Share

Bab 3

Author: Secret
Keesokan harinya, pagi-pagi sekali, Justin bangun dari kamar tamu. Mendengar suara-suara dari kamar mandi, dia pun mendorong pintu dan melihat Alya sedang bertumpu pada wastafel sambil muntah-muntah.

"Ada apa?" Justin bergegas mendekati Alya. "Bagian mana yang nggak nyaman?"

Wajah Alya tampak pucat. Dia tidak berniat memedulikan Justin. "Nggak apa-apa. Cuma ngerasa agak mual."

Justin mengusap punggung Alya dengan lembut. Setelah Alya merasa agak lebih baik, Justin berkata dengan ekspresi yang rumit, “Alya, kemarin Ibu sudah tahu kalau kamu sudah mengetahui keberadaan Davina. Ibu menyuruhku untuk nggak menyembunyikannya lagi."

Alya mendongak, menatap bayangan Justin di dalam cermin.

“Ibu suruh kita pulang ke rumah utama hari ini. Ibu juga memintaku untuk mengajak Davina sekalian, agar kita sekeluarga bisa makan bersama.”

Keluarga?

Alya tertawa tanpa suara. Ternyata, di dalam hati Justin, Davina pun sudah dianggap sebagai "keluarga".

Alya teringat kembali pada perjamuan keluarga di rumah utama pada kehidupan sebelumnya. Setelah perjamuan itu, mereka mengalami kecelakaan mobil dan Davina kehilangan bayinya. Sejak saat itu, Justin memberikan segala bentuk perlindungan dan perhatian kepada Davina dengan alasan rasa bersalah. Sekarang, jika dipikirkan kembali, betapa konyolnya hal itu. Itu sama sekali bukan rasa bersalah, melainkan karena Justin jelas-jelas sudah benar-benar jatuh hati pada Davina.

"Kalau kamu merasa nggak enak badan, istirahatlah dulu. Nanti aku akan minta sopir untuk menjemputmu."

Setelah berkata seperti itu, Justin pun meninggalkan kamar mandi.

Pada akhirnya, Alya tetap pergi ke rumah utama Keluarga Fabian.

...

Di rumah utama Keluarga Fabian.

Baru saja melangkah memasuki pintu, Alya sudah mendengar suara tawa mertuanya, Tantri Manggala, yang tengah membujuk dan memanjakan Davina.

Baru setelah Bi Minah, si pembantu, dengan mata tajamnya melihat Alya di depan pintu, dia pun mengingatkan dengan suara pelan, "Tuan, Nyonya, Bu Alya sudah datang."

Suara tawa di ruang tamu itu tiba-tiba langsung berhenti.

Tantri melirik Alya sekilas. Senyum di wajahnya langsung menghilang. Kemudian, dia berkata dengan nada datar, “Kalau sudah datang, duduklah. Sebentar lagi makan malam dimulai."

Alya duduk di kursi yang paling jauh. Aroma ayam kecap menusuk hidungnya. Alya pun buru-buru menutup mulutnya dan kembali merasa mual.

"Kenapa? Masakan Keluarga Fabian nggak sesuai dengan seleramu?" Nada bicara Tantri terdengar tajam dan sinis. "Manja sekali. Nggak kayak Davina yang makan apa saja terasa nikmat. Kelihatan sekali kalau dia tipe wanita yang subur."

Sambil berbicara, Tantri kembali mengambilkan satu sendok penuh makanan untuk Davina. "Davina, kamulah pahlawan besar Keluarga Fabian yang sesungguhnya. Nanti setelah anak ini lahir, aku sendiri yang akan mengasuhnya!"

Davina menundukkan kepalanya dengan malu-malu, lalu melirik Justin dengan tatapan yang tampak lembut dan lemah. "Terima kasih, Bibi."

Brak.

Akan tetapi, Justin mendadak membanting sendoknya ke meja dengan keras. Wajahnya tampak muram. "Bu! Aku sudah bilang sejak awal, seumur hidupku, satu-satunya istriku cuma Alya!"

Wajah Davina menjadi pucat pasi.

Alya menundukkan pandangannya sambil tertawa dingin.

Dia masih ingat saat mereka menikah di masa lalu. Pria itu juga mengatakan hal yang sama. Namun, sekarang, sudah ada sosok wanita baru di sisinya.

Padahal, jika digabungkan dengan kehidupan sebelumnya, waktu yang berlalu bahkan belum genap tujuh tahun.

Acara makan itu pun berlangsung tanpa ada satu orang pun yang bisa menikmati hidangannya.

Saat keluar rumah, Justin mempercepat langkahnya untuk mengejar Alya, lalu menghiburnya dengan suara rendah, "Alya, ibuku memang seperti itu. Jangan dimasukkan ke dalam hati."

Alya tidak menjawab.

Sesampainya di samping mobil, Alya refleks menarik pintu kursi penumpang belakang, karena sudah terbiasa. Namun, pintu itu justru didorong hingga terbuka dari dalam.

Davina duduk di sana. Dia menunjukkan senyum tanpa dosa kepada Alya. "Kak Alya, aku sedikit mabuk perjalanan. Kak Justin menyuruhku duduk di sini."

Ekspresi Justin tampak agak canggung. "Alya, dia sedang hamil. Duduk di belakang lebih aman."

Tangan Alya terhenti di udara, lalu segera ditariknya kembali, seakan tidak terjadi apa-apa. Alya pun membuka pintu kursi penumpang depan lalu masuk ke dalamnya.

Suasana di dalam mobil sunyi senyap. Melalui kaca spion, Davina tiba-tiba memajukan kepalanya hingga tatapan mereka bertemu. "Kak Justin, di dalam mobil agak pengap, ya."

Sambil berbicara, Davina sengaja menarik kerah bajunya, memperlihatkan bekas cupang yang terlihat jelas di lehernya.

Alya tetap tanpa ekspresi, hingga tatapannya tertuju pada kalung platinum berbentuk daun palem yang melingkar di leher Davina.

Mata Alya langsung terbelalak. Di kehidupan sebelumnya, juga di dalam mobil saat perjalanan pulang dari rumah utama, leher Davina jelas-jelas kosong tanpa hiasan apa pun! Mengapa di kehidupan kali ini, Davina mengenakan kalung itu?

Kalung itu adalah hadiah ulang tahun Alya yang ke-18, yang dipasangkan langsung oleh ayahnya. Saat itu, ibunya tersenyum dan berkata, “Putri kecil kita sudah dewasa. Ini hadiah memasuki usia dewasa dari Ayah dan Ibu untukmu. Kamu harus selalu bahagia."

Kalung itu adalah satu-satunya barang peninggalan yang mereka wariskan kepada Alya, satu-satunya kenangan yang dimiliki Alya di dunia ini.

Alya tiba-tiba berbalik. Suaranya terdengar bergetar. "Kalungku … kenapa bisa ada padamu?"

"Kembalikan padaku."

Davina tersentak kaget oleh Alya. Tanpa sadar, dia menutupi kalung di dadanya, lalu menatap Justin dengan raut wajah sedih. "Aku nggak tahu apa yang sedang Kakak bicarakan …. Kalung ini pemberian Kak Justin untukku."

Hadiah dari Kak Justin?

Alya menatap pria di depannya itu dan hanya merasa bahwa pria itu benar-benar asing.

Jelas-jelas pria itu tahu persis bahwa benda itu adalah hal yang paling berharga bagi Alya.

Di kehidupan sebelumnya, bahkan saat hubungan mereka berada di titik paling hancur sekalipun, Justin tidak pernah menyentuh benda itu. Namun, di kehidupan kali ini …. Justin justru tega mengambilnya dari kotak perhiasan Alya dan memberikannya langsung kepada Davina dengan tangannya sendiri!

Alya tidak bisa lagi menahan diri. Dia langsung melepas sabuk pengamannya, berbalik dari kursi depan dan menerjang ke kursi belakang, lalu menjulurkan tangan untuk merenggut kalung di leher Davina. "Ini punyaku!"

"Ah!" Davina berteriak histeris.

Terdengar suara decitan ban yang memekakkan telinga. Mobil itu pun berhenti mendadak di pinggir jalan.

"Alya, sudah cukup bikin ributnya? Itu cuma kalung. Aku sudah berikan posisi 'satu-satunya' kepadamu. Itu kan cuma kalung yang entah sudah berapa lama kamu pakai. Aku berikan pada Davina, karena dia menyukainya. Dia saja nggak keberatan memakainya, kenapa kamu masih saja bikin ribut?"

"Aku … perutku sakit sekali …." Davina menangis sesenggukan di pelukan Justin hingga napasnya tersengal-sengal. "Kak Justin, perutku …."

Wajah Justin langsung berubah. Dia berkata dengan dingin kepada Alya, "Kamu turun sekarang dan cari taksi sendiri untuk pulang."

Perut Alya kembali bergejolak. Rasa sakit yang tajam juga menusuk perut bagian bawahnya. Wajah Alya memucat. Sambil memegangi perutnya, Alya berkata dengan susah payah, "Justin, aku juga merasa nggak enak …."

"Alya, sudah cukup bikin ributnya!" Justin menyela perkataan Alya dengan tidak sabar.

Pintu mobil pun dibuka dengan kasar.

Alya ditarik keluar dari mobil oleh Justin.

Justin lalu berseru kepada sopir di depan, "Pak Mahdi, ke rumah sakit!"

"Baik, Pak Justin." Pak Mahdi memutar arah mobil dan melaju menuju rumah sakit.

Mobil Byron hitam itu melaju pergi dengan kencang. Embusan anginnya mengacak-acak rambut Alya.

Alya berdiri di pinggir jalan yang ramai dengan lalu lalang orang. Rasa sakit di perut bagian bawahnya makin hebat dan pandangannya berkali-kali menjadi gelap.

Alya ingin melambaikan tangan untuk memanggil taksi, tetapi bahkan untuk mengangkat lengan saja dia sudah tidak memiliki tenaga lagi.

Akhirnya, tubuh Alya melemas dan dia benar-benar kehilangan kesadaran.

Saat kembali terbangun, yang tercium adalah bau obat disinfektan yang menyengat di rumah sakit.

Dokter berkata dengan nada menyalahkan, "Kamu sudah bangun? Kamu pingsan karena anemia ditambah emosi yang terlalu meluap-luap. Oh ya, mana suamimu? Sudah hamil enam minggu, kenapa masih nggak tanggung jawab begini? Ngebiarin kamu keliaran sendirian."

Sudah hamil enam minggu …?
Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Terlahir Kembali Untuk Jadi Jurnalis Perang   Bab 23

    Setahun kemudian, di sebuah negara di Elora, di tenda pengungsi di perbatasan.Alya sedang menyeka kameranya, gerakannya tampak cermat dan cekatan."Al …. Kak Alya."Tirai tenda tersingkap, Sinta Lukmawan masuk dengan rona malu-malu, sambil membawa segelas air."Ada apa?" Alya menengadah, menunjukkan senyum yang lembut."Aku ingin berterima kasih padamu." Sinta menyodorkan gelas air itu, tatapannya penuh rasa syukur. "Kalau bukan karena Kakak menarikku tadi, aku pasti sudah tertabrak truk bersenjata itu.""Itu bukan apa-apa." Alya menerima gelas air tersebut. "Di sini, sudah seharusnya kita saling menjaga. Ingat, keselamatan adalah yang utama. Berita selamanya berada di urutan kedua setelah nyawa."Sinta menatap Alya, jari-jemarinya saling bertaut dengan gugup."Kak Alya, sepertinya Kakak nggak takut pada apa pun. Kenapa Kakak memilih untuk datang ke sini?"Gerakan Alya yang sedang menyeka kamera pun terhenti sejenak.Alya mengangkat pandangannya, menatap gadis di hadapannya dengan sak

  • Terlahir Kembali Untuk Jadi Jurnalis Perang   Bab 22

    Di Kota Adora, di kantor CEO, di lantai teratas Grup Fabian.Di balik jendela besar setinggi langit-langit, terbentang pemandangan malam kota yang megah dan gemerlap. Namun, suasana di dalam ruangan justru terasa dingin dan sunyi. Justin berdiri sendirian di depan jendela, membelakangi kantor yang luas dan kosong itu.Di layar lebar yang ada di hadapannya, sedang berlangsung siaran langsung upacara penghargaan dari Negara Junar tanpa suara. Justin mematikan suaranya, seakan hanya ingin memastikan sesuatu melalui gambar saja.Dia menatap wanita di layar itu, sosok yang terasa begitu familier, tetapi sekaligus asing baginya. Justin memperhatikan langkah kaki wanita itu yang tenang dan mantap, serta menyimak setiap kata yang diucapkannya. Jantung Justin seakan diremas perlahan, tetapi kuat oleh tangan tak kasat mata, terasa begitu sakit hingga hampir mati rasa.Sudah lima tahun.Justin tidak pernah lagi mengganggunya, seakan sedang memenuhi janji untuk melepaskannya saat itu.Namun, Justi

  • Terlahir Kembali Untuk Jadi Jurnalis Perang   Bab 21

    "Al, kenapa bengong? Cepat sini lihat! Pak Raka bawa barang bagus!" teriak seorang rekan kerja dari depan pintu.Alya tersadar dari lamunannya, melemparkan ponselnya kembali ke dalam tas, lalu berjalan keluar sambil tersenyum.Di halaman, Raka sedang menurunkan beberapa kotak roti segar dari sebuah mobil jip.Di tempat yang kekurangan pasokan logistik seperti ini, roti segar benar-benar lebih berharga dibanding emas."Wah, semangka! Pak Raka, dari mana kamu dapat ini?""Ya ampun! Rasanya sudah hampir setahun aku nggak lihat semangka!"Semua orang bersorak kegirangan.Raka tersenyum. Dia lalu membelah salah satu semangka dengan belati, memperlihatkan daging buahnya yang merah segar."Pemberian seorang teman lokal. Semuanya kebagian, ayo cepat makan."Alya juga mendapatkan sepotong.Alya menggigitnya sedikit, lalu sari buah yang dingin dan manis itu seketika meledak di dalam mulutnya, memberikan rasa manis yang meresap hingga ke dalam hati.Alya memandangi wajah-wajah di sekelilingnya ya

  • Terlahir Kembali Untuk Jadi Jurnalis Perang   Bab 20

    Malam itu, Justin bermimpi sangat aneh.Dia bermimpi Alya tewas dalam sebuah kecelakaan mobil.Justin bermimpi, wanita itu bersimbah darah dengan tubuh yang terasa dingin. Namun, dia masih menggunakan sisa tenaga terakhirnya untuk berkata kepada Justin, "Justin, kita … cerai saja. Di kehidupan selanjutnya, aku nggak mau ketemu kamu lagi."Justin terbangun dari mimpi itu dengan terkejut. Sekujur tubuhnya basah kuyup oleh keringat dingin.Di luar jendela, bulan di Negara Naura tampak besar dan bulat, tetapi membawa rona warna yang dingin dan penuh kesedihan.Justin berjalan ke tepi jendela, mengambil teropong dan memandang ke arah pos kecil wartawan yang lampunya masih menyala di kejauhan.Justin tahu, Alya ada di sana.Di dunia yang tidak bisa lagi dia masuki, Alya sedang berjuang untuk hidup dengan penuh kebebasan.'Lepaskanlah.'Sebuah suara berbisik lirih di dalam hati Justin.'Kamu sudah menghancurkan separuh hidupnya, haruskah kamu juga menghancurkan masa depannya?''Kamu nggak bis

  • Terlahir Kembali Untuk Jadi Jurnalis Perang   Bab 19

    Sementara itu, di sisi lain, setelah mengalami penolakan, Justin tidak lantas meninggalkan Negara Naura.Justin mengeluarkan uang dalam jumlah besar untuk menyewa sebuah rumah di kota kecil yang letaknya tidak jauh dari pos wartawan, lalu memerintahkan Pak Azka untuk pulang ke tanah air."Selidiki pria bernama Raka itu, sedetail mungkin."Melihat ekspresi Justin yang tampak muram, Pak Azka tidak berani bertanya lebih banyak dan langsung terbang kembali ke dalam negeri malam itu juga.Tak lama kemudian, informasi mengenai Raka pun dikirimkan, lengkap dengan foto tunangannya.Justin menatap kedua orang yang sedang tersenyum manis di dalam foto itu. Namun, bukannya marah, Justin malah tertawa."Punya pertunangan di dalam negeri?" gumam Justin pada dirinya sendiri, sementara kilatan kegembiraan yang aneh melintas di matanya.Justin merasa sudah memahami sesuatu.Alya sedang berakting. Dia sengaja mendekati Raka dan sengaja bersikap begitu dingin pada Justin, semua itu hanya untuk memancing

  • Terlahir Kembali Untuk Jadi Jurnalis Perang   Bab 18

    Alya tertegun untuk sesaat. Dia tidak mengerti mengapa Raka tiba-tiba menanyakan hal itu.Tanpa menunggu jawaban Alya, Raka melanjutkan kata-katanya, "Ketika seseorang berjalan melewati jembatan gantung dengan perasaan was-was, detak jantungnya akan bertambah cepat tanpa dia sadari. Kalau pada saat itu dia kebetulan bertemu dengan orang lain, dia akan keliru menganggap debaran jantung akibat situasi tersebut sebagai perasaan berdebar karena jatuh cinta pada orang itu."Suara Raka begitu tenang, seakan sedang memaparkan sebuah konsep psikologi biasa. Akan tetapi, Alya langsung bisa memahaminya dalam sekejap.Kedua pipi Alya memanas tanpa bisa dikendalikan.Ternyata, Raka tahu segalanya.Raka tahu bahwa Alya pernah memiliki perasaan yang tidak seharusnya terhadapnya. Raka tahu setiap perubahan emosi kecil yang dirasakan wanita itu. Namun, Raka memilih untuk tidak membongkarnya, apalagi bersikap ambigu. Sebaliknya, Raka menggunakan cara yang sopan dan lembut seperti ini untuk menyadarkan

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status