เข้าสู่ระบบ"Benar... Aku harus pergi ke tempat kerja dulu! Aku harus pinjam uang pada Bos untuk servis HP! Aku harus tahu kemana perginya uang itu!"
Anton bergegas menuju tempat kerjanya, berharap bosnya mau mengulurkan tangan membantunya. "Mama uangnya, Ma? Gimana dong nasibku nanti?" rengek Maya dengan nada manja yang menyebalkan, wajahnya cemas bercampur kesal. "Aku harus bayar uang kuliah hari ini juga! Kalau nggak ada uangnya hari ini juga, kami bakal dikeluarin dari kampus! Nanti malu aku!" Mendengar keluhan anaknya itu, Rania langsung mendengus kasar, kedua tangannya ia pinggangkan dengan wajah sewot. "Ya gimana? Salah siapa sih? Uang kan sudah dikasih sama kakakmu kemarin! Itu uang buat bayar kuliah, malah kau gunain buat beli baju dan hangout sama teman-temanmu!" omel Rania kesal. "Sekarang baru panik! Dasar boros!" "Terus aku dapat uang dari mana coba sekarang?!" seru Maya dengan wajah cemberut dan bibir maju ke depan. Ia benar-benar bingung dan kesal. Awalnya ia berharap Anton akan memberinya uang banyak hari ini, tapi nyatanya harapan itu pupus. Ia harus mencari cara lain, dan cepat! Pikirannya bekerja cepat, hingga tiba-tiba matanya berbinar. "Aha! Glena! Betul juga! Glena pasti dia punya uang simpanan kan?" bisiknya penuh semangat jahil. "Pasti dia mau kasih aku! Aku harus minta padanya sekarang!" Tanpa pikir panjang, Maya langsung berjalan cepat menuju kamar Glena. Langkah kakinya menghentak keras. DUK! DUK! DUK! "GLENA! KELUAR KAMU SEKARANG!!" Teriakan nyaring itu menggema hingga ke seluruh ruangan. Di dalam kamar, Bibi Resti yang sedang sibuk membereskan tempat tidur dan merapikan barang-barang Glena langsung kaget dan tersentak. Ia menoleh ke arah majikannya dengan wajah bingung. Suara ketukan dan teriakan itu terdengar sangat kasar dan tidak sopan. "GLENA! CEPAT KELUAR SEKARANG! JANGAN SOK SIBUK DI DALAM!" teriak Maya lagi dari balik pintu, semakin tidak sabaran. "Bagaimana ini Nyonya Glena? Apa pintunya dibuka saja, Nona Maya sepertinya sedang sangat marah," tanya Bibi Resti dengan nada ragu. Glena yang sedari tadi duduk tenang di kursi rodanya sambil fokus di depan laptop, perlahan menutup layar komputernya. Wajahnya datar, dingin, dan sama sekali tidak terganggu. "Ya sudah, Bibi. Buka saja pintunya. Biar dia puas teriaknya," jawab Glena pelan namun tegas. Bibi Resti pun segera mendorong kursi roda Glena mendekat ke pintu, lalu membukanya lebar-lebar. Terlihatlah Maya yang sudah menunggu dengan wajah garang di depan sana. Glena menatap lurus ke depan, meskipun ia tak bisa melihat dan ia tak bisa melihat wajah Maya, namun ia bisa merasakan aura keserakahan yang terpancar dari wanita itu. "Kenapa?" tanya Glena singkat dan datar, suaranya tenang namun menusuk. Maya tidak buang-buang waktu. Ia langsung mengulurkan tangannya ke depan wajah Glena dengan sikap mendesak. "BERI AKU UANG! CEPAT! AKU BUTUH UANG BANYAK SEKARANG!" perintahnya seenaknya. Glena menggeleng pelan tanpa ragu. "Aku tidak punya uang," jawabnya singkat. "APA?! JANGAN BOONG KAU! PASTI ADA! KASIH SEKARANG!" teriak Maya mulai emosi dan memaksa, Terdengar langkah kaki lain mendekat. Ternyata Rania dan Dinda sudah berdiri di belakang Maya. "Aku bilang, aku TIDAK PUNYA UANG. Apa kau tuli?!" Ucapan Glena terdengar datar, dingin, namun memiliki tekanan yang membuat siapa saja mendengarnya akan merasa bergidik. Tidak ada sedikit pun rasa takut di nada bicaranya. Maya yang mendengarnya semakin emosi. Wajahnya memerah padam karena kesal dan rasa tidak terima. "Kau bohong! Pasti kau menyembunyikannya! Dasar pelit!" hardik Maya. Ia tidak mau tahu alasan. Yang ia butuhkan hanyalah uang. Dengan nekat, Maya melangkah maju hendak menerobos masuk ke dalam kamar Glena. Ia berniat mengobrak-abrik lemari dan laci untuk mencari dompet atau kartu ATM. "AKU AKAN MEMERIKSA KAMAR MU! KALI INI AKU PASTI MENDAPATKAN UANGNYA!" teriaknya. Namun, apa yang terjadi selanjutnya di luar dugaan semua orang. Saat tangan Maya hendak menyambar pegangan pintu, dengan gerakan secepat kilat dan sangat sigap, tangan Glena bergerak menangkap pergelangan tangan Maya. Cekrek! "JANGAN KURANG AJAR!" bentak Glena.Sebelum melangkah keluar menuju udara malam yang bebas, Glena sempat menoleh ke belakang untuk terakhir kalinya. Di dalam hatinya, sebuah beban berat yang selama ini menghimpit jiwanya perlahan-lahan runtuh. "Geana... permainan mereka sudah selesai. Kau bisa beristirahat dengan tenang sekarang," batinnya.Sementara itu, di dalam selnya, Amor masih terus memukul-mukul lantai dengan tangannya yang dirantai hingga berdarah. Ketakutan terbesar dalam hidupnya bukanlah kematian yang sudah di depan mata, melainkan kenyataan bahwa sosok yang paling ia takuti telah kembali dari liang kubur untuk menuntut balas.Malam itu, di bawah penjagaan ketat dinding-dinding batu, penyesalan datang terlambat, dan kegelapan total siap menjemput mereka yang telah lama menantang maut.Fajar belum sepenuhnya menyingsing, namun lapangan eksekusi yang terletak di pangkalan militer terisolasi itu sudah dipenuhi oleh atmosfer yang mencekam. Udara dingin membungkus area terbuka yang dikelilingi oleh tembok beton
Setelah mengetahui kebenaran bahwa wanita di hadapannya adalah Geana yang bangkit dari kematian, seluruh sisa keberanian Amor menguap tanpa bekas. Syok berat menghantam kesadarannya seperti gada besi. Lututnya gemetar hebat, dan seluruh keangkuhannya sebagai ketua organisasi kriminal runtuh dalam sekejap.Dengan sisa-sisa tenaga yang ia miliki, Amor merangkak di lantai sel yang kotor. Rantai di tangan dan kakinya berdenting hebat, bergesekan dengan semen dingin saat ia berusaha menjangkau ujung sepatu Glena."Geana... Geana, dengarkan aku!" ratap Amor, suaranya parau, berganti menjadi sebuah permohonan yang menyedihkan. "Aku mohon... aku tahu aku salah! Aku tahu aku bajingan! Tapi tolong, selamatkan aku kali ini saja!"Glena tidak bergerak satu inci pun. Ia hanya berdiri tegak, menatap pria yang dulu begitu berkuasa kini bersujud di bawah kakinya seperti anjing yang kelaparan. Tatapan matanya sekeras batu karang."Selamatkanmu?" tanya Glena, nadanya begitu datar hingga membuat bulu k
Saat itu pula, Amor dan Tiger dibawa ke sebuah tempat tahanan bawah tanah yang pengap dan dijaga ketat.Dinding-dinding betonnya yang dingin seolah menjadi saksi bisu bahwa perjalanan mereka telah berakhir; mereka akan dieksekusi mati karena telah banyak melakukan kejahatan yang tak termaafkan.Namun, untuk mencegah mereka menyusun rencana pelarian terakhir, Amor dan Tiger dipisah. Masing-masing diberi ruangan isolasi tersendiri, terkunci di balik jeruji besi yang tebal.Glena berdiri di depan pintu besi ruang tahanan Amor. Langkah kakinya terdengar pelan namun tegas, memecah keheningan koridor. Di sampingnya, Abraham berdiri memastikan situasi tetap aman."Abraham, aku ingin berbicara dengan mereka sebentar," kata Glena, matanya menatap lurus ke dalam sel yang gelap."Baiklah, mau aku temani? Bajingan seperti dia bisa saja nekat di detik-detik terakhirnya," tanya Abraham, tangannya reflex menyentuh sarung pistol di pinggangnya.Glena menoleh sedikit, memberikan senyuman tipis yang me
Dalam sekejap, puluhan prajurit elit bergerak turun dari perbukitan seperti bayangan. Mereka bergerak tak bersuara, memanfaatkan asap hitam yang membubung dari bangunan-bangunan yang terbakar sebagai kamuflase alami. Glena dan Abraham memimpin di barisan depan Tim Beta, menyusup melalui gerbang belakang yang barusan hancur akibat ledakan bom milik salah satu kubu mafia. Suasana di dalam markas sudah seperti neraka jahanam. Mayat-mayat bergelimpangan di atas tanah yang basah oleh darah. Sisa-sisa anggota dari kedua organisasi tampak terengah-engah, saling berlindung di balik puing-puing bangunan dengan sisa amunisi yang sangat menipis. Bang! Bang! Dua orang mafia yang sedang sibuk mengisi ulang peluru mendadak ambruk sebelum mereka sempat menyadari apa yang terjadi. Glena menurunkan moncong senjatanya yang masih berasap, matanya menatap dingin ke arah depan. "Mereka bahkan tidak menyadari kedatangan kita," bisik Glena, bergerak cepat berlindung di balik pilar beton yang retak
Empat jam berlalu dalam ketegangan yang sunyi. Pesawat militer taktis yang mereka tumpangi akhirnya mencapai batas zona penerbangan aman. Glena, Abraham, dan seluruh tim komando melakukan terjun payung taktis (HALO jump) di bawah kegelapan malam, menyusup ke pulau tanpa terdeteksi oleh radar musuh, senyap sepi tanpa suara Kini, Tim Beta yang dipimpin langsung oleh Abraham dan Glena sudah berhasil merayap naik melalui tebing barat yang curam. Mereka tiarap di balik semak-semak lebat di puncak bukit yang menghadap langsung ke arah markas besar mafia tersebut. Tiba-tiba, suara statis terdengar dari earpiece komunikasi di telinga Abraham. Itu adalah suara sersan pengintai dari Tim Alpha yang bergerak lebih dulu di garis depan. "Lapor, Komandan! Ada situasi tak terduga di dalam markas target. Anda harus melihat ini!" bisik suara di seberang sana dengan nada mendesak. Abraham mengernyitkan alis, menekan tombol komunikatornya. "Katakan, Sersan. Apa yang terjadi?" tanyanya penasaran
Keesokan paginya, langit masih berwarna keabuan saat fajar belum sepenuhnya menyingsing. Di sebuah pangkalan udara militer rahasia, deru mesin jet terdengar membahana, memecah keheningan pagi. Sebuah pesawat angkut militer taktis berukuran besar terparkir di landasan pacu, siap lepas landas.Glena turun dari mobil hitam yang membawanya, mengenakan setelan taktis serba hitam yang pas di tubuhnya, lengkap dengan rompi antipeluru ringan dan sepatu lars. Rambutnya diikat kuda dengan rapi, menampilkan wajahnya yang tegas dan penuh fokus.Di dekat tangga pesawat, Abraham sudah berdiri menunggunya. Pria itu kini melepaskan jas mewahnya, berganti pakaian tempur lengkap dengan atribut komando yang membuatnya tampak berkali-kali lipat lebih gagah dan berwibawa."Tidurmu nyenyak, Nona?" tanya Abraham saat Glena berjalan mendekat."Cukup untuk membuatku tetap terjaga selama penerbangan," jawab Glena singkat, matanya beralih menatap puluhan prajurit elit yang sedang melakukan pengecekan senjata t
Sesampainya Anton di ATM, karena ponselnya rusak, ia harus mengambil uang tunai di rekeningnya, karena ia harus membeli ponsel baru Sisa kemarahan Anton masih ada di dadanya. Ia pun memasukkan kartinya di mesin ATM tersebut, saat ia ingin menarik uang 20 juta, tulisan di mesin itu "Saldo Anda tid
Anton bertambah kesal, kepalanya pusing, malah tambah pusing, ia membanting ponselnya dengan kuat dan dengan tenaga penuh ke tembok membuat ponselnya menjadi pecah, casing ponselnya terlepas, layarnya berkedip-kedip dan akhirnya mati. Glena langsung tersenyum. "He he he he, seperti kesempatan da
Dulu tanah itu di jual dengan harga 700 juta tanpa sepengetahuan Glena, dan uang itu habis untuk kebutuhan hidup, foya-foya dan mengirim uang untuk Mara. Harusnya jika gajinya di kirim, harusnya nambah, mana tadi ia sudah mengirim uang untuk Glena 5 juta, dan Mara 6 juta, dan uang sudah terkirim,
"Aman Nyonya," kata Bibi Resti mengeluarkan laptop itu dari tasnya. "Ini saya beli kualitas rendah saja dengan harga 4 jutaan Nyonya, dan CCTV mini 5 buah dengan harga 100 ribu," kata Bibi Resti. "Tidak apa-apa, ini saja sudah cukup. Untuk CCTV kita akan memasangnya di rumah setelah mereka semua







