MasukSesampainya Anton di ATM, karena ponselnya rusak, ia harus mengambil uang tunai di rekeningnya, karena ia harus membeli ponsel baru
Sisa kemarahan Anton masih ada di dadanya. Ia pun memasukkan kartinya di mesin ATM tersebut, saat ia ingin menarik uang 20 juta, tulisan di mesin itu "Saldo Anda tidak mencukupi." "Apa-apaan mesin ATM ini? Kenapa saldo ku tidak mencukupi? Uangku masih ada 200 juta, aku hanya ingin menarik 20 juta malah tidak mencukupi, apa mesin ini rusak? Atau uang di dalam mesin tidak cukup sih!" gerutu Anton kesalnya makin meningkat Anton terlihat sangat gelisah. Ia terus berpindah-pindah dari satu mesin ATM ke mesin ATM lainnya, seolah-olah mesin yang salah dan bukan kartunya yang bermasalah. Keringat dingin mulai membasahi pelipisnya. "Dasar mesin rusak!" umpatnya dalam hati. Ia mencoba memasukkan kartu kembali, mengetik nominal 200 ribu rupiah dengan tangan yang mulai gemetar. TRANSAKSI GAGAL. SALDO TIDAK MENCUKUPI. Layar mesin itu kembali menampilkan tulisan yang sama persis. Anton menggeram kesal. Ia segera menarik kartunya dan berlari kecil menuju ATM lain yang ada di sudut jalan. Ia mencoba lagi, memencet tombol dengan kasar. Namun hasilnya tetap sama, tulisan merah itu terus menghantuinya. "Apa-apaan sih ini?! Kenapa terus gagal?!" Hingga akhirnya, rasa penasaran dan kepanikan membuatnya berhenti sejenak. Ia baru sadar bahwa selama ini ia terlalu buru-buru dan emosi, sehingga ia lupa mengecek berapa sisa saldonya yang sebenarnya. Dengan tangan gemetar, ia memilih menu Cek Saldo. Layar biru itu memproses data sebentar, lalu... SALDO ANDA: Rp 0,- Mata Anton membelalak lebar seolah mau melorot dari tempatnya. Wajahnya yang tadi memerah karena marah, kini berubah menjadi pucat pasi selembar kertas. "APA?!!" teriaknya keras hingga membuat orang yang sedang antre di belakangnya kaget. "Ti-tidak mungkin! Ini pasti salah! ke-kenapa saldonya bisa NOL?!" Suaranya terdengar terbata-bata, napasnya tiba-tiba menjadi sesak dan berat seolah ada batu besar yang menindih dadanya. Jantungnya berdegup kencang bagai mau pecah. Padahal jelas-jelas ia ingat, kemarin atau beberapa waktu lalu saldonya masih ada sekitar 200 Juta Rupiah! Uang hasil entah dari mana yang ia banggakan-banggakan. Tapi kenapa dalam sekejap mata, uang sebanyak itu lenyap begitu saja tanpa jejak?! "Tidak... tidak... ini mimpi... ini pasti mimpi!" Anton mundur perlahan selangkah demi selangkah menjauhi mesin ATM itu. Kakinya terasa lemas dan gemetar hebat. Ia masih terpaku tak percaya, otaknya menolak menerima kenyataan pahit di depan matanya. Uang sebanyak itu hilang entah kemana dalam sekejap! Dan yang membuatnya semakin panik bukan main... Uang itu sudah ia rencanakan khusus untuk membeli ponsel baru! Ia butuh hp baru itu untuk menghubungi produser! "Kalau uangku hilang... bagaimana aku bisa beli hp baru?! Bagaimana caranya aku menghubungi mereka?!" Pikirannya kacau balau. Dengan langkah gontai namun penuh amarah, Anton berjalan masuk ke dalam gedung bank. Wajahnya merah padam, matanya membelalak penuh tekanan. Ia berharap setidaknya di sini, di kantor pusat, ia bisa mendapatkan jawaban yang masuk akal dan memuaskan egonya yang sedang hancur. Ia mendatangi salah satu Customer Service, lalu membenturkan buku tabungannya ke atas meja dengan kasar. "CEK SEKARANG! KENAPA SALDOKU BISA HILANG?! ADA 200 JUTA TAPI MUNCULNYA NOL! KALIAN YANG MENGAMBILNYA KAN?!" teriaknya tidak terkendali. Petugas CS itu tampak terkejut namun tetap berusaha tenang dan sopan. Ia segera mengetik data di komputernya, memeriksa mutasi rekening Anton dengan teliti. Setelah beberapa menit, wanita itu mengangkat wajahnya dan menatap Anton dengan ragu. "Maaf Tuan... Saya sudah mengecek ulang berkali-kali. Tidak ada satupun riwayat transaksi masuk atau keluar yang tercatat di sistem hari-hari terakhir ini," jawab CS tersebut pelan. "Jika benar ada uang sebanyak itu masuk atau keluar, pasti akan tercatat jelas di sini dengan nama pengirim dan waktunya. Tapi saat ini... datanya kosong melompong. Apa mungkin... saldo Tuan memang sudah habis atau kosong sejak lama?" tanya wanita itu hati-hati. "APA?!!" Teriak Anton meledak lagi, suaranya menggema hingga ke seluruh ruangan bank, membuat nasabah lain menoleh ke arahnya. "TIDAK MUNGKIN TIDAK ADA TRANSAKSI! LALU KEMANA PERGI UANGKU?! 200 JUTA ITU BUKAN UANG MAIN-MAIN! KEMANA HILANGNYA?!" pekik Anton histeris, dadanya naik turun hebat. Ia merasa dunia seakan runtuh menimpanya. "Kami benar-benar tidak tahu, Pak," jawab CS itu tetap sabar. "Sistem kami akurat. Jika tidak ada catatan, berarti memang tidak ada pergerakan uang. Mungkin Bapak salah ingat atau lupa sudah menggunakannya?" "MANA MUNGKIN AKU LUPA! AKU SENDIRI YANG MELIHAT ANGKA ITU DI PONSELKU SEMALAM!" bantah Anton tak terima. "TADI MALAM MASIH ADA 200 JUTA! BENERAN ADA! TAPI HARI INI BARU SAJA KU COBA TARIK, TIBA-TIBA KOSONG! INI PENIPUAN! BANK KALI INI PENIPUAN!" Wajah Anton memerah padam karena emosi yang memuncak. "AKU TIDAK AKAN BIARKAN BEGINI SAJA! AKU AKAN LAPORKAN KALIAN KE POLISI! KALIAN AKAN KU BUNGKUS SEMUA!" ancamnya dengan jari telunjuk yang ditujukan tepat ke wajah petugas CS. Wanita itu hanya tersenyum kecut dan menjawab tenang, "Baik Pak, jika Bapak memiliki bukti foto atau catatan bahwa saldonya ada, silakan Bapak tunjukkan kepada kami atau pihak berwajib agar bisa kami proses lebih lanjut." Bugh! Jantung Anton seakan berhenti berdetak. Bukti? Ia terdiam kaku. Mulutnya terbuka tapi tidak ada suara yang keluar. Ia ingin menunjukkan foto struk atau bukti tangkapan layar yang ia ambil semalam, tapi... HP-nya rusak! Hancur lebur tak bisa dinyalakan! Ia tidak punya satu pun bukti fisik maupun digital! Keringat dingin mulai membasahi punggungnya. Ia terjebak dalam kebodohannya sendiri. Tanpa berkata apa-apa lagi, Anton memalingkan wajah, merampas kembali buku tabungannya, dan berjalan keluar dari bank dengan langkah gontai dan penuh keputusasaan. Semua orang menatapnya seperti orang gila. "Apa yang harus kulakukan sekarang...?" gumamnya pelan, suaranya bergetar. Pikirannya bekerja keras mencari jalan keluar. Ia butuh uang untuk memperbaiki HP-nya dulu, baru ia bisa mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi.Sebelum melangkah keluar menuju udara malam yang bebas, Glena sempat menoleh ke belakang untuk terakhir kalinya. Di dalam hatinya, sebuah beban berat yang selama ini menghimpit jiwanya perlahan-lahan runtuh. "Geana... permainan mereka sudah selesai. Kau bisa beristirahat dengan tenang sekarang," batinnya.Sementara itu, di dalam selnya, Amor masih terus memukul-mukul lantai dengan tangannya yang dirantai hingga berdarah. Ketakutan terbesar dalam hidupnya bukanlah kematian yang sudah di depan mata, melainkan kenyataan bahwa sosok yang paling ia takuti telah kembali dari liang kubur untuk menuntut balas.Malam itu, di bawah penjagaan ketat dinding-dinding batu, penyesalan datang terlambat, dan kegelapan total siap menjemput mereka yang telah lama menantang maut.Fajar belum sepenuhnya menyingsing, namun lapangan eksekusi yang terletak di pangkalan militer terisolasi itu sudah dipenuhi oleh atmosfer yang mencekam. Udara dingin membungkus area terbuka yang dikelilingi oleh tembok beton
Setelah mengetahui kebenaran bahwa wanita di hadapannya adalah Geana yang bangkit dari kematian, seluruh sisa keberanian Amor menguap tanpa bekas. Syok berat menghantam kesadarannya seperti gada besi. Lututnya gemetar hebat, dan seluruh keangkuhannya sebagai ketua organisasi kriminal runtuh dalam sekejap.Dengan sisa-sisa tenaga yang ia miliki, Amor merangkak di lantai sel yang kotor. Rantai di tangan dan kakinya berdenting hebat, bergesekan dengan semen dingin saat ia berusaha menjangkau ujung sepatu Glena."Geana... Geana, dengarkan aku!" ratap Amor, suaranya parau, berganti menjadi sebuah permohonan yang menyedihkan. "Aku mohon... aku tahu aku salah! Aku tahu aku bajingan! Tapi tolong, selamatkan aku kali ini saja!"Glena tidak bergerak satu inci pun. Ia hanya berdiri tegak, menatap pria yang dulu begitu berkuasa kini bersujud di bawah kakinya seperti anjing yang kelaparan. Tatapan matanya sekeras batu karang."Selamatkanmu?" tanya Glena, nadanya begitu datar hingga membuat bulu k
Saat itu pula, Amor dan Tiger dibawa ke sebuah tempat tahanan bawah tanah yang pengap dan dijaga ketat.Dinding-dinding betonnya yang dingin seolah menjadi saksi bisu bahwa perjalanan mereka telah berakhir; mereka akan dieksekusi mati karena telah banyak melakukan kejahatan yang tak termaafkan.Namun, untuk mencegah mereka menyusun rencana pelarian terakhir, Amor dan Tiger dipisah. Masing-masing diberi ruangan isolasi tersendiri, terkunci di balik jeruji besi yang tebal.Glena berdiri di depan pintu besi ruang tahanan Amor. Langkah kakinya terdengar pelan namun tegas, memecah keheningan koridor. Di sampingnya, Abraham berdiri memastikan situasi tetap aman."Abraham, aku ingin berbicara dengan mereka sebentar," kata Glena, matanya menatap lurus ke dalam sel yang gelap."Baiklah, mau aku temani? Bajingan seperti dia bisa saja nekat di detik-detik terakhirnya," tanya Abraham, tangannya reflex menyentuh sarung pistol di pinggangnya.Glena menoleh sedikit, memberikan senyuman tipis yang me
Dalam sekejap, puluhan prajurit elit bergerak turun dari perbukitan seperti bayangan. Mereka bergerak tak bersuara, memanfaatkan asap hitam yang membubung dari bangunan-bangunan yang terbakar sebagai kamuflase alami. Glena dan Abraham memimpin di barisan depan Tim Beta, menyusup melalui gerbang belakang yang barusan hancur akibat ledakan bom milik salah satu kubu mafia. Suasana di dalam markas sudah seperti neraka jahanam. Mayat-mayat bergelimpangan di atas tanah yang basah oleh darah. Sisa-sisa anggota dari kedua organisasi tampak terengah-engah, saling berlindung di balik puing-puing bangunan dengan sisa amunisi yang sangat menipis. Bang! Bang! Dua orang mafia yang sedang sibuk mengisi ulang peluru mendadak ambruk sebelum mereka sempat menyadari apa yang terjadi. Glena menurunkan moncong senjatanya yang masih berasap, matanya menatap dingin ke arah depan. "Mereka bahkan tidak menyadari kedatangan kita," bisik Glena, bergerak cepat berlindung di balik pilar beton yang retak
Empat jam berlalu dalam ketegangan yang sunyi. Pesawat militer taktis yang mereka tumpangi akhirnya mencapai batas zona penerbangan aman. Glena, Abraham, dan seluruh tim komando melakukan terjun payung taktis (HALO jump) di bawah kegelapan malam, menyusup ke pulau tanpa terdeteksi oleh radar musuh, senyap sepi tanpa suara Kini, Tim Beta yang dipimpin langsung oleh Abraham dan Glena sudah berhasil merayap naik melalui tebing barat yang curam. Mereka tiarap di balik semak-semak lebat di puncak bukit yang menghadap langsung ke arah markas besar mafia tersebut. Tiba-tiba, suara statis terdengar dari earpiece komunikasi di telinga Abraham. Itu adalah suara sersan pengintai dari Tim Alpha yang bergerak lebih dulu di garis depan. "Lapor, Komandan! Ada situasi tak terduga di dalam markas target. Anda harus melihat ini!" bisik suara di seberang sana dengan nada mendesak. Abraham mengernyitkan alis, menekan tombol komunikatornya. "Katakan, Sersan. Apa yang terjadi?" tanyanya penasaran
Keesokan paginya, langit masih berwarna keabuan saat fajar belum sepenuhnya menyingsing. Di sebuah pangkalan udara militer rahasia, deru mesin jet terdengar membahana, memecah keheningan pagi. Sebuah pesawat angkut militer taktis berukuran besar terparkir di landasan pacu, siap lepas landas.Glena turun dari mobil hitam yang membawanya, mengenakan setelan taktis serba hitam yang pas di tubuhnya, lengkap dengan rompi antipeluru ringan dan sepatu lars. Rambutnya diikat kuda dengan rapi, menampilkan wajahnya yang tegas dan penuh fokus.Di dekat tangga pesawat, Abraham sudah berdiri menunggunya. Pria itu kini melepaskan jas mewahnya, berganti pakaian tempur lengkap dengan atribut komando yang membuatnya tampak berkali-kali lipat lebih gagah dan berwibawa."Tidurmu nyenyak, Nona?" tanya Abraham saat Glena berjalan mendekat."Cukup untuk membuatku tetap terjaga selama penerbangan," jawab Glena singkat, matanya beralih menatap puluhan prajurit elit yang sedang melakukan pengecekan senjata t
Dulu tanah itu di jual dengan harga 700 juta tanpa sepengetahuan Glena, dan uang itu habis untuk kebutuhan hidup, foya-foya dan mengirim uang untuk Mara. Harusnya jika gajinya di kirim, harusnya nambah, mana tadi ia sudah mengirim uang untuk Glena 5 juta, dan Mara 6 juta, dan uang sudah terkirim,
"Aman Nyonya," kata Bibi Resti mengeluarkan laptop itu dari tasnya. "Ini saya beli kualitas rendah saja dengan harga 4 jutaan Nyonya, dan CCTV mini 5 buah dengan harga 100 ribu," kata Bibi Resti. "Tidak apa-apa, ini saja sudah cukup. Untuk CCTV kita akan memasangnya di rumah setelah mereka semua
"Bibi, apa kau tahu kapan semua orang di rumah ini pergi?" tanya Glena. "Mereka biasanya pergi saat wekeend, biasanya mereka jalan-jalan ke mall," jawab Bi Resti. "Bagus, di saat itu tolong bantu aku Bibi," kata Glena dengan sungguh-sungguh. "Bantu aku mendapatkan apa yang menjadi hakku!" ******
"Hey bangun! Kalau kau tidak mati cepat bangun!" hardik seorang wanita yang terdengar asing di telinganya. Wanita itu menendang-nendang pinggangnya sedikit kuat membuat ia sadar, tapi matanya masih tertutup rapat. Tapi tangannya refleks, ia mengenggam kaki Wanita itu dengan kuat dan menariknya hi







