INICIAR SESIÓN“Kaisar Ethan!”Panggilan itu memecah keheningan paviliun. Lamunan Kaisar Ethan buyar seketika. Ia berbalik dan mendapati Tuan Bastian berdiri di ambang pintu, wajahnya serius namun tenang.Kaisar Ethan langsung melangkah cepat menghampiri mertuanya. Emosi yang sejak tadi ia tahan akhirnya meledak.“Ayah,” suaranya ditekan, tapi jelas bergetar. “Ayah sudah tahu, bukan? Siapa sebenarnya Elena?”Tuan Bastian menghela napas pelan, belum sempat menjawab.“Kenapa ayah begitu tenang saat melihatnya?” lanjut Kaisar Ethan, nada suaranya meninggi. “Kenapa Elena memanggil ayah … kakek? Dan kenapa ayah tidak terlihat terkejut seperti aku?!”Pertanyaan itu beruntun, tajam, tak memberi celah.Tuan Bastian mengangkat tangannya perlahan, memberi isyarat agar Kaisar Ethan menenangkan diri.“Tenanglah dulu, Ethan,” katanya dengan suara berat namun terkendali. “Aku mengerti perasaanmu. Percayalah, saat pertama kali melihat wajah Elena… aku juga terkejut.”Ia terdiam sejenak, matanya menerawang. “Wajahn
Kereta kuda berhenti perlahan tepat di depan kediaman Elena. Lentera di depan gerbang bergoyang tertiup angin malam.Caspian turun lebih dulu, lalu tanpa sadar menggenggam tangan Elena untuk membantunya turun. Sentuhan itu membuat Elena tersentak kecil.Caspian langsung menoleh. “Ada apa?”Elena tidak langsung menjawab. Ia menatap tangan mereka yang masih saling menggenggam, lalu perlahan menarik tangannya sendiri. Dadanya terasa sesak oleh perasaan yang sejak tadi ia pendam.“Katakan saja sejujurnya,” lanjut Caspian, suaranya lembut namun serius. “Apa yang mengganjal di hatimu?”Elena menghela napas pelan. Ia menatap Caspian, matanya sedikit bergetar.“Aku … entah kenapa merasa Kaisar Ethan memiliki ikatan denganku,” katanya akhirnya. “Perasaan itu sangat kuat. Tapi aku takut ini hanya perasaanku saja. Takut aku salah.”Ia mengepalkan jemarinya sendiri.“Guru Orion bilang 'kemungkinan' besar orang tuaku telah tewas.”Caspian tersenyum kecil, senyum yang tenang dan menenangkan.“Guru
Elena membantu Kaisar Ethan berdiri perlahan. Tangannya kecil namun hangat, menopang lengan pria paruh baya itu dengan hati-hati. Saat jemari mereka bersentuhan, ada getaran aneh yang menjalar di dada Elena. Perasaan asing, akrab, seolah pria di depannya bukan sekadar seorang kaisar, melainkan seseorang yang seharusnya selalu ada dalam hidupnya, perasaan kerinduan seorang anak pada sangg, Ayah. Elena tertegun sesaat. 'Kenapa rasanya seperti ini?' Ia segera menggelengkan kepala pelan, berusaha menyingkirkan perasaan itu. Dalam benaknya terngiang suara Guru Orion, yang dengan tegas drmengatakan bahwa kedua orang tuanya kemungkinan besar telah lama tewas. Logika itu seharusnya cukup untuk menenangkan hatinya.Namun sudut kecil di dalam dadanya tetap bergetar. 'Bagaimana jika mereka masih hidup?' Elena menarik napas dalam, lalu melepaskannya perlahan. Ia melangkah mundur setengah langkah dan membungkuk hormat dengan sikap sempurna.“Yang Mulia Kaisar Noah,” ucapnya tenang. “Hamba mohon
“Elena,” bisik Lily, suaranya nyaris tenggelam oleh hiruk-pikuk di sekitar mereka. “Itu Yang Mulia Kaisar Ethan. Kau pasti belum pernah melihatnya.”Elena menelan ludah pelan. Alisnya mengerut tipis, kebingungan jelas tergambar di wajahnya. Ia melangkah setengah langkah ke depan, lalu menunduk hormat dengan sikap sempurna, jarak dijaga rapi, tak memberi ruang sedikit pun untuk salah paham.“Yang Mulia Kaisar,” ucapnya jernih dan tenang. “Nama saya Elena. Anda keliru.”Kalimat itu jatuh seperti pisau tipis yang perlahan menusuk dada Kaisar Ethan.Pria itu menggeleng pelan, napasnya tersendat, seolah kebenaran yang diucapkan Elena adalah sesuatu yang tak sanggup ia terima. “Tidak … tidak mungkin keliru,” katanya lirih. “Wajah itu … tatapan itu … Aku tidak mungkin salah.”Ia tertawa kecil, getir, nyaris seperti isak yang dipaksakan. “Aku sudah menghafalnya. Bertahun-tahun.”Tiba-tiba Kaisar Ethan melangkah maju, kedua lengannya terangkat hendak memeluk Elena.“Elena hati-hati!” seru Lily
Adipati Dirgantara mengangkat kepalanya, wajahnya memerah oleh amarah dan kepanikan yang bercampur menjadi satu. “Masukkan gadis itu ke penjara bawah tanah!” teriaknya lantang. “Jaga ketat! Jika satu helai rambutnya lolos, kalian semua bertanggung jawab!” Prajurit segera menyeret Guru Maya yang sudah lemas dan penuh luka. Teriakan, sumpah serapah, dan tangis histerisnya perlahan menjauh, tenggelam di balik hiruk-pikuk pesta yang telah berubah menjadi kekacauan total. Di sisi lain, Kanaya terus mengerang kesakitan. Tubuhnya bergetar hebat di pelukan ayahnya, tangannya mencengkeram lengan jubah Adipati Dirgantara seolah takut terlepas. “Ah … sakit … Ayah … sakit sekali …” rintihnya, suaranya nyaris tak terdengar. Permaisuri Lola berdiri di samping mereka, wajahnya pucat pasi. Napasnya terengah, matanya liar menatap darah di wajah Kanaya. Dalam kepanikan yang begitu besar, ia sama sekali tak menyadari siapa saja yang ada di sekelilingnya. “Cepat … cepat angkat putri kita sekarang ju
Saat itu Elena sedang menerbangkan lampionnya bersama Caspian.Tak jauh dari sana, di balik bayangan pepohonan, sepasang mata mengamati mereka tanpa berkedip. Pria berkerudung hitam, pembunuh bayaran yang disewa Guru Maya, berdiri dengan tubuh sedikit membungkuk, menyatu dengan gelapnya malam. Tangannya tersembunyi di balik jubah, jari-jarinya sudah terbiasa menggenggam botol kecil berisi cairan mematikan itu.“Target masih bersama pria itu,” gumamnya pelan. “Menyebalkan.”Ia mulai bergerak, menjaga jarak, langkahnya ringan nyaris tak bersuara. Setiap kali Elena dan Caspian berjalan, ia ikut berpindah, matanya tak pernah lepas dari sosok gadis berhanfu ungu muda itu.Namun saat ia berbelok di sebuah jalan kecil yang agak ramai, tubuhnya tiba-tiba menabrak seseorang.Brugh!“Ugh!” Pria itu terbatuk keras.Serbuk putih beterbangan di udara. Pembunuh bayaran itu refleks menarik napas, lalu langsung terbatuk-batuk lebih keras. Matanya memerah, tenggorokannya terasa perih.“Apa-apaan ini—”







