MasukMalam itu, ruang makan di kediaman Elena terasa jauh lebih sunyi dari biasanya.Hidangan tersaji rapi, uap tipis masih mengepul dari sup hangat di tengah meja.Elena duduk di tengah. Di sisi kanannya Caspian, bersandar santai dengan ekspresi tenang. Di sisi kirinya Madi.Di seberang mereka duduk Cani dan Carlos.Sejak awal makan, Madi tidak mengucapkan sepatah kata pun. Ia hanya mengaduk nasi di mangkuknya menggunakan sumpit, berulang-ulang, tanpa benar-benar memasukkan makanan ke mulutnya.Caspian melirik sekilas ke arahnya, ia merasa aneh dengan pria itu.Biasanya, jika ia duduk terlalu dekat dengan Elena, Madi pasti sudah menyindir. Mereka bahkaam saling berebutan mencari perhatian Elena. Namun malam ini, tidak ada apa-apa.Hanya wajah datar dan gerakan sumpit yang monoton.Cani akhirnya tidak tahan. “Madi .…” suaranya hati-hati. “Ada apa?”Madi tidak mengangkat kepala. “Tidak ada.”Jawabannya sangat pendek membuat Cani berkedip terkejut. “Kelihatannya bukan tidak ada.”“Aku hanya
Di dalam ruang kerja yang tertutup rapat, suasana terasa jauh lebih berat dibandingkan hiruk-pikuk toko di luar.Elena masih bduduk kaku di dekat meja kayunya. Jemarinya saling menggenggam tanpa sadar ketika mendengar ucapan Kaisar Ethan barusan.“Aku ingin melakukan pencocokan darah terhadapmu.”Kalimat itu terus terngiang di kepalanya.Ia menelan ludah, lalu mengangkat wajahnya perlahan. Sorot matanya masih menyimpan keterkejutan.“Apa yang membuat Yang Mulia Kaisar begitu yakin … bahwa aku adalah putri Anda?” tanya Elena. Suasana hening sesaat.Tuan Bastian, yang duduk di depan Elena, mencondongkan tubuhnya mendekat. Tangannya yang besar dan hangat menggenggam tangan gadis itu dengan lembut, seperti seorang kakek yang menenangkan cucunya.“Nak, di dunia ini tidak ada dua wajah yang sama persis … kecuali mereka memiliki ikatan darah,” ujarnya dengan suara lembut. Ia menatap Elena dengan penuh kasih sayang. Elena terdiam. Bukan karena ia tak ingin percaya. Justru karena ia takut be
Wajah Madi berubah dingin.Tangannya yang semula digenggam Guru Maya disentaknya kasar hingga wanita itu terkejut dan hampir kehilangan keseimbangan. Di bawah sinar matahari pasar siang itu, wajah guru Maya yang rusak penuh luka bernama dan bau busuk tampak jauh lebih mengerikan ketika ekspresinya membeku tanpa emosi.Orang-orang di sekitar mulai melirik.Guru Maya menatapnya dengan napas tertahan. “Apa yang terjadi padamu, Madi?”Suara itu terdengar seperti campuran khawatir dan kebingungan.Madi membalas tatapan itu tanpa berkedip. Suaranya rendah, datar, dan dingin. “Justru aku yang perlu bertanya. Apa yang kau lakukan sampai jadi buronan Prajurit Kekaisaran Solaria?”Guru Maya tersentak.Wajahnya memucat. Matanya menelusuri wajah Madi, benar-benar meneliti sorot matanya. Tidak ada lagi tatapan kosong dan lugu seperti dulu. Tidak ada kegagapan. Tidak ada kebodohan yang biasa ia manfaatkan.Baru saat itu kesadaran menghantamnya. Madi kini tidak lagi mengalami keterbelakangan mental.
Pagi itu ibukota Solaria sudah ramai sejak matahari belum tinggi. Suara roda kereta, pedagang yang memanggil pembeli, dan langkah kaki orang-orang bercampur menjadi satu irama hidup yang sibuk.Di dalam kereta, Elena duduk berhadapan dengan Cani. Di samping pintu, Madi ikut menumpang, kepalanya sesekali menengok ke luar jendela dengan mata berbinar.“Ramai sekali,” gumam Madi sambil tersenyum lebar. “Baru kali ini aku melihat ibukota Solaria seperti ini.”Elena meliriknya sekilas, ikut tersenyum tipis. “Kau terlihat senang.”Madi tertawa kecil, lalu wajahnya berubah sedikit serius. Ia menatap Elena dengan sungguh-sungguh.“Nona Elena,” katanya pelan. “Aku … merasa tidak enak kalau harus terus menumpang di kediamanmu.”Elena mengerutkan kening. “Maksudmu?”Madi menghela napas. “Aku tidak ingin hidup gratis. Bolehkah aku mendapatkan pekerjaan? Apa saja. Setidaknya aku merasa berguna.”Elena terdiam sejenak, menimbang. Lalu ia mengangguk mantap. “Kau bisa menjadi pengawalku.”Madi terkej
Adipati Dirgantara menatap keduanya bergantian. Alisnya berkerut, sorot matanya tajam menangkap kegelisahan yang terlalu jelas untuk disembunyikan.“Apa yang kalian bicarakan tadi?” tanyanya pelan agar suaranya tak terdengar keluar. “Kenapa wajah kalian terlihat begitu gelisah?”Kanaya tersentak. Jarinya kembali mencengkeram kain lengan bajunya.“Ayah .…” suaranya bergetar. “Wajahku kini rusak. Aku takut … aku takut Yang Mulia Putra Mahkota Daniel akan membenciku. Bagaimana jika beliau membatalkan pertunangan kami?”Adipati Dirgantara menatap putrinya lama, lalu suaranya mengeras.“Bagaimana dengan elemen cahayamu, Kanaya?” Ia melangkah setapak lebih dekat. “Apa kau sudah bisa menggunakannya?”Kanaya membeku. Dadanya naik turun cepat. Ia melirik Permaisuri Lola dengan tatapan memohon, seolah meminta diselamatkan.Melihat putrinya terdiam, Adipati Dirgantara berkata lebih tegas, “Katakan saja. Aku ini ayahmu.”Keheningan semakin terasa di kamar itu. Akhirnya Permaisuri Lola membuka mu
Tubuh Kanaya langsung menegang. Jari-jarinya mencengkeram kain seprai hingga berkerut.“Ayah …” suaranya nyaris tak terdengar, serak dan rapuh. “Aku … aku tidak bisa sekarang.”Putra Mahkota Daniel menatapnya dengan alis terangkat, sorot matanya tajam dan dingin.“Kenapa tidak bisa?” tanyanya datar. “Bukankah tadi kau begitu yakin bisa menyembuhkan orang lain. Saat gadis yang mirip Elena itu.”Ia berhenti sejenak, lalu melanjutkan dengan nada menusuk. “Atau jangan-jangan benar apa yang pernah dikatakan Caspian waktu itu.”Kanaya tersentak. Ia buru-buru memalingkan wajah, rahangnya mengeras.“Tidak, Yang Mulia,” katanya cepat, sedikit gemetar. “Elemen cahayaku masih ada. Aku hanya … hanya terlalu lelah. Elemenku tidak stabil.”Tabib yang sedang mengoleskan ramuan di wajah Kanaya berhenti sejenak. Ia menunduk hormat sebelum bicara.“Ampun, Yang Mulia Putra Mahkota. Hamba mohon izin menyela. Jika elemen cahaya digunakan dalam kondisi emosi yang tidak stabil, hasilnya justru bisa berbahay







