Share

4

Penulis: Less22
last update Tanggal publikasi: 2026-04-09 18:57:41

Dulu tanah itu di jual dengan harga 700 juta tanpa sepengetahuan Glena, dan uang itu habis untuk kebutuhan hidup, foya-foya dan mengirim uang untuk Mara.

Harusnya jika gajinya di kirim, harusnya nambah, mana tadi ia sudah mengirim uang untuk Glena 5 juta, dan Mara 6 juta, dan uang sudah terkirim, kenapa Mara bilang belum masuk.

Hilman juga sudah kirim uang dan sudah masuk, lantas kenapa di rekeningnya belum masuk, ada apa ini?

"Arggggg! Kemana perginya uangnya! aku harus telpon pak Produser dulu, apa benar uangnya sudah masuk," katanya mulai. pusing.

Dan saat telpon itu tersambung, produser bilang sudah masuk, karena gaji karyawan lain juga sudah masuk, tidak mungkin ke rekening Anton tidak masuk.

"Mungkin rekening kamu ada gangguan, kalo ada gangguan, tunggu saja. Atau hubungi CS," kata Hilman menyarankan.

"Ah iya Pak Produser, saya akan tunggu dulu sampai masuk," kata Anton dengan nada sopan, ia tidak berani melawan takut jika di pecat, ia sudah susah payah mempertahankan pekerjaan ini dengan gaji yang sangat mahal baginya dari pekerjaan staf biasa.

*********

Keesokan paginya, Anton keluar dari kamarnya dengan wajah manyun, bajunya biasanya rapi, tapi sedikit kusut karena kesal.

Ia duduk di meja makan dengan wajah manyun. Pasalnya, ia sudah menghubungi CS dan uang itu memang sudah terkirim dari rekening pak Hilman ke rekeningnya, tapi tidak tahu kemana uang itu pergi, karena tidak ada jejak kebocoran uang dari rekeningnya. Seolah-olah lenyap tanpa jejak.

"Ada apa Anton, kenapa wajah ku di Tekuk begitu?" tanya Rania saat melihat anaknya dengan wajah cemberut.

"Gaji ku belum masuk, padahal sudah di transfer," kata Anton menancapkan sendok garpunya di atas daging panggang tersebut dengan amarah.

"Kok bisa sih kak? Padahal aku Hari ini mau bayar uang kuliah ku lho," kata Maya dengan wajah manyun.

"Kan baru kemarin aku kirim 5 juta, kok sekarang bayar lagi?" tanya Anton dengan wajah kesal.

"Anu... kemaren itu aku nggak jadi bayar uang kuliah, uangnya buat beli sepatu sama tas karena aku dan teman-teman ada acara, jadi aku uangnya udah habis buat acara," kata Maya dengan wajah sedikit takut-takut.

Pandangan Anton beralih pada adik satunya lagi. "Jadi Dinda, uang 5 juta kemaren jangan-jangan sudah habis juga?" tanya Anton yang terlihat bertambah kesal.

Dinda tertegun dan ketakutan. "I-iya kak, uangnya buat beli hadiah ulang tahun pacarku, dia minta beliin jam tangan, jadi aku belikan," kata Dinda sambil menundukkan kepalanya.

"Dasar bodoh! Pacar kamu itu miskin, tapi banyak gaya! Udah tau dia miskin malah kamu pacari, tinggalkan saja dia dan cari pria kaya!" omel Anton.

Saat itu Glena keluar dari kamar, di mana kursi rodanya di dorong oleh Bibi Resti membuat ruang makan itu menjadi sepi atas kehadirannya.

"Ah ramai sekali, aku nggak di ajak ya?" tanya Glena tersenyum, bibi Resti mendorong kursi roda Glena hingga sampai di depan meja.

"Ngapain kamu makan di sini? Biasanya makan di kamar," kata Rania dengan wajah sedikit kesal dan merasa terganggu

"Hm... aku bosan makan di dalam kamar, sesekali pengen ngumpul dan makan bareng sama keluarga," kata Glena tersenyum manis.

“Heh! Lihat muka Kamu itu menganggu banget, sana masuk kamar!" sanggahnya tidak senang.

"Kenapa? Ini kan rumah ku? Kenapa aku tidak boleh ikut maka di sini juga? Kalian yang justru numpang di sini," kata Glena tersenyum miring membuat Rania naik pitam.

Ia tak menduga jika menantunya yang dulunya tidak pandai melawan, sekarang bicara seenaknya di depannya.

"Dasar Buta! jangan kamu pikir kamu buta dan lumpuh itu aku berbaik hati ya! Kau akan ku buat menderita!” Kata Rania menatap Glena dengan nafas naik turun, apa lagi mendengar gaji Anton yang belum masuk juga, itu artinya ia tidak mendapatkan jatahnya.

"Selama ini aku juga sudah cukup menderita, jangan seolah-olah kau tidak pernah melakukan apa pun pada ku, kemaren aku terjatuh itu karena kamu kan mertuaku yang baik," kata Glena sambil melipat tangan di dadanya.

"Apa kamu bilang? Kemaren itu kau sendiri yang menyenggol ku dengan kursi roda busukmu itu! Kau ingin mati ya!" teriak Rania tak tahan lagi dan ia berdiri ingin memukul Glena.

Rania pun melayangkan pukulannya ke arah Glena, meskipun ia buta, ia menyadari musuh di sekitarnya dan langsung menangkap tangan Rania.

Bibi Resti sendiri panik dan berteriak takut jika Nona Glena di pukul.

"Heh nenek peot, jangan kau pikir aku buta aku tidak berani melawan ku?" tanya Glena.

"CUKUP!" teriak Anton bertambah kesal karena pertengkaran di saat ia sedang pusing, , ia menarik tasnya dengan kasar. "Kalian bisa diam nggak! Kalian ini bikin pusing aja tau!" kata Anton dengan api kemarahan.

"Dah lah, Aku pergi dulu," katanya dengan suara yang datar, tapi tidak enak di dengar

"Hm... sepertinya dia sedang marah, jangan bilang dia kesal karena uangnya yang mendadak hilang," gumam Glena dalam hati. "Aku menemukan uang ratusan juta di rekeningnya, aku harus mengambilnya juga, kalau uang di rekeningnya sudah kosong, aku penasaran mau lihat gimana perasaannya." Glena tertawa kecil.

Baru juga sampai di depan pintu, Ponsel Anton berbunyi. Ia melihat yang menelponnya adalah Mara.

Anton mengangkat dengan kesal. "Halo, ada apa?" tanya Anton yang moodnya berantakan.

"Mana uangnya? Belum terkirim juga lho? Kamu bohongin aku ya? Mana diskon tasnya habis hari ini, kesel banget!" kata Mara ngomel-ngomel.

"Uang gaji ku aja belum masuk juga, sekarang kamu juga! Duit! Duit! Duit! Aku ini lagi pusing!" kata Anton setengah berteriak karena kesal.

"Heh! Kok kamu balik marahin aku sih! Kamu yang bohong katanya janji mau kirim uang dari kemaren tapi nggak terkirim juga! Kok malah marahin aku, nyolot lagi!" teriak Mara balik marah.

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Terlahir Kembali Di Tubuh Istri Buta Dan Lumpuh   126 TAMAT

    Sebelum melangkah keluar menuju udara malam yang bebas, Glena sempat menoleh ke belakang untuk terakhir kalinya. Di dalam hatinya, sebuah beban berat yang selama ini menghimpit jiwanya perlahan-lahan runtuh. "Geana... permainan mereka sudah selesai. Kau bisa beristirahat dengan tenang sekarang," batinnya.Sementara itu, di dalam selnya, Amor masih terus memukul-mukul lantai dengan tangannya yang dirantai hingga berdarah. Ketakutan terbesar dalam hidupnya bukanlah kematian yang sudah di depan mata, melainkan kenyataan bahwa sosok yang paling ia takuti telah kembali dari liang kubur untuk menuntut balas.Malam itu, di bawah penjagaan ketat dinding-dinding batu, penyesalan datang terlambat, dan kegelapan total siap menjemput mereka yang telah lama menantang maut.Fajar belum sepenuhnya menyingsing, namun lapangan eksekusi yang terletak di pangkalan militer terisolasi itu sudah dipenuhi oleh atmosfer yang mencekam. Udara dingin membungkus area terbuka yang dikelilingi oleh tembok beton

  • Terlahir Kembali Di Tubuh Istri Buta Dan Lumpuh   125

    Setelah mengetahui kebenaran bahwa wanita di hadapannya adalah Geana yang bangkit dari kematian, seluruh sisa keberanian Amor menguap tanpa bekas. Syok berat menghantam kesadarannya seperti gada besi. Lututnya gemetar hebat, dan seluruh keangkuhannya sebagai ketua organisasi kriminal runtuh dalam sekejap.Dengan sisa-sisa tenaga yang ia miliki, Amor merangkak di lantai sel yang kotor. Rantai di tangan dan kakinya berdenting hebat, bergesekan dengan semen dingin saat ia berusaha menjangkau ujung sepatu Glena."Geana... Geana, dengarkan aku!" ratap Amor, suaranya parau, berganti menjadi sebuah permohonan yang menyedihkan. "Aku mohon... aku tahu aku salah! Aku tahu aku bajingan! Tapi tolong, selamatkan aku kali ini saja!"Glena tidak bergerak satu inci pun. Ia hanya berdiri tegak, menatap pria yang dulu begitu berkuasa kini bersujud di bawah kakinya seperti anjing yang kelaparan. Tatapan matanya sekeras batu karang."Selamatkanmu?" tanya Glena, nadanya begitu datar hingga membuat bulu k

  • Terlahir Kembali Di Tubuh Istri Buta Dan Lumpuh   124

    Saat itu pula, Amor dan Tiger dibawa ke sebuah tempat tahanan bawah tanah yang pengap dan dijaga ketat.Dinding-dinding betonnya yang dingin seolah menjadi saksi bisu bahwa perjalanan mereka telah berakhir; mereka akan dieksekusi mati karena telah banyak melakukan kejahatan yang tak termaafkan.Namun, untuk mencegah mereka menyusun rencana pelarian terakhir, Amor dan Tiger dipisah. Masing-masing diberi ruangan isolasi tersendiri, terkunci di balik jeruji besi yang tebal.Glena berdiri di depan pintu besi ruang tahanan Amor. Langkah kakinya terdengar pelan namun tegas, memecah keheningan koridor. Di sampingnya, Abraham berdiri memastikan situasi tetap aman."Abraham, aku ingin berbicara dengan mereka sebentar," kata Glena, matanya menatap lurus ke dalam sel yang gelap."Baiklah, mau aku temani? Bajingan seperti dia bisa saja nekat di detik-detik terakhirnya," tanya Abraham, tangannya reflex menyentuh sarung pistol di pinggangnya.Glena menoleh sedikit, memberikan senyuman tipis yang me

  • Terlahir Kembali Di Tubuh Istri Buta Dan Lumpuh   123

    Dalam sekejap, puluhan prajurit elit bergerak turun dari perbukitan seperti bayangan. Mereka bergerak tak bersuara, memanfaatkan asap hitam yang membubung dari bangunan-bangunan yang terbakar sebagai kamuflase alami. Glena dan Abraham memimpin di barisan depan Tim Beta, menyusup melalui gerbang belakang yang barusan hancur akibat ledakan bom milik salah satu kubu mafia. Suasana di dalam markas sudah seperti neraka jahanam. Mayat-mayat bergelimpangan di atas tanah yang basah oleh darah. Sisa-sisa anggota dari kedua organisasi tampak terengah-engah, saling berlindung di balik puing-puing bangunan dengan sisa amunisi yang sangat menipis. Bang! Bang! Dua orang mafia yang sedang sibuk mengisi ulang peluru mendadak ambruk sebelum mereka sempat menyadari apa yang terjadi. Glena menurunkan moncong senjatanya yang masih berasap, matanya menatap dingin ke arah depan. "Mereka bahkan tidak menyadari kedatangan kita," bisik Glena, bergerak cepat berlindung di balik pilar beton yang retak

  • Terlahir Kembali Di Tubuh Istri Buta Dan Lumpuh   122

    Empat jam berlalu dalam ketegangan yang sunyi. Pesawat militer taktis yang mereka tumpangi akhirnya mencapai batas zona penerbangan aman. Glena, Abraham, dan seluruh tim komando melakukan terjun payung taktis (HALO jump) di bawah kegelapan malam, menyusup ke pulau tanpa terdeteksi oleh radar musuh, senyap sepi tanpa suara Kini, Tim Beta yang dipimpin langsung oleh Abraham dan Glena sudah berhasil merayap naik melalui tebing barat yang curam. Mereka tiarap di balik semak-semak lebat di puncak bukit yang menghadap langsung ke arah markas besar mafia tersebut. Tiba-tiba, suara statis terdengar dari earpiece komunikasi di telinga Abraham. Itu adalah suara sersan pengintai dari Tim Alpha yang bergerak lebih dulu di garis depan. "Lapor, Komandan! Ada situasi tak terduga di dalam markas target. Anda harus melihat ini!" bisik suara di seberang sana dengan nada mendesak. Abraham mengernyitkan alis, menekan tombol komunikatornya. "Katakan, Sersan. Apa yang terjadi?" tanyanya penasaran

  • Terlahir Kembali Di Tubuh Istri Buta Dan Lumpuh   121

    Keesokan paginya, langit masih berwarna keabuan saat fajar belum sepenuhnya menyingsing. Di sebuah pangkalan udara militer rahasia, deru mesin jet terdengar membahana, memecah keheningan pagi. Sebuah pesawat angkut militer taktis berukuran besar terparkir di landasan pacu, siap lepas landas.Glena turun dari mobil hitam yang membawanya, mengenakan setelan taktis serba hitam yang pas di tubuhnya, lengkap dengan rompi antipeluru ringan dan sepatu lars. Rambutnya diikat kuda dengan rapi, menampilkan wajahnya yang tegas dan penuh fokus.Di dekat tangga pesawat, Abraham sudah berdiri menunggunya. Pria itu kini melepaskan jas mewahnya, berganti pakaian tempur lengkap dengan atribut komando yang membuatnya tampak berkali-kali lipat lebih gagah dan berwibawa."Tidurmu nyenyak, Nona?" tanya Abraham saat Glena berjalan mendekat."Cukup untuk membuatku tetap terjaga selama penerbangan," jawab Glena singkat, matanya beralih menatap puluhan prajurit elit yang sedang melakukan pengecekan senjata t

  • Terlahir Kembali Di Tubuh Istri Buta Dan Lumpuh   7

    "Benar... Aku harus pergi ke tempat kerja dulu! Aku harus pinjam uang pada Bos untuk servis HP! Aku harus tahu kemana perginya uang itu!" Anton bergegas menuju tempat kerjanya, berharap bosnya mau mengulurkan tangan membantunya. "Mama uangnya, Ma? Gimana dong nasibku nanti?" rengek Maya dengan n

  • Terlahir Kembali Di Tubuh Istri Buta Dan Lumpuh   6

    Sesampainya Anton di ATM, karena ponselnya rusak, ia harus mengambil uang tunai di rekeningnya, karena ia harus membeli ponsel baru Sisa kemarahan Anton masih ada di dadanya. Ia pun memasukkan kartinya di mesin ATM tersebut, saat ia ingin menarik uang 20 juta, tulisan di mesin itu "Saldo Anda tid

  • Terlahir Kembali Di Tubuh Istri Buta Dan Lumpuh   5

    Anton bertambah kesal, kepalanya pusing, malah tambah pusing, ia membanting ponselnya dengan kuat dan dengan tenaga penuh ke tembok membuat ponselnya menjadi pecah, casing ponselnya terlepas, layarnya berkedip-kedip dan akhirnya mati. Glena langsung tersenyum. "He he he he, seperti kesempatan da

  • Terlahir Kembali Di Tubuh Istri Buta Dan Lumpuh   3

    "Aman Nyonya," kata Bibi Resti mengeluarkan laptop itu dari tasnya. "Ini saya beli kualitas rendah saja dengan harga 4 jutaan Nyonya, dan CCTV mini 5 buah dengan harga 100 ribu," kata Bibi Resti. "Tidak apa-apa, ini saja sudah cukup. Untuk CCTV kita akan memasangnya di rumah setelah mereka semua

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status