LOGIN"Satu-satunya keluarga Adyasan yang aku tahu..." Aurora sengaja menggantung kalimatnya, menatap suaminya ragu. "Tapi janji, kamu jangan marah kalau aku sebut orang ini.""Iya, Aurora," jawab Rasya, nada suaranya terdengar sedikit tak sabar.Aurora menghela napas pelan. "Omnya mantan aku."Deg!Jantung Rasya seolah merosot jatuh menghantam dasar perutnya. Rahangnya mengeras seketika di balik wajahnya yang masih terlihat tenang. Benar sekali dugaannya.'Dio?' batin Rasya. 'Keparat itu?'Namun, Rasya harus memastikannya tanpa celah. Ia tidak boleh salah target. "Tepatnya siapa itu, Baby?"Aurora mendengus geli, memutar bola matanya pelan. "Ih, Mas, aku kan cuma punya satu mantan, lho."Darah di dalam nadi Rasya mendidih hingga ke titik didih tertinggi. Rasya mengerahkan seluruh kendali diri agar aura membunuhnya tidak tercium oleh sang istri. Ia berusaha keras menjaga ekspresinya tetap tenang."Kenapa tiba
Baru beberapa menit suaminya itu pergi meninggalkannya, tapi ruang makan yang luas ini mendadak terasa terlalu sepi.Aurora menyesap air putihnya dalam diam.'Urusan kantor.' Alasan Rasya tadi terngiang di kepalanya. Sebuah senyum kecil yang maklum terbit di bibir Aurora.Tentu saja ia tahu suaminya berbohong.Rasya bukanlah tipe pria yang segan membahas urusan bisnis di hadapannya. Pria itu bahkan pernah memarahi jajaran direksinya lewat telepon sambil menyuapi Aurora makan malam.Jadi, kalau Rasya sampai repot-repot keluar dari ruangan dan beralasan urusan kantor... panggilan tadi pasti urusan "yang lain".Namun, alih-alih cemas, marah, atau diam-diam berniat menguping ke ruang kerja, Aurora hanya menghela napas pelan.Pintu ruang makan itu kembali terbuka dengan suara klik yang pelan.Merasakan kehadiran suaminya, Aurora segera menoleh. Sebuah senyum manis langsung merekah di bibirnya.Di ambang pint
Keesokan paginya, cahaya matahari yang keemasan menembus jendela-jendela kaca tinggi di ruang makan utama hôtel particulier.Setelah perdebatan kecil yang diwarnai rayuan maut, Aurora akhirnya berhasil membujuk Rasya untuk mengizinkannya sarapan di luar kamar.Di atas meja marmer yang panjang, Mbak Jayanti dengan cekatan menata piring-piring porselen. Di hadapan Aurora, ia menyajikan semangkuk Nasi Tim Ayam Jamur yang masih mengepulkan uap panas, teksturnya dibuat sangat lembut dengan siraman kaldu ayam kampung yang kaya nutrisi, khusus untuk memulihkan stamina sang nyonya.Sementara itu, untuk Rasya, tersaji sepiring Nasi Goreng Rempah dengan telur mata sapi yang bulat sempurna dan berpinggiran lembut, ditemani potongan daging wagyu tipis sebagai pelengkap.Aroma gurih kaldu, bawang putih goreng, dan semilir wangi minyak wijen menguar memenuhi udara, sangat menggugah selera.Aurora menatap hidangan di depannya dengan mata berbinar, lalu mendongak menatap kedua staf yang sudah meraw
Di ruangannya, Raka bersandar di kursi sambil menatap langit-langit tanpa ekspresi. Ia sama sekali tidak cemas melihat Leonil yang memilih bungkam dan memohon kematian. Biarkan saja ruangan bersuhu minus derajat itu yang bekerja menguliti kewarasan putra konglomerat itu.Raka menegakkan punggungnya. Fokusnya kini tertuju pada tablet di tangannya, menatap lekat-lekat pada sebuah titik koordinat merah yang berkedip di atas peta digital.Saat membeberkan bukti kepada Leonil tadi, ada satu kepingan informasi krusial yang sengaja Raka tahan dan tidak ia ucapkan. Sebuah keanehan yang terlalu sensitif untuk dilempar ke meja interogasi begitu saja.Semuanya bermula saat para algojo menyerahkan barang bawaan Leonil yang mereka sita kepadanya. Mengabaikan hukum privasi, Raka langsung mengambil ponsel pemuda itu dan menghidupkannya.Ponsel itu tampak seperti perangkat baru, terlihat dari antarmuka dan isi galerinya yang masih kosong melompong. Namun
Leonil gemetar hebat. Udara dingin di ruangan itu seakan menusuk langsung ke sumsum tulang belakangnya. Di saat itulah, ia menyadari sebuah fakta bahwa mereka tidak tahu tentang sepupunya. Mereka mengira ini murni rencananya."A-aku tidak tahu apa yang kamu bicarakan!" bantah Leonil dengan suara bergetar, berusaha meronta meski sabuk kulit tebal itu mengunci pergelangan tangannya tanpa ampun. "Itu... itu murni kecelakaan! Temanku mabuk dan kehilangan kendali! Aku hanya membantunya karena tidak tega dia berada di penjara! Aku bersumpah tidak tahu kalau wanita yang ditabrak temanku itu istri Rasya Pradana!"Di seberang layar monitor raksasa, wajah Raka tidak menunjukkan perubahan ekspresi sedikit pun. Ia hanya menatap Leonil dalam diam selama beberapa detik. Raka lalu menghela napas pendek, sebuah desahan sarat akan kekecewaan yang sangat merendahkan. "Sangat disayangkan," respons Raka dengan nada datar. "Bos saya paling benci orang yang mem
Leonil berusaha menerobos, namun tangan besar pria di belakangnya langsung mencengkeram lengan dan bahunya dengan kekuatan baja yang menyakitkan. "Sebuah kehormatan bisa menyambut kedatangan Anda di Jakarta," lanjut pria di depannya, mengabaikan sama sekali kepanikan Leonil. Sudut bibirnya berkedut, membentuk senyum tipis yang sama sekali tidak ramah. "Tuan Rasya Pradana sudah menyiapkan tempat istirahat yang sangat istimewa untuk Anda."Mendengar nama itu disebut, lutut Leonil seketika lemas tak bertulang. Wajahnya pias pasi. Dunia di sekelilingnya seolah berhenti berputar, tergantikan oleh kengerian yang mencekik nadinya. 'Mustahil. Ini mustahil!' jerit Leonil dalam hati. 'Bagaimana iblis itu bisa tahu?!' "I-ini salah paham!" ronta Leonil putus asa, suaranya bergetar hebat. "Aku tidak kenal—" "Tolong jangan membuat keributan di tempat umum, Tuan Adyasan," potong pria itu dengan suara rendah, tatapannya menyiratkan peringatan terakhir. "Ikut kami secara sukarela, atau kami har







