ログインAurora merasakan sedikit sakit pada miliknya setelah Leo berhasil masuk dengan sempurna.Leo berhenti sejenak, ia menatap mata istrinya dengan dalam. Sudah lama mereka tidak melakukannya dan ini rasanya seperti baru pertama melakukannya.Leo menyingkirkan rambut yang menutupi wajah istrinya. “Masih sakit, Sayang?” tanya Leo dengan pelan.Napasnya menderu terasa panas mengenai kulit Aurora.Aurora menggelengkan kepalanya dengan pelan. “Sudah gak, Mas. Bisa bergerak sekarang tapi pelan-pelan ya,” jawab Aurora sambil memperingati suaminya agar tidak bergerak terlalu cepat.“Iya, Sayang.”Setelah mendapatkan izin dari istrinya Leo mulai bergerak dengan perlahan, sambil mengamati ekspresi istrinya yang tampaknya mulai menikmati percintaan mereka untuk pertama kalinya setelah Aurora melahirkan.“Aaahhh…”Desahan Aurora terdengar hanya di telinga Leo. Suaranya tertahan takut mengganggu tidur Alvaro.Aurora menggigit bibir bawahnya, desakan di bawah sana semakin membuat dirinya tidak tahan.
Mendengar pertanyaan dari suaminya tiba-tiba Aurora merasa gugup, ia menelan ludahnya dengan kasar. Tangannya mengepal dengan erat.Bukan karena takut. Namun, ia deg-degan dan takut jika Leo sudah tidak tertarik lagi dengan dirinya setelah ia melahirkan.Tubuhnya berubah dan ia takut Leo tak akan puas dengan dirinya.“Boleh gak, Sayang?” tanya Leo dengan suara beratnya—pertanda ia sudah bergairah apalagi tatapan matanya sudah menggelap menatap Aurora.“Kenapa diam saja, Sayang? Apa kamu keberatan jika Mas menyentuhmu sekarang?” tanya Leo memastikan.Aurora kelagapan, mana mungkin ia keberatan ia hanya takut tubuhnya tidak menarik dulu di mata Leo.“B-bukan begitu, Mas. B-boleh kok. A-ku hanya gugup saja,” jawab Aurora terbata-bata.Leo tersenyum tipis melihat langsung bagaimana kegugupan Aurora saat ini.Pria itu menarik tubuh Aurora hingga merapat pada tubuhnya. “Benar kamu merasa tidak terpaksa melayani Mas untuk hari ini hmm?” tanya Leo sekali lagi untuk memastikan ucapan istrinya.
“Mana Shopia?” tanya Aurora ketika baru saja sampai di rumah Raja dan Shopia.Aurora celingukan, matanya terus mencari keberadaan sahabatnya tersebut. Tetapi ia tidak menemukan Shopia sampai sekali.“Di mana Shopia, Raja?” tanya Aurora dengan tidak sabaran padahal Raja baru saja mau membuka suara tetapi pertanyaan Aurora menghentikan suaranya.Raja menggaruk kepalanya yang tidak gatal, ia tersenyum canggung karena Aurora terus bertanya kepadanya.“Shopia ada di kamarnya. Ke kamar saja tidak apa-apa biar saya dan Papa mengobrol di bawah,” jawab Raja.Aurora melihat ke arah suaminya, ia merasa tidak enak jika harus memasuki kamar Shopia dan Raja. Tetapi ia sudah sangat ingin bertemu dengan Shopia sejak di kabarkan jika sahabatnya itu sedang hamil.“Tapi…”“Tidak apa-apa masuk saja,” ucap Raja mengizinkan.“Temui Shopia, Sayang. Tidak mungkin Shopia yang keluar dia tidak boleh kelelahan dulu karena terlalu beresiko untuk kehamilannya,” timpal Raja.Aurora akhirnya menyetujuinya walaupun
Raja memandang hasil USG Shopia tak berkedip. Berulang kali Raja meyakinkan dirinya jika ini bukanlah mimpi.“Sayang yakinkan Mas kalau ini bukan mimpi,” ucap Raja dengan menepuk pipinya dengan pelan.Shopia juga masih tidak percaya, tetapi rasa bahagia itu sangat membuncah di hatinya. Ia bisa hamil kembali, matanya berkaca-kaca menatap hasil ISG miliknya.“A-aku hamil, Mas. Ini beneran bukan mimpi hiks…hiks…” jawab Shopia menangis haru.Raja memeluk istrinya dengan erat, mencium ubun-ubun Shopia dengan penuh penghayatan sampai ia memejamkan mata.“Mas janji akan menjaga kalian dengan sepenuh hati. Mas tidak akan membiarkan kalian kenapa-napa. Kamu dan anak kita harus sehat,” ucap Raja tersenyum menatap wajah Shopia.Bahkan ia juga ikut menangis haru. Raja berjongkok di hadapan Shopia, wajahnya dan perut sang istri saling sejajar. Ia mencium perut Shopia berulang kali dengan rasa bahagia yang sangat membuncah. “Sayang, kamu sehat-sehat di dalam perut Mama ya. Papa akan menjaga kamu d
Benar saja sampai keesokan harinya keadaan Shopia tidak kunjung membaik. Wanita itu semakin terlihat lemas dan muntah-muntah setelah bangun tidur hingga wajahnya pucat pasih, bahkan Shopia tidak bisa melakukan aktivitas apa pun selain rebahan di kasur.Tanpa pikir panjang Raja langsung membawa istrinya ke rumah sakit. Pikirannya kalut melihat keadaan Shopia yang tidak berdaya.Ia juga sudah menghubungi Leo jika mereka akan ke rumah sakit untuk memeriksa Shopia. “Sayang sabar ya sebentar lagi kita sampai ke rumah sakit,” ucap Raja menatap wajah Shopia.Shopia hanya mengangguk saja, ia sudah sangat lemas sekali. Ia sudah pasrah jika harus dibawa di rumah sakit.Shopia sudah tidak membantah, ia sudah janji dengan suaminya. Toh ia juga merasakan tubuhnya sama sekali tidak enak.“Mas, aku takut. Kalau aku terkena penyakit keras gimana? Bagaimana nanti kalau aku meninggal?” tanya Shopia dengan suara sendunya.Raja mengepalkan kedua tangannya, ia tidak suka mendengar pertanyaan tidak bergun
“Sayang bangun.” Raja mencoba membangunkan sang istri yang belum bangun sampai sekarang. Ia menggoyangkan lengan Shopia tetapi tidak ada pergerakan sama sekali.“Sayang,” panggil Raja dengan lembut.Tumben sekali Shopia sangat susah untuk dibangunkan. Raja jadi khawatir, ia duduk di pinggir ranjang.Ia mengelus rambut Shopia, menatap wajah sang istri. Dan mengecek suhu tubuh istrinya.“Sayang kamu kenapa? Jangan buat Mas khawatir,” tanya Raja dengan pelan tepat di telinga Shopia.Shopia mencoba membuka matanya yang terasa berat sekali, tubuhnya sangat pegal-pegal tanpa sebab.“Aku capek banget, Mas. Lemas juga. Gak tahu kenapa,” jawab Shopia dengan suara lirihnya.Shopia mengubah posisi tubuhnya menjadi terlentang, menatap Raja dengan pandangan sayunya.“Kita ke rumah sakit ya. Kamu terlihat sangat lemas sekali, Sayang. Mas gak tenang kalau harus meninggalkan kamu untuk kerja,” bujuk Raja.Shopia menggelengkan kepalanya. “Aku cuma lemas, Mas. Nanti juga sembuh kok,” tolak Shopia deng







