Teilen

192.

last update Veröffentlichungsdatum: 06.04.2026 21:00:58

Mobil sedan hitam yang membawa Rasya membelah jalanan Paris dengan pengawalan ketat, berhenti tepat di depan gedung Markas Besar Kepolisian distrik. Kerumunan wartawan yang mengikuti mereka sejak dari Le Marais kembali beringas, memotret setiap pergerakan sang CEO yang dituduh sebagai kriminal.

Namun, pemandangan di dalam gedung kepolisian justru berbanding terbalik 180 derajat dengan ekspektasi publik.

Alih-alih digiring ke ruang interogasi yang pengap, Rasya dikawal masuk
Lies dieses Buch weiterhin kostenlos
Code scannen, um die App herunterzuladen
Gesperrtes Kapitel

Aktuellstes Kapitel

  • Terjerat Takdir Cinta Sang Pangeran Aetherion   192.

    Mobil sedan hitam yang membawa Rasya membelah jalanan Paris dengan pengawalan ketat, berhenti tepat di depan gedung Markas Besar Kepolisian distrik. Kerumunan wartawan yang mengikuti mereka sejak dari Le Marais kembali beringas, memotret setiap pergerakan sang CEO yang dituduh sebagai kriminal. Namun, pemandangan di dalam gedung kepolisian justru berbanding terbalik 180 derajat dengan ekspektasi publik. Alih-alih digiring ke ruang interogasi yang pengap, Rasya dikawal masuk ke dalam ruangan VIP milik Kepala Kepolisian Distrik. Di dalam sana, tim pengacara elit Aetherion cabang Eropa yang mengenakan setelan jas rapi sudah berdiri menanti bersama kepala polisi yang tampak sedikit tegang. "Monsieur Pradana," sapa Polisi itu seraya mengulurkan tangan, raut wajahnya menyiratkan rasa segan yang sangat kental. "Mohon maaf atas ketidaknyamanan siang ini. Anda tahu bagaimana tekanan media lokal. Laporan Nyonya Helene memaksa kami melakukan prosedur formal

  • Terjerat Takdir Cinta Sang Pangeran Aetherion   191.

    Di saat yang bersamaan, di teras ruang kerja, Rasya masih memegang ponsel di telinga, mendengarkan suara berat Darmawan Pradana dari ujung sambungan lintas benua."Tenang saja, Pa. Aku akan ingat itu," ucap Rasya dengan nada rendah dan penuh hormat. "Aku akan segera membereskan semuanya."Tepat saat Rasya memutus panggilan tersebut, sayup-sayup terdengar suara riuh dari arah luar gerbang depan hôtel particulier. Suara teriakan, decit rem mobil, dan disusul oleh lengkingan raungan sirine yang memecah kedamaian kawasan elit Le Marais.Alis Rasya bertaut tajam. Tanpa membuang sedetik pun, ia membuka pintu kaca penghubung dan melangkah cepat kembali ke dalam ruang kerjanya.Di dalam, Raka dan Aurora menoleh ke arahnya. Keduanya tampak sama bingungnya, mendengar kegaduhan yang mendadak pecah di luar sana.Rasya langsung menghampiri Aurora, menangkup kedua bahu istrinya dengan gerakan cepat namun protektif."Aurora, dengarkan aku. Temu

  • Terjerat Takdir Cinta Sang Pangeran Aetherion   190.

    Aurora berdiri di ambang pintu. Wanita itu sudah mengganti piyamanya dengan dress rajut panjang yang nyaman, menatap lurus ke arah suaminya. Melihat Aurora berdiri di sana, kerutan tajam langsung terbentuk di kening Rasya. Ia memundurkan kursi, dan beranjak dari sana dalam hitungan detik. "Baby, bukannya aku sudah bilang untuk tetap istirahat di kamar? Kamu belum boleh jalan-jalan terlalu sering," tegur Rasya, nada suaranya terdengar sedikit protektif dan menuntut. Ia melangkah menghampiri Aurora, berniat menuntun istrinya kembali. Namun, Aurora menahan lengan suaminya dengan lembut. "Aku sudah sehat, Mas. Berhenti memperlakukanku seolah aku ini pajangan kaca yang mudah pecah. Aku nggak apa-apa." Rasya menghela napas pelan, menatap wajah keras kepala istrinya yang selalu berhasil melumpuhkan otoritasnya. Raka yang tadinya duduk di sofa sontak berdiri, menunduk sopan dan memberi

  • Terjerat Takdir Cinta Sang Pangeran Aetherion   189.

    Raka meletakkan tablet di atas meja, menggesernya tepat ke hadapan Rasya. Di layar benda pipih itu, terpampang headline berita pagi dari portal berita terbesar Eropa dengan huruf cetak tebal berwarna merah menyala.SKANDAL AETHERION: CEO RASYA PRADANA DIDUGA LAKUKAN PENCULIKAN DAN PENYIKSAAN BRUTAL TERHADAP PEWARIS ADYASAN GROUP.Keheningan yang mencekik seketika menguasai ruang makan itu.​Wajah Mama Miranda dan Bunda Martha memucat saat membaca headline cetak tebal berwarna merah menyala tersebut. Aurora menahan napas, tangannya tanpa sadar meremas ujung serbet di pangkuannya. Ancaman internasional bukanlah sesuatu yang bisa dianggap remeh, bahkan untuk Aetherion sekalipun.​Namun, reaksi Rasya justru berbanding terbalik dengan ketegangan di sekelilingnya.​Alih-alih marah, Rasya hanya mengambil serbet kain dari pangkuannya, mengelap sudut bibirnya dengan gerakan yang teramat pelan dan elegan, lalu menyandarkan punggungnya ke kursi.

  • Terjerat Takdir Cinta Sang Pangeran Aetherion   188.

    Keesokan malamnya, rintik hujan membasahi jalanan Le Marais. Namun, suasana di dalam kamar utama hôtel particulier itu terasa begitu hangat, dipenuhi pendar cahaya temaram dan aroma lilin aromaterapi white lily yang menenangkan. ​Aurora duduk bersandar di kepala ranjang dengan selimut menutupi separuh tubuhnya. Sebuah buku panduan kehamilan terbuka di pangkuannya, namun mata wanita itu sudah setengah terpejam menahan kantuk. ​Suara derit halus dari arah pintu mengusik keheningan. ​Aurora perlahan membuka matanya. Di ambang pintu, berdirilah sosok pria yang memonopoli seluruh pikirannya sejak ia pergi. ​Rasya berdiri di sana. Jasnya hanya disampirkan sembarangan di satu bahu, sementara kemeja putihnya sedikit kusut dengan lengan yang digulung hingga siku. Pria itu tampak lelah setelah menempuh belasan jam penerbangan tanpa jeda. Namun, sorot matanya yang selalu tajam bagai elang pemangsa itu seketika meleleh menjadi tatapan yang teramat lembut saat menemukan sosok istrinya. ​"

  • Terjerat Takdir Cinta Sang Pangeran Aetherion   187.

    Jauh dari teror yang memporak-porandakan kediaman Adyasan, suasana di hôtel particulier justru terasa seperti surga kecil yang damai.Aurora duduk bersandar di sofa yang dipenuhi bantal empuk. Ia mengusap perut ratanya perlahan, mengulas senyum tipis melihat pemandangan di hadapannya.Di seberang meja kaca yang dipenuhi suguhan teh hangat dan butter croissant, Mama Miranda dan Bunda Martha tampak begitu sibuk. Dua wanita paruh baya itu sedang asyik menggulir layar tablet yang menampilkan katalog perlengkapan bayi dari butik eksklusif di Champs-Élysées."Miranda, warna nude atau baby pink ini manis sekali ya kalau ternyata perempuan. Bahannya juga organik super lembut," tunjuk Martha antusias.Miranda mengangguk setuju dengan mata berbinar. "Iya, Martha. Tapi kita juga harus siapkan warna navy atau abu-abu muda jaga-jaga kalau dia laki-laki. Ah, biarkan saja aku akan memborong semuanya nanti."Mendengar obrolan hangat itu, hati Aurora berd

Weitere Kapitel
Entdecke und lies gute Romane kostenlos
Kostenloser Zugriff auf zahlreiche Romane in der GoodNovel-App. Lade deine Lieblingsbücher herunter und lies jederzeit und überall.
Bücher in der App kostenlos lesen
CODE SCANNEN, UM IN DER APP ZU LESEN
DMCA.com Protection Status