Home / Romansa / Terjerat Pesona Istriku / 12 - Malam Pertama

Share

12 - Malam Pertama

Author: Sofia Saarah
last update Last Updated: 2025-07-25 22:40:43
Malam turun dengan sayap kelam, menyelimuti kamar itu dalam diam yang menggantung. Sherine duduk di sudut ranjang, tubuhnya menggigil bukan karena dingin, melainkan karena perasaan yang tak mampu ia beri nama. Ketakutan menyelusup ke tulangnya, seperti kabut yang perlahan menyusupi hutan sunyi.

Sherine menghentak lengannya. “Tolong, jangan paksa saya, Pak Dewa. Saya sudah cukup lelah dengan semua kelakuan Anda!”

Namun dalam satu gerakan yang tidak diduga, Dewa menariknya mendekat. Tubuh Sherine
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Terjerat Pesona Istriku   31. Rencana Veneza

    Hening malam di apartemen mewah itu pecah oleh suara benda yang terhempas.Ponsel Veneza meluncur dari tangannya lalu menghantam kasur, memantul pelan sebelum terdiam.Napasnya memburu.Matanya memerah oleh kesal yang menumpuk.Tidak satu pun teleponnya diangkat Dewa.Marry, yang dari tadi memperhatikan dari meja rias, segera mendekat dengan hati-hati—seolah mendekati kaca yang hampir retak.“Ada apa, Ven?” tanyanya lembut.Veneza memegang kedua sisi wajahnya, mencoba menahan emosi yang seperti menekan dari dalam.“Dewa…” suaranya pecah. “Dari tadi aku telepon, dia sama sekali tidak angkat. Bahkan tidak baca pesanku.”Marry menarik napas pelan. “Ven… kamu lupa apa yang dia katakan semalam?”Veneza terdiam.Lama sekali.Seolah otaknya menolak mengingat.Tapi perlahan, suara itu kembali—dalam, tajam, dan dingin.Suara Dewa.~ Malam tadi. ~Di ruang tamu apartemen Veneza.Dewa berdiri tegak, kedua tangannya mengepal.Sedangkan Veneza menatapnya dengan mata penuh tuntutan, cinta yang beru

  • Terjerat Pesona Istriku   30. Masa Lalu Jeeh

    Sherine duduk di tepi ranjang, memeluk dirinya sendiri. Sejak Jeeh pergi, tiba-tiba semua terasa sepi dan sesak. Ia menatap telapak tangan kanannya—yang tadi disentuh Jeeh—seolah sentuhan itu belum pergi, seolah masih tertinggal hangatnya, menembus kulit hingga ke lubuk hatinya yang terdalam.Satu tetes air mata jatuh. Lalu satu lagi.Ia menggigit bibirnya, menahan sesuatu yang bahkan ia sendiri takut untuk akui.“Aku sudah melupakanmu… kan?” bisiknya pada dirinya sendiri. Tapi getaran di dadanya berkata sebaliknya.Saat mereka berjabat tangan tadi… Saat Jeeh menatapnya seakan dunia berhenti berputar… Saat bibirnya bergetar menyebut ‘Sherine…’…semua luka lama terbuka kembali. Cinta yang ia kira telah mati ternyata hanya bersembunyi, masih hidup—masih sakit.Sherine menutup wajahnya dengan kedua tangan. “Kenapa aku masih begini…” isaknya lirih. Ia tak menyadari bahwa pintu kamar perlahan terbuka.Dewa masuk, langkahnya pelan agar tak mengagetkan istrinya. Namun begitu melihat Sher

  • Terjerat Pesona Istriku   29. Kau Tetap Milikku!

    Sherine pun sama terkejutnya. Kakinya mendadak lemas, jari-jarinya yang digenggam Dewa sedikit bergetar. Tatapannya beradu dengan Jeeh, dan dalam sekejap seluruh masa lalu yang ia kubur rapi menyeruak ke permukaan.Ada luka. Ada penyesalan. Ada cinta yang belum benar-benar mati.Bibir Jeeh terbuka, seolah ingin mengucap nama yang selama ini ia rindukan. Tapi lidahnya kelu, suaranya tak mampu keluar. Ia hanya bisa menatap… menatap wanita yang dulu ia pikir akan ia perjuangkan seumur hidupnya, kini menjadi milik orang lain—lebih parahnya, milik sepupunya sendiri.Di matanya ada air yang berkilat, tapi ia menahan mati-matian agar tidak jatuh.“Sherine…” gumamnya lirih, nyaris tak terdengar.Sherine mengalihkan pandangannya dengan cepat, menunduk, berusaha menghindari tatapan itu. Ia tahu jika ia terus menatap, seluruh benteng pertahanannya akan runtuh.Sementara Dewa tersenyum lebar, tak menyadari badai emosional yang tengah mengguncang dua hati di hadapannya. Ia masih menggenggam tangan

  • Terjerat Pesona Istriku   28. Pertemuan Mantan

    Keheningan itu seolah membungkus mereka dalam ruang yang tak ingin diganggu siapa pun. Dewa masih menatap dalam wajah Sherine, seakan tak ingin melewatkan satu detik pun tanpa meneguk pesona istrinya. Bibirnya baru saja menyentuh kening Sherine lagi ketika tiba-tiba getar dan dering ponsel di nakas memecah suasana.Sherine spontan menegang, menatap Dewa dengan tatapan penuh tanya. Dewa menghela napas kesal, meraih ponselnya, dan di layar jelas terpampang: Mama.Keromantisan yang baru saja mereka rajut runtuh seketika. Dewa menutup mata, sementara Sherine menarik selimutnya lebih rapat, hatinya mendadak dingin lagi. “Kenapa harus sekarang…” gumam Dewa pelan, menekan tombol hijau.Suara Thamara terdengar cerah dari seberang, “Nak, cepat turun. Jeeh sudah datang, dia menunggumu di bawah.”Dewa terdiam, menatap Sherine yang kini membelakanginya. Dewa menatap layar ponselnya dengan wajah campur aduk. Bahagia, kaget, tapi juga ada rasa tak siap. “Anak itu datang ke sini? Sekarang?” suaran

  • Terjerat Pesona Istriku   27. Tersesat

    Pagi itu, mentari sudah tinggi, menebarkan sinar keemasan ke seluruh sudut rumah besar itu. Namun, belum juga tampak Dewa dan Sherine turun ke bawah. Thamara, yang sudah rapi dengan dress rumahnya yang terlihat tetap elegan. Saat ia sedang sibuk menata bunga di meja, suara riang seorang pria yang tak asing baginya terdengar dari arah pintu.“Tanteee!!”Thamara menoleh, sontak ia langsung memanggil keponakan kesayangannya itu. “Jeeh!” seru Thamara, terkejut sekaligus girang.Mereka segera berpelukan erat. Jeeh, keponakannya yang tampan bahkan semua mengakui bahwa ketampanan Jeeh melebihi sepupunya Dewa. “Kamu ini, pas nikahan Dewa malah nggak hadir. Tante kecewa banget,” ucap Thamara sambil menepuk pelan bahunya.Jeeh cengar-cengir, “Maaf, Tante. Waktu itu kerjaan lagi gila banget, susah ambil cuti. Tapi sekarang aku langsung ke sini, kan? Mama sama Papa bilang Dewa udah tinggal di sini sama istrinya.”“Iya, begitu lah. Tante seneng kamu bisa mampir. Duduk dulu, biar Tante minta Bi Li

  • Terjerat Pesona Istriku   26. Aku Sangat Mencintaimu

    Kesadaran langsung menghantam Dewa. Tangannya bergetar, matanya membelalak ngeri pada apa yang baru saja ia lakukan. “Sherine… sayang… maafkan aku,” suaranya parau, penuh penyesalan. Ia meraih wajah istrinya, namun Sherine menepis kasar, semakin tersedu.Dewa jatuh terduduk di sisi ranjang, kedua tangannya menutup wajahnya sendiri. “Apa yang sudah kulakukan… Tuhan…” gumamnya, suaranya bergetar. Hatinya sesak, seakan seribu duri menusuk sekaligus.Ia menoleh lagi, memandang Sherine yang kini meringkuk di ujung ranjang, memeluk dirinya sendiri, seolah berusaha melindungi dari pria yang seharusnya menjadi pelindungnya. Rasa bersalah merambat di dada Dewa, lebih menyakitkan daripada tamparan manapun.Dewa meraih tangan Sherine perlahan, takut ditolak lagi. Jemarinya bergetar saat menyentuh kulit halus istrinya. “Maafkan aku, Sherine… aku kehilangan kendali. Aku tidak seharusnya menyakitimu… aku…” suaranya tercekat, hampir tak terdengar.Namun Sherine tetap menangis, tubuhnya bergetar m

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status