Home / Romansa / Terjerat Pesona Sekretaris / 12. Kekhawatiran Dirgantara

Share

12. Kekhawatiran Dirgantara

Author: IKYURA
last update Last Updated: 2026-02-01 14:15:18

Matahari pagi baru saja merayap dari balik tirai awan saat Dirgantara berdiri di depan jendela apartemennya. Pancaran sinarnya lembut, menyeruak melalui kaca besar yang hampir menutupi seluruh sisi ruangan. Tapi udara di dalam apartemen itu terasa dingin dan sunyi—mungkin bukan tempatnya, tapi hatinya.

Sudah hampir dua jam ia terbangun. Jam digital di meja samping tempat tidur tadi menunjuk pukul empat saat matanya terbuka. Sejak itu, ia tak bisa kembali tidur. Pikiran tentang Sadya terus berpu
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Terjerat Pesona Sekretaris   Extra Part 3

    Usia bayi mereka genap satu bulan malam itu. Rumah terasa lebih hangat, bukan karena lampu-lampu yang menyala di setiap sudut, melainkan karena kehadiran makhluk kecil yang kini menjadi pusat semesta mereka.Sadya duduk di sofa dekat jendela, menggendong bayinya dengan kedua tangan yang penuh kehati-hatian. Tubuh mungil itu terlelap, napasnya teratur, dadanya naik turun perlahan. Sadya menunduk, menatap wajah yang masih merah muda, dengan hidung kecil dan bibir yang sesekali bergerak seolah sedang bermimpi. Jemarinya menyentuh pipi lembut itu, nyaris tak berani, seakan takut mengusik tidur sang bayi.Sebulan lalu, rasa sakit, haru, dan takut bercampur jadi satu. Kini, semua itu terbayar dengan kehadiran Vanamala—Vala—yang berbaring damai dalam dekapannya.Langkah kaki terdengar dari arah kamar. Sadya mendongak ketika Dirgantara muncul. Lelaki itu sudah berpakaian rapi—kemeja gelap yang pas di tubuhnya, rambut disisir sederhana, dan aroma parfum yang samar. Ada sesuatu yang berbeda dar

  • Terjerat Pesona Sekretaris   Extra Part 2

    Ruang bersalin terasa lebih tenang dibanding ruang operasi, meski aroma obat dan suara alat medis masih samar terdengar. Sadya terbaring dengan tubuh sedikit miring, wajahnya pucat namun matanya terbuka. Tubuhnya terasa berat, setiap gerakan seperti membutuhkan tenaga lebih. Namun di dadanya, ada kehangatan kecil yang membuat semuanya terasa layak diperjuangkan.Bayi perempuan itu berada dalam dekapan Sadya. Masih mungil, kulitnya kemerahan, napasnya naik turun perlahan. Dengan bantuan perawat, Sadya menyusui untuk pertama kalinya. Gerakannya kaku, canggung, tapi nalurinya bekerja dengan sendirinya. Saat bayi itu mulai mengisap, air mata Sadya kembali jatuh—kali ini bukan karena takut, melainkan haru yang tak terdefinisikan.Dirgantara berdiri di sisi ranjang, satu tangannya bertumpu di pagar besi, matanya tak lepas dari pemandangan itu. Dadanya terasa penuh. Ia menyaksikan perempuan yang ia cintai, lemah secara fisik namun luar biasa kuat, memberi kehidupan pada anak mereka.“Kamu he

  • Terjerat Pesona Sekretaris   Extra Part 1

    Ruang meeting siang itu dipenuhi cahaya putih dan udara yang terasa dingin oleh pendingin ruangan. Di layar besar, salah satu staf tengah mempresentasikan proyek baru—grafik demi grafik berganti, suara penjelasan terdengar runtut dan penuh keyakinan. Dirgantara duduk di ujung meja panjang, tubuhnya tegak, sorot matanya tajam menyimak setiap detail yang dijelaskan di depan sana.Sesekali ia mengangguk, sesekali mencatat poin penting di tablet di depannya. Wajahnya tenang, profesional, sepenuhnya mencerminkan seorang pemimpin yang terbiasa berada di bawah tekanan dan pengambilan keputusan besar.“Target kita adalah groundbreaking tiga bulan ke depan,” suara staf itu terdengar tegas. “Dengan catatan seluruh izin bisa kita amankan dalam dua minggu—”Belum sempat kalimat itu selesai, ponsel Dirgantara yang tergeletak di samping tabletnya bergetar. Getarannya singkat, tapi cukup menarik perhatiannya. Ia melirik layar sekilas—nama Nenek Marisa tertera di sana.Alis Dirgantara sedikit berkeru

  • Terjerat Pesona Sekretaris   102. Pengakuan Dirgantara

    Kamar itu dipenuhi cahaya sore yang lembut, masuk melalui jendela besar yang menghadap ke hamparan hijau Ubud. Tirai tipis berwarna krem bergoyang pelan tertiup angin, menciptakan suasana hangat dan tenang. Di depan meja rias, Sadya duduk dengan punggung tegak, sementara Mira berdiri di belakangnya, sesekali memiringkan kepala, memastikan setiap detail riasan tampak sempurna.Gaun panjang berwarna hitam membalut tubuh Sadya. Potongannya sederhana namun elegan, jatuh mengikuti lekuk tubuhnya dengan anggun. Perutnya yang kini membola jelas terlihat—tanda kehidupan kecil yang tumbuh di dalam dirinya. Namun justru di situlah Sadya merasa paling ragu.Ia menatap bayangannya di cermin cukup lama. Tangannya refleks mengusap perutnya perlahan, lalu naik ke bagian pinggang dan lengan.“Aku kelihatan… gendut banget ya, Mir?” tanyanya pelan, nyaris seperti berbicara pada dirinya sendiri.Mira yang tadinya fokus memperhatikan ponsel lantas mengangkat kepala. Ia menatap Sadya lewat cermin, menangk

  • Terjerat Pesona Sekretaris   101. Menikmati Kebersamaan

    Pintu villa terbuka perlahan, disertai suara halus engsel kayu yang berat namun elegan. Begitu melangkah masuk, suasana langsung berubah—sunyi, sejuk, dan terasa sangat privat. Dunia di luar seolah tertinggal, digantikan oleh ketenangan yang sengaja diciptakan untuk membuat siapa pun bernapas lebih pelan.Villa itu berukuran besar, dengan langit-langit tinggi yang membuat ruang terasa lapang. Dinding-dindingnya didominasi warna hangat—krem, cokelat kayu, dan sentuhan batu alam yang dibiarkan tampil apa adanya. Cahaya matahari masuk dengan bebas melalui jendela kaca besar yang membentang hampir dari lantai hingga langit-langit.Sadya berhenti tepat di tengah ruangan, matanya menyapu sekeliling dengan takjub.“Mas…” ucapnya lirih.Di hadapan mereka, terbentang pemandangan yang membuat siapa pun ingin diam lebih lama. Jendela kaca lebar itu menghadap langsung ke sebuah private pool berbentuk memanjang, airnya berkilau memantulkan cahaya siang. Di balik kolam, hamparan persawahan hijau me

  • Terjerat Pesona Sekretaris   100. Babymoon

    Pagi itu Dirgantara dan Sadya baru saja keluar dari kamar. Suara roda koper bergesekan dengan lantai memecah keheningan saat mereka menuruni tangga, Dirgantara menarik koper besar, sementara tangan lainnya sesekali menahan Sadya yang berjalan pelan di sisinya.Sadya mengenakan dress longgar berwarna pastel, rambutnya diikat sederhana. Perutnya yang membulat membuat langkahnya lebih berhati-hati, dan Dirgantara tak pernah melepas jarak lebih dari setengah langkah darinya.Di ruang tengah, Nenek Marisa sudah duduk dengan buku di tangannya, kemudian menoleh.“Kalian mau berangkat sekarang?” tanya Nenek, menatap Sadya dengan mata penuh perhatian.“Iya, Nek,” jawab Sadya sambil tersenyum. “Aku sama Mas Dirga tinggal sebentar nggak apa-apa, kan?”Nenek Marisa mendekat, menggenggam tangan Sadya dengan lembut. “Jaga diri selama di sana. Jangan terlalu capek. Ingat, ada cicit Nenek di perut kamu.”Sadya mengangguk. “Iya, Nek.”Dirgantara kemudian menunduk sedikit, mencium tangan Nenek Marisa.

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status