Share

Bab 4

Author: Secret
"Dokter, Anda …. Anda nggak salah lihat, 'kan?"

Suara Alya bergetar hebat tak terkendali. Dia menatap tajam pria berjas putih di depannya, sementara pandangannya mulai berkunang-kunang.

"Bagaimana mungkin … aku …."

Di kehidupan sebelumnya, anak ini tidak pernah ada.

Dokter itu sepertinya sudah terbiasa melihat reaksi seperti itu. Dia pun mendorong hasil USG ke hadapan Alya sambil berkata, "Bu Alya, kehamilan enam minggu, nggak mungkin salah. Di lembar USG ini sudah tertulis dengan sangat jelas."

Dokter itu terdiam sejenak, lalu menengadah menatap wajah Alya yang pucat pasi. Nada bicaranya sedikit melunak, tetapi tetap terasa kejam, "Kali ini, kamu menunjukkan gejala ancaman keguguran yang serius. Aku sudah meresepkan obat penguat kandungan dan kamu harus istirahat total di tempat tidur. Kalau bayi ini nggak dapat dipertahankan, mengingat kondisi fisikmu, kemungkinan akan sulit bagimu untuk hamil lagi di masa depan."

Pandangan Alya perlahan bergerak ke bawah, tertuju pada perut bawahnya yang masih rata. Tangannya bergerak tanpa kendali, mengusap lembut bagian itu. Di sana, sebuah kehidupan kecil tengah bertunas. Variabel yang muncul secara tiba-tiba ini membuat hati Alya yang semula setenang air di sumur tua sejak dia terlahir kembali, kini untuk pertama kalinya bergejolak hebat bagai dihantam gelombang raksasa.

Begitu keluar dari rumah sakit, sinar matahari di puncak musim kemarau menyengat hingga membuat mata Alya terasa perih.

Tanpa sadar, Alya mengeluarkan ponselnya dan membuka jendela obrolan dengan Justin, kosong melompong. Selama beberapa hari Alya dirawat di rumah sakit, pria itu sama seperti di kehidupan sebelumnya, tidak pernah menelepon, maupun mengirim pesan sekali saja.

Haruskah dia memberitahu Justin? Memberitahu Justin bahwa … mereka punya anak?

Begitu pikiran itu muncul, Alya buru-buru menghancurkannya dengan kejam. Dari dalam hatinya, menjalar rasa sakit yang menyesakkan, yang terasa familer, yang seakan sudah menghancurkannya berkali-kali.

Apa gunanya memberi tahu Justin? Justin sudah memiliki anak sekarang.

Mungkin saja Justin malah akan menganggap Alya berbohong hanya demi mencari perhatian.

Alya tidak berani bertaruh dan tidak ingin bertaruh.

Baru saja Alya melangkah memasuki rumah, erangan lembut seorang wanita yang terputus-putus dan deru napas memburu seorang pria terdengar sayup-sayup dari lantai dua, terdengar mesum sekaligus menyakitkan telinga.

Gerakan Alya saat mengganti sepatu terhenti seketika, tetapi tidak ada sedikit pun rasa terkejut di wajahnya.

Alya melangkah naik ke lantai atas selangkah demi selangkah. Suara itu terdengar makin jelas, hingga akhirnya, Alya berhenti tepat di depan pintu kamar bayi.

Dari celah pintu, terlihat gaun Davina kusut berantakan tersingkap di kakinya. Seluruh tubuhnya tampak lemas tanpa tulang dan bersandar manja di pelukan Justin. Rona merah di wajah Davina belum memudar dan sudut matanya masih tampak basah.

Tepat di bawah tubuh mereka, terdapat tempat tidur bayi yang dipilih sendiri oleh Alya dengan tangannya untuk calon anak mereka di masa depan.

Perut Alya terasa bergejolak hebat. Alya merasa seakan ingin muntah saat itu juga.

"Kak Justin, aku suka sekali kamar ini. Nanti kita pakai untuk bayi kita, ya?" Suara Davina terdengar serak setelah bercinta barusan. "Tapi, lampu berbentuk bulan ini sudutnya terlalu tajam, kita ganti saja ya?"

"Baiklah." Suara Justin terdengar agak pasrah, tetapi tetap menunjukkan sikap memanjakan. "Semua ini dulu cuma didekorasi seadanya. Kalau kamu nggak suka, besok aku akan suruh orang untuk ganti semuanya."

Didekorasi seadanya?

Dalam benak Alya, langsung terlintas bayangan saat Justin pulang ke rumah dengan penuh semangat sambil mendekap lampu tidur bulan itu.

Pria itu tampak seperti anak kecil yang tidak sabar memamerkan harta karunnya.

"Sayang, lihatlah ini. Nanti bayi kita nggak akan takut gelap lagi."

Di tengah lamunannya, pandangan Justin tertuju ke perut bawah Davina. Matanya dipenuhi sorot kasih sayang dan rasa ingin memanjakan yang belum pernah dilihat Alya sebelumnya.

"Davina, tenang saja. Aku akan berikan semua yang terbaik di dunia ini untuk bayi kita."

Begitu kalimat itu terucap, Davina tiba-tiba menengadah. Tatapannya melewati tepat di atas bahu Justin, lalu bersirobok dengan wajah dingin Alya di balik celah pintu.

Senyum kemenangan yang licik tersungging di bibir Davina. Namun, sedetik kemudian. Davina segera menyembunyikan wajahnya kembali di pelukan Justin. Suaranya menjadi serak seperti hendak menangis, terdengar begitu menderita dan tidak berdaya.

"Kak Justin, kamu akan selalu bersikap baik padaku seperti ini, 'kan? Aku sangat takut …. Aku dengar kondisi kesehatan Kak Alya selalu buruk. Dokter bilang dia sulit punya anak. Kalau, maksudku, andaikata, kalau nanti dia juga hamil, apa kamu nggak akan menyayangi bayi kita …."

Justin menepuk-nepuk punggung Davina dengan lembut. Dia sama sekali tidak menyadari bahwa ada seseorang di luar pintu. Justin hanya menganggap Davina sedang sensitif karena hamil.

"Dasar bodoh, jangan berpikiran yang nggak-nggak," hibur Justin. "Dia itu anak pertamaku. Segala hal yang kumiliki, kelak akan jadi miliknya."

Suara Justin terdengar begitu lembut, tetapi tiap katanya terasa seperti belati yang menghunjam tepat di hati Alya. "Meski Alya benar-benar hamil anakku, aku akan tetap menyayangi bayi kita ini dengan cara yang sama. Tenang saja."

"Benarkah?" Davina menggesekkan kepalanya dengan manja di pelukan Justin. Suaranya kini disertai tawa penuh kepuasan. "Kak Justin, kamu baik sekali."

Di luar pintu, Alya tertawa dingin tanpa suara.

Menyayangi dengan cara yang sama? Sungguh sangat murah hati.

Alya menunduk dan menatap kertas hasil USG di tangannya. Ujung jarinya memutih karena mencengkeramnya terlalu kuat.

Alya tidak akan pernah membiarkan bayinya tersentuh oleh apa pun di tempat ini, tidak sedikit pun. Terlebih lagi, Alya tidak akan membiarkan anaknya hidup di lingkungan yang penuh kepalsuan dan memuakkan seperti ini.

Alya lalu mengeluarkan ponselnya. Dengan wajah tanpa ekspresi dia membuka rekaman kamera pengawas kamar bayi. Sambil menatap adegan yang membuat muntah di layar tersebut, dia pun menekan tombol simpan.

"Halo, Pak Reza? Ini aku, Alya."

"Bantu aku susun draf perjanjian perceraian."
Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Terlahir Kembali Untuk Jadi Jurnalis Perang   Bab 23

    Setahun kemudian, di sebuah negara di Elora, di tenda pengungsi di perbatasan.Alya sedang menyeka kameranya, gerakannya tampak cermat dan cekatan."Al …. Kak Alya."Tirai tenda tersingkap, Sinta Lukmawan masuk dengan rona malu-malu, sambil membawa segelas air."Ada apa?" Alya menengadah, menunjukkan senyum yang lembut."Aku ingin berterima kasih padamu." Sinta menyodorkan gelas air itu, tatapannya penuh rasa syukur. "Kalau bukan karena Kakak menarikku tadi, aku pasti sudah tertabrak truk bersenjata itu.""Itu bukan apa-apa." Alya menerima gelas air tersebut. "Di sini, sudah seharusnya kita saling menjaga. Ingat, keselamatan adalah yang utama. Berita selamanya berada di urutan kedua setelah nyawa."Sinta menatap Alya, jari-jemarinya saling bertaut dengan gugup."Kak Alya, sepertinya Kakak nggak takut pada apa pun. Kenapa Kakak memilih untuk datang ke sini?"Gerakan Alya yang sedang menyeka kamera pun terhenti sejenak.Alya mengangkat pandangannya, menatap gadis di hadapannya dengan sak

  • Terlahir Kembali Untuk Jadi Jurnalis Perang   Bab 22

    Di Kota Adora, di kantor CEO, di lantai teratas Grup Fabian.Di balik jendela besar setinggi langit-langit, terbentang pemandangan malam kota yang megah dan gemerlap. Namun, suasana di dalam ruangan justru terasa dingin dan sunyi. Justin berdiri sendirian di depan jendela, membelakangi kantor yang luas dan kosong itu.Di layar lebar yang ada di hadapannya, sedang berlangsung siaran langsung upacara penghargaan dari Negara Junar tanpa suara. Justin mematikan suaranya, seakan hanya ingin memastikan sesuatu melalui gambar saja.Dia menatap wanita di layar itu, sosok yang terasa begitu familier, tetapi sekaligus asing baginya. Justin memperhatikan langkah kaki wanita itu yang tenang dan mantap, serta menyimak setiap kata yang diucapkannya. Jantung Justin seakan diremas perlahan, tetapi kuat oleh tangan tak kasat mata, terasa begitu sakit hingga hampir mati rasa.Sudah lima tahun.Justin tidak pernah lagi mengganggunya, seakan sedang memenuhi janji untuk melepaskannya saat itu.Namun, Justi

  • Terlahir Kembali Untuk Jadi Jurnalis Perang   Bab 21

    "Al, kenapa bengong? Cepat sini lihat! Pak Raka bawa barang bagus!" teriak seorang rekan kerja dari depan pintu.Alya tersadar dari lamunannya, melemparkan ponselnya kembali ke dalam tas, lalu berjalan keluar sambil tersenyum.Di halaman, Raka sedang menurunkan beberapa kotak roti segar dari sebuah mobil jip.Di tempat yang kekurangan pasokan logistik seperti ini, roti segar benar-benar lebih berharga dibanding emas."Wah, semangka! Pak Raka, dari mana kamu dapat ini?""Ya ampun! Rasanya sudah hampir setahun aku nggak lihat semangka!"Semua orang bersorak kegirangan.Raka tersenyum. Dia lalu membelah salah satu semangka dengan belati, memperlihatkan daging buahnya yang merah segar."Pemberian seorang teman lokal. Semuanya kebagian, ayo cepat makan."Alya juga mendapatkan sepotong.Alya menggigitnya sedikit, lalu sari buah yang dingin dan manis itu seketika meledak di dalam mulutnya, memberikan rasa manis yang meresap hingga ke dalam hati.Alya memandangi wajah-wajah di sekelilingnya ya

  • Terlahir Kembali Untuk Jadi Jurnalis Perang   Bab 20

    Malam itu, Justin bermimpi sangat aneh.Dia bermimpi Alya tewas dalam sebuah kecelakaan mobil.Justin bermimpi, wanita itu bersimbah darah dengan tubuh yang terasa dingin. Namun, dia masih menggunakan sisa tenaga terakhirnya untuk berkata kepada Justin, "Justin, kita … cerai saja. Di kehidupan selanjutnya, aku nggak mau ketemu kamu lagi."Justin terbangun dari mimpi itu dengan terkejut. Sekujur tubuhnya basah kuyup oleh keringat dingin.Di luar jendela, bulan di Negara Naura tampak besar dan bulat, tetapi membawa rona warna yang dingin dan penuh kesedihan.Justin berjalan ke tepi jendela, mengambil teropong dan memandang ke arah pos kecil wartawan yang lampunya masih menyala di kejauhan.Justin tahu, Alya ada di sana.Di dunia yang tidak bisa lagi dia masuki, Alya sedang berjuang untuk hidup dengan penuh kebebasan.'Lepaskanlah.'Sebuah suara berbisik lirih di dalam hati Justin.'Kamu sudah menghancurkan separuh hidupnya, haruskah kamu juga menghancurkan masa depannya?''Kamu nggak bis

  • Terlahir Kembali Untuk Jadi Jurnalis Perang   Bab 19

    Sementara itu, di sisi lain, setelah mengalami penolakan, Justin tidak lantas meninggalkan Negara Naura.Justin mengeluarkan uang dalam jumlah besar untuk menyewa sebuah rumah di kota kecil yang letaknya tidak jauh dari pos wartawan, lalu memerintahkan Pak Azka untuk pulang ke tanah air."Selidiki pria bernama Raka itu, sedetail mungkin."Melihat ekspresi Justin yang tampak muram, Pak Azka tidak berani bertanya lebih banyak dan langsung terbang kembali ke dalam negeri malam itu juga.Tak lama kemudian, informasi mengenai Raka pun dikirimkan, lengkap dengan foto tunangannya.Justin menatap kedua orang yang sedang tersenyum manis di dalam foto itu. Namun, bukannya marah, Justin malah tertawa."Punya pertunangan di dalam negeri?" gumam Justin pada dirinya sendiri, sementara kilatan kegembiraan yang aneh melintas di matanya.Justin merasa sudah memahami sesuatu.Alya sedang berakting. Dia sengaja mendekati Raka dan sengaja bersikap begitu dingin pada Justin, semua itu hanya untuk memancing

  • Terlahir Kembali Untuk Jadi Jurnalis Perang   Bab 18

    Alya tertegun untuk sesaat. Dia tidak mengerti mengapa Raka tiba-tiba menanyakan hal itu.Tanpa menunggu jawaban Alya, Raka melanjutkan kata-katanya, "Ketika seseorang berjalan melewati jembatan gantung dengan perasaan was-was, detak jantungnya akan bertambah cepat tanpa dia sadari. Kalau pada saat itu dia kebetulan bertemu dengan orang lain, dia akan keliru menganggap debaran jantung akibat situasi tersebut sebagai perasaan berdebar karena jatuh cinta pada orang itu."Suara Raka begitu tenang, seakan sedang memaparkan sebuah konsep psikologi biasa. Akan tetapi, Alya langsung bisa memahaminya dalam sekejap.Kedua pipi Alya memanas tanpa bisa dikendalikan.Ternyata, Raka tahu segalanya.Raka tahu bahwa Alya pernah memiliki perasaan yang tidak seharusnya terhadapnya. Raka tahu setiap perubahan emosi kecil yang dirasakan wanita itu. Namun, Raka memilih untuk tidak membongkarnya, apalagi bersikap ambigu. Sebaliknya, Raka menggunakan cara yang sopan dan lembut seperti ini untuk menyadarkan

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status