu terus mengoceh dan menasehati Edgar agar mengikuti perkataan Sylvia nanti. Namun, yang namanya sudah bebal, pria itu hanya menanggapi seadanya.
Setelah sarapan, mereka berangkat bersama dalam satu mobil. Walaupun hati Sylvia sama sekali tidak mau, tapi ia terpaksa melakukan itu. Ia harus menunjukkan kepada khalayak umum jika pernikahannya dengan Edward (palsu) berjalan dengan harmonis.
Sylvia hanya berharap bahwa pria itu tidak melakukan hal bodoh yang akan membuat karyawan di perusahaan ini curiga dengan Edgar.
Sambil berjalan memasuki kantor, Sylvia berbisik untuk memperingati Edgar, “Pandangan harus tetap ke depan. Jaga wibawamu, jangan bersikap narsis. Ingat! Sekarang, kamu ini Edward, bukan Edgar.”
“Iya, aku juga tau. Gak usah diingatkan terus kali,” sahut Edgar.
Sylvia berusaha mempercayai ucapan Edgar kali ini. Namun, seketika kepercayaannya itu langsung runtuh ketika melihat Edgar jelas-jelas memberikan kedipan genit kepada resepsionis perempuan. Langsung saja Sylvia menghadiahkan cubitan "mesra" di pinggang Edgar.
“Shhh!" Edgar meringis, sambil m enoleh ke arah Sylvia dengan mata melotot, tapi mulutnya masih berusaha tersenyum. "Kamu ngapain cubit pinggang aku? Sakit tau!” bisik Edgar.
Sekarang, Sylvia yang memasang wajah tersenyum kepada para karyawan. Ia menjawab, “Ini kantor, bukan forum jumpa fans. Para karyawan akan curiga kalau melihat bos mereka mendadak narsis dalam satu hari."
Edgar lagi-lagi hanya mendengus, terlihat ingin protes banyak tapi ia tahan. Akhirnya, pria itu mempercepat langkahnya untuk menuju ke ruangan Edward. Begitu pun dengan Sylvia, ia bergegas menyusul Edgar.
Hari ini seperti ia harus banyak bersabar, karena sepertinya, membimbing Edgar untuk menjadi pengusaha sukses seperti Edward tidak semudah membalikkan telapak tangannya.
Buktinya, baru datang ke kantor saja, ia sudah dibuat kesal oleh sikap Edgar yang tidak bisa menunjukkan wibawanya seperti Edward di depan para karyawan.
‘Ya Tuhan, tingkatkan stok kesabaranku untuk menghadapi pria menyebalkan itu...’ batin Sylvia sambil terus mengikuti Edgar berjalan ke ruangan Edward.
Setelah menemui Edgar, Sylvia kembali masuk kedalam rumah. Saat melihat Sylvia melintas, Oma Beatrice yang sedang membaca buku, langsung menurunkan kacamata nya."Ada siapa diluar?" tanya Oma Beatrice.Seketika langkah Sylvia pun terhenti. "Cuma kurir aja, Oma. Mau nganterin barang, tapi alamatnya salah.""Yakin, cuma kurir?" tanya Oma Beatrice."Yakin, Oma." Sylvia menyahut sambil menganggukkan kepalanya.Oma Beatrice kembali memakai kacamata nya untuk melanjutkan membaca buku. Sedangkan, Sylvia yang merasa lega karena Oma Beatrice percaya dengan ucapannya, ia langsung bergegas pergi ke kamar nya. Selang 5 menit kemudian, Sylvia kembali turun ke lantai bawah."Kamu mau kemana?" tanya Beatrice."I-itu, Oma. Aku mau ke butik, sebentar. Aku mau diskusi sama asisten pribadi ku," ucap Sylvia."Butik? Oma ikut dong. Oma pengen liat butik kamu dan ibu mu," pinta Oma Beatrice.Mendengar permintaan Oma Beatrice, Sylvia tentu saja panik. Ia pun mencoba memikirkan cara, agar Oma Beatrice tidak
Hanya karena ponselnya Sylvia tidak bisa dihubungi, hal tersebut membuat Edgar berasumsi bahwa Sylvia sedang bersama client yang jauh lebih tampan darinya. Dengan terburu-buru, Edgar pun pergi dari kantor. Selang 45 menit kemudian, Edgar akhirnya sampai di butik milik maminya Sylvia.Setelah turun dari mobilnya, Edgar bergegas masuk kedalam butik. Namun, ketika berada didalam butik, Edgar hanya melihat Elis yang merupakan asisten pribadi Sylvia, yang sedang berbincang dengan salah satu client. "Mmm ... Elis! Apa Sylvia ada di dalam?" tanya Edgar.Elis pun menoleh. "Tidak ada, pak. Hari ini Bu Sylvia tidak datang ke butik.""Kamu gak membohongi saya, kan?" "Sama sekali tidak, pak. Jika pak Edgar tidak percaya dengan ucapan saya. Silahkan periksa sendiri diruangan pimpinan." Elis berucap seraya menunjuk ke arah salah satu ruangan yang biasa dipakai oleh Elis, ketika sedang bertugas di butik.Dengan langkah cepat, Edgar pun pergi ke ruangan yang dimaksud oleh Elis. Namun, ia dibuat her
Setelah mendapatkan saran dari Andre, Edgar langsung menghubungi pengacara nya untuk membuat kan surat pembatalan pernikahan. Sementara itu disisi lain, Larissa yang sudah mengetahui bahwa putrinya sudah berada di rumahnya, ia pun pergi ke kamar Sylvia. Sesampainya didepan kamar Sylvia, Larissa terlebih dahulu mengetuk pintu, sebelum ia masuk kedalam.Tok! Tok! "Sayang, ini mami. Mami boleh masuk ke dalam?" tanya Larissa."Boleh, mami. Masuk aja. Pintunya gak dikunci," ucap Sylvia dari dalam kamar.Mendengar ucapan putrinya, Larissa langsung membuka pintu kamar Sylvia. Saat melihat Sylvia sedang duduk di meja kerjanya, Larissa pun bergegas menghampiri Sylvia. "Kamu lagi ngapain, sayang?""Biasa, mi. Aku lagi ngelanjutin desain yang kemarin belum selesai," ucap Sylvia.Larissa pun menghela nafasnya. "Huft! Kalau begitu, mami gak bisa minta tolong sama kamu dong."Mendengar ucapan maminya, Sylvia langsung berhenti mendesain dan menoleh ke samping. "Minta tolong apa ya, Mi?""Mmm ... Be
Disisi lain, Edgar yang sudah sampai di kantor, ia langsung bersiap untuk rapat pagi ini. Meskipun ruangan kerjanya terlihat tampak sepi tanpa adanya kehadiran Sylvia, Edgar harus semangat dan bersikap professional. Pagi itu, untuk mengalihkan pikirannya, Edgar menyibukkan diri dengan setumpuk pekerjaannya. Mulai dari rapat dengan para kepala divisi kantor, hingga rapat dengan 2 klien pun ia lakukan.Siang harinya.Setelah lelah dengan setumpuk kegiatan pada pagi hari, Edgar akhirnya bisa duduk santai di ruangannya. Namun, baru sejenak ia beristirahat, Andre justru masuk ke ruangannya."Ahh!! Akhirnya aku bisa istirahat juga." Edgar berucap sambil melonggarkan dasinya.Ceklek! "Lagi nyantai kayaknya nih." Andre berucap sambil melangkah masuk kedalam ruangan Edgar."Lo mau ngapain sih kesini? Ganggu gue aja," tanya Edgar."Ngapain ya? Mmm... Gak ada. Gue lagi gabut plus boring aja. Makanya gue main kesini," ucap Andre.Ketika Andre melirik ke arah sofa tempat biasa Sylvia duduk, ia pu
Keesokan harinya. Setelah selesai sarapan, Sylvia langsung pergi ke kamar untuk mengambil koper dan juga tas nya. Melihat istrinya akan pergi, Edgar pun bergegas menyusul istrinya. Sesampainya di kamar, Edgar langsung mengambil koper dan tas milik istrinya untuk ia bawa ke mobil."Udah gak usah, biar aku aja yang bawa koper dan tasnya. Kamu lebih baik berangkat ke kantor aja." Sylvia berucap saat mencoba merebut kopernya."Aku aja yang bawain barang-barang kamu. Ini tuh berat, nanti kamu kecapean kalau bawa koper dan tas seberat ini," sahut Edgar.Sylvia hanya bisa menghela nafasnya saat mendengar ucapan suaminya. Kemudian Edgar pun keluar dari kamarnya dengan membawa tas dan juga koper milik istrinya. Sedangkan Sylvia sendiri hanya mengekori Edgar dari belakang. Setelah berada di halaman depan, Edgar langsung membuka bagasi mobil nya. Kemudian ia pun memasukkan koper dan tas milik istrinya kedalam bagasi."Ayo kita berangkat," ucap Edgar setelah menutup bagasi mobilnya."Kamu seriu
Sylvia hanya menggelengkan kepalanya saat mendengar ucapan suaminya mengenai Oma Beatrice. Kemudian Sylvia pun beranjak dari tempat tidur, untuk pergi ke kamar mandi. Sambil menunggu istrinya selesai mandi, Edgar yang merasa mengantuk, ia pun memilih untuk tidur sejenak. Beberapa menit kemudian, Sylvia yang sudah selesai mandi, ia langsung keluar dari kamar mandi dengan memakai jubah handuk. Melihat suaminya tertidur pulas, Sylvia langsung bergegas menghampiri suaminya."Edgar! Bangun Edgar!" Sylvia berucap sambil mengguncangkan tubuh suaminya.Bukannya bangun, Edgar justru memiringkan tubuhnya sambil memeluk guling yang ada disampingnya. "5 menit lagi, sayang. Aku masih ngantuk.""Baiklah, aku kasih waktu sampai aku selesai pakai baju. Kalau aku udah selesai pakai baju, tapi kamu belum bangun juga, aku siram nanti," ucap Sylvia."Hhmm." Edgar berdeham dengan mata tertutup.Sylvia pun membiarkan suaminya tertidur, sampai dirinya selesai memakai pakaian. Selang 10 menit kemudian, Sylv
Edgar pun mengambil jasnya. Setelah jas nya dipakai, Edgar dan Sylvia langsung keluar dari kamar. Tak lama ia pun sampai di meja makan. Melihat ibu mertuanya belum berada di meja makan, hal itu pun membuat Sylvia heran."Ibu kemana? Tumben belum ada di meja makan? Biasanya, ibu yang lebih awal, had
Beberapa menit kemudian.Setelah makan malam yang dibuat oleh Wira sudah siap, ia langsung membawa makanan tersebut ke dalam rumahnya. Tak lama kakek Teguh pun duduk di tikar plastik untuk menyantap makan malam bersama cucunya. Berhubung pria yang mereka selamatkan dipinggir sungai sudah siuman, ka
Sylvia pun bergegas duduk disamping suaminya. Tak lama ia pun mulai mengambil makanan yang ada diatas meja. Selama mereka makan, tidak ada obrolan apapun yang terjadi. Masing-masing, hanya fokus dengan makanannya sendiri. Beberapa menit kemudian, Catherine yang sudah lebih dulu menyelesaikan santap
Melihat tingkah Sylvia yang malu karena Edgar memandangi lekuk tubuhnya, Edgar seketika langsung tersenyum. Kemudian ia pun melepaskan celananya. Seketika Sylvia langsung menutup matanya menggunakan kedua tangannya saat bagian intimnya Edgar."Aaaaaaa!! Edgar! Pakai lagi celana mu itu!" ucap Sylvia







