LOGINDi sisi lain kota, malam semakin larut.Kanaya mengenakan jubah tebal yang menutupi kepalanya rapat-rapat. Ia melangkah masuk ke sebuah kedai mewah yang tampak biasa dari luar, namun dijaga ketat secara tersembunyi.Ia mendekati pelayan dengan langkah anggun. Suaranya dibuat lebih rendah dari biasanya.“Bunga mawar.”Pelayan itu menatapnya sesaat, lalu langsung mengangguk paham. “Sebelah sini, Nona.”Kanaya diantar melewati lorong sempit menuju sebuah pintu kayu bertanda angka lima. Setelah pintu dibuka, Kanaya masuk. Pelayan itu menunduk hormat lalu menutup pintu rapat-rapat.Di dalam ruangan, seorang wanita paruh baya telah menunggu.Kanaya langsung melepas penutup kepalanya. “Ibu!” serunya lirih. “Aku merindukanmu.”Permaisuri Lola segera berdiri dan memeluk putrinya erat. “Ibu juga merindukanmu, sayang.”Kanaya membenamkan wajahnya di bahu sang ibu.“Bagaimana di kediaman ayahmu?” tanya Permaisuri Lola sambil mengusap rambut Kanaya. “Adipati Dirgantara memperlakukanmu dengan baik?
Elena semakin dibuat bingung oleh ucapan para pelayan tadi. Namun ia tak punya waktu untuk memikirkan Madi terlalu lama. Tujuannya malam ini jelas.Batu spiritual itu.Elena berhenti di sudut lorong yang gelap. Ia menutup matanya perlahan, mengatur napas, lalu membiarkan kekuatan dalam tubuhnya mengalir. Elemen cahaya bergetar halus, merambat seperti benang tipis yang tak kasatmata.Beberapa detik berlalu. Elena membuka matanya. “Paviliun depan .…” bisiknya.Tanpa ragu, ia bergerak.Dengan langkah ringan, Elena menghindari para penjaga yang berjaga malas. Saat satu penjaga berbalik, tubuh Elena sudah menempel di dinding. Ia memanjat perlahan, jarinya mencengkeram celah batu, lalu masuk melalui celah atas paviliun.Di dalam, Elena berjalan di atas balok-balok kayu penyangga atap. Setiap langkahnya nyaris tak bersuara.Dari atas sana, ia melihat Guru Maya.Wanita itu duduk di depan meja rendah, berbagai botol dan mangkuk ramuan tersusun rapi. Tangan Maya bergerak cepat, menumbuk, menuan
Permaisuri Lola tiba di sebuah penginapan mewah yang disiapkan khusus untuk tamu agung Kekaisaran Kaelum. Lorongnya sunyi, para pelayan menunduk hormat saat ia melangkah masuk. Baru saja ia menutup pintu ruang tamu pribadi, sebuah suara terdengar dari dalam.“Dari mana saja kau, Permaisuri?”Langkah Permaisuri Lola terhenti sesaat. Matanya berkilat terkejut, namun hanya sepersekian detik. Ia segera menenangkan raut wajahnya, lalu berbalik dengan senyum anggun.“Aku hanya berjalan-jalan sebentar di sekitar penginapan, Yang Mulia,” jawabnya lembut.“Musim semi telah datang. Aku melihat bunga-bunga mulai bermekaran, rasanya sayang jika tidak dinikmati.”Kaisar Ethan berdiri di dekat jendela, menatap ke arah taman luar. Ia memandang Permaisuri Lola beberapa detik, seolah mencoba membaca sesuatu dari wajahnya. Namun ekspresi sang permaisuri tampak tenang, nyaris sempurna.Akhirnya Kaisar Ethan mengangguk pelan.“Baiklah. Beristirahatlah. Siang nanti kita lanjutkan perjalanan menuju istana
“Nona Kanaya baik-baik saja, Yang Mulia Permaisuri. Sebentar lagi dia akan menjadi Putri Mahkota," jawab Maya.Permaisuri Lola mengangguk puas. Permaisuri Lola yang semula hendak meminum tehnya langsung tergenti. Ia menatap Maya, tatapannya menajam menusuk Guru Maya.“Bagaimana dengan Elena?” tanyanya dingin. “Apakah dia menderita? Dan pertukaran nasib itu apa kau berhasil melakukannya?”Jantung Maya berdegup keras. Tenggorokannya terasa kering. Ia menelan ludah sebelum menjawab dengan suara gemetar.“Saat Elena masih dipenjara, saya … saya telah mengirim seseorang untuk memberikan ramuan itu padanya, Yang Mulia,” ucap Maya hati-hati. “Namun ternyata Elena menyadari hal tersebut.”Belum sempat Maya menyelesaikan kalimatnya, Permaisuri Lola langsung berdiri. Kursi yang didudukinya bergeser kasar ke belakang.“Apa?” bentaknya. “Aku datang jauh-jauh dari Kekaisaran Kaelum bukan untuk mendengar laporan menyedihkan seperti ini.”Ia melangkah mendekat, wajahnya penuh kemarahan. “Bagaimana
Di dalam kereta kuda, suasana terasa hening. Roda kereta berderak pelan menyusuri jalan batu, sementara tirai tipis bergoyang tertiup angin sore. Elena duduk bersandar, pandangannya kosong menatap ke luar jendela. Pikirannya berputar. ‘Seharusnya aku baru bertemu Luna satu tahun lagi. Kenapa semuanya jadi dipercepat?’ Jantungnya berdegup pelan. Ada rasa tak nyaman yang merayap, seperti alur takdir yang mulai melenceng dari ingatannya. Elena menggelengkan kepala perlahan, berusaha mengusir bayangan-bayangan masa lalu yang kembali menghantui. ‘Cukup. Aku tidak akan terjebak lagi.’ Di seberangnya, Caspian memperhatikan perubahan kecil di wajah Elena. Alisnya berkerut tipis. “Kau baik-baik saja, Elena?” tanyanya akhirnya. Elena tersentak dari lamunannya, lalu menoleh. Ia mengangguk ringan. “Ya. Tentu saja.” Namun Caspian tidak sepenuhnya percaya. Tatapannya tajam namun lembut. “Apa kau memikirkan gadis bernama Luna itu?” Elena langsung menatap Caspian. Sorot matanya berubah wasp
Elena dan Caspian melangkah keluar dari aula sidang Kekaisaran. Lorong istana terasa lebih lengang dibanding tadi, hanya suara langkah mereka yang menggema pelan.“Sidangnya cukup melelahkan,” ucap Caspian sambil melirik ke samping.“Kau baik-baik saja?”Elena mengangguk kecil. “Tidak ada yang perlu dikhawatirkan.”Baru beberapa langkah mereka berjalan, tiba-tiba dari arah berlawanan seseorang berlari tergesa. Tubrakan keras tak terelakkan.“Ah—”Tubuh Elena terdorong ke belakang. Ia kehilangan keseimbangan, namun sebelum benar-benar jatuh, Caspian dengan sigap menariknya ke dalam pelukannya.“Hati-hati!” suara Caspian terdengar tegang.Elena terkejut sejenak, lalu segera berdiri tegak. Ia merapikan lengan bajunya dan menatap Caspian.“Aku tidak apa-apa.”“Kau yakin?” tanya Caspian, menatapnya dari kepala hingga kaki.“Aku baik-baik saja,” jawab Elena tenang.Belum sempat suasana mereda, sebuah suara keras membentak dari depan.“Heh! Perhatikan langkahmu, Elena!”“Apa kau sengaja memb







