LOGINDi kediaman keluarga Adyasan, sebuah Manor House bergaya Eropa klasik yang megah, suasana pagi itu terasa sangat kontras.
Di ruang tamu yang didominasi pilar marmer putih dan lampu gantung kristal raksasa, Helene Adyasan duduk menyilangkan kaki dengan anggun di atas sofa velvet berwarna maroon. Sebuah cangkir porselen berisi teh chamomile hangat berada di tangannya. Senyum puas terukir jelas di bibir wanita paruh baya itu, merasa telah memenangkan peperangan tanpa perlu mengotori tKeterkejutan di wajah Helene hanya bertahan selama beberapa detik.Wanita itu bangkit berdiri, menatap Rasya dengan dada naik-turun menahan amarah yang meledak-ledak. Kelembutan yang selalu ia tampilkan, kini habis tak bersisa."Beraninya kamu menerobos masuk ke rumahku seperti preman jalanan?!" teriak Helene, suaranya melengking memenuhi ruang tamu. Ia menoleh pada suaminya. "Ferdi! Panggil keamanan utama! Hubungi polisi sekarang juga!"Ferdi baru saja meraih gagang telepon rumah dengan tangan gemetar, namun suara kokangan senjata dari salah satu anak buah Rasya yang berdiri di dekatnya membuat pria paruh baya itu kembali membeku di tempat.Rasya sama sekali tidak terganggu oleh teriakan Helene. Dengan gerakan yang teramat santai dan elegan, ia melangkah maju, melepaskan kancing jasnya, lalu duduk di sofa single tepat di hadapan Helene, mengambil alih posisi tuan rumah secara mutlak."Simpan tenagamu, Helene. Berteriak hanya akan membuat
Di kediaman keluarga Adyasan, sebuah Manor House bergaya Eropa klasik yang megah, suasana pagi itu terasa sangat kontras.Di ruang tamu yang didominasi pilar marmer putih dan lampu gantung kristal raksasa, Helene Adyasan duduk menyilangkan kaki dengan anggun di atas sofa velvet berwarna maroon. Sebuah cangkir porselen berisi teh chamomile hangat berada di tangannya. Senyum puas terukir jelas di bibir wanita paruh baya itu, merasa telah memenangkan peperangan tanpa perlu mengotori tangannya sendiri.Di seberang ruangan, Ferdi Adyasan, tampak mondar-mandir dengan gurat wajah yang sangat lelah dan penuh kecemasan."Berhentilah mondar-mandir seperti orang bodoh, Ferdi. Kamu membuatku pusing," tegur Helene dingin, meletakkan cangkirnya ke atas meja kaca. "Semuanya sudah berakhir. Jam segini, monster sombong dari Asia itu pasti sedang menunduk memohon ampun di ruang interogasi polisi, atau setidaknya sedang berkeringat dingin di depan meja Mousier Luca."
Mobil sedan hitam yang membawa Rasya membelah jalanan Paris dengan pengawalan ketat, berhenti tepat di depan gedung Markas Besar Kepolisian distrik. Kerumunan wartawan yang mengikuti mereka sejak dari Le Marais kembali beringas, memotret setiap pergerakan sang CEO yang dituduh sebagai kriminal. Namun, pemandangan di dalam gedung kepolisian justru berbanding terbalik 180 derajat dengan ekspektasi publik. Alih-alih digiring ke ruang interogasi yang pengap, Rasya dikawal masuk ke dalam ruangan VIP milik Kepala Kepolisian Distrik. Di dalam sana, tim pengacara elit Aetherion cabang Eropa yang mengenakan setelan jas rapi sudah berdiri menanti bersama kepala polisi yang tampak sedikit tegang. "Monsieur Pradana," sapa Polisi itu seraya mengulurkan tangan, raut wajahnya menyiratkan rasa segan yang sangat kental. "Mohon maaf atas ketidaknyamanan siang ini. Anda tahu bagaimana tekanan media lokal. Laporan Nyonya Helene memaksa kami melakukan prosedur formal
Di saat yang bersamaan, di teras ruang kerja, Rasya masih memegang ponsel di telinga, mendengarkan suara berat Darmawan Pradana dari ujung sambungan lintas benua."Tenang saja, Pa. Aku akan ingat itu," ucap Rasya dengan nada rendah dan penuh hormat. "Aku akan segera membereskan semuanya."Tepat saat Rasya memutus panggilan tersebut, sayup-sayup terdengar suara riuh dari arah luar gerbang depan hôtel particulier. Suara teriakan, decit rem mobil, dan disusul oleh lengkingan raungan sirine yang memecah kedamaian kawasan elit Le Marais.Alis Rasya bertaut tajam. Tanpa membuang sedetik pun, ia membuka pintu kaca penghubung dan melangkah cepat kembali ke dalam ruang kerjanya.Di dalam, Raka dan Aurora menoleh ke arahnya. Keduanya tampak sama bingungnya, mendengar kegaduhan yang mendadak pecah di luar sana.Rasya langsung menghampiri Aurora, menangkup kedua bahu istrinya dengan gerakan cepat namun protektif."Aurora, dengarkan aku. Temu
Aurora berdiri di ambang pintu. Wanita itu sudah mengganti piyamanya dengan dress rajut panjang yang nyaman, menatap lurus ke arah suaminya. Melihat Aurora berdiri di sana, kerutan tajam langsung terbentuk di kening Rasya. Ia memundurkan kursi, dan beranjak dari sana dalam hitungan detik. "Baby, bukannya aku sudah bilang untuk tetap istirahat di kamar? Kamu belum boleh jalan-jalan terlalu sering," tegur Rasya, nada suaranya terdengar sedikit protektif dan menuntut. Ia melangkah menghampiri Aurora, berniat menuntun istrinya kembali. Namun, Aurora menahan lengan suaminya dengan lembut. "Aku sudah sehat, Mas. Berhenti memperlakukanku seolah aku ini pajangan kaca yang mudah pecah. Aku nggak apa-apa." Rasya menghela napas pelan, menatap wajah keras kepala istrinya yang selalu berhasil melumpuhkan otoritasnya. Raka yang tadinya duduk di sofa sontak berdiri, menunduk sopan dan memberi
Raka meletakkan tablet di atas meja, menggesernya tepat ke hadapan Rasya. Di layar benda pipih itu, terpampang headline berita pagi dari portal berita terbesar Eropa dengan huruf cetak tebal berwarna merah menyala.SKANDAL AETHERION: CEO RASYA PRADANA DIDUGA LAKUKAN PENCULIKAN DAN PENYIKSAAN BRUTAL TERHADAP PEWARIS ADYASAN GROUP.Keheningan yang mencekik seketika menguasai ruang makan itu.Wajah Mama Miranda dan Bunda Martha memucat saat membaca headline cetak tebal berwarna merah menyala tersebut. Aurora menahan napas, tangannya tanpa sadar meremas ujung serbet di pangkuannya. Ancaman internasional bukanlah sesuatu yang bisa dianggap remeh, bahkan untuk Aetherion sekalipun.Namun, reaksi Rasya justru berbanding terbalik dengan ketegangan di sekelilingnya.Alih-alih marah, Rasya hanya mengambil serbet kain dari pangkuannya, mengelap sudut bibirnya dengan gerakan yang teramat pelan dan elegan, lalu menyandarkan punggungnya ke kursi.







