Share

5

Penulis: Less22
last update Tanggal publikasi: 2026-04-15 12:45:45

Anton bertambah kesal, kepalanya pusing, malah tambah pusing, ia membanting ponselnya dengan kuat dan dengan tenaga penuh ke tembok membuat ponselnya menjadi pecah, casing ponselnya terlepas, layarnya berkedip-kedip dan akhirnya mati.

Glena langsung tersenyum. "He he he he, seperti kesempatan datang lagi pada ku, ini kesempatan untuk mengurus yang ratusan juta di rekeningnya mumpung ponselnya rusak," kata Glena dalam hati.

"Bibi, tolong antarkan aku ke kamar dan bawa makananku ke dalam kamar, aku tiba-tiba merasa pusing," kata Glena dengan alasan yang di buat-buat.

"Ya cepat kau pergi! Melihat mu bikin aku nggak selera makan saja!" kata Rania menata Glena tajam.

"Baik Nyonya." angguk Bibi Resti kembali mendorong kursi roda untuk kembali ke dalam kamarnya.

Saat masuk ke dalam kamar, Bini Resti kembali ke dapur untuk mengambil makanan Glena.

Glena meraba tempat tidurnya dan mengambil laptopnya lagi.

Ia membuka laptopnya lagi dan mengetik sesuatu di laptopnya, sesaat kemudian ia menekan enter.

Ting!

[Selamat, Anda mendapatkan penambahan uang 200 juta] terdengar suara notifikasi dari AI.

Glena tersenyum, 238 juta sudah ada di tangan, jika Anton menyadarinya, Anton pasti kejang-kejang.

Dan harusnya itu cukup untuk operasi mata dan kakinya, hanya saja untuk donor mata, pastinya butuh waktu untuk mencari pendonornya.

"Nyonya, saya bawakan sarapan Anda," kata Bibi Resti meletakkan makanannya di atas meja

Glena mengangguk. "Terima kasih Bi."

Bibi Resti masih berdiri di samping Glena sambil menekuk alisnya saat melihat Glena sedang duduk di depan laptopnya.

Glena sedang mengetik sesuatu di laptopnya, yaitu mencari rumah sakit, di mana rumah sakit itu ada stok kornea mata.

"Ya ampun, Nyonya kok bisa main laptop dalam keadaan buta ya? Aku yang sehat aja nggak bisa lho main laptop, sejak kapan Nyonya sehebat ini?" tanya Bibi Resti terkagum-kagum.

"Hm... kalau kita di beri kekurangan, setidaknya kita harus belajar mencari kelebihan lain pada diri kita Bi," kata Glena membuat Bi Resti tersenyum haru.

"Ah Nyonya, akhirnya sekarang Nyonya bisa bangkit lagi dan bisa tersenyum. Dulu Nyonya selalu menangis karena merasa putus asa, bahkan sempat berkata pada Bibi ingin bunuh diri saja. Tapi sekarang melihat Nyonya bahagia dan bahkan berani melawan Nyonya besar tadi, Bibi merasa lega sekarang. Soalnya kalau Nyonya meninggal, pasti bibi juga yang kena," kata Bibi Resti dengan wajah murung.

"Ck! Ku pikir dia akan sedih, rupanya takut terseret," kata Glena dalam hati. "Tapi ya sudahlah, saat ini aku butuh bantuannya."

Dengan bantuan suara AI, Glena tahu rumah sakit mana saja yang memiliki stok kornea mata sekaligus trapi kakinya yang lumpuh. Jika uangnya tidak cukup, ia tinggal hack saja akun Mertuanya dan selingkuhan suaminya.

Tapi rumah sakit itu 3 hari baru ada yang mendonorkan matanya, jadi ia harus menunggu.

"Hm... apa alasan aku pergi operasi ya? Kalau aku bilang liburan, mereka pasti curiga karena ia tidak punya uang, da pastinya uang yang ia sedot dari rekening Anton akan ketauan.

"Bibi, aku ingin bicara serius padamu," kata Glena memutar kursi rodanya karena ia menyadari Bihi Resti ada di sampingnya.

"Apa itu Nyonya?" tanya Bibi Resti penasaran.

"Mendekatlah," kata Glena.

Bibi Reeti pun mendekat, dan Glena puj berbicara dengan suara pelanggan setelah berbisik. "Bibi, sekarang aku punya uang untuk operasi mata dan trapi kakiku dan bibi nanti ikut aku kerumah sakit untuk menemani ku, tapi aku tidak bisa pergi begitu saja dan kemungkinan akan ketahuan. Bagaimana jika Bibi meminta izin ingin pulang kampung karena anak Bibi sakit sekalian ingin membawa ku ke kampung, dan katakan pada mereka jika di kampung ada orang yang bisa menyembuhkan kaki yang lumpuh tanpa biaya mahal," kata Glena.

Bibi Resti menekuk alisnya dengan permintaan Glena. "Tapi Nyonya, bagaimana jika nanti saya di pecat," kata Bi Resti merasa khawatir dengan pekerjaannya.

"Jangan khawatir, jika aku sudah sembuh aku akan mengambil harta ku kembali, rumah mobil, dan semua uang hasil kerja keras ku selama ini, dan bibi tetap bekerja dengan ku," kata Glena menyakinkan.

"Tapi Nyonya... bagaimana tidak sembuh, apa yang harus aku lakukan?" tanya Bibi Resti terlihat takut.

"Sembuh atau tidaknya aku, rumah ini tetap milikku, mereka tidak akan bisa mengambil harta ku secara paksa. Aku hanya membiarkan mereka menikmati hidup mereka terlebih dahulu sebelum mereka di usir dari sini. Jadi aku butuh bibi untuk menemani ku operasi. Dan mulai sekarang yang menggaji mu adalah aku," kata Glena dengan suara mantap

Kalau di pikir-pikir, bagaimana bisa orang buat menggaji orang, apa lagi dia tidak bekerja, dari mana ia bisa menghasilkan uang?

"Bibi masih belum percaya juga pada ku?" tanya Glena tidak mendengar jawaban dari Bibi Resti.

"Bukan tidak percaya, hanya saja saya masih ragu-ragu.

Glena memutar laptopnya dan memperlihatkan saldo di rekeningnya x ia harus membuat bibi Resti mempercayainya agar bisa membawanya ke rumah sakit.

"Coba Bibi lihat saldo ini," kata Glena.

Seketika mata bihi Resti membulat. "Ya ampun, banyak sekali uangnya, Nyonya dapat dari mana?" tanya Bibi Resti menutup mulutnya.

"Itu tidak penting, aku hanya butuh Bibi sekarang untuk membawa ku, masalah gaji bibi aku akan membayarnya lebih dari anton," kata Glena lagi membuta Bihi Resti setuju

"Mau mau Nyonya, janji ya," kaata Resti mengangguk cepat dengan senyum yang mengembang.

******

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Terlahir Kembali Di Tubuh Istri Buta Dan Lumpuh   126 TAMAT

    Sebelum melangkah keluar menuju udara malam yang bebas, Glena sempat menoleh ke belakang untuk terakhir kalinya. Di dalam hatinya, sebuah beban berat yang selama ini menghimpit jiwanya perlahan-lahan runtuh. "Geana... permainan mereka sudah selesai. Kau bisa beristirahat dengan tenang sekarang," batinnya.Sementara itu, di dalam selnya, Amor masih terus memukul-mukul lantai dengan tangannya yang dirantai hingga berdarah. Ketakutan terbesar dalam hidupnya bukanlah kematian yang sudah di depan mata, melainkan kenyataan bahwa sosok yang paling ia takuti telah kembali dari liang kubur untuk menuntut balas.Malam itu, di bawah penjagaan ketat dinding-dinding batu, penyesalan datang terlambat, dan kegelapan total siap menjemput mereka yang telah lama menantang maut.Fajar belum sepenuhnya menyingsing, namun lapangan eksekusi yang terletak di pangkalan militer terisolasi itu sudah dipenuhi oleh atmosfer yang mencekam. Udara dingin membungkus area terbuka yang dikelilingi oleh tembok beton

  • Terlahir Kembali Di Tubuh Istri Buta Dan Lumpuh   125

    Setelah mengetahui kebenaran bahwa wanita di hadapannya adalah Geana yang bangkit dari kematian, seluruh sisa keberanian Amor menguap tanpa bekas. Syok berat menghantam kesadarannya seperti gada besi. Lututnya gemetar hebat, dan seluruh keangkuhannya sebagai ketua organisasi kriminal runtuh dalam sekejap.Dengan sisa-sisa tenaga yang ia miliki, Amor merangkak di lantai sel yang kotor. Rantai di tangan dan kakinya berdenting hebat, bergesekan dengan semen dingin saat ia berusaha menjangkau ujung sepatu Glena."Geana... Geana, dengarkan aku!" ratap Amor, suaranya parau, berganti menjadi sebuah permohonan yang menyedihkan. "Aku mohon... aku tahu aku salah! Aku tahu aku bajingan! Tapi tolong, selamatkan aku kali ini saja!"Glena tidak bergerak satu inci pun. Ia hanya berdiri tegak, menatap pria yang dulu begitu berkuasa kini bersujud di bawah kakinya seperti anjing yang kelaparan. Tatapan matanya sekeras batu karang."Selamatkanmu?" tanya Glena, nadanya begitu datar hingga membuat bulu k

  • Terlahir Kembali Di Tubuh Istri Buta Dan Lumpuh   124

    Saat itu pula, Amor dan Tiger dibawa ke sebuah tempat tahanan bawah tanah yang pengap dan dijaga ketat.Dinding-dinding betonnya yang dingin seolah menjadi saksi bisu bahwa perjalanan mereka telah berakhir; mereka akan dieksekusi mati karena telah banyak melakukan kejahatan yang tak termaafkan.Namun, untuk mencegah mereka menyusun rencana pelarian terakhir, Amor dan Tiger dipisah. Masing-masing diberi ruangan isolasi tersendiri, terkunci di balik jeruji besi yang tebal.Glena berdiri di depan pintu besi ruang tahanan Amor. Langkah kakinya terdengar pelan namun tegas, memecah keheningan koridor. Di sampingnya, Abraham berdiri memastikan situasi tetap aman."Abraham, aku ingin berbicara dengan mereka sebentar," kata Glena, matanya menatap lurus ke dalam sel yang gelap."Baiklah, mau aku temani? Bajingan seperti dia bisa saja nekat di detik-detik terakhirnya," tanya Abraham, tangannya reflex menyentuh sarung pistol di pinggangnya.Glena menoleh sedikit, memberikan senyuman tipis yang me

  • Terlahir Kembali Di Tubuh Istri Buta Dan Lumpuh   123

    Dalam sekejap, puluhan prajurit elit bergerak turun dari perbukitan seperti bayangan. Mereka bergerak tak bersuara, memanfaatkan asap hitam yang membubung dari bangunan-bangunan yang terbakar sebagai kamuflase alami. Glena dan Abraham memimpin di barisan depan Tim Beta, menyusup melalui gerbang belakang yang barusan hancur akibat ledakan bom milik salah satu kubu mafia. Suasana di dalam markas sudah seperti neraka jahanam. Mayat-mayat bergelimpangan di atas tanah yang basah oleh darah. Sisa-sisa anggota dari kedua organisasi tampak terengah-engah, saling berlindung di balik puing-puing bangunan dengan sisa amunisi yang sangat menipis. Bang! Bang! Dua orang mafia yang sedang sibuk mengisi ulang peluru mendadak ambruk sebelum mereka sempat menyadari apa yang terjadi. Glena menurunkan moncong senjatanya yang masih berasap, matanya menatap dingin ke arah depan. "Mereka bahkan tidak menyadari kedatangan kita," bisik Glena, bergerak cepat berlindung di balik pilar beton yang retak

  • Terlahir Kembali Di Tubuh Istri Buta Dan Lumpuh   122

    Empat jam berlalu dalam ketegangan yang sunyi. Pesawat militer taktis yang mereka tumpangi akhirnya mencapai batas zona penerbangan aman. Glena, Abraham, dan seluruh tim komando melakukan terjun payung taktis (HALO jump) di bawah kegelapan malam, menyusup ke pulau tanpa terdeteksi oleh radar musuh, senyap sepi tanpa suara Kini, Tim Beta yang dipimpin langsung oleh Abraham dan Glena sudah berhasil merayap naik melalui tebing barat yang curam. Mereka tiarap di balik semak-semak lebat di puncak bukit yang menghadap langsung ke arah markas besar mafia tersebut. Tiba-tiba, suara statis terdengar dari earpiece komunikasi di telinga Abraham. Itu adalah suara sersan pengintai dari Tim Alpha yang bergerak lebih dulu di garis depan. "Lapor, Komandan! Ada situasi tak terduga di dalam markas target. Anda harus melihat ini!" bisik suara di seberang sana dengan nada mendesak. Abraham mengernyitkan alis, menekan tombol komunikatornya. "Katakan, Sersan. Apa yang terjadi?" tanyanya penasaran

  • Terlahir Kembali Di Tubuh Istri Buta Dan Lumpuh   121

    Keesokan paginya, langit masih berwarna keabuan saat fajar belum sepenuhnya menyingsing. Di sebuah pangkalan udara militer rahasia, deru mesin jet terdengar membahana, memecah keheningan pagi. Sebuah pesawat angkut militer taktis berukuran besar terparkir di landasan pacu, siap lepas landas.Glena turun dari mobil hitam yang membawanya, mengenakan setelan taktis serba hitam yang pas di tubuhnya, lengkap dengan rompi antipeluru ringan dan sepatu lars. Rambutnya diikat kuda dengan rapi, menampilkan wajahnya yang tegas dan penuh fokus.Di dekat tangga pesawat, Abraham sudah berdiri menunggunya. Pria itu kini melepaskan jas mewahnya, berganti pakaian tempur lengkap dengan atribut komando yang membuatnya tampak berkali-kali lipat lebih gagah dan berwibawa."Tidurmu nyenyak, Nona?" tanya Abraham saat Glena berjalan mendekat."Cukup untuk membuatku tetap terjaga selama penerbangan," jawab Glena singkat, matanya beralih menatap puluhan prajurit elit yang sedang melakukan pengecekan senjata t

  • Terlahir Kembali Di Tubuh Istri Buta Dan Lumpuh   3

    "Aman Nyonya," kata Bibi Resti mengeluarkan laptop itu dari tasnya. "Ini saya beli kualitas rendah saja dengan harga 4 jutaan Nyonya, dan CCTV mini 5 buah dengan harga 100 ribu," kata Bibi Resti. "Tidak apa-apa, ini saja sudah cukup. Untuk CCTV kita akan memasangnya di rumah setelah mereka semua

  • Terlahir Kembali Di Tubuh Istri Buta Dan Lumpuh   2

    "Bibi, apa kau tahu kapan semua orang di rumah ini pergi?" tanya Glena. "Mereka biasanya pergi saat wekeend, biasanya mereka jalan-jalan ke mall," jawab Bi Resti. "Bagus, di saat itu tolong bantu aku Bibi," kata Glena dengan sungguh-sungguh. "Bantu aku mendapatkan apa yang menjadi hakku!" ******

  • Terlahir Kembali Di Tubuh Istri Buta Dan Lumpuh   6

    Sesampainya Anton di ATM, karena ponselnya rusak, ia harus mengambil uang tunai di rekeningnya, karena ia harus membeli ponsel baru Sisa kemarahan Anton masih ada di dadanya. Ia pun memasukkan kartinya di mesin ATM tersebut, saat ia ingin menarik uang 20 juta, tulisan di mesin itu "Saldo Anda tid

  • Terlahir Kembali Di Tubuh Istri Buta Dan Lumpuh   4

    Dulu tanah itu di jual dengan harga 700 juta tanpa sepengetahuan Glena, dan uang itu habis untuk kebutuhan hidup, foya-foya dan mengirim uang untuk Mara. Harusnya jika gajinya di kirim, harusnya nambah, mana tadi ia sudah mengirim uang untuk Glena 5 juta, dan Mara 6 juta, dan uang sudah terkirim,

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status