공유

Bab 58

작가: Anju
last update 최신 업데이트: 2025-12-30 17:13:56

Nadia tidak langsung pulang setelah dari kafe.

Ia berjalan tanpa tujuan di sekitar kampus, melewati gedung-gedung yang terasa asing padahal sudah ia lewati ratusan kali. Langkahnya pelan, tapi pikirannya berlari jauh lebih cepat dari tubuhnya.

Nama itu terus berputar di kepalanya.

Vin.

Bukan Kevin.

Bukan pacarnya.

Bukan cowok yang ia kenal lewat obrolan receh, cemburu berlebihan, dan tawa kecil di parkiran kampus.

Vin.

Nama yang terdengar terlalu dekat. Terlalu personal. Seolah sudah lama meman
이 작품을 무료로 읽으실 수 있습니다
QR 코드를 스캔하여 앱을 다운로드하세요
잠긴 챕터

최신 챕터

  • Terlalu Kaya dan Tampan   Bab 90

    Kereta melaju membelah pagi yang pucat.Nadia duduk di dekat jendela, dahi menempel pada kaca yang dingin. Kota bergeser pelan di luar sana—gedung-gedung kusam, perumahan padat, hingga papan reklame yang warnanya mulai pudar. Semuanya terasa jauh, seolah ia sedang menonton potongan film tentang hidup orang lain. Ransel di pangkuannya ia peluk erat-erat, bukan karena isinya yang berat, tapi karena benda itu adalah satu-satunya hal yang masih memberinya rasa nyata di tengah dunia yang mulai terasa semu.Begitu ia menjauh dari Kevin, tubuhnya memang terasa lebih ringan secara fisik. Tekanan atmosfer yang biasanya menghimpit paru-parunya seolah menguap.Namun, ringan itu menipu.Detak jantungnya mulai kehilangan ritme. Kadang berdegup terlalu cepat hingga ia sesak napas, kadang melambat seolah lupa cara berdetak. Di sela-sela itu, ada jeda sunyi yang panjang dalam kesadarannya—jenis kesunyian hampa yang membuatnya takut akan dirinya sendiri.“Aku baik-baik saja,” bisiknya, lebih kepada me

  • Terlalu Kaya dan Tampan   Bab 89

    Pagi datang tanpa membawa kehangatan.Cahaya matahari yang pucat menyelinap lewat celah tirai kosan, jatuh tepat di wajah Kevin yang masih terlelap di atas kasur. Napasnya tidak lagi terengah, tapi terlalu dangkal—seperti tubuh yang hanya beristirahat karena dipaksa oleh kelelahan ekstrem, bukan karena ketenangan.Nadia duduk di kursi belajar, punggungnya tegak kaku dengan bahu yang tegang. Ia sudah terjaga sejak subuh. Bukan karena mimpi buruk, melainkan karena sebuah pikiran yang terus berputar di kepalanya, menolak untuk berhenti hingga ia mengambil keputusan.Nadia menatap Kevin cukup lama. Ia menghafal setiap detail: helai rambutnya yang berantakan, garis rahangnya yang tegas, hingga bekas luka kecil di alis yang dulu sering ia anggap sebagai bumbu ketampanan Kevin.Kalau aku terus berada di sini...Dadanya mengencang, rasa sesak yang hampir membuatnya sulit bernapas.Dia akan terus menjadi perisai. Dia akan hancur demi melindungiku dari badai yang aku bawa sendiri.Nadia menundu

  • Terlalu Kaya dan Tampan   Bab 88

    Hujan turun malam itu tanpa aba-aba.Bukan badai yang menderu, melainkan rintik panjang yang konsisten, membuat atmosfer kampus terasa kian dingin dan sunyi. Nadia duduk di dalam mobil Kevin, jari-jarinya saling bertautan dengan gelisah di atas pangkuan. Wiper bergerak ritmis, menyapu kaca depan berulang-ulang, seolah sedang berusaha membersihkan sesuatu yang tak kasat mata yang terus menghalangi pandangan mereka.Kevin menyetir dengan satu tangan. Tangan satunya lagi… gemetar hebat.Nadia telah memperhatikannya sejak lima menit yang lalu, dan dadanya terasa kian sesak melihat pemandangan itu.“Kevin,” ucapnya akhirnya. Pelan, namun penuh penekanan. “Berhenti.”Kevin tidak menjawab. Fokusnya seolah terkunci pada aspal basah di depan.“Nepi, Kevin!” ulang Nadia, kali ini ia memutar tubuhnya, menatap Kevin dengan tatapan menuntut.Mobil melambat secara bertahap, lalu menepi dengan kasar di bawah temaram lampu jalan yang berkedip. Mesin tetap menyala, mengeluarkan dengung halus yang kont

  • Terlalu Kaya dan Tampan   Bab 87

    Malam turun lebih cepat dari biasanya.Lampu-lampu taman kampus menyala satu per satu, namun cahaya kuningnya yang temaram tidak mampu mengusir rasa berat yang menggantung di udara. Nadia duduk di bangku kayu fakultas, lututnya ditarik rapat ke dada. Tatapannya kosong, tertuju pada kolam kecil yang airnya tampak mati, nyaris tak bergerak sedikit pun.Telapak tangannya masih terasa… berdenyut.Bukan rasa sakit fisik, bukan pula rasa panas. Melainkan seperti sisa gema dari sebuah energi yang seharusnya tidak ia miliki. Sensasi itu terus bergetar, seolah memperingatkannya bahwa ia baru saja melewati batas yang terlarang.Kevin berdiri beberapa langkah di belakangnya, bersandar pada batang pohon besar yang kokoh. Ia mencoba terlihat santai dengan menyilangkan tangan, namun napasnya belum sepenuhnya stabil. Pukulan terakhir yang ia lepaskan di gedung tadi ternyata menguras lebih banyak energi daripada yang ia perkirakan.“Kau oke?” tanya Kevin akhirnya. Suaranya rendah, memecah kesunyian y

  • Terlalu Kaya dan Tampan   Bab 86

    Kampus tidak pernah terasa setegang ini.Langit masih betah dengan mendungnya, namun udara terasa jauh lebih berat—seperti tekanan atmosfer sesaat sebelum badai besar meluluhlantakkan segalanya. Mahasiswa berlalu-lalang seperti biasa; tertawa, mengeluh soal tugas, atau memikirkan hal-hal sepele. Tak satu pun dari mereka menyadari bahwa tepat di bawah permukaan rutinitas yang membosankan itu, sesuatu yang purba sedang merayap.Dan Nadia bisa merasakannya.Bukan seperti sinyal mekanis dari sistem Astraea yang lama. Bukan pula tarikan paksa yang menyakitkan. Ini lebih seperti… sebuah tekanan. Layaknya berat air yang menekan gendang telinga saat menyelam terlalu dalam.“Kevin,” bisik Nadia saat mereka melewati lorong fakultas yang mulai sepi. “Mereka sudah di sini.”Kevin tidak menoleh secara drastis, namun langkahnya otomatis melambat setengah detik—jarak yang cukup bagi pria itu untuk menyesuaikan posisi tubuhnya guna melindungi Nadia.“Berapa orang?” bisiknya hampir tak terdengar.Nadi

  • Terlalu Kaya dan Tampan   Bab 85

    Efeknya tidak datang seperti ledakan besar yang mengguncang bumi.Ia datang seperti rangkaian kesalahan kecil yang terus diabaikan—sampai semua orang tersadar bahwa fondasi realita telah bergeser, dan tidak ada jalan untuk kembali.Pagi itu, frekuensi berita nasional mendadak kacau. Di layar televisi, seorang presenter tersenyum ramah, membaca naskah dengan intonasi stabil—lalu tiba-tiba ia mematung. Matanya menatap kosong ke arah kamera, satu detik terlalu lama, seolah jiwanya baru saja dicabut paksa.“Maaf,” ucapnya akhirnya sambil tertawa kecil yang terdengar ganjil. “Teksnya… hilang begitu saja.”Di belahan kota lain, sistem kendali lalu lintas Jakarta mendadak kehilangan logika. Lampu hijau menyala di semua arah selama tiga puluh detik penuh, menciptakan simfoni klakson dan derit rem yang memekakkan telinga, sebelum akhirnya seluruh sistem mati total. Di rumah sakit-rumah sakit besar, monitor pasien berhenti bersinkronisasi; bukan karena kerusakan perangkat, melainkan karena pola

더보기
좋은 소설을 무료로 찾아 읽어보세요
GoodNovel 앱에서 수많은 인기 소설을 무료로 즐기세요! 마음에 드는 작품을 다운로드하고, 언제 어디서나 편하게 읽을 수 있습니다
앱에서 작품을 무료로 읽어보세요
앱에서 읽으려면 QR 코드를 스캔하세요.
DMCA.com Protection Status