Se connecterHolla, MyRe. Selamat datang di novel baru kita. Semoga kalian suka dengan Mas Seven dan Mbak Aeza yah. Oh iya, kisah mereka akan ada banyak kejutan manisnya loh, jadi kurang-kurangi makan yang manis-manis yah, MyRe. Takutnya nanti diabetes, soalnya kisah Mas Seven dan Mbak Aeza ini manis poll. Sepertinya kisah Mas Seven dan Mbak Aeza ini cocok dijadikan bukaan puasa, MyRe, soalnya kan berbukalah dengan yang manis-manis. Hehehehe .... IG:@deasta18 (Visual Aeza versi Ilustrasi sudah tersedia di IG penulis. Follow untuk melihat yah)
[Hati-hati ke kakakmu, An. Kurasa dia tidak suka padamu. Maksudku di matanya kau bukan adiknya, tetapi saingan.] [Ah, bangke lah! Jadi nyesal pernah suka ke Kakakmu. Jahanam.]Anaya senyum geli membaca pesan Rain. Sebenarnya Anaya ingin tertawa kencang karena merasa gokil dengan kalimat terakhir di pesan sahabatnya. Hanya saja saat ini Anaya sudah berada di rumah keluarga suaminya, di dalam kamar lebih tepatnya. Tadi ketika Anaya menunggu Dominic di dalam mobil, Anaya ketiduran. Saat dia bangung, dia sudah ada di kamar ini. Pakaiannya sudah diganti, mengenakan dress piyama berbahan sutra yang lembut. Dia bangun dalam pelukan Dominic yang tidur pulang, lalu dengan hati-hati Anaya menjauh–melepas tubuhnya dari pelukan Dominic. Setelah berhasil lepas, Anaya memilih duduk di sofa. Awalnya Anaya berniat sekadar melamun untuk memancing rasa kantuk. Sebab setelah dia terbangun tadi, mata Anaya mendadak cerah cemerlang–tak ada sama sekali rasa kantuk. Masalahnya ini masih jam 2 dini hari,
'Dia kira dia akan berhasil merayu Tuan Dominic? Cih, Tuan Dominic tidak suka perempuan penggoda dan sok manja.' batin Elma, senyum culas dengan tipis sambil menatap ke luar kaca jendela mobil. Dia sedang meremehkan usaha Anaya untuk merayu Dominic. Elma sudah bekerja cukup lama dengan Dominic dan dia paham pada karakter Dominic yang dingin, tegas, dan anti pada rayuan perempuan. Alih-alih luluh, Elma yakin sekali Dominic akan semakin marah pada Anaya. "Hum." Dominic tiba-tiba berdehem rendah, menatap ke arah Anaya yang terlihat menampilkan ekspresi gugup. "Aku punya … pu-punya alasan kenapa pergi dari rumah," ucap Anaya gugup. Dominic menunduk padanya, tatapan pria ini terasa membius dan wajah Dominic juga terasa dekat. "Alasan?" Dominic berkata datar, "coba jelaskan apa alasanmu pergi," tambahnya, tiba-tiba dengan cepat memindahkan Anaya ke atas pangkuannya. Hal tersebut membuat Anaya melebarkan mata, menatap gugup dan panik pada Dominic. Tubuhnya begitu kaku dan punggungnya
"Kamu." Anaya menjawab dengan nada judes, "aku sukanya kamu," tambahnya sambil menatap berang ke arah Rain. Mata Rain melebar, sontak menatap sosok di belakang Anaya tersebut dengan raut wajah panik. Dia segera menggelengkan kepala dengan kuat. "Bu-bukan aku, Tuan. A-Anaya hanya bercanda," jawab Rain panik. Anaya menoleh cepat ke belakangnya, dia mendongak ke arah seorang pria yang berdiri di belakangnya dengan wajah dingin dan terlihat menahan marah. "Tuan." Anaya refleks bangkit dari kursi, segera membungkuk kecil untuk memberi hormat. Sial! Kenapa pria ini ada di sini dan … tiba-tiba muncul? Semoga Dominic tak mendengar ucapannya tadi! Tapi melihat wajah dingin dan marah Dominic, sepertinya pria ini mendengar. "Jadi kau di sini?!" Suara dingin Dominic terdengar. Seperti biasa, dia menahan kening Anaya ketika perempuan ini berniat membungkuk padanya. Namun, jika biasanya Dominic tak mempermasalahkan, kali ini dia merasa tersinggung serta kesal dengan Anaya yang membungk
"Di mana Anaya?" tanya Dominic dengan nada datar, masih menoleh ke sana kemari untuk mencari Anaya. Wajah Tifany seketika panik, meneguk saliva secara susah payah. Anaya sudah pergi dan dia merasa bertanggung jawab untuk hal itu. Dialah yang membuat Anaya tak nyaman lalu pada akhirnya pergi. "Anaya pergi, Tuan," jawab Elma dengan nada tenang, memasang wajah serius dan meyakinkan. Tifany semakin gugup mendengar perkataan Elma. Menurutnya Elma berani sekali jujur pada Dominic mengenai Anaya yang sudah pergi. Di sisi lain, Luke langsung menatap cepat ke arah Elma. "Pergi ke mana?" Kening Luke mengerut, "pesta sudah akan dimulai, kenapa anak itu malah pergi?" "Dia kan suka bikin masalah, Ayah," ujar Rahas dari tempatnya, menggembungkan pipi dan menunjukkan ekspresi jengkel. Seharusnya pestanya bisa dimulai, tetapi karena Anaya hilang, pestanya jadi terhalang. "Anaya pergi karena merasa bosan di pesta ini, Tuan," ucap Elma, lagi-lagi menjawab dengan nada tenang. "Anaya memang t
"Nanti kamu dianggap matre loh." Anaya menghela napas panjang mendengar perkataan mamanya. Anaya rasanya tak ingin mengatakan apa-apa, akan tetapi karena mamanya terus menatap, Anaya pada akhirnya tetap menanggapi. "Aku nggak pernah minta-minta, Mah," jawab Anaya dengan nada pelan, "tetapi Tuan Dominic sudah menyiapkan sendiri tanpa kuminta dan aku wajib memakai apapun yang Tuan beli untukku." "Loh." Tifany terlihat kaget mendengar jawaban Anaya. "Tanpa kamu minta, Tuan Dominic menyiapkan sendiri pakaian buat kamu? Kenapa bisa? Memangnya kamu melakukan apa sampai-sampai disiapkan pakaian sama Tuan Domonic." "Nggak ada." Anaya mengedikkan pundak, menatap mamanya dengan mata memanas. Apa setidak layak itu Anaya mendapatkan sedikit perhatian sehingga mamanya bertanya demikian? "Sejauh ini aku nggak harus melakukan sesuatu supaya dapat uang saku ataupun bisa makan dari Tuan Dominic." Anaya berkata santai, tetapi sorot matanya menunjukkan kesedihan, "emangnya Tuan Dominic orang-ora
"Mas?" beo Dominic, mencium pundak Anaya lalu menatap perempuan itu dengan alis terangkat. "Maaf maaf, Tuan." Anaya berkata tak enak dan takut-takut, harap cemas Dominic marah padanya. "Maaf, Tuan. Aku tidak sengaja. Ta-tadi aku sempat berbicara dengan Mama Tuan. Nyonya bilang, aku harus memanggil Tuan dengan panggilan 'mas," jelas Anaya panik. Di depan Dominic, Anaya lebih memilih memanggil orang tua pria ini dengan sebutan 'nyonya dan tuan besar. Namun, jika di depan orang tua Dominic, Anaya akan memanggil dengan embel-embel Mama dan Papa mertua. Orang tua Dominic mengharuskan Anaya memanggil lebih kekeluargaan. "Maka panggil aku 'mas," ucap Dominic datar, "dah panggil orang tuaku dengan sebutan 'mommy dan daddy. Jangan membuat mereka curiga." "Baik, Tuan." Anaya menganggukkan kepala secara pelan. "Di depanku, kau juga harus memanggil mas padaku," titah Dominic. Aluna lagi-lagi menganggukkan kepala. "Beristirahatlah," titah Dominic secara tegas. Anaya bangkit dari pangku







