LOGINTubuh kami saling terjerat di dalam mobil. Suamiku terus bergerak di dalam tubuh bagian bawahku, bibirnya mencium dadaku, lalu dering ponsel tiba-tiba menyadarkanku dari lamunan kami yang memabukkan. Ariel pun menjawab tanpa ragu. Itu salah satu teman terdekatnya dari dunia medis, berbicara dalam Bahasa Garnia. “Ketua.” Suara itu berkata dengan santai, “Selingkuhanmu sudah hamil dua bulan. Kau mau gimana?” Ariel tidak berhenti. Nada suaranya tetap tenang. “Merlin nggak bisa punya anak,” jawabnya. “Aku akan biarkan Sintia mengandung bayi itu sampai lahir, lalu mengadopsinya sebagai anakku sendiri. Itu akan mengamankan posisi pewaris. Ini rahasia kita berdua.” Sesuatu di dalam diriku membeku. Dia lupa satu hal .... Aku mengambil jurusan Bahasa Garnia. Bahkan, dia mempelajari bahasa itu hanya untuk memenangkan hatiku. Tapi aku tidak berteriak. Aku tidak mengonfrontasinya. Sebaliknya, aku tersenyum, tetap diam, dan terus berperan sebagai istri yang sempurna. Kemudian, aku menyelipkan surat cerai ke dalam kontrak pembelian properti dan melihat suamiku menandatangani tanpa membacanya terlebih dahulu. Setelah itu aku diam-diam mendaftarkan identitas baru. Selama tiga hari berikutnya, ketidakhadirannya, dan pesan-pesan mengejek dari wanita itu, menghapus harapan terakhir yang kumiliki tentang cinta. Ketika identitas baruku aktif, aku pergi tanpa menoleh ke belakang. Membawa serta anak di dalam rahimku. Dan, menghilang dari dunianya selamanya ....
View MoreAku menjalani hidup sebagai Andini Marola di Pernalis selatan.Sebuah kota kecil di dekat pantai, pagi hari di sana beraroma seperti roti dan garam, dan tidak ada yang peduli siapa aku sebelumnya. Tidak ada pengawal yang mengawasi di setiap sudut. Tidak ada peringatan. Tidak ada dunia yang dibangun di atas darah dan kepatuhan.Untuk pertama kalinya dalam beberapa tahun ini, hidupku terasa kecil, tapi itu hal baik.Kehamilan lebih sulit dari yang kubayangkan. Mual datang silih-berganti, tubuhku lebih lemah dari biasanya, tetapi pikiranku tidak pernah sejernih ini. Setiap rasa sakit mengingatkanku bahwa aku masih hidup.Orlando selalu berada di dekatku.Dia tidak pernah mengawasi berlebihan. Tidak pernah mengajukan pertanyaan yang tidak ingin kujawab. Ketika aku sakit, dia akan membuatkan teh obat dan meletakkannya di meja. Ketika aku tidak bisa tidur, dia akan duduk di ruangan sebelah sambil membaca, berpura-pura tidak mendengarkan napasku.Rasa hormat, bukan kepemilikan.Perhatian, tan
Sudut Pandang Ariel.Aku langsung menelepon seseorang.“Hubungi Rangga,” kataku begitu sambungan telepon terhubung. “Sekarang juga.”Rangga adalah penyelidik pribadi keluarga, seseorang yang tidak banyak bertanya dan tidak pernah memberiku informasi setengah-setengah. Jika Merlin menghilang, dia pasti tahu dari mana semua petunjuk itu harus dimulai.Dia menjawab telepon pada dering kedua.“Ketua.”“Temukan istriku,” kataku. Tanpa basa-basi. Tanpa penjelasan. “Aku ingin tahu semua pergerakannya selama dua minggu terakhir. Akses bank, catatan perjalanan, aktivitas telepon, semuanya. Diam-diam.”“Dia berencana menghilang,” kata Rangga hati-hati.“Iya,” jawabku. “Itulah kenapa aku meneleponmu.”“Aku butuh waktu.”“Kau punya waktu sampai pagi,” kataku. “Kalau dia keluar negeri, aku ingin tahu ke mana dan atas nama siapa.”“Baik, Ketua.”Aku pun menutup telepon dan duduk terhempas di sofa.Saat itulah aku melihatnya.Surat cerai itu.Masih tergeletak di atas meja, tersusun rapi di antara dok
Cara Ariel refleks menangkapnya ketika Sintia tersandung ke arahnya adalah murni naluri, refleks yang sama yang dulu membuatnya melindungiku dari bahaya tanpa berpikir.Punggungnya bergetar tanpa henti di bawah telapak tangan pria itu.“Ada apa?” tanya Ariel sambil mengerutkan kening.Sintia tidak mampu menjelaskan. Kata-katanya bercampur aduk, tidak jelas, dan berulang-ulang. “Aku merasa nggak enak badan … aku hanya merasa nggak nyaman .…”Semakin banyak dia berbicara, semakin berat kekhawatiran yang muncul di dadanya.Akhirnya, rasa jengkel pun muncul.Ariel melepaskan pelukannya dengan mudah dan mengarahkannya kembali ke tempat tidur, genggamannya tegas dan efisien, tanpa emosi.“Duduk dulu,” katanya.Setelah Sintia duduk, dia tetap berdiri.“Kau nggak dalam bahaya,” tambahnya, sambil memeriksa jam tangannya. “Dokter sudah bilang kalau kau baik-baik saja tadi pagi.”Sintia meringkuk di ranjang, jari-jarinya mencengkeram lengan baju Ariel seperti tali penyelamat.“Ariel .…” Suaranya
Aku baru saja melewati bea cukai ketika melihat Lilian.Dia bersandar di sebuah SUV hitam yang terparkir tepat di luar terminal, mengenakan kacamata hitam besar, tangan bersilang, tampak seperti pemilik tempat itu. Emang gaya khas Lilian. Sangat bergaya mirip mafia tetapi berpura-pura tidak.Saat melihatku, dia melepas kacamata hitamnya dan membuka tangan lebar-lebar, lalu berjalan mendekat ke arahku.“Merlin ....” Dia menghentikan ucapannya di tengah kata dan menyeringai. “Oh iya. Benar. Andini. Ya Tuhan, aku merindukanmu.”Aku langsung merinding dan mendorongnya menjauh dengan satu tangan, menahan lenganku di antara kami agar dia tidak memelukku lagi.“Jaga jarak, kau terlalu dekat,” gumamku.Dia tertawa, sama sekali tidak terpengaruh.Mesin menderu saat kami melaju meninggalkan bandara.SUV itu menembus malam, melewati lampu-lampu terminal, melewati jalan-jalan sempit dan lingkungan yang tenang, hingga kami berhenti di depan sebuah vila bergaya klasik Negara Pernalis yang tersembuny
Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.