Share

Bab 57

Author: Anju
last update Last Updated: 2025-12-30 17:13:13

Lorong fakultas mendadak terasa sempit.

Udara seperti ditarik keluar dari paru-paru Nadia, membuat dadanya sesak. Kata-kata Adrian masih menggantung, bergetar di kepalanya seperti gema yang menolak hilang.

Kunci.

“Kita nggak punya urusan apa pun,” Kevin memotong dingin. Tubuhnya sedikit condong ke depan—posisi protektif yang bahkan tidak ia sadari sedang ia lakukan. “Pergi.”

Adrian tidak tersinggung. Ia justru tersenyum lebih lebar, seolah menikmati reaksi Kevin.

“Kalau aku pergi sekarang,” katanya tenang, “malam ini Nadia mimpi lagi. Besok paginya, dia pingsan untuk pertama kalinya.”

Nadia menelan ludah. “Apa maksud kamu?”

Adrian menatapnya langsung. Tatapannya tidak genit, tidak mengancam—lebih seperti dokter yang sedang membaca hasil pemeriksaan.

“Tubuh kamu mengingat sesuatu,” katanya. “Bukan ingatan personal. Ingatan sistemik.”

Kevin memejamkan mata satu detik—cukup lama untuk menunjukkan bahwa Adrian tidak mengarang.

“Kita ngobrol di tempat lain,” kata Kevin rendah. “Bukan di si
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Terlalu Kaya dan Tampan   Bab 75

    Ruangan itu terasa lebih dingin setelah Nadia mengucapkan kalimat terakhirnya.“Ajari aku… atau menjauhlah.”Tidak ada yang langsung menjawab.Perempuan paruh baya itu—yang sejak tadi memegang kendali percakapan—menatap Nadia seolah sedang menilai sesuatu yang jauh lebih dalam dari sekadar keberanian. Tatapannya bukan marah, bukan terancam. Lebih seperti… penasaran yang berbahaya.“Kamu tahu,” katanya akhirnya, suaranya tenang tapi penuh bobot, “kebanyakan anchor bahkan tidak sempat bicara seperti itu.”Pria muda di sebelahnya menyentuh tablet, mematikan diagram di layar. Cahaya redup kembali mendominasi ruangan.“Mereka biasanya runtuh lebih dulu,” lanjutnya. “Atau diselamatkan sebelum sadar apa yang terjadi.”Nadia tetap berdiri. Tangannya sedikit gemetar, tapi punggungnya tegak.“Kalau aku berdiri di sini,” katanya, “berarti aku bukan kebanyakan anchor.”Perempuan itu tersenyum tipis. “Benar.”Ia berdiri dari kursinya, berjalan perlahan mengelilingi meja. Sepatunya tidak berbunyi—r

  • Terlalu Kaya dan Tampan   Bab 74

    Ponsel Nadia masih berada di tangannya ketika layar akhirnya meredup sepenuhnya.Tidak ada panggilan ulang.Tidak ada pesan lanjutan.Seolah suara itu memang hanya perlu satu kalimat untuk menanamkan sesuatu di kepalanya—lalu pergi.“Kami adalah konsekuensi.”Kata-kata itu berputar pelan di benaknya, seperti gema yang tidak mau hilang.Kevin muncul di ambang pintu balkon. Ia tidak bertanya. Ia tahu sesuatu terjadi.“Ada apa?” tanyanya pelan.Nadia menoleh. Wajahnya tenang, tapi matanya tidak.“Ada yang nelpon,” katanya. “Bukan Adrian.”Kevin langsung siaga. “Dari sistem?”“Bukan,” jawab Nadia setelah ragu sejenak. “Atau… mungkin lebih tinggi.”Kevin menegang. “Apa yang mereka mau?”Nadia menggeleng. “Belum bilang. Tapi mereka tahu aku stabil.”Kevin menghela napas pelan, menahan kekesalan yang bercampur khawatir. “Itu artinya lo sekarang kelihatan.”Nadia tersenyum tipis. “Aku memang nggak sembunyi lagi.”Kevin menatapnya lama. Ada kebanggaan kecil di sana—dan ketakutan yang lebih bes

  • Terlalu Kaya dan Tampan   Bab 73

    Pagi itu datang dengan kewarasan yang ganjil.​Itulah hal pertama yang memicu alarm di kepala Nadia. Tidak ada denyut pening yang biasanya menghantam saat ia membuka mata. Tidak ada tekanan berat di pangkal tengkorak, pun tidak ada sensasi panas yang meluap dari dadanya.​Tubuhnya terasa... seimbang. Seperti mesin yang baru saja dikalibrasi ulang.​Ia berdiri di depan cermin kamar mandi, jemarinya menyentuh permukaan kaca yang dingin. Ia menatap pantulannya sendiri cukup lama. Wajah itu masih sama, tetapi binar di matanya telah berubah. Ada ketenangan baru di sana jenis ketenangan yang biasanya hanya muncul setelah badai besar reda.​"Apa aku masih aku?" bisiknya pada sunyi.​Tidak ada jawaban gaib. Tidak ada gema dari sistem. Dan untuk pertama kalinya, kesunyian itu tidak membuatnya mati kutu. Ia tidak lagi merasa seperti wadah yang retak.​Di ruang tengah, Kevin sudah menunggu. Ia tidak lagi berdiri gelisah di dekat jendela atau sibuk memelototi grafik di tabletnya. Cowok itu duduk

  • Terlalu Kaya dan Tampan   Bab 72

    Malam turun tanpa hujan.Lampu kamar Nadia masih menyala, tapi tirainya tertutup rapat. Ia duduk di lantai, bersandar ke sisi ranjang, lutut ditekuk, tangan memeluk diri sendiri. Di luar kamar, apartemen terasa terlalu sunyi Kevin tidak bergerak, tidak mengetuk, tidak mencoba masuk.Seperti janji diam-diam yang ia tepati.Nadia menutup mata.Untuk pertama kalinya sejak semua ini dimulai, ia tidak mencoba menahan apa pun.Ia tidak menekan sensasi hangat di dadanya.Tidak mengusir tekanan halus di pelipisnya.Tidak berusaha menjadi normal.“Kalau ini aku,” bisiknya pelan, “tunjukin.”Awalnya hanya gelap.Lalu seperti suara jauh yang muncul dari balik air—ia mendengar detak.Bukan jantung.Detak itu lebih teratur. Lebih dingin. Seperti mesin yang sangat sabar.Napas Nadia melambat tanpa ia sadari.Di balik kelopak matanya, ruang terbentuk.Bukan ruangan nyata lebih seperti konsep. Bidang luas tanpa dinding, berwarna abu-abu pucat, dengan garis-garis cahaya tipis yang berdenyut seirama de

  • Terlalu Kaya dan Tampan   Bab 71

    Nadia pulang dengan langkah pelan.Bukan karena lelah, tapi karena pikirannya terlalu penuh. Setiap suara di lorong apartemen terdengar lebih keras dari biasanya. Setiap pantulan bayangan di kaca lift membuatnya refleks menoleh.Ia merasa… diamati.Bukan oleh orang.Oleh kemungkinan.Begitu pintu apartemen terbuka, ia langsung tahu Kevin sudah di dalam.Bukan karena sepatu di rak.Bukan karena lampu menyala.Ia tahu karena udara di ruangan itu terasa berbeda lebih berat, lebih padat, seperti medan yang kembali menguat.Kevin berdiri di dekat jendela, punggungnya menghadap Nadia. Jaket hitamnya masih dipakai, rambutnya sedikit berantakan. Ia belum lama sampai.“Nad,” katanya tanpa menoleh. “Lo ke mana?”Nada itu bukan marah.Lebih berbahaya dari itu.Tenang.Nadia menutup pintu perlahan. “Ketemu temen.”Kevin tertawa kecil, tanpa humor. Ia berbalik.“Jangan bohong,” katanya. “Sinkronisasi kita turun satu level pas jam sepuluh.”Nadia menghela napas. Tidak membela diri. Tidak menghindar

  • Terlalu Kaya dan Tampan   Bab 70

    Pagi itu tidak hanya sunyi; ia terasa hampa, seolah udara di apartemen itu berhenti mengalir.​Nadia duduk di tepi ranjang, membiarkan jemarinya tenggelam di permukaan seprai yang dingin. Cahaya matahari menerobos celah tirai, menyorot debu-debu yang menari di udara, tapi tak ada kehidupan di luar itu. Tidak ada denting sendok beradu dengan cangkir kopi. Tidak ada derap langkah berat yang biasanya memenuhi ruang tengah. Yang paling mengganggunya adalah hilangnya sensasi itu tatapan waspada Kevin yang biasanya membakar tengkuknya bahkan sebelum cowok itu menampakkan diri.​Kevin sudah pergi.​Nadia tidak butuh firasat atau grafik sinkronisasi untuk merasakannya. Ia tahu karena untuk pertama kalinya, dadanya terasa seperti rumah kosong yang pintunya dibiarkan terbuka. Bukan dingin, bukan sakit. Hanya… lowong.​Ponselnya bergetar di atas nakas, memecah keheningan dengan kasar.​10.00. Kafe Ardent. Meja paling belakang.​Pesan itu singkat, tanpa basa-basi, tanpa ancaman. Justru kesopana

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status