LOGINDirgantara baru saja menyelesaikan meeting bersama para stakeholder proyek. Wajahnya serius, tubuhnya tegak. Dengan langkah lebar dan ekspresi tak banyak berubah, ia keluar dari ruang rapat menuju ruang kerjanya. Di belakangnya, ada Mira yang sejak tadi ikut dalam pembahasan karena proyek kali ini juga melibatkan perusahaan tempat Mira bekerja sebagai arsitek.
Mira mengenakan blazer krem dengan rambut disanggul rapi. Wajahnya selalu terlihat ceria, berbanding terbalik dengan ekspresi Dirgantara yang dingin dan datar. Langkah mereka beriringan menyusuri koridor kaca lantai eksekutif. “Mas, aku mau tanya, deh,” ucap Mira tiba-tiba, memecah keheningan. Dirgantara tidak menoleh, hanya sedikit memperlambat langkahnya. “Hm?” “Dya udah berapa lama kerja di sini?” Dirgantara sedikit mengernyit. Pertanyaan itu terdengar biasa, tapi entah kenapa rasanya menusuk di pikirannya. “18 bulan kayaknya,” jawabnya. “Kenapa emangnya?” Mira mengangguk pelan. “Lumayan lama juga,” gumamnya pelan. “Selama ini aku sering banget dengar kamu gonta-ganti sekretaris. Nggak nyangka aja Dya bisa mengatasi kekakuan kamu yang nyebelin.” Kali ini Dirgantara menoleh, meski hanya sejenak. “Siapa yang nyebelin?” Lelaki itu mendecak tak terima. “Aku memang begini dari dulu. Lagian aku ganti sekretaris kan karena emang nggak cocok sama mereka. Emang salah?” “Nggak cocok atau kamunya yang emang ribet?” Mira tertawa. “Nenek sering banget cerita soal kamu yang perfeksionis ya, Mas. Diantara sepupu-sepupu yang ada, cuma kamu doang yang paling bisa diandalkan. Katanya watak kamu persis banget sama Kakek.” “Memangnya siapa lagi? Sepupuku yang lain malah sibuk kerja di tempat orang soalnya.” Mira tertawa. “Nyinyir banget ya ini bapak-bapak,” ujarnya. “Back to the topic, deh.” Langkah Mira mensejajari langkah Dirgantara. “Aku nggak nyangka aja Dya kerja di sini. Dia tuh dulu orangnya terkenal pendiam dan kalem banget. Udah gitu pintar dan kutu buku. Rambutnya suka dikepang dua atau kadang satu ke belakang kayak anak sekolah. Lucu, kelihatannya polos terus.” Mira terkekeh, mengenang masa lalu. Sementara itu, Dirgantara tetap berjalan, tapi pikirannya mulai teralih ke sosok perempuan yang menjadi sekretaris pribadinya. Sosok yang selalu rapi tapi sederhana, selalu menjaga jarak, selalu terlihat tenang… mungkin terlalu tenang. “Masa kuliah dulu,” lanjut Mira, “dia sering banget bantu aku bikin tugas, Mas. Bahkan kalau aku nggak ngerti, dia rela ngajarin aku sampai paham. Dia tipe orang yang kalau diminta tolong nggak pernah nolak.” Dirgantara menelan ludah pelan. Ia tidak pernah tahu soal itu. Sadya selalu menjaga percakapan tetap profesional, jarang bicara soal masa lalu. “Kamu pasti nggak nyangka juga kan kalau, Mas, kalau Sadya masih berumur 23 tahun, tapi sudah menikah?” “Di usia segitu biasanya orang-orang udah pada nikah, Mir.” “Kamu umur 30 tahun juga belum nikah!” sambar Mira dengan cepat. “Beda. Aku kan laki-laki. Masih bisa nikahnya nanti-nanti.” “Sayang banget, anak sepolos Sadya begitu harus menikah dengan laki-laki yang keluarganya problematik.” Mereka sudah hampir sampai di depan ruang kerja Dirgantara. Dirgantara berhenti dan menoleh, ekspresinya tetap dingin. “Maksudnya?” Mira menggigit bibir bawahnya. Tampak bingung harus menceritakan semuanya atau tidak pada Dirgantara. “Iya, problematik, Mas. Aku pernah melihat Dya diperlakukan buruk sama mertuanya, ya!” Wajah Mira tampak geram. Dirgantara terdiam. “Buruk gimana?” tanyanya perlahan. Mira menarik napas panjang. “Pokoknya kelakuan mertuanya tuh bikin geleng-geleng kepala, deh. Aku pernah lihat Dya dimaki habis-habisan sama mertuanya. Udah gitu di depan orang banyak pula. Dan itu pun cuma karena hal sepele. Waktu itu aku datang ke nikahan temenku, yang kebetulan ternyata sepupunya suami Dya. Dya dimarahi ibu mertuanya cuma karena dia ngilang ke toilet sebentar. Nggak hanya itu… aku juga dengar kalau dia dibanding-bandingkan sama perempuan lain.” Dirgantara mengerutkan kening. Untuk sesaat, wajahnya yang datar berubah jadi gelap. “Dibandingkan bagaimana?” tanyanya, suaranya bergetar sangat halus. “Katanya Dya nggak pernah merawat diri. Jangankan kelihatan cantik, ke salon aja nggak pernah. Dia dibilang nggak bisa menyenangkan suaminya karena penampilannya.” Mira berucap hati-hati, matanya sesekali melirik ke arah wajah Dirgantara yang perlahan mengeras. “Nggak cantik apanya! Padahal Dya tuh manis, kalem begitu.” Keheningan menggantung. "Mereka memperlakukan Dya begitu?" suara Dirgantara terdengar berat, jauh dari ketenangan khasnya. Mira mengangguk. “Setidaknya itu yang pernah aku lihat, sih. Aku tahu banget Dya dulu tuh walaupun kalem, tapi anaknya ceria, Mas. Sekarang kelihatan banget kalau dia tuh berhati-hati banget. Aku yakin banget kalau dia nggak bahagia sama hidupnya yang sekarang, deh!” Dirgantara menghela napas pendek. “Nggak usah ikut campur, Mir. Kita nggak boleh ngejudge sesuatu yang nggak kita tahu.” “Aku tahu, kok. Dan yang bikin makin sakit hati, tuh, suaminya nggak pernah ngebelain Dya. Kan aku jadi sebel, Mas!” Alih-alih menanggapi perkataan Mira, Dirgantara membuka pintu ruangannya. Ia tidak ingin Sadya mendengar percakapannya dengan Mira dan menyebabkan luka di hati perempuan itu. “Kamu udah nggak ada acara, kan? Mau makan siang di mana?” tanya Dirgantara setelah menaruh laptopnya di atas meja. “Hm? Nggak deh, Mas. Aku udah ada janji sama Dya mau makan siang bareng soalnya.” Dirgantara menghentikan gerakannya dan langsung mendongak. “Mau makan siang di mana memangnya?” Mira belum sempat menjawab. Namun Dirgantara sudah kembali bersuara. “Makan siang bareng saja. Kamu boleh ajak Dya sekalian.” Mira membelalak lebar. “Serius?” “Aku juga ajak Banyu,” ujar Dirgantara. “Mau makan di Gyu-kaku?” Mira mendongak kecil. “MAU! Ih, kamu kok pengertian banget sih, Mas. Tahu aja kalau aku tuh suka banget sama daging.” Dirgantara tidak menjawab, hanya mengangguk singkat dan meminta Mira untuk menunggu di lobi selagi lelaki itu membereskan beberapa hal. Waktu sudah menunjuk angka dua belas saat mobil yang mereka kendarai akhirnya tiba di salah satu restoran barbeque di bilangan Jakarta. Dirgantara sengaja mengajak Mira untuk bergabung dengannya, walaupun lelaki itu juga sedikit heran dengan tingkahnya sekarang. Tidak seperti biasanya. Restoran barbeque itu memiliki suasana hangat dengan interior kayu gelap yang memberikan kesan elegan namun tetap santai. Meja-meja dilengkapi dengan grill di tengahnya, dan asap tipis naik perlahan dari beberapa meja yang sudah terisi oleh pengunjung lain. Aroma daging yang dipanggang bercampur bumbu marinasi khas Korea memenuhi udara, membuat perut siapa pun yang masuk langsung bereaksi. “Aaaa, nggak sabar pengen makan daging!” ujar Mira tampak antusias. Sementara Sadya yang berjalan di samping Mira, terlihat canggung mengingat bahwa ini kali pertamanya Dirgantara mengajak perempuan itu makan bersama. Lampu gantung bergaya industrial menggantung rendah, menciptakan cahaya kekuningan yang lembut dan tidak menyilaukan. Alunan musik instrumental modern terdengar pelan di latar, cukup untuk menghidupkan suasana tanpa mengganggu percakapan. Mereka duduk di ruang semi-private—dipisahkan oleh panel kayu geser yang memberi sedikit privasi. Di tengah meja, panggangan sudah menyala dengan bara merah stabil. Beberapa mangkuk kecil berisi side dish seperti kimchi, salad, dan irisan bawang putih tersusun rapi. Waitress baru saja meletakkan platter daging premium yang sudah dipotong tipis, lengkap dengan saus celup dan sayuran untuk bungkus. Meski suasana di sekitarnya riuh dengan tawa dan percakapan dari pengunjung lain, area tempat mereka duduk terasa lebih tenang. Sesekali terdengar suara dengusan grill ketika potongan daging pertama menyentuh besi panas, menimbulkan bunyi berdesis yang khas. Mira tampak antusias menyusun daging di atas panggangan, sementara Sadya duduk sedikit tegang, tangannya berhenti tepat sebelum mengambil sumpit. Di sisi lain, Dirgantara hanya duduk tenang dengan kedua lengan terlipat, sesekali memandang ke arah mereka dengan ekspresi sulit ditebak. “Silakan,” ucap Dirgantara singkat. Semua memulai makan dengan suasana santai. Mira dan Banyu mengobrol ringan tentang proyek, tentang masa kuliah Mira, bahkan sempat bercanda tentang bagaimana Mira dulu sering terlambat masuk kelas. Sadya diam hampir sepanjang waktu. Sesekali tersenyum sopan, tapi mata dan tangannya menunjukkan kecanggungan. Terlebih ketika Dirgantara berbicara langsung padanya. “Dy…,” ucap Dirgantara saat makanan utama disajikan. Sadya mendongak cepat. “I-ya, Pak?” Mira melempar tatapan geli. Banyu pun menahan senyum. “Dia kelihatan canggung banget semeja sama Bapak, ya,” ujar Banyu bercanda. “Dih, emang Mas Dirga galak sama kamu ya, Dy?” Sadya yang ditanya hanya mengerjap-ngerjap. “Nggak, kok. Bapak nggak pernah galak sama aku, Mir.” “Kamu nggak makan sushi?” tanya Dirgantara tenang. “Saya… saya nggak bisa makan seafood, Pak.” Sadya mengulas senyuman tipis. “Saya bisa makan daging saja, kok.” Mira menggoda pelan. “Kamu mau pesan menu yang lain, Dy?” Sadya menggeleng cepat. “Nggak usah, Mir. Ini sudah lebih dari cukup, kok.” Dirgantara hanya mengangkat alis sedikit, lalu kembali makan. Percakapan terus berlanjut, tapi kali ini Mira membuat suasana lebih hangat. Hingga tiba-tiba… “Mas…,” ucap Mira ringan, “kemarin aku mampir ke rumah Nenek. Nenek bilang katanya dia berharap kamu segera menikahi Mbak Dhira.” Sendok Dirgantara berhenti di udara. Banyu ikut terdiam, namun tatapannya tak terbaca. Dirgantara tidak langsung menjawab. Tatapannya teralihkan, tapi tetap tenang di permukaan. Mira terlihat tidak sadar bahwa atmosfer tiba-tiba berubah. “Aku sempat bingung kenapa Nenek selalu ngejar cucu-cucunya buat nikah, sih? I mean, emang disangkanya gampang apa menikah itu? Apalagi kamu yang sekarang masih fokus membangun perusahaan. Nanti juga kalau Mas Dirga udah siap, udah pasti bakalan—” “Mir,” potong Banyu pelan. Mira menutup mulutnya sembari mengerjap, bingung. “Mm? Kenapa?” Dirgantara meletakkan sumpitnya perlahan, lalu menatap Mira. “Aku sama Dhira nggak bakalan menikah.” Mira mengerjapkan mata. “Hah?” “Dia memilih untuk mengejar karirnya. Dia bahkan nggak sempat bilang apa-apa dan meninggalkan cincin tunangan kita begitu saja.” Suaranya tetap tenang, tapi nada itu membuat Mira tersadar akan kesalahannya. “What the—” Mira tampak menyesal. “Mas? Kamu nggak bercanda? Nenek nggak tahu soal ini?” Dirgantara menarik napas lalu menggeleng. Wajahnya masih terlihat tenang walaupun apa yang dikatakannya barusan pasti menyakitkan. Lelaki itu hanya bergumam. “Nenek belum tahu,” jawab Dirgantara singkat. Sadya sejak tadi menunduk. Hatinya tiba-tiba berdebar aneh. Dia tidak tahu mengapa. Padahal seharusnya kabar itu tidak ada hubungannya dengannya. Mira menggigit bibir, semakin penasaran dengan cerita Dirgantara. “Terus? Jadi—” Wajah perempuan itu tampak bingung. “Terus kapan kamu mau bilang ke Nenek, Mas?” “Nggak tahu. Aku belum siap melihat Nenek kecewa karena aku gagal menikah, Mir. Aku tahu dari dulu Nenek udah pengen banget melihat aku menikah. Walaupun sebenarnya aku juga belum siap melakukannya sekarang.” Sadya diam, namun dari sudut matanya ia melihat sesuatu yang berbeda pada ekspresi Dirgantara. Dan tanpa disadari, selama beberapa detik, Dirgantara melihat ke arah Sadya. Bukan sebagai sekretaris, bukan sebagai bawahan. Tapi sebagai seseorang yang… mungkin pernah terluka. Seseorang yang diam-diam, mulai menarik perhatiannya. *** Terima kasih sudah mampir dan membaca, ya.Usia bayi mereka genap satu bulan malam itu. Rumah terasa lebih hangat, bukan karena lampu-lampu yang menyala di setiap sudut, melainkan karena kehadiran makhluk kecil yang kini menjadi pusat semesta mereka.Sadya duduk di sofa dekat jendela, menggendong bayinya dengan kedua tangan yang penuh kehati-hatian. Tubuh mungil itu terlelap, napasnya teratur, dadanya naik turun perlahan. Sadya menunduk, menatap wajah yang masih merah muda, dengan hidung kecil dan bibir yang sesekali bergerak seolah sedang bermimpi. Jemarinya menyentuh pipi lembut itu, nyaris tak berani, seakan takut mengusik tidur sang bayi.Sebulan lalu, rasa sakit, haru, dan takut bercampur jadi satu. Kini, semua itu terbayar dengan kehadiran Vanamala—Vala—yang berbaring damai dalam dekapannya.Langkah kaki terdengar dari arah kamar. Sadya mendongak ketika Dirgantara muncul. Lelaki itu sudah berpakaian rapi—kemeja gelap yang pas di tubuhnya, rambut disisir sederhana, dan aroma parfum yang samar. Ada sesuatu yang berbeda dar
Ruang bersalin terasa lebih tenang dibanding ruang operasi, meski aroma obat dan suara alat medis masih samar terdengar. Sadya terbaring dengan tubuh sedikit miring, wajahnya pucat namun matanya terbuka. Tubuhnya terasa berat, setiap gerakan seperti membutuhkan tenaga lebih. Namun di dadanya, ada kehangatan kecil yang membuat semuanya terasa layak diperjuangkan.Bayi perempuan itu berada dalam dekapan Sadya. Masih mungil, kulitnya kemerahan, napasnya naik turun perlahan. Dengan bantuan perawat, Sadya menyusui untuk pertama kalinya. Gerakannya kaku, canggung, tapi nalurinya bekerja dengan sendirinya. Saat bayi itu mulai mengisap, air mata Sadya kembali jatuh—kali ini bukan karena takut, melainkan haru yang tak terdefinisikan.Dirgantara berdiri di sisi ranjang, satu tangannya bertumpu di pagar besi, matanya tak lepas dari pemandangan itu. Dadanya terasa penuh. Ia menyaksikan perempuan yang ia cintai, lemah secara fisik namun luar biasa kuat, memberi kehidupan pada anak mereka.“Kamu he
Ruang meeting siang itu dipenuhi cahaya putih dan udara yang terasa dingin oleh pendingin ruangan. Di layar besar, salah satu staf tengah mempresentasikan proyek baru—grafik demi grafik berganti, suara penjelasan terdengar runtut dan penuh keyakinan. Dirgantara duduk di ujung meja panjang, tubuhnya tegak, sorot matanya tajam menyimak setiap detail yang dijelaskan di depan sana.Sesekali ia mengangguk, sesekali mencatat poin penting di tablet di depannya. Wajahnya tenang, profesional, sepenuhnya mencerminkan seorang pemimpin yang terbiasa berada di bawah tekanan dan pengambilan keputusan besar.“Target kita adalah groundbreaking tiga bulan ke depan,” suara staf itu terdengar tegas. “Dengan catatan seluruh izin bisa kita amankan dalam dua minggu—”Belum sempat kalimat itu selesai, ponsel Dirgantara yang tergeletak di samping tabletnya bergetar. Getarannya singkat, tapi cukup menarik perhatiannya. Ia melirik layar sekilas—nama Nenek Marisa tertera di sana.Alis Dirgantara sedikit berkeru
Kamar itu dipenuhi cahaya sore yang lembut, masuk melalui jendela besar yang menghadap ke hamparan hijau Ubud. Tirai tipis berwarna krem bergoyang pelan tertiup angin, menciptakan suasana hangat dan tenang. Di depan meja rias, Sadya duduk dengan punggung tegak, sementara Mira berdiri di belakangnya, sesekali memiringkan kepala, memastikan setiap detail riasan tampak sempurna.Gaun panjang berwarna hitam membalut tubuh Sadya. Potongannya sederhana namun elegan, jatuh mengikuti lekuk tubuhnya dengan anggun. Perutnya yang kini membola jelas terlihat—tanda kehidupan kecil yang tumbuh di dalam dirinya. Namun justru di situlah Sadya merasa paling ragu.Ia menatap bayangannya di cermin cukup lama. Tangannya refleks mengusap perutnya perlahan, lalu naik ke bagian pinggang dan lengan.“Aku kelihatan… gendut banget ya, Mir?” tanyanya pelan, nyaris seperti berbicara pada dirinya sendiri.Mira yang tadinya fokus memperhatikan ponsel lantas mengangkat kepala. Ia menatap Sadya lewat cermin, menangk
Pintu villa terbuka perlahan, disertai suara halus engsel kayu yang berat namun elegan. Begitu melangkah masuk, suasana langsung berubah—sunyi, sejuk, dan terasa sangat privat. Dunia di luar seolah tertinggal, digantikan oleh ketenangan yang sengaja diciptakan untuk membuat siapa pun bernapas lebih pelan.Villa itu berukuran besar, dengan langit-langit tinggi yang membuat ruang terasa lapang. Dinding-dindingnya didominasi warna hangat—krem, cokelat kayu, dan sentuhan batu alam yang dibiarkan tampil apa adanya. Cahaya matahari masuk dengan bebas melalui jendela kaca besar yang membentang hampir dari lantai hingga langit-langit.Sadya berhenti tepat di tengah ruangan, matanya menyapu sekeliling dengan takjub.“Mas…” ucapnya lirih.Di hadapan mereka, terbentang pemandangan yang membuat siapa pun ingin diam lebih lama. Jendela kaca lebar itu menghadap langsung ke sebuah private pool berbentuk memanjang, airnya berkilau memantulkan cahaya siang. Di balik kolam, hamparan persawahan hijau me
Pagi itu Dirgantara dan Sadya baru saja keluar dari kamar. Suara roda koper bergesekan dengan lantai memecah keheningan saat mereka menuruni tangga, Dirgantara menarik koper besar, sementara tangan lainnya sesekali menahan Sadya yang berjalan pelan di sisinya.Sadya mengenakan dress longgar berwarna pastel, rambutnya diikat sederhana. Perutnya yang membulat membuat langkahnya lebih berhati-hati, dan Dirgantara tak pernah melepas jarak lebih dari setengah langkah darinya.Di ruang tengah, Nenek Marisa sudah duduk dengan buku di tangannya, kemudian menoleh.“Kalian mau berangkat sekarang?” tanya Nenek, menatap Sadya dengan mata penuh perhatian.“Iya, Nek,” jawab Sadya sambil tersenyum. “Aku sama Mas Dirga tinggal sebentar nggak apa-apa, kan?”Nenek Marisa mendekat, menggenggam tangan Sadya dengan lembut. “Jaga diri selama di sana. Jangan terlalu capek. Ingat, ada cicit Nenek di perut kamu.”Sadya mengangguk. “Iya, Nek.”Dirgantara kemudian menunduk sedikit, mencium tangan Nenek Marisa.







