Share

Bab 5

Author: Secret
Alya menutup teleponnya dengan Pak Reza. Begitu berbalik, dia melihat Justin keluar dari kamar bayi.

Begitu melihat Alya, Justin seakan baru teringat akan keberadaan wanita itu. Guratan canggung melintas di wajahnya. Kemudian, Justin berpesan begitu saja, "Alya, bantu aku carikan desainer interior papan atas."

Alya tetap diam. Dia hanya menatap Justin tanpa suara.

Tatapan Justin menyapu ke arah Alya, lalu kembali tertuju pada kekosongan. Kemudian, Justin lanjut berbicara sendiri, "Aku baru saja sadar bahwa banyak barang di kamar bayi yang nggak cocok. Lebih baik panggil profesional untuk mendesain ulang."

Alya hanya menatap Justin dengan ekspresi datar, tanpa mengucapkan sepatah kata pun.

Sebenarnya tidak cocok, atau karena Davina tidak menyukainya?

'Justin, apa sekarang kamu bahkan sudah tidak mau berpura-pura lagi?'

Alya kembali ke kamar tamu, lalu mengambil satu per satu barang pemberian pria itu. Barang-barang yang dahulu sangat dihargai Alya dan dipajang Alya dengan hati-hati di dalam lemari, dilemparkan Alya ke dalam tungku logam di sudut ruangan.

Lantaran sudah memutuskan untuk pergi, barang-barang yang diberikan Justin sebelumnya juga tidak perlu ada lagi. Namun, jika meninggalkannya untuk Davina, Alya merasa ingin muntah.

Lidah api menjilat kotak musik yang diberikan di hari Valentine itu dan dengan cepat menelan sosok penari balet cantik yang ada di atasnya.

"Jangan!"

Alya didorong menjauh dengan kasar. Davina yang hanya mengenakan gaun tidur tipis, merangsek maju tanpa memedulikan api dan mengulurkan tangan untuk merampas barang-barang di dalam tungku pembakaran itu. "Kak Alya, kenapa Kakak membakar barang-barangku?"

Gerakan Alya langsung terhenti.

Barang miliknya?

"Kak Alya, bagaimana bisa Kakak begitu tega?" Davina menangis tersedu-sedu dan menatap Alya dengan ekspresi seperti sudah diperlakukan tidak adil. "Cuma ini kenangan yang tersisa bagiku …. Kenapa Kakak nggak mau menyisakan sedikit pun untukku? Kakak sudah punya Kak Justin dan ke depannya Kakak juga akan menjadi …. Ibu dari anakku …."

Belum sempat kata-kata Davina selesai terucap, sosok tinggi Justin sudah muncul di ambang pintu.

Melihat kekacauan di lantai dan Davina yang sedang menangis, wajah Justin langsung menjadi muram. "Alya, apa yang kamu lakukan?"

Alya hanya menatap Justin dengan tajam, tanpa mengucapkan sepatah kata pun.

Diamnya Alya, di mata Justin, dianggap sebagai pengakuan bahwa Alya memang sudah menindas Davina.

Mata Justin perlahan menjadi dingin dan dipenuhi dengan rasa kecewa yang mendalam.

Alya tiba-tiba tertawa. Suara tawanya terdengar begitu lembut, tetapi terasa seperti jarum yang menusuk.

Alya lalu berbalik dan naik ke lantai atas. Sesaat kemudian, dia melemparkan sebuah kotak perhiasan yang sama persis, beserta seluruh "hadiah" di dalamnya yang belum sempat dibakar, tepat ke hadapan Davina.

"Semuanya milikmu?"

"Kamu suka?"

"Semuanya kuberikan padamu."

Jantung Justin langsung berdegap kencang.

Saat menatap senyum Alya, tetapi mata Alya tetap terlihat dingin itu, perasaan gelisah yang begitu kuat mencengkeram diri Justin.

Pikiran itu membuat Justin merasa panik untuk sesaat. Tanpa sadar, Justin ingin meraih tangan wanita itu dan mengatakan sesuatu.

"Justin …." Namun, di saat itu, Davina menarik lengan Justin dengan lemah lembut. Sambil menatap Justin dengan penuh rasa iba, Davina berkata, "Lupakan saja. Sebenarnya dengan bisa tinggal di sini, aku sudah nggak punya penyesalan lagi. Bahkan, meski Kak Alya membakar semua barang itu, juga nggak apa-apa …."

"Mana mungkin nggak apa-apa? Sudahlah, kalau sudah terbakar ya sudah. Aku akan belikan yang baru untukmu."

Pikiran Justin teralihkan. Melihat wajah Davina yang pucat, akhirnya dia tetap memilih untuk memapah wanita itu.

Mereka sudah melewati begitu banyak hal bersama. Justin yakin, Alya tidak akan meninggalkannya.

Pintu kamar tertutup, dunia pun kembali menjadi sunyi.

Ponsel Alya berbunyi "ting". Ada sebuah pesan masuk dari Justin.

[Alya, tunggu aku pulang. Kita perlu bicara …. Tolong bersabarlah sebentar lagi. Anggap saja, kamu lakukan ini demi aku. Bertahanlah untuk terakhir kalinya, ya?]

Beberapa hari setelahnya, Justin tidak kunjung pulang.

Sore hari itu, Alya tengah melakukan panggilan video dengan penanggung jawab Aliansi Jurnalis Perang.

"Alya, kami sudah menerima pengajuan penundaan tanggal masuk kerjamu." Pria di seberang layar itu berkata dengan nada yang begitu lembut. "Kami sangat mengerti dan kami setuju kalau kamu baru bergabung kembali dengan tim setelah melahirkan. Anak adalah anugerah dari Tuhan."

"Terima kasih." Wajah Alya tampak sedikit lebih hangat, sesuatu yang sangat jarang terjadi.

Brak!

Pintu kamar tidur ditendang hingga terbuka lebar.

Justin bersama dengan Davina, masuk dengan aura dingin yang mencekam, lalu membanting ponsel dengan keras ke atas meja di hadapan Alya.

"Alya!" Kedua mata Justin merah padam, layaknya seekor binatang buas yang sedang murka. "Apa kamu begitu nggak bisa menerimanya? Kenapa kamu suruh orang untuk merundungnya?"

Alya menundukkan pandangannya, lalu mengambil ponsel itu.

Di layar ponsel itu, terpampang video dan foto yang begitu banyak.

Foto-foto itu memperlihatkan kondisi berantakan Davina dengan pakaian yang tidak rapi setelah "diculik", cacian gila-gilaan dari netizen yang menghujatnya sebagai "pelakor", serta beberapa foto dirinya yang terbaring di ranjang rumah sakit dengan pergelangan tangan terbalut kain kasa tebal akibat percobaan bunuh diri.
Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Terlahir Kembali Untuk Jadi Jurnalis Perang   Bab 23

    Setahun kemudian, di sebuah negara di Elora, di tenda pengungsi di perbatasan.Alya sedang menyeka kameranya, gerakannya tampak cermat dan cekatan."Al …. Kak Alya."Tirai tenda tersingkap, Sinta Lukmawan masuk dengan rona malu-malu, sambil membawa segelas air."Ada apa?" Alya menengadah, menunjukkan senyum yang lembut."Aku ingin berterima kasih padamu." Sinta menyodorkan gelas air itu, tatapannya penuh rasa syukur. "Kalau bukan karena Kakak menarikku tadi, aku pasti sudah tertabrak truk bersenjata itu.""Itu bukan apa-apa." Alya menerima gelas air tersebut. "Di sini, sudah seharusnya kita saling menjaga. Ingat, keselamatan adalah yang utama. Berita selamanya berada di urutan kedua setelah nyawa."Sinta menatap Alya, jari-jemarinya saling bertaut dengan gugup."Kak Alya, sepertinya Kakak nggak takut pada apa pun. Kenapa Kakak memilih untuk datang ke sini?"Gerakan Alya yang sedang menyeka kamera pun terhenti sejenak.Alya mengangkat pandangannya, menatap gadis di hadapannya dengan sak

  • Terlahir Kembali Untuk Jadi Jurnalis Perang   Bab 22

    Di Kota Adora, di kantor CEO, di lantai teratas Grup Fabian.Di balik jendela besar setinggi langit-langit, terbentang pemandangan malam kota yang megah dan gemerlap. Namun, suasana di dalam ruangan justru terasa dingin dan sunyi. Justin berdiri sendirian di depan jendela, membelakangi kantor yang luas dan kosong itu.Di layar lebar yang ada di hadapannya, sedang berlangsung siaran langsung upacara penghargaan dari Negara Junar tanpa suara. Justin mematikan suaranya, seakan hanya ingin memastikan sesuatu melalui gambar saja.Dia menatap wanita di layar itu, sosok yang terasa begitu familier, tetapi sekaligus asing baginya. Justin memperhatikan langkah kaki wanita itu yang tenang dan mantap, serta menyimak setiap kata yang diucapkannya. Jantung Justin seakan diremas perlahan, tetapi kuat oleh tangan tak kasat mata, terasa begitu sakit hingga hampir mati rasa.Sudah lima tahun.Justin tidak pernah lagi mengganggunya, seakan sedang memenuhi janji untuk melepaskannya saat itu.Namun, Justi

  • Terlahir Kembali Untuk Jadi Jurnalis Perang   Bab 21

    "Al, kenapa bengong? Cepat sini lihat! Pak Raka bawa barang bagus!" teriak seorang rekan kerja dari depan pintu.Alya tersadar dari lamunannya, melemparkan ponselnya kembali ke dalam tas, lalu berjalan keluar sambil tersenyum.Di halaman, Raka sedang menurunkan beberapa kotak roti segar dari sebuah mobil jip.Di tempat yang kekurangan pasokan logistik seperti ini, roti segar benar-benar lebih berharga dibanding emas."Wah, semangka! Pak Raka, dari mana kamu dapat ini?""Ya ampun! Rasanya sudah hampir setahun aku nggak lihat semangka!"Semua orang bersorak kegirangan.Raka tersenyum. Dia lalu membelah salah satu semangka dengan belati, memperlihatkan daging buahnya yang merah segar."Pemberian seorang teman lokal. Semuanya kebagian, ayo cepat makan."Alya juga mendapatkan sepotong.Alya menggigitnya sedikit, lalu sari buah yang dingin dan manis itu seketika meledak di dalam mulutnya, memberikan rasa manis yang meresap hingga ke dalam hati.Alya memandangi wajah-wajah di sekelilingnya ya

  • Terlahir Kembali Untuk Jadi Jurnalis Perang   Bab 20

    Malam itu, Justin bermimpi sangat aneh.Dia bermimpi Alya tewas dalam sebuah kecelakaan mobil.Justin bermimpi, wanita itu bersimbah darah dengan tubuh yang terasa dingin. Namun, dia masih menggunakan sisa tenaga terakhirnya untuk berkata kepada Justin, "Justin, kita … cerai saja. Di kehidupan selanjutnya, aku nggak mau ketemu kamu lagi."Justin terbangun dari mimpi itu dengan terkejut. Sekujur tubuhnya basah kuyup oleh keringat dingin.Di luar jendela, bulan di Negara Naura tampak besar dan bulat, tetapi membawa rona warna yang dingin dan penuh kesedihan.Justin berjalan ke tepi jendela, mengambil teropong dan memandang ke arah pos kecil wartawan yang lampunya masih menyala di kejauhan.Justin tahu, Alya ada di sana.Di dunia yang tidak bisa lagi dia masuki, Alya sedang berjuang untuk hidup dengan penuh kebebasan.'Lepaskanlah.'Sebuah suara berbisik lirih di dalam hati Justin.'Kamu sudah menghancurkan separuh hidupnya, haruskah kamu juga menghancurkan masa depannya?''Kamu nggak bis

  • Terlahir Kembali Untuk Jadi Jurnalis Perang   Bab 19

    Sementara itu, di sisi lain, setelah mengalami penolakan, Justin tidak lantas meninggalkan Negara Naura.Justin mengeluarkan uang dalam jumlah besar untuk menyewa sebuah rumah di kota kecil yang letaknya tidak jauh dari pos wartawan, lalu memerintahkan Pak Azka untuk pulang ke tanah air."Selidiki pria bernama Raka itu, sedetail mungkin."Melihat ekspresi Justin yang tampak muram, Pak Azka tidak berani bertanya lebih banyak dan langsung terbang kembali ke dalam negeri malam itu juga.Tak lama kemudian, informasi mengenai Raka pun dikirimkan, lengkap dengan foto tunangannya.Justin menatap kedua orang yang sedang tersenyum manis di dalam foto itu. Namun, bukannya marah, Justin malah tertawa."Punya pertunangan di dalam negeri?" gumam Justin pada dirinya sendiri, sementara kilatan kegembiraan yang aneh melintas di matanya.Justin merasa sudah memahami sesuatu.Alya sedang berakting. Dia sengaja mendekati Raka dan sengaja bersikap begitu dingin pada Justin, semua itu hanya untuk memancing

  • Terlahir Kembali Untuk Jadi Jurnalis Perang   Bab 18

    Alya tertegun untuk sesaat. Dia tidak mengerti mengapa Raka tiba-tiba menanyakan hal itu.Tanpa menunggu jawaban Alya, Raka melanjutkan kata-katanya, "Ketika seseorang berjalan melewati jembatan gantung dengan perasaan was-was, detak jantungnya akan bertambah cepat tanpa dia sadari. Kalau pada saat itu dia kebetulan bertemu dengan orang lain, dia akan keliru menganggap debaran jantung akibat situasi tersebut sebagai perasaan berdebar karena jatuh cinta pada orang itu."Suara Raka begitu tenang, seakan sedang memaparkan sebuah konsep psikologi biasa. Akan tetapi, Alya langsung bisa memahaminya dalam sekejap.Kedua pipi Alya memanas tanpa bisa dikendalikan.Ternyata, Raka tahu segalanya.Raka tahu bahwa Alya pernah memiliki perasaan yang tidak seharusnya terhadapnya. Raka tahu setiap perubahan emosi kecil yang dirasakan wanita itu. Namun, Raka memilih untuk tidak membongkarnya, apalagi bersikap ambigu. Sebaliknya, Raka menggunakan cara yang sopan dan lembut seperti ini untuk menyadarkan

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status