Masuk"Itu … hasil gabut, Mama," jawab Anaya cepat sambil menggaruk daun telinga yang tak gatal. Dalam hati, dian menahan malu karena pencariannya di goog dibaca oleh mama mertuanya. "Wih … sama spesies denganku, Aeza. Fix, Anaya cocokan jadi menantuku. Hahaha …." Alisha tertawa riang di akhir kalimat. "Enak saja! Anaya menantuku yah!" ujar Aeza tak terima, menatap berang pada Alisha. Anaya yang masih menggaruk daun telinga, diam-diam senyum tipis dengan mata yang menyorot hangat. Sekalipun dia tahu mama mertuanya dan tante suaminya hanya bercanda, akan tetapi entah kenapa Anaya merasa terharu. Ini pertama kalinya dia diperebutkan, seolah dia sesuatu yang istimewa dan berharga. Dulu, Anaya ingat sekali saat dia baru datang ke rumah Yodian–baru kembali setelah sebelumnya Anaya tinggal di kota lain bersama kakek neneknya, Anaya jatuh sakit. Dia demam tinggi karena sebelum pulang dia kehujanan dan setelah di rumah, dia langsung disuguhkan dengan pekerjaan rumah. Saat itu, orang t
"Semakin kau menangis semakin aku menginginkanmu, Sweetheart," ucap Dominic dengan nada rendah dan berat, menyunggingkan smirk tipis–benar-benar menikmati rasa sakit istrinya. Dominic terus melakukannya, berulang kali tanpa kenal lelah. Sedangkan Anaya, dia masih menangis, merintih, dan memohon agar Dominic berhenti. Namun, suaranya sama sekali tak didengar, pria ini tetap melakukannya. Untungnya penderitaan yang terasa panjang itu berhenti juga. Dominic akhirnya menyudahi. Cup' Dominic mencium bibir Anaya cukup lama lalu berpindah mencium kening Anaya secara khidmat. "Terima kasih, Wifey," ucap Dominic rendah dan serak. Suaranya sangat seksi di pendengar. Juga terasa hangat bagi Anaya yang hampir kehilangan kesadaran. "Besok kita akan mengulang lagi. Tubuhmu terasa sangat nikmat," tambahnya sambil mengusap pucuk kepala Anaya. Anaya yang sudah menutup mata, seketika membuka mata–menatap Dominic dengan raut muka panik. 'Hah? Be-besok lagi? Ahahaha ….' batin Anaya, t
Anaya memejamkan mata erat, menahan gejolak aneh yang terasa membakar dan menyetrum tubuhnya. Satu tngannya tanpa sadar meremas rambut lebat dan hitam Dominic yang sedang bermain dengan bukit indahnya. Saat ini mereka ada di ranjang, di mana sebelum Anaya sempat lega ketika masih di kamar mandi Dominic tiba-tiba berhenti menyentuhnya. Dia kira pria ini akan melewatkan malam pertama karena saat di kamar mandi, Dominic tidak sampai melakukan penyatuan dengannya. Pria itu tiba-tiba berhenti dan segera mandi dengan normal. Namun, setelah mandi, saat Anaya akan mengenakan pakaiannya, pria ini tiba-tiba menariknya ke ranjang. Dan di sinilah Anaya berada, berbaring dengan tubuhnya yang sedang dinikmati oleh susminya. Awalnya Anaya tidak suka dan gugup setengah mati. Sebagai penulis novel adult romance, Anaya merasa telah membohongi pembacanya. Karena apa yang dia tulis dan curahkan lewat karyanya tentang hubungan intim pria dan wanita, itu penuh dengan kenikmatan yang memabukkan. Nam
"Kau menungguku?" tanya Dominic sambil menatap intens ke arah Anaya yang masih mengenakan dress pengantin. Anaya sejujurnya tidak menunggu pria ini. Dia sudah sangat lelah dan ingin sekali membaringkan tubuhnya. Hanya saja, kamar ini terlalu estetik, luas, dan bagus. Ranjangnya besar dengan sprei yang lembut dan nyaman. Anaya jadi segan untuk tidur di sini. Makanya dia tetap bertahan sekalipun matanya sudah berat. Namun, Anaya di sini menganggukkan kepala–membenarkan ucapan Dominic kalau dia sedang menunggu pria ini. Dominic menyunggingkan smirk tipis saat Anaya menganggukkan kepala. Perempuan ini menunggunya? Itu manis. "Sepertinya kita akan mulai dengan mandi bersama," ucap Dominic tiba-tiba, membuat mata Anaya yang sudah berat seketika melebar. Pundaak Anaya yang bungkuk dan jatuh akibat lelah, lambung tegap setelah mendengar kata 'kita mulai dengan mandi bersama. Oh, God! Maksud pria ini apa? Memulai apa? "Man-mandi bersama?" beo Anaya, mendapat anggukan singkat dari
"I-iya, Tuan," jawab Anaya seadanya. Dominic mencoba menutupi keanehan dan perasaan tak senang yang menelusup di hati. Dia membuka pintu lalu masuk ke kamar Anaya. Dominic menurunkan dan mendudukkan Anaya di pinggir ranjang single milik perempuan ini. Dominic sejenak terdiam, menatap seluruh penjuru kamar calon istrinya dengan tatapan tak suka. Kamar perempuan ini sangat bersih dan tertata rapi. Aroma di kamar ini juga wangi, aroma manis seperti aroma Anaya. Hanya saja, untuk seorang putri dari pemilik rumah mewah ini, kamar ini terlalu sempit dan sederhana. "Kamarmu sempit sekali, seperti kamar maid," komentar Dominic, "kamar maid di rumahku jauh lebih luas dari kamarmu," tambahnya, ikut duduk di sebelah Anaya. Dia bersedekap di dada sambil terus mengamati kamar sempit Anaya. "Ya, tak apa-apa, Tuan. Terpenting ada kamar," jawab Anaya seadanya. "Kau sebut ini kamar?" Anaya seketika menatap aneh pada Dominic. "I-iya lah. Memangnya apa lagi, Tuan?" Dominic tak mengatakan ap
Sebuah mobil mewah keluar dari kediaman Yodian. Namun, mobil tersebut berhenti tepat di depan mereka, membuat Anaya dan Rain saling bersitatap–bertanya-tanya siapa orang di dalam mobil mewah tersebut. "Tu-Tuan Dominic," gumam Rain gugup ketika Dominic keluar dari mobil tersebut. Dia buru-buru membungkuk, memberikan salam hormat pada tuan muda Theodora tersebut. Anaya mengamati Rain yang membungkuk pada Dominic, lalu Anaya segera ikut membungkuk dengan kaku dan gugup karena tak tahu harus melakukan apa. Namun, saat Anaya ingin membungkuk, tiba-tiba saja tangan Dominic terulur ke arah kepalanya. Tangan pria itu menempel ke kening Anaya, menahan kepala Anaya supaya tidak menunduk atupun membungkuk. Anaya pada akhirnya menegakkan tubuh, menatap kaku campur takut pada Dominic. Dari wajahnya, pria ini sepertinya marah. Anaya rasa dialah penyebab pria ini marah. "Keluargaku sudah lama datang, tetapi kau …-" Dominic bersuara, melayangkan tatapan tajam pada Anaya. Dia menggantung







