Share

Bab 57

Author: Anju
last update Last Updated: 2025-12-30 17:13:13

Lorong fakultas mendadak terasa sempit.

Udara seperti ditarik keluar dari paru-paru Nadia, membuat dadanya sesak. Kata-kata Adrian masih menggantung, bergetar di kepalanya seperti gema yang menolak hilang.

Kunci.

“Kita nggak punya urusan apa pun,” Kevin memotong dingin. Tubuhnya sedikit condong ke depan—posisi protektif yang bahkan tidak ia sadari sedang ia lakukan. “Pergi.”

Adrian tidak tersinggung. Ia justru tersenyum lebih lebar, seolah menikmati reaksi Kevin.

“Kalau aku pergi sekarang,” katanya tenang, “malam ini Nadia mimpi lagi. Besok paginya, dia pingsan untuk pertama kalinya.”

Nadia menelan ludah. “Apa maksud kamu?”

Adrian menatapnya langsung. Tatapannya tidak genit, tidak mengancam—lebih seperti dokter yang sedang membaca hasil pemeriksaan.

“Tubuh kamu mengingat sesuatu,” katanya. “Bukan ingatan personal. Ingatan sistemik.”

Kevin memejamkan mata satu detik—cukup lama untuk menunjukkan bahwa Adrian tidak mengarang.

“Kita ngobrol di tempat lain,” kata Kevin rendah. “Bukan di si
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Terlalu Kaya dan Tampan   Bab 78

    Kevin baru sadar betapa sunyinya tempat itu ketika pintu besi di belakangnya tertutup rapat.Bukan sunyi biasa.Sunyi yang disengaja.Gudang tua di pinggiran kota itu tampak seperti bangunan terlantar dari luar, tapi begitu masuk, sistem keamanannya langsung terasa. Tidak ada kamera mencolok, tidak ada penjaga berseragam—justru itu yang membuatnya berbahaya.“Lo telat.”Suara itu datang dari sudut ruangan.Kevin menoleh.Seorang pria duduk di atas peti kayu, tubuhnya kurus, rambutnya mulai memutih meski usianya belum genap empat puluh. Jaketnya lusuh, tapi matanya tajam—terlalu tajam untuk seseorang yang sudah lama “hilang” dari radar.“Raka,” gumam Kevin.Pria itu tersenyum miring. “Masih inget nama gue. Berarti lo belum sepenuhnya jadi milik mereka.”Kevin melangkah mendekat, berhenti dua meter dari Raka. “Lo kabur tujuh tahun lalu.”“Bukan kabur,” jawab Raka santai. “Dilepas. Karena gue rusak.”Kevin mengernyit. “Rusak gimana?”Raka berdiri perlahan. “Gue bangun… tapi anchor gue ma

  • Terlalu Kaya dan Tampan   Bab 77

    Ruangan itu gelap.Bukan gelap karena tidak ada cahaya—melainkan karena cahaya sengaja dipatahkan. Lampu-lampu di langit-langit menyala setengah daya, cukup untuk melihat bentuk, tapi tidak cukup untuk memberi rasa aman.Seorang pemuda duduk di kursi logam di tengah ruangan.Tangannya tidak diikat.Kakinya bebas bergerak.Tapi ia tidak pergi.Matanya terbuka perlahan, pupilnya beradaptasi dengan cahaya pucat. Napasnya teratur, terlalu tenang untuk seseorang yang baru sadar.“Subjek A-17 aktif,” suara perempuan terdengar dari balik kaca satu arah. “Sinkronisasi berhasil dilewati.”Pemuda itu tersenyum kecil.“Jadi,” katanya pelan, suaranya serak tapi stabil, “ini dunia setelah bangun.”Tidak ada jawaban.Ia menunduk, menatap kedua telapak tangannya sendiri. Jari-jarinya bergerak perlahan, seolah menguji realitas. Lalu ia tertawa lirih.“Aku bisa ngerasain kalian,” katanya. “Napas kalian. Detak jantung kalian.”Salah satu monitor di luar ruangan berkedip tidak stabil.“Respons emosional

  • Terlalu Kaya dan Tampan   Bab 76

    Pintu ruangan itu terbuka tanpa suara.Nadia melangkah keluar lebih dulu, wajahnya tenang, langkahnya stabil terlalu stabil untuk seseorang yang baru saja menandatangani kesepakatan tak tertulis dengan kekuatan yang tidak ia pahami sepenuhnya.Kevin langsung berdiri tegak begitu melihatnya.“Nad.”Satu kata itu cukup untuk membuat pertahanan Nadia sedikit retak.Ia menoleh. Tatapan mereka bertemu di lorong putih yang dingin, dan selama satu detik dunia kembali terasa normal seperti tidak ada sistem, tidak ada anchor, tidak ada pilihan mustahil.Kevin menghampirinya cepat, tapi berhenti tepat satu langkah sebelum menyentuh.“Lo oke?” tanyanya rendah.Nadia mengangguk. “Masih.”Jawaban itu jujur. Dan justru karena itu menakutkan.Kevin menatap wajah Nadia lebih lama dari biasanya, seolah mencari retakan, tanda, apa pun yang tidak ia kenali. Tapi yang ia lihat hanyalah ketenangan baru—bukan ketenangan yang damai, melainkan ketenangan orang yang sudah menerima sesuatu yang tidak bisa dito

  • Terlalu Kaya dan Tampan   Bab 75

    Ruangan itu terasa lebih dingin setelah Nadia mengucapkan kalimat terakhirnya.“Ajari aku… atau menjauhlah.”Tidak ada yang langsung menjawab.Perempuan paruh baya itu—yang sejak tadi memegang kendali percakapan—menatap Nadia seolah sedang menilai sesuatu yang jauh lebih dalam dari sekadar keberanian. Tatapannya bukan marah, bukan terancam. Lebih seperti… penasaran yang berbahaya.“Kamu tahu,” katanya akhirnya, suaranya tenang tapi penuh bobot, “kebanyakan anchor bahkan tidak sempat bicara seperti itu.”Pria muda di sebelahnya menyentuh tablet, mematikan diagram di layar. Cahaya redup kembali mendominasi ruangan.“Mereka biasanya runtuh lebih dulu,” lanjutnya. “Atau diselamatkan sebelum sadar apa yang terjadi.”Nadia tetap berdiri. Tangannya sedikit gemetar, tapi punggungnya tegak.“Kalau aku berdiri di sini,” katanya, “berarti aku bukan kebanyakan anchor.”Perempuan itu tersenyum tipis. “Benar.”Ia berdiri dari kursinya, berjalan perlahan mengelilingi meja. Sepatunya tidak berbunyi—r

  • Terlalu Kaya dan Tampan   Bab 74

    Ponsel Nadia masih berada di tangannya ketika layar akhirnya meredup sepenuhnya.Tidak ada panggilan ulang.Tidak ada pesan lanjutan.Seolah suara itu memang hanya perlu satu kalimat untuk menanamkan sesuatu di kepalanya—lalu pergi.“Kami adalah konsekuensi.”Kata-kata itu berputar pelan di benaknya, seperti gema yang tidak mau hilang.Kevin muncul di ambang pintu balkon. Ia tidak bertanya. Ia tahu sesuatu terjadi.“Ada apa?” tanyanya pelan.Nadia menoleh. Wajahnya tenang, tapi matanya tidak.“Ada yang nelpon,” katanya. “Bukan Adrian.”Kevin langsung siaga. “Dari sistem?”“Bukan,” jawab Nadia setelah ragu sejenak. “Atau… mungkin lebih tinggi.”Kevin menegang. “Apa yang mereka mau?”Nadia menggeleng. “Belum bilang. Tapi mereka tahu aku stabil.”Kevin menghela napas pelan, menahan kekesalan yang bercampur khawatir. “Itu artinya lo sekarang kelihatan.”Nadia tersenyum tipis. “Aku memang nggak sembunyi lagi.”Kevin menatapnya lama. Ada kebanggaan kecil di sana—dan ketakutan yang lebih bes

  • Terlalu Kaya dan Tampan   Bab 73

    Pagi itu datang dengan kewarasan yang ganjil.​Itulah hal pertama yang memicu alarm di kepala Nadia. Tidak ada denyut pening yang biasanya menghantam saat ia membuka mata. Tidak ada tekanan berat di pangkal tengkorak, pun tidak ada sensasi panas yang meluap dari dadanya.​Tubuhnya terasa... seimbang. Seperti mesin yang baru saja dikalibrasi ulang.​Ia berdiri di depan cermin kamar mandi, jemarinya menyentuh permukaan kaca yang dingin. Ia menatap pantulannya sendiri cukup lama. Wajah itu masih sama, tetapi binar di matanya telah berubah. Ada ketenangan baru di sana jenis ketenangan yang biasanya hanya muncul setelah badai besar reda.​"Apa aku masih aku?" bisiknya pada sunyi.​Tidak ada jawaban gaib. Tidak ada gema dari sistem. Dan untuk pertama kalinya, kesunyian itu tidak membuatnya mati kutu. Ia tidak lagi merasa seperti wadah yang retak.​Di ruang tengah, Kevin sudah menunggu. Ia tidak lagi berdiri gelisah di dekat jendela atau sibuk memelototi grafik di tabletnya. Cowok itu duduk

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status