Short
Ketika Jasa Dibalas Penghinaan

Ketika Jasa Dibalas Penghinaan

Oleh:  ShelbyTamat
Bahasa: Bahasa_indonesia
goodnovel4goodnovel
17Bab
10Dibaca
Baca
Tambahkan

Share:  

Lapor
Ringkasan
Katalog
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi

Pada tahun kelima pernikahan mereka, Althea tanpa sengaja memergoki Virgoun yang sedang memuaskan diri sambil memegang pakaian dalam renda milik adik angkatnya. Di satu tangan, Virgoun memutar untaian tasbih, sementara tangan lainnya tak mampu menahan gejolak nafsu. Terpisah hanya oleh satu pintu, Althea mendengar pengakuan perasaan terdalam yang tak terucapkan itu, ditujukan pada sang adik angkat. Tubuh Althea kehilangan kendali dan merosot ke lantai, air mata mengalir deras. Ternyata, tidak ada pria suci yang dingin dan tak tersentuh. Tasbih di tangan pria itu hanyalah alat untuk menekan hasrat terlarang yang tak bisa diungkapkan. Sepuluh tahun Althea mengejar Virgoun, dan pada akhirnya dia hanya menjadi lelucon yang menyedihkan. Ketika sang adik angkat pulang ke rumah setelah bercerai, Althea membeli tiket pesawat ke selatan. Dia ingin mengucapkan selamat tinggal pada semua yang ada di sini sepenuhnya. Demi membuka jalan bagi adik angkatnya, Virgoun sendiri menyerahkan Althea sebagai "hadiah" kepada orang lain. "Tenang saja, sebulan lagi aku akan menjemputmu kembali. Kamu tetap istriku." Hati Althea benar-benar mati rasa. Dia berpura-pura mati demi melarikan diri. Saat kabar Althea terjatuh ke jurang dan jasadnya tak pernah ditemukan sampai ke telinga Virgoun, dirinya diliputi penyesalan. Virgoun mencarinya dengan gila-gilaan, tetapi tak pernah menemukan jejaknya. Hingga setahun kemudian, ketika dia mendorong pintu sebuah toko bunga di selatan, dia kembali melihat wanita itu. Dengan mata memerah, dia berlutut memohon rujuk. Namun, Althea hanya tersenyum dingin dan sopan. "Maaf, Pak. Toko sudah tutup. Aku harus pulang bersama suamiku."

Lihat lebih banyak

Bab 1

Bab 1

Althea berlutut di hadapan batu nisan yang dingin, dahinya perlahan menempel pada permukaan batu yang kasar. "Ayah, Ibu, dulu aku seharusnya mendengarkan kalian, nggak memaksakan diri bersama Virgoun."

Suaranya sangat pelan, terbawa oleh embusan angin. "Aku benar-benar menyesal." Air matanya menetes dan meresap ke dalam tanah di bawah nisan.

Waktu kembali ke tiga hari sebelumnya.

Adik angkat Virgoun, Shifa, pulang ke rumah setelah bercerai.

Althea memang sudah lama mendengar betapa Virgoun menyayangi adik angkatnya itu. Namun, dulu dia hanya menganggapnya sekadar adik. Lagi pula Shifa sudah menikah, apa mungkin ada masalah?

Baru sekarang dia menyadari betapa bodohnya dirinya.

Keluarga Kinandar mengadakan jamuan penyambutan yang besar-besaran untuk Shifa. Althea bergegas pulang, tetapi mobilnya mogok di jalan tol.

Dia berulang kali menelepon Virgoun dengan cemas, tetapi telepon itu tidak pernah tersambung. Saat keesokan harinya dia tiba di rumah Keluarga Kinandar dengan tubuh letih dan berdebu, yang menyambutnya adalah rentetan tudingan yang dingin.

Ibu mertuanya mengerutkan kening. "Sebagai kakak ipar, kamu malah nggak menghargai jamuan kepulangan Shifa kemarin. Kamu keluyuran ke mana saja?"

Althea berusaha menjelaskan, "Mobilku rusak. Aku nggak bisa menghubungi Virgoun, lalu ponselku kehabisan baterai."

Virgoun duduk di sofa utama. Dia mengenakan pakaian polos berwarna terang, pergelangan tangannya dililit tasbih. Wajahnya dingin dan tenang, seperti patung tanpa emosi. Dia melirik Althea sekilas dan berkata dengan suara datar, "Jamuan dimulai jam delapan. Ponselku disenyapkan, jadi nggak lihat."

Dengan satu kalimat yang santai itu, seluruh kecemasan dan kepanikan Althea semalaman lenyap begitu saja. Dan itu baru permulaan.

Shifa mengatakan dia menyukai cahaya matahari di kamar utama, jadi Virgoun menyuruh Althea pindah ke kamar pembantu di sudut rumah. Produk perawatan kulit Althea sering kali "tidak sengaja" dijatuhkan dan pecah dibuat Shifa. Beberapa gaun yang paling dia sayangi di ruang ganti tiba-tiba menghilang.

Saat ditanya, Shifa hanya menjawab polos, "Hah? Aku nggak tahu. Mungkin pelayannya salah beres-beres."

Virgoun selalu hanya memandang datar tanpa berkata apa-apa, seolah semua kekacauan itu sama sekali tidak ada hubungannya dengan dirinya.

Althea merasakan kelelahan yang mendalam, dan mulai meninjau kembali hubungan yang selama ini hanya dia perjuangkan seorang diri. Dia teringat masa lalu, ketika sahabatnya pernah menggenggam tangannya dan menasihati, "Virgoun itu orangnya dingin dan nggak berperasaan. Jangan bodoh."

Namun, Althea malah terbuai oleh sosok Virgoun yang tampak dingin dan suci, lalu menolak percaya pada peringatan siapa pun. Dia malah merasa, dirinyalah orang yang mampu menarik Virgoun turun dari singgasananya yang suci.

Althea mulai mendekatinya dengan segala cara.

Mendengar bahwa Virgoun menyukai ketenangan, dia pun menyingkirkan sikap cerianya. Mengetahui lambung Virgoun lemah, Althea yang bahkan tak pernah masuk dapur, memaksa dirinya belajar memasak dan meracik sup penyehat lambung sedikit demi sedikit.

Virgoun bertekad menapaki jalan agama, tasbih tak pernah lepas dari pergelangan tangannya. Jadi, Althea membaca kitab-kitab yang sulit dipahami, hanya berharap bisa berbincang lebih lama dengannya. Dia mempersembahkan seluruh dirinya seperti seorang pemuja yang taat.

Namun, dia tidak menyadari bahwa tatapan Virgoun sering kali menembus dirinya dan mengarah ke belakang. Di sana, biasanya berdiri Shifa yang pendiam dan patuh.

Althea juga pernah merasa putus asa dan ingin menyerah karena merasa bahwa hati seorang dewa memang tak bisa dihangatkan. Namun saat dia ingin berbalik dan pergi, Virgoun malah melamarnya.

Di pesta pernikahan politik Shifa, dia melangkah ke hadapan Althea dan berlutut dengan satu kaki di depan umum, lalu berkata, "Maukah kamu menikah denganku?"

Semua teman yang mengetahui cerita di balik layar mengucapkan selamat padanya. Akhirnya, dewa suci itu berhasil ditarik turun dari singgasananya. Saat itu, Althea merasa seluruh pengorbanannya terbayar lunas.

Tanpa ragu, dia mengulurkan tangan dan mengenakan cincin yang ukurannya bahkan tidak pas untuknya.

Meski setelah menikah Virgoun tak pernah menyentuhnya dan bahkan jarang tersenyum padanya, Althea selalu menenangkan diri. Dia sudah mau menikah denganku. Tinggal menunggu kapan hatinya akan tersentuh.

Oleh karena itu, Althea berkorban lebih banyak lagi dan menunggu dengan penuh kesabaran. Dia selalu percaya, selama diberi perhatian yang cukup, pria itu pasti akan tersentuh.

Sampai ketika ... Shifa pulang ke rumah setelah bercerai.

Untuk pertama kalinya, Althea melihat suaminya yang selalu datar itu memperlihatkan senyum yang nyata. Meski sangat tipis, senyum itu terasa seperti duri yang menusuk matanya.

Althea menghibur diri, menganggap itu hanya kebahagiaan seorang kakak karena adiknya akhirnya keluar dari penderitaan. Namun, Althea tidak menyangka bahwa dia akan tanpa sengaja memergoki seluruh hasrat kelam yang tersembunyi selama ini.

Saat Althea mengantarkan susu hangat untuk Virgoun di larut malam, pintu kamar tidak tertutup rapat. Cahaya yang menyelinap dari celah pintu memantulkan bayangan seseorang di lantai.

Di bawah lampu kuning yang hangat, Virgoun terengah pelan. Satu tangannya memutar tasbih, sementara tangan lainnya menggerakkan pakaian dalam renda milik Shifa yang dijemur di balkon. Seiring dengan erangan lirih, dia menyebut nama "Shifa" penuh perasaan, ruangan itu kembali tenggelam dalam keheningan.

Semua hal akhirnya mendapat penjelasan.

Ternyata, hati Virgoun memang sudah lama terbuka, tetapi tak seorang pun menyadarinya. Mana ada sosok suci yang dingin dan tak tersentuh itu? Tasbih di tangannya hanyalah alat untuk menekan hasrat yang tak bisa dia ungkapkan.

Althea tidak mampu lagi menipu dirinya sendiri, hingga benar-benar menjadi lelucon yang menyedihkan.

Di hadapan makam orang tuanya, Althea bersujud dan membenturkan dahinya tiga kali dengan keras. Saat dia mengangkat kepala kembali, jejak air mata di wajahnya telah mengering, yang tersisa hanya ketegasan di matanya.

"Ayah, Ibu, aku akan bercerai dengan Virgoun."

"Aku berencana pergi ke selatan. Mungkin aku nggak akan sering datang menjenguk kalian, tapi tenanglah, mulai sekarang aku akan hidup dengan baik." Dia berdiri dan menatap sekali lagi foto orang tuanya yang tersenyum lembut di batu nisan, lalu berbalik pergi.

"Hidup untuk diriku sendiri."

Althea membeli beberapa oleh-oleh khas daerah setempat. Dia berpikir, kepergian kali ini mungkin akan menjadi yang terakhir. Setidaknya harus ada sesuatu untuk dikenang.

Tiket pesawatnya dijadwalkan seminggu kemudian. Waktu itu cukup baginya untuk berpamitan dengan banyak orang lama. Dia mengajak sahabat terbaiknya dulu, Lilian, untuk bertemu.

Di dalam kafe, Lilian memeluknya erat dan suaranya bergetar. "Althea, aku kira kita nggak akan pernah bertemu lagi."

"Dulu kamu seperti kerasukan waktu jatuh cinta sama Virgoun. Aku melihat dengan mata kepala sendiri bagaimana kamu mengorbankan dirimu demi dia."

Hidung Althea terasa perih dan dia tiba-tiba tersadar. Ternyata di mata orang lain, pendekatan yang dulu dia anggap penuh gairah itu hanyalah sebuah pengorbanan yang membuatnya kehilangan jati diri. Dia pernah dengan polosnya mengira bahwa Virgoun pada akhirnya tetap memperlakukannya berbeda. Karena itu, dia rela melepaskan lingkaran pertemanan, hobi, bahkan kepribadiannya sendiri demi pria itu.

Kini jika dipikirkan kembali, semua itu terasa kekanak-kanakan dan menggelikan.

"Aku akan pergi ke selatan," kata Althea pelan.

Lilian tertegun. "Liburan?"

"Bukan."

Althea menggeleng dan tersenyum tipis. "Mungkin setelah ini aku nggak akan kembali lagi."

Lilian hendak bertanya lebih jauh, tetapi pandangannya tiba-tiba terpaku ke luar dinding kaca kafe yang transparan. Dia mendadak menarik lengan Althea, suaranya direndahkan tetapi tetap tak bisa menyembunyikan keterkejutannya.

"Althea, lihat ke sana. Bukankah itu Shifa? Orang di sampingnya itu Virgoun, bukan?"
Tampilkan Lebih Banyak
Bab Selanjutnya
Unduh

Bab terbaru

Bab Lainnya

To Readers

Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.

Tidak ada komentar
17 Bab
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status