LOGIN"Aku akan memilikimu sepenuhnya, Nyonya. Aku … akan merebutmu dari Tuan Lucas," ucap Seven tegas tetapi setelah itu memperlihatkan senyum lembut pada Aeza.
Namun, sekalipun senyuman itu terlihat manis, tetapi Aeza merinding dan ketakutan melihatnya. Seperti ada maksud tertentu dari senyuman Seven. "Se-Seven, kamu … berkhianat pada suamiku?" Aeza buru-buru beringsut ke kepala ranjang saat Seven mendekat dan mengikis jarak dengannya. "Bukan." Seven menjawab cepat, "lebih tepatnya mempertahankanmu sebagai istriku, Nyonya. Selamanya!" lanjut Seven. Setelah berada dekat dengan Aeza, Seven meraih dagu perempuan itu–menahannya supaya Aeza tidak memalingkan wajah darinya. "Se-Seven, itu saja kamu berkhianat," pekik Aeza. Jantung mulai berdebar kencang dan tubuh gemetar karena ketakutan. Pria ini terang-terangan berkhianat pada suami Aeza! "Dibandingkan majikan, Istri lebih utama." Seven berkata serak, mendekatkan wajah ke arah Aeza, "apa yang kulakukan padamu adalah bentuk kesetiaanku padamu, Wifey," lanjut Seven. Aeza meneguk saliva secara kasar. Entah kenapa dia merasa kalau Seven berbeda. Auranya sangat mengintimidasi, gelap, dan menundukkan. "Hanya pria bodoh yang menyia-nyiakan perempuan sesempurna dirimu, Nyonya. Pria bodoh itu suami pertamamu. Sedangkan aku-- aku pria cerdas karena akan mempertahankanmu selamanya di sisiku." Aeza awalnya marah mendengar kalimat pertama Seven. Itu terdengar seperti pengkhianatan dan pemberontakan. Dia juga tak suka pria ini mengatai Lucas sebagi pria bodoh. Namun, ketika mendengar kalimat akhir Seven, entah kenapa perasaan marah Aeza berubah menjadi perasaan tersanjung. "Mari kita mulai, Nyonya," ucap Seven tiba-tiba, membuat Aeza kembali panik. "A-apanya yang dimulai, Seven?" Aeza menatap gugup pada Seven. "Malam pertama kita," jawab Seven, "Nyonya tidak akan menolak bukan?" "A-aku ragu, Seven," cicit Aeza, menunjukkan wajah kaku dan tegang. Sebenarnya …- "Jangan ragu, Nyonya. Aku sudah menjadi suamimu, aku berhak atas dirimu, Nyonya," ucap Seven lembut, semakin mengikis jarak antara wajahnya dengan wajah Aeza. Dia berniat mencium bibir Aeza, akan tetapi saat akan menyentuh bibir perempuan itu, Seven menunda sejenak, "tutup matamu, Nyonya. Aku tidak ingin merusak malam pertama kita dengan wajah buruk ini." Aeza diam sejenak, menatap wajah Seven dengan mata yang bulat. Setelah itu, dia menggelengkan wajah. "Aku akan menatap matamu, Seven," ucap Aeza, menolak menutup mata seperti yang Seven katakan. Bukan apa-apa, dia hanya tak ingin menyinggung Seven dengan menutup mata. Jika dia menutup mata, itu berarti dia setuju kalau wajah Seven itu buruk. Aeza ingin menjaga perasaan pria ini. "Matamu tampan," lanjut Aeza, berkata demikian agar Seven tidak insecure dengan wajahnya dan tidak terus menyebut dirinya buruk rupa. Seven tidak memandangnya sebagai wanita rendah, maka Aeza membalasnya dengan tidak memandang buruk pada wajah pria ini. "Oh yah?" Seven menaikkan sebelah alis, "barusan Nyonya memujiku. Apa Nyonya sudah melupakan Tuan Lucas? Sepertinya iya, mengingat tiga bulan ini kita sudah dekat," tambah Seven sambil senyum manis pada Aeza. Aeza langsung memutar bola mata secara malas. "Mana ada?! Aku nggak mungkin melupakan suamiku. Bagiku dia segalanya," jawab Aeza dengan nada judes. Yah, selama tiga bulan ini, Aeza memang dekat dengan Seven. Tiga bulan ini, Seven menjadi bodyguard pribadinya–ditugaskan oleh Lucas yang hampir selama tiga bulan ini berada di luar negeri untuk mengurus pekerjaan. Setelah urusan perceraian selesai, Lucas langsung berangkat ke luar negeri. Aeza tidak ikut dan Seven diperintahkan untuk menjaga serta menemani Aeza. "Terima kasih, Nyonya," jawab Seven dengan nada senang, senyum begitu lebar. "Kenapa kamu berterima kasih?" Aeza memicingkan mata, menatap aneh sekaligus bingung pada Seven. "Aku suami Nyonya," ucap Seven lembut. Aeza ingin protes, akan tetapi ucapan Seven selanjutnya membuatnya tertegun. "Terima kasih sudah menganggapku segalanya, Nyonya. Karena Nyonya sudah menjadi istriku, maka Nyonya juga segalanya untukku," lanjut Seven. Aeza meneguk saliva secara susah payah, terdiam dengan pipi merona saat mendengar ucapan Seven. Bagiamana dia tak kagum dan tertegun? Hanya karena menyebutnya segalanya, itupun atas kesalah pahaman, tetapi Seven langsung berterima kasih padanya. 'Seven pria yang manis dan romantis,' batin Aeza, tanpa sadar senyum tipis–senang dan tersanjung karena Seven berterima kasih padanya. "Nyonya, kali ini aku tidak akan menunda. Mari kita lakukan, Nyonya," ucap Seven. Aeza ingin menjawab 'tunggu, akan tetapi Seven lebih dulu mendaratkan bibirnya di atas bibir Aeza. Hal tersebut membuat Aeza terkejut. Dia belum siap! Perasaan gugup mulai menyelimuti hatinya. Ada rasa bersalah juga, karena dengan membiarkan Seven menyentuhnya, itu berarti dia mengkhianati Lucas. Namun …- Ini permintaan Lucas. Toh, Seven sudah sah menjadi suaminya. Seharusnya ini bukan kesalahan lagi. Aeza awalnya hanya menatap mata Seven yang menghanyutkan dan … dia tak bohong! Mata Seven memang tampan. Terlebih saat pria ini menatapnya secara dalam! Namun, tanpa sadar Aeza memejamkan mata. Dia mulai terlena oleh lumatan lembut bibir Seven. Seven mulai melepas dress tidur yang Aeza kenakan. Setelah itu, dia membaringkan Aeza secara hati-hati dan lembut, lalu mengambil posisi di atas tubuh Aeza. Seven melepas ciuman itu, sejenak terdiam sambil mengamati wajah cantik Aeza. Bibirnya spontan menyunggingkan smirk tipis saat kelopak mata Aeza terbuka, memperlihatkan manik indah yang memabukkan. "Se-Seven," ucap Aeza dengan suara terbata-bata, pelan, dan lirih, ketika Seven tiba-tiba menenggelamkan wajah pada ceruk leher Aeza. Saat napas hangat pria itu menerpa permukaan kulit leher Aeza, tubuhnya bereaksi aneh. Darahnya berdesir cepat, jantung berdebar kencang, dan punggung yang terasa panas dingin. Aeza sangat gugup dan takut. Namun, karena perasaan aneh yang baru pertama kali ia rasakan ini, Aeza sulit untuk menolak atau menghentikan sentuhan Seven. Lucas? Aeza sungguh melupakan pria itu. Yang ada di kepala Aeza saat ini adalah rasa penasaran dan keinginan untuk lebih. Namun, ketika Seven benar-benar melakukan penyatuan, Aeza langsung menjerit kencang. Matanya tertutup rapat dan tangannya refleks mencengkeram sprei dengan kuat. "Argkkk … Se-Seven," jerit Aeza, "sa-sakit," lanjutnya setengah merengek, membuka mata yang disusul oleh bulir kristal yang langsung menetes. Aeza memandang Seven dengan penuh permohonan, berharap agar pria ini tak melanjutkan lagi. Sedangkan Seven, dia seketika mendongak ke arah Aeza, menatap sangat terkejut pada perempuan ini. "Nyonya, kau …-""Aku akan memilikimu sepenuhnya, Nyonya. Aku … akan merebutmu dari Tuan Lucas," ucap Seven tegas tetapi setelah itu memperlihatkan senyum lembut pada Aeza. Namun, sekalipun senyuman itu terlihat manis, tetapi Aeza merinding dan ketakutan melihatnya. Seperti ada maksud tertentu dari senyuman Seven. "Se-Seven, kamu … berkhianat pada suamiku?" Aeza buru-buru beringsut ke kepala ranjang saat Seven mendekat dan mengikis jarak dengannya. "Bukan." Seven menjawab cepat, "lebih tepatnya mempertahankanmu sebagai istriku, Nyonya. Selamanya!" lanjut Seven. Setelah berada dekat dengan Aeza, Seven meraih dagu perempuan itu–menahannya supaya Aeza tidak memalingkan wajah darinya. "Se-Seven, itu saja kamu berkhianat," pekik Aeza. Jantung mulai berdebar kencang dan tubuh gemetar karena ketakutan. Pria ini terang-terangan berkhianat pada suami Aeza! "Dibandingkan majikan, Istri lebih utama." Seven berkata serak, mendekatkan wajah ke arah Aeza, "apa yang kulakukan padamu adalah bentuk kes
"Apa kau gila?!" marah Lucas. "A-apa?" Aeza melebarkan mata, menatap shock pada Cleo. "Tuan, dengarkan penjelasan saya." Cleo berkata cepat, "maksud saya, jika Tuan menceraikan Nyonya, maka Nyonya bisa menikah dengan Seven dan Nyonya bisa melakukan hubungan suami istri dengan Seven tanpa harus merasa berdosa dan berkhianat pada suaminya. Nyonya tidak melanggar pemahamannya pada ikatan suami istri dan tidak menyalahi apapun. Nanti setelah Nyonya hamil, Nyonya bisa bercerai dengan Seven lalu setelah itu kembali pada Tuan." "Ck, aku menghindari perceraian dan kau menjadikan perceraian sebagai solusinya. Benar-benar kau ini!" kesal Lucas pada Cleo. "Tuan, menurutku saran dari Cleo ada benarnya," ucap sekretaris Lucas, tersenyum tipis pada Lucas, "Nyonya sangat menjunjung tinggi sebuah ikatan dan jelas dia tidak akan terima kalau harus melakukan itu dengan pria yang bukan suaminya. Jadi lebih baik Nyonya menikah terlebih dahulu dengan Seven. Untungnya … anak yang Nyonya kandun
Aeza menutupi tubuhnya dengan selimut. Dia buru-buru turun dari ranjang, memungut pakaiannya. Dia kembali mengenakan pakaiannya. Akan tetapi karena lingerie tersebut sangat seksi, dia meraih kemeja Seven lalu memakainya ke tubuhnya. "A-aku membatalkan rencana ini. Aku tidak bisa, Seven," ucap Aeza dengan mata berkaca-kaca sambil mengancing kemeja hitam milik Seven yang sudah ia pakai di tubuhnya, "Papaku mencintaiku, menjagaku, dan melindungiku. Aku tidak mau melakukan ini. Karna ini sama saja aku melempar kotoran ke wajah Papaku," lanjutnya sambil menangis. "Baiklah, Nyonya. Kuhargai keputusan Nyonya," jawab Seven, menghela napas lega lalu menganggukkan kepala. Setelah mengenakan kemeja tersebut, Aeza langsung keluar dari kamarnya. Dia berlari cepat untuk menemui suaminya. Seven sendiri, dia mengenakan celananya lalu buru-buru keluar dari kamar tersebut. Namun, dia terlebih dahulu ke kamarnya yang ada di bangunan belakang rumah ini, untuk mengambil baju. *** Ceklek'
"Melakukan hubungan suami istri, seperti rencana suami Nyonya." Seven berkata pelan, senyum tipis pada Aeza yang terlihat semakin gugup, "atau kita batalkan saja? Sepertinya Nyonya memang benar-benar tidak ingin melanjutkan," lanjut Seven sambil menatap selimut yang menutupi tubuh Aeza. "A-aku bersedia." Aeza melepas selimut. Ah, entah kenapa tatapan Seven terasa berbahaya, mengintimidasi, dan cukup menakutkan. "Kalau kita batalkan, bagiamana dengan biaya berobat adikmu? Kasihan." Seven senyum tipis. "Nyonya sangat baik," ucapnya sambil berdiri dari ranjang. Dia melepas arloji lalu beralih melepas kemeja hitam yang membungkus tubuhnya secara bersemangat. Tubuh indah Aeza yang hanya berbalut lingerie seksi, membuat Seven cukup tak sabar untuk menyentuh perempuan ini. Ah, Seven benar-benar tidak bisa menolak tubuh ini, malah keraguannya pada ide gila majikannya hilang seketika setelah melihat tubuh seksi sang nyonya yang hanya mengenakan lingerie. "Nyonya bisa tutup mata." "U
"Sepertinya Nyonya terlalu mencintainya," ucap Seven dengan nada yang terkesan marah. Aeza menangkap suara marah itu, membuatnya mengerutkan kening–menatap lekat dan penuh selidik pada Seven. Bukan cuma suaranya, Aeza juga menyadari adanya kemarahan pada pancaran mata pria ini. Namun, kenapa Seven marah? Apa karena … tindakan Aeza ini terkesan seperti wanita rendahan jadi pria ini muak melihatnya? Dia menjijikkan? "Umm … namamu Seven kan?" tanya Aeza dengan nada pelan, mencoba mengabaikan ekspresi marah Seven. Seven menganggukkan kepala, lalu tanpa disuruh dia duduk di pinggir ranjang. Pria berwajah hancur tersebut menghadap Aeza, memandang Aeza dengan intens dan lekat. Itu membuat Aeza sangat kikuk. "Melihat wajah sembab Nyonya, kurasa Nyonya sehabis menangis. Apa Nyonya menyesali keputusan Nyonya untuk mengikuti rencana suami Nyonya?" tanya Seven kembali, tetapi kali ini suaranya terasa lebih lembut dan hangat. Aeza menggembungkan pipi, menatap campur aduk pada Seven
"Mas!" Aeza melebarkan mata, menatap tak percaya pada suaminya. "Kita sudah sepakat, Sayang." Lucas berkata sambil menatap lelah pada Aeza yang menurutnya plin-plan. Tadi setuju, sekarang kembali menolak. "Tapi tidak malam ini juga, Mas." Aeza menunjukkan ekspresi protes. Dia memang akhrinya setuju, tetapi kenapa harus di hari ini? Sungguh, Aeza belum siap. Bahkan dia masih gemetar hanya karena menyetujui ide gila suaminya. Apalagi jika nanti malam dia benar-benar menyerahkan tubuhnya pada pria lain, jantung Aeza mungkin bisa copot dari tempatnya. "Lebih cepat lebih baik, Aeza." Lucas berucap tegas, "semakin cepat kau hamil, maka itu samakin baik. Waktu kita hanya satu tahun. Itu waktu singkat, mengingat kehamilan bukan kehendak manusia. Kita hanya bisa berusaha agar kau secepatnya hamil." Wajah Aeza kembali dipenuhi kesedihan, dia menolah ke arah Seven–bodyguard pilihannya sendiri yang akan tidur dengannya. Bisakah dia membiarkan tubuhnya dijama oleh pria ini? Tuhan, mem







