Share

Terlahir Kembali Untuk Jadi Jurnalis Perang
Terlahir Kembali Untuk Jadi Jurnalis Perang
Penulis: Secret

Bab 1

Penulis: Secret
"Pak." Suara Alya terdengar tenang. "Mengenai tawaran menjadi jurnalis perang yang Anda ajukan sebelumnya, aku sudah memutuskan …."

Hening selama beberapa saat di ujung telepon. "Alya? Kamu yakin? Tempat itu bukan untuk main-main. Di dalam perjanjian disebutkan bahwa selama masa tugas di luar negeri, kamu nggak bisa berhubungan dengan dunia luar. Suamimu Justin, dia …."

"Aku yakin," potong Alya dengan cepat.

Sambil menatap pekatnya malam di luar jendela, Alya memberikan penegasan yang meyakinkan si pemimpin redaksi.

"Aku akan menceraikannya. Dalam satu minggu, aku akan berangkat sesuai jadwal." Justru klausul "putus komunikasi" itulah yang diincar Alya.

Alya ingin memastikan Justin tidak akan pernah lagi bisa melacak keberadaannya.

Semua orang berpikir bahwa Justin begitu mencintai Alya hingga mati.

Jika bukan karena semua yang sudah dilaluinya nantinya, Alya sendiri juga akan memercayai ketulusan Justin sampai napas terakhirnya.

Namun, kenyataan selamanya jauh lebih kejam dari bayangan.

Saat kembali membuka mata, Alya sudah terlahir kembali di momen tepat sebelum dia mendorong pintu besar vila itu.

"Kak …. Kak Alya? Kenapa Kakak tiba-tiba datang?" Miko Haikal berdiri dari sofa dengan raut wajah panik karena takut.

Tatapan Alya melewati pria itu dan tertuju ke arah taman. Justin suaminya, tengah menyuapkan sesendok sup ayam ke mulut sahabat baik Miko, Davina Ganendra. Gerakannya begitu lembut dan tatapan matanya penuh kasih sayang.

Miko mengikuti di belakang Alya dan berkata dengan panik, "Kak Alya, jangan salah paham. Ini nggak seperti yang Kakak bayangkan. Kak Justin … dia melakukan semua ini demi Kakak!"

Demi dirinya?

Alya tertawa sinis di dalam hati.

Betapa lucunya alasan itu. Namun, kata-kata Justin tidak berbeda sedikit pun dari kehidupannya yang sebelumnya.

Di kehidupan sebelumnya, saat Davina muncul dengan perut buncit itu, Justin juga mengatakan hal yang sama.

Pada saat itu, Alya memercayainya.

Namun, yang didapatkan Alya sebagai balasannya, justru adegan Justin yang tersenyum lembut di sisi Davina dan anaknya, sementara hubungannya dengan Alya sendiri makin lama, makin menjauh. Hingga akhirnya, Alya tewas dalam perjalanan untuk meminta cerai dari Justin.

"Kak Alya …."

"Diam." Alya menatap sepasang kekasih yang tampak serasi itu, melemparkan cincin kawinnya ke lantai, lalu berbalik pergi.

Baru saja Alya sampai di rumah dan lampu teras juga belum sempat dinyalakan, pintu di belakangnya sudah didorong terbuka dari luar.

Persis seperti di kehidupan sebelumnya, kalimat pertama yang keluar dari mulut pria itu adalah, "Alya, dengarkan penjelasanku."

"Penjelasan?" Alya akhirnya angkat bicaranya. Suaranya terdengar serak. "Menjelaskan kenapa Davina masih mengandung anakmu?"

Justin terdiam sejenak. "Ibuku ingin seorang cucu. Asalkan keinginannya terpenuhi, kita bisa bersama selamanya." Justin mencoba menggenggam tangan Alya. Namun, Alya segera menarik tangannya dengan kasar.

Justin pun mengeluarkan sebuah kotak dari saku bajunya. "Alya, aku janji. Meski ada anak itu, kamu akan tetap jadi satu-satunya bagiku selamanya."

Di dalam kotak itu terdapat kalung berlian "Satu-satunya" yang dibeli dengan harga selangit di pelelangan. Alya mencibir dalam hati. Di kehidupan sebelumnya, pemilik kalung ini adalah Davina. Sekarang, Justin malah memberikan barang yang seharusnya untuk selingkuhannya itu kepadanya.

Justin, "Satu-satunya" bagimu itu benar-benar murahan.

Alya membiarkan pria itu memasangkan kalung tersebut di lehernya. Berlian itu terasa dingin saat menyentuh kulit, tetapi hanya memicu rasa mual dalam diri Alya.

Justin mulai merangkai gambaran masa depan tentang "keluarga kecil" mereka. "Begitu bayinya lahir, kita akan langsung memberikannya kepada pengasuh. Aku pastikan dia nggak akan mengusik waktu kita berdua. Kamu akan tetap menjadi wanita satu-satunya bagiku."

Ponsel di atas meja bergetar, menampilkan notifikasi pesan WhatsApp dari Davina: [Kak Justin, baju tidur pemberianmu sudah kupakai. Kapan kamu akan pulang?] Pesan itu disertai sebuah foto seksi kehamilan Davina yang mengenakan gaun tidur tipis berwarna hitam.

Justin langsung mematikan layar ponselnya dan menatap Alya dengan raut wajah ragu. "Alya, ada urusan mendesak di kantor. Aku akan menanganinya sebentar."

Justin pun berdiri. "Cepatlah istirahat. Jangan menungguku."

Pintu tertutup dengan bantingan keras. Menatap punggung Justin yang beranjak pergi, Alya merenggut kalung berlian itu dari lehernya dan melemparkannya ke tempat sampah, seakan sedang membuang sampah yang sama sekali tidak berharga.

"Sayang sekali, Justin. Kalau kamu mengatakannya di kehidupan sebelumnya, mungkin aku akan merasa terharu …. Tapi, sekarang, aku sudah nggak menginginkan status 'satu-satunya' bagimu lagi."
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Terlahir Kembali Untuk Jadi Jurnalis Perang   Bab 23

    Setahun kemudian, di sebuah negara di Elora, di tenda pengungsi di perbatasan.Alya sedang menyeka kameranya, gerakannya tampak cermat dan cekatan."Al …. Kak Alya."Tirai tenda tersingkap, Sinta Lukmawan masuk dengan rona malu-malu, sambil membawa segelas air."Ada apa?" Alya menengadah, menunjukkan senyum yang lembut."Aku ingin berterima kasih padamu." Sinta menyodorkan gelas air itu, tatapannya penuh rasa syukur. "Kalau bukan karena Kakak menarikku tadi, aku pasti sudah tertabrak truk bersenjata itu.""Itu bukan apa-apa." Alya menerima gelas air tersebut. "Di sini, sudah seharusnya kita saling menjaga. Ingat, keselamatan adalah yang utama. Berita selamanya berada di urutan kedua setelah nyawa."Sinta menatap Alya, jari-jemarinya saling bertaut dengan gugup."Kak Alya, sepertinya Kakak nggak takut pada apa pun. Kenapa Kakak memilih untuk datang ke sini?"Gerakan Alya yang sedang menyeka kamera pun terhenti sejenak.Alya mengangkat pandangannya, menatap gadis di hadapannya dengan sak

  • Terlahir Kembali Untuk Jadi Jurnalis Perang   Bab 22

    Di Kota Adora, di kantor CEO, di lantai teratas Grup Fabian.Di balik jendela besar setinggi langit-langit, terbentang pemandangan malam kota yang megah dan gemerlap. Namun, suasana di dalam ruangan justru terasa dingin dan sunyi. Justin berdiri sendirian di depan jendela, membelakangi kantor yang luas dan kosong itu.Di layar lebar yang ada di hadapannya, sedang berlangsung siaran langsung upacara penghargaan dari Negara Junar tanpa suara. Justin mematikan suaranya, seakan hanya ingin memastikan sesuatu melalui gambar saja.Dia menatap wanita di layar itu, sosok yang terasa begitu familier, tetapi sekaligus asing baginya. Justin memperhatikan langkah kaki wanita itu yang tenang dan mantap, serta menyimak setiap kata yang diucapkannya. Jantung Justin seakan diremas perlahan, tetapi kuat oleh tangan tak kasat mata, terasa begitu sakit hingga hampir mati rasa.Sudah lima tahun.Justin tidak pernah lagi mengganggunya, seakan sedang memenuhi janji untuk melepaskannya saat itu.Namun, Justi

  • Terlahir Kembali Untuk Jadi Jurnalis Perang   Bab 21

    "Al, kenapa bengong? Cepat sini lihat! Pak Raka bawa barang bagus!" teriak seorang rekan kerja dari depan pintu.Alya tersadar dari lamunannya, melemparkan ponselnya kembali ke dalam tas, lalu berjalan keluar sambil tersenyum.Di halaman, Raka sedang menurunkan beberapa kotak roti segar dari sebuah mobil jip.Di tempat yang kekurangan pasokan logistik seperti ini, roti segar benar-benar lebih berharga dibanding emas."Wah, semangka! Pak Raka, dari mana kamu dapat ini?""Ya ampun! Rasanya sudah hampir setahun aku nggak lihat semangka!"Semua orang bersorak kegirangan.Raka tersenyum. Dia lalu membelah salah satu semangka dengan belati, memperlihatkan daging buahnya yang merah segar."Pemberian seorang teman lokal. Semuanya kebagian, ayo cepat makan."Alya juga mendapatkan sepotong.Alya menggigitnya sedikit, lalu sari buah yang dingin dan manis itu seketika meledak di dalam mulutnya, memberikan rasa manis yang meresap hingga ke dalam hati.Alya memandangi wajah-wajah di sekelilingnya ya

  • Terlahir Kembali Untuk Jadi Jurnalis Perang   Bab 20

    Malam itu, Justin bermimpi sangat aneh.Dia bermimpi Alya tewas dalam sebuah kecelakaan mobil.Justin bermimpi, wanita itu bersimbah darah dengan tubuh yang terasa dingin. Namun, dia masih menggunakan sisa tenaga terakhirnya untuk berkata kepada Justin, "Justin, kita … cerai saja. Di kehidupan selanjutnya, aku nggak mau ketemu kamu lagi."Justin terbangun dari mimpi itu dengan terkejut. Sekujur tubuhnya basah kuyup oleh keringat dingin.Di luar jendela, bulan di Negara Naura tampak besar dan bulat, tetapi membawa rona warna yang dingin dan penuh kesedihan.Justin berjalan ke tepi jendela, mengambil teropong dan memandang ke arah pos kecil wartawan yang lampunya masih menyala di kejauhan.Justin tahu, Alya ada di sana.Di dunia yang tidak bisa lagi dia masuki, Alya sedang berjuang untuk hidup dengan penuh kebebasan.'Lepaskanlah.'Sebuah suara berbisik lirih di dalam hati Justin.'Kamu sudah menghancurkan separuh hidupnya, haruskah kamu juga menghancurkan masa depannya?''Kamu nggak bis

  • Terlahir Kembali Untuk Jadi Jurnalis Perang   Bab 19

    Sementara itu, di sisi lain, setelah mengalami penolakan, Justin tidak lantas meninggalkan Negara Naura.Justin mengeluarkan uang dalam jumlah besar untuk menyewa sebuah rumah di kota kecil yang letaknya tidak jauh dari pos wartawan, lalu memerintahkan Pak Azka untuk pulang ke tanah air."Selidiki pria bernama Raka itu, sedetail mungkin."Melihat ekspresi Justin yang tampak muram, Pak Azka tidak berani bertanya lebih banyak dan langsung terbang kembali ke dalam negeri malam itu juga.Tak lama kemudian, informasi mengenai Raka pun dikirimkan, lengkap dengan foto tunangannya.Justin menatap kedua orang yang sedang tersenyum manis di dalam foto itu. Namun, bukannya marah, Justin malah tertawa."Punya pertunangan di dalam negeri?" gumam Justin pada dirinya sendiri, sementara kilatan kegembiraan yang aneh melintas di matanya.Justin merasa sudah memahami sesuatu.Alya sedang berakting. Dia sengaja mendekati Raka dan sengaja bersikap begitu dingin pada Justin, semua itu hanya untuk memancing

  • Terlahir Kembali Untuk Jadi Jurnalis Perang   Bab 18

    Alya tertegun untuk sesaat. Dia tidak mengerti mengapa Raka tiba-tiba menanyakan hal itu.Tanpa menunggu jawaban Alya, Raka melanjutkan kata-katanya, "Ketika seseorang berjalan melewati jembatan gantung dengan perasaan was-was, detak jantungnya akan bertambah cepat tanpa dia sadari. Kalau pada saat itu dia kebetulan bertemu dengan orang lain, dia akan keliru menganggap debaran jantung akibat situasi tersebut sebagai perasaan berdebar karena jatuh cinta pada orang itu."Suara Raka begitu tenang, seakan sedang memaparkan sebuah konsep psikologi biasa. Akan tetapi, Alya langsung bisa memahaminya dalam sekejap.Kedua pipi Alya memanas tanpa bisa dikendalikan.Ternyata, Raka tahu segalanya.Raka tahu bahwa Alya pernah memiliki perasaan yang tidak seharusnya terhadapnya. Raka tahu setiap perubahan emosi kecil yang dirasakan wanita itu. Namun, Raka memilih untuk tidak membongkarnya, apalagi bersikap ambigu. Sebaliknya, Raka menggunakan cara yang sopan dan lembut seperti ini untuk menyadarkan

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status