Share

Bab 2

Penulis: Secret
Keesokan paginya, Alya terbangun oleh suara garukan tajam yang menusuk telinga.

Di ruang tamu, beberapa pekerja sedang menurunkan foto pernikahan dirinya dan Justin dari dinding dengan kasar. Kaca bingkai foto itu menimbulkan goresan panjang di lantai.

"Apa yang kalian lakukan?" Suara Alya terdengar serak karena baru bangun tidur, tetapi mengandung rasa dingin yang menusuk.

Mandor yang memimpin mereka menjawab dengan nada meremehkan, "Ini perintah Pak Justin. Istrinya yang baru akan segera pindah ke sini. Dia nggak suka ngelihat foto orang lain di dinding."

Istri baru?

Barulah Alya teringat. Di kehidupan sebelumnya, setelah terbangun dan mendapati foto pernikahannya dibongkar oleh para pekerja, dia menangis histeris, memohon agar mereka berhenti. Tak lama kemudian, Alya menerima pesan dari Davina dan Justin yang mendadak mengabarkan bahwa mereka akan pindah ke sana. Selain itu, Davina juga mengirimkan banyak sekali foto tidak senonoh pada Alya, yang membuat Alya tidak sanggup menerima kenyataan tersebut pada saat itu.

Oleh karena itu, ketika Justin membawa Davina masuk ke rumah, Alya bersikap seperti orang gila yang histeris dan membuat keributan yang memalukan. Pada akhirnya, tindakan itu hanya membuahkan rasa muak dari Justin dan senyum kemenangan dari Davina.

Namun, sekarang, melihat foto pernikahan yang sebelumnya dia anggap sebagai harta berharga, tetapi kini diremas menjadi gumpalan dan dijejalkan begitu saja ke dalam kantong sampah, hati Alya justru tidak merasakan gejolak apa pun. Bahkan, Alya merasa hal itu lucu.

Ternyata, rasa sakit yang menyayat hati sekalipun, setelah dialami sekali, rasanya hanya begitu-begitu saja.

Tepat pada saat itu, ponsel di saku baju Alya bergetar.

Itu dari Davina.

Puluhan foto muncul bertubi-tubi, Justin yang sedang mengelus lembut perut buncit Davina yang sedang hamil dengan tatapan mata yang penuh kasih, Justin yang berada di dapur sedang memasak sup untuk Davina dengan begitu sabar dan perhatian, hingga foto mereka berdua yang sedang bersandar mesra di sofa dengan pipi Davina yang memerah ….

Setiap tanggal pada watermark di pojok kanan bawah foto-foto itu, secara akurat bertepatan dengan waktu yang disebut Justin sebagai "perjalanan bisnis" dan "rapat".

Terakhir, terlampir sebuah kalimat provokatif: [Kak Alya, Kak Justin bilang perutku sudah makin besar dan nggak nyaman kalau tinggal di luar. Jadi, hari ini dia menjemputku untuk pulang ke 'rumah kita'."

Layar ponsel kembali menyala, memunculkan pesan dari Justin yang isinya persis sama dengan kehidupan yang sebelumnya: [Alya, hari ini aku akan membawa Davina pulang. Rapikan kamar tidur utama untuk dia tempati. Davina sedang hamil sekarang. Jadi, tolong mengertilah kondisinya.]

Heh, sudah diduga.

Alya menghapus pesan itu, lalu duduk dengan tenang di sofa.

Pintu terbuka, Justin muncul membawa Davina. Refleks, Justin melindungi Davina di belakang tubuhnya. Alya pun tertawa sinis.

"Alya?" Justin mengerutkan kening. "Bukankah aku sudah menyuruhmu membereskan kamar? Apa kamar tidur utama sudah siap?"

Tatapan Alya tertuju pada perut yang membuncit itu. Dia ingat, pada akhirnya anak ini tidak pernah terlahir ke dunia.

"Kak Alya, jangan marah." Begitu melihat Alya, mata Davina langsung memerah. "Aku datang cuma untuk tinggal bersamamu dan Kak Justin. Setelah melahirkan, aku akan pergi. Kak Alya, anggap saja ini sebagai belas kasihanmu padaku, izinkan aku tinggal di sini sebentar, ya?"

Melihat penampilan Davina yang tampak begitu malang dan memelas, Alya justru malah tersenyum. Senyum itu tampak lembut, tetapi terasa janggal dan mengerikan.

Justin tertegun sejenak. Semua alasan yang sudah dia siapkan kini tertahan di tenggorokannya. Justin mengira Alya akan mengamuk dan bertengkar dengannya secara histeris. Namun, siapa sangka Alya malah tersenyum?

"Tentu saja boleh." Alya mengangguk, suaranya terdengar begitu lembut, hampir tidak masuk akal. "Davina memang pasti sangat lelah karena kehamilannya. Aku akan segera pergi merapikan kamar tidur utama sekarang."

Rasa bangga di wajah Davina belum sempat terpancar sepenuhnya, tetapi dia sudah dibuat panik oleh reaksi tidak lazim dari Alya. Ini benar-benar berbeda dari apa yang dibayangkan Davina sebelumnya.

Justin bahkan tampak makin bingung. "Alya, kamu … benaran nggak apa-apa?"

"Memangnya aku bisa kenapa-napa?" Alya memiringkan kepalanya sambil menatap Justin. Ada kilatan di matanya yang sulit dimengerti. "Bukankah kalian bilang akan segera pergi? Aku tinggal menunggu saat itu tiba, 'kan?"

Saat Alya berbalik untuk kembali ke kamar tamu, senyum di bibirnya makin lebar. Dari belakang punggungnya, terdengar suara Justin dan Davina yang saling berbisik dengan suara rendah. Sepertinya mereka berdua sedang menebak-nebak apa maksud di balik reaksinya ini.

Malam itu, saat Alya baru saja selesai mandi, pintu kamar tamu didorong hingga terbuka. Justin yang melihatnya masih terjaga sempat tertegun sejenak, lalu melangkah mendekat dengan pelan. "Alya, soal tadi siang … kamu benar-benar nggak keberatan?"

Justin mengulurkan tangannya dengan ragu, mencoba untuk merangkul Alya. Alya tidak menghindar, bahkan justru sengaja mendekat sedikit. "Keberatan soal apa? Kamu bilang kamu akan menyelesaikannya dengan baik, aku percaya padamu."

Dalam hati Justin, justru muncul rasa gelisah yang sulit dijelaskan. Sikap Alya yang patuh ini membuatnya merasa asing.

Alya membiarkan Justin memeluknya, tetapi hatinya terasa dingin dan sunyi. Proses keberangkatannya sebagai jurnalis perang sudah dalam tahap pengurusan. Tidak lama lagi, dia dan Justin tidak akan pernah bertemu kembali.
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Terlahir Kembali Untuk Jadi Jurnalis Perang   Bab 23

    Setahun kemudian, di sebuah negara di Elora, di tenda pengungsi di perbatasan.Alya sedang menyeka kameranya, gerakannya tampak cermat dan cekatan."Al …. Kak Alya."Tirai tenda tersingkap, Sinta Lukmawan masuk dengan rona malu-malu, sambil membawa segelas air."Ada apa?" Alya menengadah, menunjukkan senyum yang lembut."Aku ingin berterima kasih padamu." Sinta menyodorkan gelas air itu, tatapannya penuh rasa syukur. "Kalau bukan karena Kakak menarikku tadi, aku pasti sudah tertabrak truk bersenjata itu.""Itu bukan apa-apa." Alya menerima gelas air tersebut. "Di sini, sudah seharusnya kita saling menjaga. Ingat, keselamatan adalah yang utama. Berita selamanya berada di urutan kedua setelah nyawa."Sinta menatap Alya, jari-jemarinya saling bertaut dengan gugup."Kak Alya, sepertinya Kakak nggak takut pada apa pun. Kenapa Kakak memilih untuk datang ke sini?"Gerakan Alya yang sedang menyeka kamera pun terhenti sejenak.Alya mengangkat pandangannya, menatap gadis di hadapannya dengan sak

  • Terlahir Kembali Untuk Jadi Jurnalis Perang   Bab 22

    Di Kota Adora, di kantor CEO, di lantai teratas Grup Fabian.Di balik jendela besar setinggi langit-langit, terbentang pemandangan malam kota yang megah dan gemerlap. Namun, suasana di dalam ruangan justru terasa dingin dan sunyi. Justin berdiri sendirian di depan jendela, membelakangi kantor yang luas dan kosong itu.Di layar lebar yang ada di hadapannya, sedang berlangsung siaran langsung upacara penghargaan dari Negara Junar tanpa suara. Justin mematikan suaranya, seakan hanya ingin memastikan sesuatu melalui gambar saja.Dia menatap wanita di layar itu, sosok yang terasa begitu familier, tetapi sekaligus asing baginya. Justin memperhatikan langkah kaki wanita itu yang tenang dan mantap, serta menyimak setiap kata yang diucapkannya. Jantung Justin seakan diremas perlahan, tetapi kuat oleh tangan tak kasat mata, terasa begitu sakit hingga hampir mati rasa.Sudah lima tahun.Justin tidak pernah lagi mengganggunya, seakan sedang memenuhi janji untuk melepaskannya saat itu.Namun, Justi

  • Terlahir Kembali Untuk Jadi Jurnalis Perang   Bab 21

    "Al, kenapa bengong? Cepat sini lihat! Pak Raka bawa barang bagus!" teriak seorang rekan kerja dari depan pintu.Alya tersadar dari lamunannya, melemparkan ponselnya kembali ke dalam tas, lalu berjalan keluar sambil tersenyum.Di halaman, Raka sedang menurunkan beberapa kotak roti segar dari sebuah mobil jip.Di tempat yang kekurangan pasokan logistik seperti ini, roti segar benar-benar lebih berharga dibanding emas."Wah, semangka! Pak Raka, dari mana kamu dapat ini?""Ya ampun! Rasanya sudah hampir setahun aku nggak lihat semangka!"Semua orang bersorak kegirangan.Raka tersenyum. Dia lalu membelah salah satu semangka dengan belati, memperlihatkan daging buahnya yang merah segar."Pemberian seorang teman lokal. Semuanya kebagian, ayo cepat makan."Alya juga mendapatkan sepotong.Alya menggigitnya sedikit, lalu sari buah yang dingin dan manis itu seketika meledak di dalam mulutnya, memberikan rasa manis yang meresap hingga ke dalam hati.Alya memandangi wajah-wajah di sekelilingnya ya

  • Terlahir Kembali Untuk Jadi Jurnalis Perang   Bab 20

    Malam itu, Justin bermimpi sangat aneh.Dia bermimpi Alya tewas dalam sebuah kecelakaan mobil.Justin bermimpi, wanita itu bersimbah darah dengan tubuh yang terasa dingin. Namun, dia masih menggunakan sisa tenaga terakhirnya untuk berkata kepada Justin, "Justin, kita … cerai saja. Di kehidupan selanjutnya, aku nggak mau ketemu kamu lagi."Justin terbangun dari mimpi itu dengan terkejut. Sekujur tubuhnya basah kuyup oleh keringat dingin.Di luar jendela, bulan di Negara Naura tampak besar dan bulat, tetapi membawa rona warna yang dingin dan penuh kesedihan.Justin berjalan ke tepi jendela, mengambil teropong dan memandang ke arah pos kecil wartawan yang lampunya masih menyala di kejauhan.Justin tahu, Alya ada di sana.Di dunia yang tidak bisa lagi dia masuki, Alya sedang berjuang untuk hidup dengan penuh kebebasan.'Lepaskanlah.'Sebuah suara berbisik lirih di dalam hati Justin.'Kamu sudah menghancurkan separuh hidupnya, haruskah kamu juga menghancurkan masa depannya?''Kamu nggak bis

  • Terlahir Kembali Untuk Jadi Jurnalis Perang   Bab 19

    Sementara itu, di sisi lain, setelah mengalami penolakan, Justin tidak lantas meninggalkan Negara Naura.Justin mengeluarkan uang dalam jumlah besar untuk menyewa sebuah rumah di kota kecil yang letaknya tidak jauh dari pos wartawan, lalu memerintahkan Pak Azka untuk pulang ke tanah air."Selidiki pria bernama Raka itu, sedetail mungkin."Melihat ekspresi Justin yang tampak muram, Pak Azka tidak berani bertanya lebih banyak dan langsung terbang kembali ke dalam negeri malam itu juga.Tak lama kemudian, informasi mengenai Raka pun dikirimkan, lengkap dengan foto tunangannya.Justin menatap kedua orang yang sedang tersenyum manis di dalam foto itu. Namun, bukannya marah, Justin malah tertawa."Punya pertunangan di dalam negeri?" gumam Justin pada dirinya sendiri, sementara kilatan kegembiraan yang aneh melintas di matanya.Justin merasa sudah memahami sesuatu.Alya sedang berakting. Dia sengaja mendekati Raka dan sengaja bersikap begitu dingin pada Justin, semua itu hanya untuk memancing

  • Terlahir Kembali Untuk Jadi Jurnalis Perang   Bab 18

    Alya tertegun untuk sesaat. Dia tidak mengerti mengapa Raka tiba-tiba menanyakan hal itu.Tanpa menunggu jawaban Alya, Raka melanjutkan kata-katanya, "Ketika seseorang berjalan melewati jembatan gantung dengan perasaan was-was, detak jantungnya akan bertambah cepat tanpa dia sadari. Kalau pada saat itu dia kebetulan bertemu dengan orang lain, dia akan keliru menganggap debaran jantung akibat situasi tersebut sebagai perasaan berdebar karena jatuh cinta pada orang itu."Suara Raka begitu tenang, seakan sedang memaparkan sebuah konsep psikologi biasa. Akan tetapi, Alya langsung bisa memahaminya dalam sekejap.Kedua pipi Alya memanas tanpa bisa dikendalikan.Ternyata, Raka tahu segalanya.Raka tahu bahwa Alya pernah memiliki perasaan yang tidak seharusnya terhadapnya. Raka tahu setiap perubahan emosi kecil yang dirasakan wanita itu. Namun, Raka memilih untuk tidak membongkarnya, apalagi bersikap ambigu. Sebaliknya, Raka menggunakan cara yang sopan dan lembut seperti ini untuk menyadarkan

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status