Share

Bab 3

Author: Nora
Jeritan piluku menggema di dalam ruangan, dibarengi dengan suara ‘krak’ yang mengerikan. Seketika, pandanganku gelap, aku hampir pingsan menahan kesakitan.

“Kumohon lepaskan aku… besok, bukan… aku akan segera meninggalkan Ital sekarang juga dan menghilang selamanya dari hadapan Roy!”

Aku memohon dengan suara yang nyaris hilang. Rasa sakit membuat sekujur tubuhku kejang dan hatiku dipenuhi keputusasaan yang luar biasa.

Sofia mendengus pelan.

“Hanya orang mati yang bisa benar-benar menghilang! Lanjutkan!”

Jari kedua pun dipatahkan.

Tubuhku gemetaran hebat, keringat dingin langsung membasahi seluruh pakaianku.

Jari ketiga….

Jari keempat….

Rasa sakit yang luar biasa datang menerjang bagaikan ombak, hampir menelan seluruh kesadaranku.

Tiba-tiba, ponsel berdering nyaring. Raut wajah Vinnie langsung berubah, dia bergegas mengangkat telepon itu.

“Tenang saja, Roy. Cara interogasi para pengawal ini profesional. Ada dokter juga di sini, jadi nggak akan terjadi apa-apa.”

Suara Vinnie terdengar lembut, tapi senyumannya sungguh kejam.

“Tapi sepertinya Kak Sofia yakin sekali kamu nggak akan menyakitinya, dia bahkan mengancamku dan menyuruhku melepaskannya!”

Sambil berbicara, dia menekan tombol pengeras suara.

Suara Roy yang penuh amarah terdengar dari seberang telepon.

“Sofia, terimalah hukuman yang pantas dari Vinnie!”

Kata-kata yang persis dengan kehidupan sebelumnya itu membuat jiwaku terguncang.

Ternyata, meski sudah terlahir kembali, aku tetap tidak bisa lari dari takdir mati di tangan mereka.

Apalagi, kali ini dengan cara yang jauh lebih memalukan dan penuh keputusasaan.

Kesepuluh jariku dipatahkan secara paksa satu per satu. Aku bahkan sudah tak punya tenaga lagi untuk berteriak.

Aku terkapar di lantai seperti ikan yang sekarat.

Rasa sakit dari sepuluh jari itu menusuk langsung ke jantung. Hidupku seolah-olah ikut patah pada detik ini.

Vinnie hanya melirikku sekilas dan mencibir,

“Sudah mau mati? Tenang saja, aku nggak akan membiarkanmu mati semudah itu!”

Dia menoleh ke arah pengawal,

“Panggil dokter, sambungkan kembali jari-jarinya!”

Dokter dan perawat masuk dengan gemetar. Mereka memasangkan masker oksigen untuk menjaga napasku yang mulai melemah, lalu menangani luka-lukaku dan mengembalikan posisi jari yang patah ke tempatnya semula.

Aku terbaring di ranjang yang dingin seperti boneka rusak, dengan kesadaran yang timbul tenggelam.

Vinnie membawa Justin ke samping ranjangku.

Justin menatapku lekat-lekat, sementara Vinnie berbisik di telinganya dengan kelembutan yang beracun,

“Ibumu mengkhianati ayah. Punya ibu pengkhianat keluarga itu akan membuatmu ditertawakan orang. Kamu takut nggak?”

Justin terdiam sejenak, lalu menjawab lirih pada Vinnie,

“Takut, aku nggak mau ditertawakan orang!”

Napasku mulai memburu, kelopak mataku yang bergetar hebat berusaha untuk terbuka.

Vinnie merasa puas dengan jawaban Justin, lalu tertawa pelan.

“Justin, ibumu sekarang sedang sangat menderita. Mau bantu dia lepas dari rasa sakit? Lepaskan saja selang itu dari ibumu, maka dia nggak akan sakit lagi dan kamu pun nggak akan ditertawakan lagi, bagaimana?”

Aku membelalakkan mata. Dalam pandangan samar, kulihat wajah Justin yang polos tanpa dosa.

Dia menatap Vinnie, lalu menatapku dan ternyata dia benar-benar mengulurkan tangan, lalu mencabut selang oksigenku.

“Ibu, ke depannya jangan berbuat jahat lagi, ya. Aku nggak mau punya ibu sepertimu!”

Gumamnya dengan kebencian hasil cuci otak Vinnie.

Hatiku benar-benar hancur menjadi abu.

Terlahir kembali pun, aku tetap tak bisa lari dari takdir kematian.

Anak kandungku sendiri yang mengirimku pergi selamanya!

Dan itu dilakukan dengan cara yang sangat menghina dan putus asa.

Suara alarm medis melengking nyaring. Vinnie memeluk Justin yang ketakutan, lalu membawanya keluar. Dia berkata dingin pada pengawal,

“Bereskan dia!”

Pengawal menyeretku dengan kasar keluar gedung dan membuangku ke genangan lumpur yang dingin.

Hujan deras mengguyur, menghantam tubuhku yang sudah lumpuh.

Di sini adalah kawasan kumuh paling terpencil di Napol, tempat para gelandangan biasa mati di pinggir jalan setiap hari.

Aku bersusah payah membuka mata. Air hujan yang menghantam kelopak mataku membuat segala pemandangan menjadi kabur.

Kembali menghadapi kematian, tiba-tiba hatiku menjadi sangat tenang.

Terlahir kembali sekali lagi, ternyata bukan untuk mengubah takdir.

Melainkan untuk membuatku merasakan dengan lebih sadar dan mendalam, bagaimana rasanya hati yang ditikam ribuan anak panah dan hancur berkeping-keping.

Kali ini, sepertinya aku tidak akan terlahir kembali lagi….
Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Terlahir Kembali, Aku Kembali Terjebak   Bab 10

    Aku memang tidak mati. Saat aku sedang menunggu ajal di sudut jalan, dosenku datang membawa pasukan bersenjata dan menemukanku.Melihat bentuk jari-jariku yang bengkok tak karuan, serta luka di kening yang belum sembuh, amarah luar biasa meledak di matanya.“Siapa yang melakukan ini? Berani sekali dia!”Akhirnya, air mataku tumpah saat melihat wajah dosenku.“Pak, maafkan aku. Aku nggak bisa menjaga tanganku dengan baik. Ke depannya… aku nggak akan bisa lagi melakukan eksperimen bersamamu….”Rasa iba yang mendalam terpancar di matanya. Setelah melepaskan mantelku yang kotor, dia sendiri yang menggendongku.“Tenang saja, kemampuanmu nggak akan terkubur hanya karena luka fisik seperti ini!”Dia membawaku pergi dari Ital menggunakan pesawat pribadi menuju rumah sakit terbaik di German. Pakar saraf terkemuka di dunia membantuku menangani luka di jari-jari, hingga fleksibilitas jariku pulih sampai sembilan puluh persen.Aku memutuskan untuk meninggalkan eksperimen sel yang sangat mendetail

  • Terlahir Kembali, Aku Kembali Terjebak   Bab 9

    Di hari pernikahan, Vinnie datang ke lokasi dengan gaun pengantinnya dan perasaan sukacita.Namun, yang menantinya di sana bukanlah janji suci, melainkan baku hantam yang sengit.Roy memimpin anak buahnya menghabisi semua orang kepercayaan Chandra.Chandra terduduk lemas di kursi, sambil terengah-engah memaki,“Dasar anak durhaka! Setelah hari ini, semua milikku akan menjadi milikmu. Kenapa kamu harus melakukan ini?”Roy menatapnya dengan raut wajah muram dan melangkah maju mendekatinya.“Aku melakukan semua ini hanya untuk memberitahumu, apapun yang kuinginkan bisa kudapatkan dengan usahaku sendiri. Aku nggak butuh belas kasihanmu!”Roy berbalik, lalu menatap Vinnie dengan tatapan seolah sedang menatap mayat.“Sedangkan kamu, aku akan membuatmu merasakan semua yang pernah dialami Sofia! Cepat, patahkan jari-jarinya satu per satu!”Wajah Vinnie dipenuhi ketakutan. Dia berlutut dan mencengkeram ujung celana Roy dengan erat.“Kak Roy, kamu nggak boleh memperlakukanku seperti ini… semua y

  • Terlahir Kembali, Aku Kembali Terjebak   Bab 8

    Roy tidak menyangka hal yang susah payah dirinya tutupi, malah dibongkar oleh Vinnie di hadapan ayahnya.Dia menahan rasa kesalnya pada Vinnie dan berkata dengan tenang pada ayahnya, “Tenang saja, ayah. Aku akan membiarkan Sofia tetap tinggal di kawasan kumuh. Aku nggak akan membiarkan dia merusak reputasi Keluarga Leis.”Chandra menyipitkan matanya.“Asalkan kamu resmi cerai dengannya, aku bisa menganggap kejadian ini nggak pernah ada dan kamu akan tetap menjadi pewaris mafia Leis satu-satunya!”Roy menggertakkan gigi, tapi tetap bersikeras berkata, “Justin masih kecil, usia yang masih butuh seorang ibu. Lagipula, Sofia merawatnya dengan sangat baik. Aku rasa cerai bukan pilihan yang tepat.”Chandra mendengus sinis, lalu melemparkan foto Justin dan Vinnie di acara sekolah ke arah Roy.“Anakmu jauh lebih dewasa darimu. Dia sudah menemukan ibu baru untuk dirinya sendiri. Cepat ceraikan Sofia dan nikahi Vinie. Itu adalah solusi paling sempurna.”“Kuperintahkan kamu, segera bereskan Sof

  • Terlahir Kembali, Aku Kembali Terjebak   Bab 7

    Justin yang baru berusia lima tahun sebenarnya sangat cerdas dan dia menyadari satu hal penting.Begitu sadar kembali, dia langsung menolak Vinnie untuk menjaganya.“Tante Vinnie, bisakah kamu panggilkan ibuku untuk datang menjagaku? Ibuku jauh lebih pandai dalam hal ini.”Alarm tanda bahaya berbunyi di kepala Vinnie.“Bukannya kamu mau menganggapku sebagai ibumu? Untuk apa memanggilnya ke sini lagi? Apa yang bisa dia lakukan, aku pun bisa melakukannya!”Justin merasa Vinnie sama sekali tak mampu.“Tante Vinnie, aku sudah memikirkannya baik-baik. Sebenarnya aku sudah punya ibu, jadi nggak butuh ibu yang lain lagi.” Kali ini, Vinnie benar-benar marah.“Aku sudah mengajakmu makan enak, menemanimu main dan saat kamu sakit pun, aku sudah bersusah payah menjagamu di rumah sakit tanpa mengeluh. Kok kamu masih memikirkan si umur pendek itu?! Dengarkan baik-baik, ibumu sudah mati! Sekarang hanya aku yang bisa jadi ibumu!”Justin mendongak kaget menatap Vinnie, matanya dipenuhi rasa tidak perc

  • Terlahir Kembali, Aku Kembali Terjebak   Bab 6

    Vinnie ketakutan setengah mati dan segera membawa Justin ke rumah sakit.Setelah melakukan serangkaian tindakan darurat, dokter menatap Vinnie dengan tatapan penuh kecaman.“Bagaimana caranya kamu jadi seorang ibu? Anakmu alergi susu, kedelai dan berbagai macam bahan pengawet. Apalagi pencernaannya nggak bisa menerima minuman yang terlalu dingin. Alergi makanan kali ini hampir merenggut nyawanya!”Wajah Vinnie pucat.“Dia bukan anakku… aku nggak tahu soal semua itu!”Dokter menghela napas.“Panggil orang tuanya ke sini, dia butuh pendampingan keluarga sekarang.”Kilatan panik muncul di mata Vinnie. Kondisi Justin sekarang jelas tak boleh sampai ketahuan oleh Roy.Otaknya berputar cepat, lalu berkata pada dokter,“Ibunya sudah meninggal, ayahnya sedang di luar negeri. Aku ibu tirinya. Tenang saja, aku yang akan menjaganya dengan baik.”Dokter tak punya pilihan lain, hanya bisa berpesan dengan sabar.“Setelah pertolongan darurat, kondisi anak ini masih sangat lemah. Harus dijaga dengan s

  • Terlahir Kembali, Aku Kembali Terjebak   Bab 5

    Sudut bibir Vinnie terangkat membentuk senyuman. Dengan suara lembut, dia menjawab, “Tentu saja boleh, besok aku temani kamu pergi, ya.”Baru saja dia berpikir bagaimana caranya agar bisa lebih dekat dengan Roy, Justin malah memberinya kesempatan.“Selama Justin menyukaiku dan memintaku menjadi ibunya, aku bisa bersama dengan Kak Roy! Di acara sekolah besok, aku harus tampil semaksimal mungkin!”Keesokan harinya, Vinnie mengenakan terusan rok pendek yang sangat cantik, dipadukan dengan sepatu hak tinggi 8 cm. Dia melangkah dengan gaya gemulai menuju rumah Roy untuk menjemput Justin.Justin menghampiri Vinnie sambil melompat kegirangan, matanya berbinar penuh kebahagiaan.“Tante Vinnie, kamu cantik sekali hari ini! Teman-temanku pasti bakal iri padaku. Coba saja kalau tante jadi ibuku.”Hati Vinnie berbunga-bunga dan mengambil kesempatan untuk bertanya, “Kalau begitu, bagaimana kalau tante jadi istri ayahmu? Dengan begitu, tante bisa jadi ibumu.”Tanpa ragu sedikit pun, Justin menyetu

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status