MasukFerdi mengangkat wajahnya yang basah oleh air mata kehancuran, menatap Rasya dengan tatapan nanar. "A-apa lagi yang kamu inginkan?"Rasya sedikit mencondongkan tubuhnya ke depan, menatap Ferdi lurus-lurus."Kalian ingin tahu dari mana aku mendapatkan video jernih itu, bukan?" tanya Rasya, nadanya merendah menjadi bisikan yang mematikan."Aku mendapatkannya dari keponakan kandungmu, Ferdi. Dari Dio."Darah Ferdi seolah berhenti mengalir. Jantungnya berdegup kencang, menabrak rongga dadanya dengan keras. "Dio...?""Ya. Dio," lanjut Rasya, memastikan setiap kata terucap dengan jelas. "Kisah keluargamu benar-benar menggelikan, Ferdi. Kau rela membesarkan Leonil, anak haram dari pria yang telah menghancurkan kewarasan adik kandungmu sendiri, sementara keponakanmu menyimpan dendam kesumat dari balik bayang-bayang."Suara Rasya berhenti mengalun, digantikan oleh keheningan yang jauh lebih mencekik.Ferdi bersi
Keterkejutan di wajah Helene hanya bertahan selama beberapa detik.Wanita itu bangkit berdiri, menatap Rasya dengan dada naik-turun menahan amarah yang meledak-ledak. Kelembutan yang selalu ia tampilkan, kini habis tak bersisa."Beraninya kamu menerobos masuk ke rumahku seperti preman jalanan?!" teriak Helene, suaranya melengking memenuhi ruang tamu. Ia menoleh pada suaminya. "Ferdi! Panggil keamanan utama! Hubungi polisi sekarang juga!"Ferdi baru saja meraih gagang telepon rumah dengan tangan gemetar, namun suara kokangan senjata dari salah satu anak buah Rasya yang berdiri di dekatnya membuat pria paruh baya itu kembali membeku di tempat.Rasya sama sekali tidak terganggu oleh teriakan Helene. Dengan gerakan yang teramat santai dan elegan, ia melangkah maju, melepaskan kancing jasnya, lalu duduk di sofa single tepat di hadapan Helene, mengambil alih posisi tuan rumah secara mutlak."Simpan tenagamu, Helene. Berteriak hanya akan membuat
Di kediaman keluarga Adyasan, sebuah Manor House bergaya Eropa klasik yang megah, suasana pagi itu terasa sangat kontras.Di ruang tamu yang didominasi pilar marmer putih dan lampu gantung kristal raksasa, Helene Adyasan duduk menyilangkan kaki dengan anggun di atas sofa velvet berwarna maroon. Sebuah cangkir porselen berisi teh chamomile hangat berada di tangannya. Senyum puas terukir jelas di bibir wanita paruh baya itu, merasa telah memenangkan peperangan tanpa perlu mengotori tangannya sendiri.Di seberang ruangan, Ferdi Adyasan, tampak mondar-mandir dengan gurat wajah yang sangat lelah dan penuh kecemasan."Berhentilah mondar-mandir seperti orang bodoh, Ferdi. Kamu membuatku pusing," tegur Helene dingin, meletakkan cangkirnya ke atas meja kaca. "Semuanya sudah berakhir. Jam segini, monster sombong dari Asia itu pasti sedang menunduk memohon ampun di ruang interogasi polisi, atau setidaknya sedang berkeringat dingin di depan meja Mousier Luca."
Mobil sedan hitam yang membawa Rasya membelah jalanan Paris dengan pengawalan ketat, berhenti tepat di depan gedung Markas Besar Kepolisian distrik. Kerumunan wartawan yang mengikuti mereka sejak dari Le Marais kembali beringas, memotret setiap pergerakan sang CEO yang dituduh sebagai kriminal. Namun, pemandangan di dalam gedung kepolisian justru berbanding terbalik 180 derajat dengan ekspektasi publik. Alih-alih digiring ke ruang interogasi yang pengap, Rasya dikawal masuk ke dalam ruangan VIP milik Kepala Kepolisian Distrik. Di dalam sana, tim pengacara elit Aetherion cabang Eropa yang mengenakan setelan jas rapi sudah berdiri menanti bersama kepala polisi yang tampak sedikit tegang. "Monsieur Pradana," sapa Polisi itu seraya mengulurkan tangan, raut wajahnya menyiratkan rasa segan yang sangat kental. "Mohon maaf atas ketidaknyamanan siang ini. Anda tahu bagaimana tekanan media lokal. Laporan Nyonya Helene memaksa kami melakukan prosedur formal
Di saat yang bersamaan, di teras ruang kerja, Rasya masih memegang ponsel di telinga, mendengarkan suara berat Darmawan Pradana dari ujung sambungan lintas benua."Tenang saja, Pa. Aku akan ingat itu," ucap Rasya dengan nada rendah dan penuh hormat. "Aku akan segera membereskan semuanya."Tepat saat Rasya memutus panggilan tersebut, sayup-sayup terdengar suara riuh dari arah luar gerbang depan hôtel particulier. Suara teriakan, decit rem mobil, dan disusul oleh lengkingan raungan sirine yang memecah kedamaian kawasan elit Le Marais.Alis Rasya bertaut tajam. Tanpa membuang sedetik pun, ia membuka pintu kaca penghubung dan melangkah cepat kembali ke dalam ruang kerjanya.Di dalam, Raka dan Aurora menoleh ke arahnya. Keduanya tampak sama bingungnya, mendengar kegaduhan yang mendadak pecah di luar sana.Rasya langsung menghampiri Aurora, menangkup kedua bahu istrinya dengan gerakan cepat namun protektif."Aurora, dengarkan aku. Temu
Aurora berdiri di ambang pintu. Wanita itu sudah mengganti piyamanya dengan dress rajut panjang yang nyaman, menatap lurus ke arah suaminya. Melihat Aurora berdiri di sana, kerutan tajam langsung terbentuk di kening Rasya. Ia memundurkan kursi, dan beranjak dari sana dalam hitungan detik. "Baby, bukannya aku sudah bilang untuk tetap istirahat di kamar? Kamu belum boleh jalan-jalan terlalu sering," tegur Rasya, nada suaranya terdengar sedikit protektif dan menuntut. Ia melangkah menghampiri Aurora, berniat menuntun istrinya kembali. Namun, Aurora menahan lengan suaminya dengan lembut. "Aku sudah sehat, Mas. Berhenti memperlakukanku seolah aku ini pajangan kaca yang mudah pecah. Aku nggak apa-apa." Rasya menghela napas pelan, menatap wajah keras kepala istrinya yang selalu berhasil melumpuhkan otoritasnya. Raka yang tadinya duduk di sofa sontak berdiri, menunduk sopan dan memberi







