Share

Bab 4. Demi Mama

last update publish date: 2026-01-14 10:25:10

“Keadaan Ibu Amelia semakin menurun. Tindakan operasi itu harus cepat dilakukan, Aurora. Waktu kita tidak banyak lagi,” kata Leo selesai memeriksa Amelia.

Amelia mengalami penurunan kesadaran, setelah ia berbincang dengan Aurora yang mungkin menguras emosi di dalam dadanya.

Napas Aurora tercekat, gadis itu terhuyung ke belakang berpegangan pada kursi. Pikiran dan pandangannya kosong mendengar penjelasan Leo yang menikam jantungnya hingga ia juga kesulitan bernapas.

Pandangannya buram karena matanya mengembun, lelehan cairan panas itu siap menjatuhi kedua pipinya, lingkaran hitam di matanya juga terlihat begitu jelas, menandakan jika Aurora memang kurang tidur karena menjaga Amelia.

Bahkan ia sama sekali tidak bisa tidur, setiap memejamkan mata yang terbayang adalah wajah pucat dan kaku Mamanya.

“B-berikan saya waktu untuk mencari uang itu, Dok.”

Leo menghela napasnya, wajahnya terlihat begitu tenang menatap Aurora yang begitu berantakan.

Gadis itu sudah tidak terawat beberapa hari ini, Leo paham ketakutan Aurora. Dirinya sudah memberikan penawaran, tetapi gadis itu menolak tawarannya.

“Sampai nanti malam operasi bisa dilakukan Jika sudah lewat dari itu saya akan lepas tangan dan kamu harus mengikhlaskan apa pun yang terjadi dengan Ibu Amelia. Penyakit jantung bukan penyakit ringan, kita tidak tahu seberapa sanggup tubuh Ibu Amelia menanggung sakit yang ia rasakan,” jelas Leo dengan tegas.

Leo keluar dari ruangan Amelia meninggalkan Aurora yang mematung dengan pikiran yang begitu kalut.

Ada rasa sakit di hatinya mendengar penjelasan Leo.

Apa jika ia terlambat nyawa ibunya tidak akan tertolong lagi?

Tubuh Aurora luruh ke lantai, pandangannya begitu kosong menatap tubuh lemah Amelia yang tidak berdaya, ia menelan ludahnya dengan kasar menyingkirkan pikiran buruk yang terus menghantui dirinya.

“Tidak! Aku tidak akan kehilangan Mama,” gumam Aurora dengan seluruh tubuh yang gemetar.

Bibir gadis itu pucat dan terlihat kering, dengan sisa tenaga yang ia punya Aurora berusaha menghubungi teman-temannya termasuk Shopia tetapi teleponnya sama sekali tidak diangkat oleh mereka.

Ia membiarkan ponselnya tergeletak begitu saja. Sudah berapa kali ia menangis dalam beberapa hari ini?

Bahkan matanya sampai terasa perih setiap air mata itu keluar. Sekali lagi Aurora memandang Mamanya.

Ia bingung, sedih, kalut, tidak tahu harus berbuat apa lagi karena tak ada satu orang pun yang mau meminjamkan uang sebesar itu kepada dirinya.

Tubuh mungil dan ringkihnya bergetar, ia memeluk kakinya, menenggelamkan wajahnya di sela-sela kedua lututnya, lantai yang terasa begitu dingin tak lagi ia hiraukan.

Kenapa hidupnya seperti ini?

Tidak ada lagikah kebahagiaan sedikit saja untuk dirinya?

Bahkan untuk menghirup udara saja rasanya begitu sulit.

Sebenarnya di mana letak kebahagiaannya selama ini?

Kenapa hanya rasa sakit yang terus ia dapatkan?

Pikirannya terpecah belah, kebimbangan merasuki hati dan pikirannya. Waktunya hanya sampai malam, jika lewat dari itu Leo sudah angkat tangan, saat itu terjadi hanya takdir Tuhan yang menentukan.

Apakah Mamanya bertahan atau perginya meninggal dirinya?

Aurora menggigit bibir bawahnya, menjambak rambutnya dengan frustasi. Siapa lagi yang bisa menolongnya?

Aurora tidak ingin gagal menyelamatkan Amelia. Dengan sisa tenaga yang ia punya Aurora berusaha untuk bangun, ia berusaha untuk berdiri tegak walau rasanya begitu sulit karena ia merasa kakinya sudah tidak bertulang.

Dengan langkah terhuyung ia mendekati Amelia, menggenggam tangan itu dengan gemetar.

“Aurora janji akan menyelamatkan Mama. Mama tidak boleh menyerah begitu saja,” gumam Aurora dengan wajahnya sembabnya.

Dengan langkah perlahan, ia keluar dari ruangan mamanya. Suasana ramai di lorong rumah sakit tidak bisa mengalahkan berisiknya pikirannya saat ini.

Bahkan Aurora hanya mengikuti langkah kakinya membawanya entah ke mana. Pandangannya kosong, tangannya terkepal dengan kuat.

Jika Amelia pergi meninggalkan dirinya, ia akan ikut menyusul wanita yang melahirkannya juga. Untuk apa ia hidup jika tidak ada Mamanya lagi.

Telinganya berdengung, semua kenangannya dengan Amelia berputar bak seperti film. Suara tawa Amelia seperti nyata di pikirannya.

Apakah ia akan kehilangan tawa itu untuk selama-lamanya?

“Ma, Aurora harus ke mana lagi?” gumam Aurora dengan sangat kalut.

Tubuhnya mematung saat mendengar suara tangisan histeris dari kamar pasien yang ia lewati, hatinya ikut berdenyut sakit mendengarnya.

Aurora menutup telinganya dengan kuat, berlari dengan cepat karena tak tahan mendengar suara tangisan yang begitu menyayat hatinya, karena ia membayangkan dirinya berada di posisi itu.

Langkahnya berbelok dan berhenti di depan ruangan bertuliskan nama : dr. Leo Charles Frederick, Sp.PD-KKV.

Aurora menatap nama itu dengan pandangan yang sulit diartikan, ia tersenyum sendu. Ruangan yang begitu ia hindari, tetapi kakinya membawa dirinya ke sini lagi.

Aurora memejamkan matanya, jantungnya berdetak tidak karuan, ia menyiapkan hatinya.

Ini demi Mamanya.

Ini Demi kesehatan Mamanya.

Apa pun akan ia lakukan untuk Mamanya.

Aurora meremas ujung pakaiannya, tangannya berkeringat, mentalnya tidak siap untuk bertemu dengan Leo. Tetapi hatinya terus mendorongnya untuk ke sini.

Aurora menghembuskan napasnya dengan kasar.

Suara pintu yang terbuka dengan perlahan membuat Aurora tersentak dan refleks mundur sedikit ke belakang.

Mata mereka bertemu pandang, Aurora dan Leo sama-sama terdiam. Mata mereka saling mengunci satu sama lain.

Di mata Leo, Aurora melihat ketenangan yang sangat berbanding terbalik dengan dirinya saat ini.

Sedangkan Leo hanya diam ingin mendengar apa yang Aurora akan bicarakan kepadanya. Tetapi sampai sekarang Aurora tak kunjung membuka mulutnya, gadis itu diam membisu menatap dirinya.

“Jika tidak ada yang hendak dibicarakan bisa anda minggir? Saya ada kepentingan mendesak.”

Leo hendak melangkah, tetapi tubuh mungil itu kembali menghalangi jalannya.

Aurora kembali mendongak menatap wajah pria matang yang tinggi itu dengan tubuh yang begitu atletis.

“D-dokter Leo, tentang penawaran anda waktu itu saya—”

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Terjerat Pesona Papa Sahabatku   Bab 176. Amarah Aurora

    “Mas Leo akhirnya kita bertemu juga,” ucap Emma dengan senang ketika tidak sengaja bertemu dengan Leo di salah satu mall.Matanya melihat ke arah Aurora dengan sinis, apalagi melihat bayi yang ada di stroller.Tangannya terkepal, ia merasa cemburu melihat Leo menggenggam tangan Aurora erat.“Sialan! Rasanya aku ingin melepaskan tangan mereka,” umpat Emma di dalam hati.Aurora menatap ke arah suaminya, ia semakin mengeratkan genggaman mereka. Awalnya, Aurora merasa gugup dan takut. Tetapi mengingat semuanya, ia harus berani menghadapi Emma.Mumpung mereka bertemu di sini, maka ia harus menunjukkan kemesraannya dengan Leo di depan Emma.Sedangkan Leo menatap Emma tanpa ekspresi, ia sudah sangat muak dengan tingkah Emma saat ini. Apalagi pakaian Emma yang kurang pantas, bukannya tertarik Leo ingin muntah melihatnya.“Mas Leo ada yang ingin aku bicarakan. Bisa kita bicara berdua?” tanya Emma sambil menekan kata ‘berdua’ dengan melirik Aurora dengan sinis.“Tidak bisa!” jawab Leo dengan si

  • Terjerat Pesona Papa Sahabatku   Bab 175. Kebahagiaan

    “Kita tidak bisa memilih siapa orang tua kita, Sayang. Tapi kamu hebat sudah bertahan sejauh ini, Sayang. Kamu sudah bahagia kan sekarang?” tanya Leo mengelus rambut Aurora dengan lembut.Bahagia?Tentu saja ia bahagia!Menikah dengan Leo adalah sebuah kebahagiaan terbesar untuk dirinya.“Bahagia sekali, Mas. Menikah dengan kamu adalah sebuah anugerah yang terindah di dalam hidupku,” jawab Aurora dengan lembut.“Syukurlah kalau kamu bahagia menikah dengan Mas, Sayang. Semoga seterusnya kita menjadi keluarga yang bahagia ya,” ujar Leo menyelipkan do'a dan harapan besar pada kata ‘bahagia yang ia ucapkan.Aurora mengangguk dengan tersenyum manis. “Amin. Aku selalu berdoa untuk kebahagiaan keluarga kecil kita, Mas.”Aurora berkata dengan tulus, memang ia setiap harinya berdoa agar rumah tangganya diberkati oleh Tuhan.Hati Leo merasa tentram. Aurora berhasil membuat dirinya menjadi lebih baik dari sebelumnya. Bahkan yang dulunya ia gila kerja dan hampir tidak ada waktu di rumah sekarang

  • Terjerat Pesona Papa Sahabatku   Bab 174. Meminjam Uang

    Drtt…drtt…. Tawa Aurora langsung mereda, ia melihat ke arah ponselnya. Nama papanya tertera di sana. Ya kemarin mereka sudah bertukar nomor ponsel, walaupun berat memberikannya tetapi ia harus mengikuti permainan Darma. Ada apa papanya menelepon? Ia menatap ke arah Leo seakan meminta persetujuan kepada suaminya. “Angkat saja, Sayang. Loudspeaker ya biar Mas mendengarnya juga,” ujar Leo dengan lembut. Aurora mengangguk setuju, ia menggeser ikon berwarna hijau itu dan menekan tombol speaker di sana. Darma : “Halo, Aurora. Ini Papa, Nak. Uhuk…uhuk…” Aurora : “Iya, Pa. Papa kenapa?” Tidak bisa dibohongi jika Aurora juga sedikit merasa panik ketika mendengar suara papanya yang terus batuk. Aurora : “Pa kok diam? Papa kenapa?” Darma sengaja diam, ia ingin melihat respon Aurora terhadap dirinya yang sakit. Darma : “Papa kambuh lagi, Nak.” Aurora melihat ke arah suaminya, tampak sekali wajahnya sangat panik. Leo mencoba menenangkan istrinya tanpa sebuah kata-kata, t

  • Terjerat Pesona Papa Sahabatku   Bab 173. Tak Tega

    “Bagaimana keadaanmu, Shopia?” tanya Leo ketika ia mampir ke rumah anaknya.Sebagai orang tua, Leo juga khawatir melihat keadaan anaknya yang lemas saat hamil.Shopia tersenyum mendengarnya, ia senang diberi perhatian oleh Leo. Bahkan semua orang lebih perhatian saat dirinya hamil, apalagi suaminya.“Baik, Pa. Tapi masih lemas dan mual juga,” jawab Shopia dengan jujur.“Syukurlah kalau begitu. Papa kepikiran sama kamu, takutnya kamu masih memikirkan soal mamamu itu,” ujar Leo menghela napas dengan pelan.Shopia tersenyum tipis, memang ia masih kepikiran tentang mamanya yang tiba-tiba saja datang dan mengganggu ketenangan keluarganya kembali. Tetapi semua itu tak menjadi masalah untuk dirinya asal ada Raja yang selalu melindungi dirinya.“Memang aku sempat kepikiran, Pa. Tapi gak jadi masalah kok asal kalian selalu melindungiku. Oo iya, jaga mama Aurora dengan baik, Pa. Aku merasa mama seperti mengincar mama Aurora. Ini firasatku saja, semoga tidak terjadi,” ujar Shopia dengan serius.

  • Terjerat Pesona Papa Sahabatku   Bab 172. Tak Tahan

    Tubuh Aurora terasa sangat lemas ketika mendapatkan pelepasan. Dadanya naik turun, menikmati semua sentuhan Leo.“Enak, Sayang?” tanya Leo dengan serak.Aurora mengangguk. Ia memeluk lengan Leo dengan erat, tangan suaminya sangat nakal sekali, tetapi ia suka.“Jadi lemas banget aku, Mas. Tapi enak,” ujar Aurora dengan jujur.Leo terkekeh mendengarnya. Ia menggendong Aurora dan merebahkan tubuh istrinya di karpet berbulu yang ada di lantai.“Mas mau ngapain?” tanya Aurora dengan heran ketika ia dan Leo berada di bawah.“Kalau di atas nanti Alvaro bangun, Sayang. Di sini saja ya,” bisik Leo dengan suara seraknya.Aurora yang terhipnotis dengan tatapan Leo akhirnya mengangguk setuju. Ia pasrah ketika pakaiannya dilepas oleh Leo.Leo menelan ludahnya dengan kasar melihat pemandangan indah yang ada di hadapannya sekarang.“Buka pahanya, Sayang!” perintah Leo dengan lembut.Aurora menuruti perintah suaminya, tangannya berusaha menutupi miliknya. Tetapi tangan Leo menyingkirkannya kembali.“

  • Terjerat Pesona Papa Sahabatku   Bab 171. Sentuhan Kecil

    Emma tersenyum dengan nakal, ia memegang milik Darma dengan gerakan sensual. “Tentu saja boleh, Sayang. Kita bisa bercinta kapan pun asal Leo tidak tahu. Aku ingin bersamanya kembali bukan karena cinta melainkan karena hartanya. Dia adalah dokter yang sangat kaya, dulu aku juga dimanjakan olehnya. Keluar uang berapa pun tak masalah baginya,” sahut Emma dengan lirih.Darma tersenyum puas, ternyata Emma selicik itu. “Kenapa kamu tidak mencintai Leo lagi?” tanya Darma dengan penasaran.“Leo orang yang sangat kaku sekali. Tidak romantis,” sahut Emma dengan jujur.Karena selama menikah dengannya memang Leo tidak pernah menunjukkan sisi romantisnya. Hingga ia mencari itu pada pria lain.Darma diam, ternyata seperti itu alasannya. Tetapi walaupun begitu Darma tidak rela jika kekayaan Leo kembali jatuh kepada Emma.Hanya karena satu kekurangan Emma mempertaruhkan semua kebahagiaan yang sudah ia dapatkan.“Wanita bodoh! Pantas saja Leo menceraikanmu. Pikiranmu sungguh sangat dangkal,” gumam

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status