Se connecterSaking kencangnya cengkeraman di kerah leher Yongki, sampai-sampai wajah pemuda itu memerah karena menahan sesak napas karena Mario juga mengangkat tubuhnya tinggi-tinggi.Pak Purba langsung menenangkan Mario agar tidak gegabah."Mario, sudah, sudah! Lepaskan dia! Nggak ada gunanya kamu lakukan ini. Dia akan mendaptakan hukuman yang setimpal!" ucap Pak Purba. Tapi spertinya Mario sudah sangat emosi, bukannya melepaskan Yongki. Justru pemuda itu memukuli wajah Yongki lagi. Semua yang ada di ruangan itu menjadi panik dan berusaha untuk memisahkan Mario dan Yongki."Mario, cukup!" teriak Nyonya Ratih saat ia melihat bagaimana emosinya sang cucu. Emma sendiri juga khawatir lantaran ia tahu bagaimana watak sang Kakak yang tidak akan pernah mau melepaskan orang yang sudah mengusik hidup keluargnya.Mario menghajar Yongki dengan kasar. Tidak ada yang bisa melerainya hingga membuat wajah Yongki kembali babak belur karena terkena pukulan dari Mario.Mau tidak mau Pak Purba dibantu oleh kepala
Sedangkan Yongki masih memendam kekesalannya terhadap Jasmine yang telah berani menamparnya. Pemuda itu menatap tajam ke arah kelasnya di mana Jasmine dan Yuni masih berada di dalam. Lalu, Bu Vero menghampiri pemuda itu. "Yongki!" panggil sang ibu guru. Seketika Yongki terkejut dan langsung menolah ke arah wanita itu. "Bu Vero!" jawab pemuda itu. "Apa kamu sudah tahu bahwa kamu dipanggil kepala sekolah?" tanya Bu Vero. "Ah iya, Bu. Saya sudah tahu!" jawab Yongki yang masih memegangi pipinya. Bu Vero mengerutkan keningnya karena ia melihat ada sesuatu yang disembunyikan dari pemuda itu. "Kenapa dengan wajahmu?" tanya Bu Vero. Yongki langsung beralibi dan memutar balikkan fakta. "Oh, iya, ini Bu. Tadi si Jasmine mukul muka saya padahal saya cuma ngomong apa adanya. Saya cuma nggak ingin dia semakin terjerumus dalam cinta buta sama Kakaknya. Saya juga bilang kalau itu dosa dan bikin nama sekolah kita jadi jelek, tapi justru saya ditampar!" jawab Yongki berbohong. Bu Vero menghela
"Tutup mulutmu, bajingan!" bentak Jasmine dengan tatapan matanya yang penuh amarah. Gadis itu sangat marah dengan kata-kata hinaan yang terlontar dari mulut Yongki. "Cewek sialan! Awas kamu!" balas Yongki sambil pergi meninggalkan Jasmine. Sementara itu teman-temannya pada berdatangan menonton. Sedangkan Yuni, gadis itu langsung menghampiri Jasmine dan berusaha untuk menenangkannya. "Jasmine, kamu nggak apa-apa?" tanya Yuni khawatir. "Aku nggak apa-apa!" jawab gadis itu. "Ya sudah ayo masuk lagi!" ajak Yuni untuk masuk ke dalam kelas. Sementara itu teman-temannya masih di sana memperhatikan Jasmine. Lantas Yuni langsung meminta mereka untuk pergi. "Kalian ngapain di sini? Bubar!" usir Yuni sambil berteriak. Akhirnya, teman-temannya pergi dari sana sambil bisik-bisik. "Pergi, yuk! Dasar cewe aneh!" gerutu salah satu di antara mereka. Setelah pipinya kena tamparan dari Jasmine. Yongki sesekali menyeringai lantaran bekas tamparan itu terasa panas di wajahnya. "Cewek sia
Benar saja, Nyonya Ratih langsung panik untuk menjawabnya."Ah, Oma. Iya, tadi Oma belum sempat menghubungi kamu. Kamu pasti masih sibuk kuliah, kan. Jadi Oma nggak mau gangguin kamu. Jadi biar Oma yang datang," jawab Nyonya Ratih dengan terbata-bata. "Harusnya Oma bilang sama aku dulu. Lalu Jasmine mana?" tanya Mario sambil mencari keberadaan Jasmine. Ia tak melihat batang hidung istrinya itu di sana."Jasmine, tadi dia udah pergi!" jawab Nyonya Ratih."Pergi? Apa dia sudah tahu jika temannya ini yang udah fitnah dia?" tanya Mario menyelidik. Karena Nyonya Ratih sudah bosan membicarakan tentang Jasmine, wanita itu pun menjawabnya dengan ketus."Udahlah! Oma bosan ngomongin soal Jasmine. Lagian masalahnya udah clear. Jadi kamu nggak usah nyariin dia. Palingan dia ada di kantin, makan!" jawab Nyonya Ratih dengan wajah judesnya."Oma, kok gitu sih ngomongnya, malu!" sahut Mario."Iya, emang di mana lagi kalau bukan di kantin. Lagian dia juga nggak hati-hati. Kalian pergi berdua saja ta
Mereka semuanya terkejut dan langsung panik."Ah, Jasmine. Dia tadi ada di ruangan kepala sekolah!" jawab salah satu di antara mereka. Tanpa menunggu lama, Mario langsung pergi menuju ke ruangan kepala sekolah. Namun sebelum itu, pemuda itu dikejutkan dengan salah satu mobil yang terparkir di halaman sekolah. "Itu kan mobil Oma? Jadi Oma ada di sini? Kenapa Oma nggak ngomong?" batin Mario. Ya, itu memang adalah mobil milik sang Oma. Tentu saja Mario sangat mengenalinya. Tanpa menunggu lama, pemuda itu segera pergi ke arah kantor kepala sekolah. Di sisi lain, Jasmine masih berada di kelas bersama Yuni. Sebenarnya gadis itu tidak terlalu percaya dengan ramalan. Namun apa pu yang dikatakan Yuni selalu mejadi kenyataan."Hah, aku tahu apa yang ada dalam pikiranmu, Jasmine. Tak apa kalau kamu tidak percaya, aku tidak memaksa. Aku cuma menyampaikan apa yang aku lihat dan aku rasakan. Tapi percayalah, Kakakmu sangat mencintaimu. Dia tidak akn pernah bisa berpaling pada wanita mana pun. Han
Di sisi lain, Pak kepala sekolah langsung menegur Dinda setelah melihat rekaman dari ponsel Emma."Dinda, jelaskan apa ini?" desak Pak kepala sekolah. Wajah Dinda langsung pucat dan gadis itu bingung harus menjawab apa. Ia sudah tidak bisa mengelak lagi karena rekaman itu sangat jelas sebagai bukti jika Jasmine tidak bersalah. "Emmm, saya....saya..." Dinda tergagap dan sangat jelas jika gadis itu ketakutan. Pak Purba juga ikut menginterogasi Dinda karena ia juga curiga jika Dinda melakukan itu karena motif tertentu atau ada yang menyuruhnya."Cepat katakan! Atau aku akan memberikanmu sangsi, aku akan cabut beasiswamu dari sekolah karena kamu sedang berusaha menyebarkan berita hoax dan memfitnah temanmu sendiri," ancam Pak Purba. Dinda langsung memohon ampun dan meminta Pak Purba untuk memaafkannya."Ampun, Pak. Saya minta maaf. Tapi saya mohon jangan hapus beasiswa saya. Iya, saya mengaku salah. Memang saya yang menyebarkan foto-foto Jasmine dan mengeditnya. Tapi saya melakukan itu
Nadine memutar bola matanya mendengar ucapan Juki.“Nggak akan pernah! Membayangkannya saja aku udah ilfeel. Jadi jangan berpikir aku bakal ketagihan, dihh!” sahut Nadine dengan ketus.“Ya sudah terserah, Tante. Buruan pegangin! Lagipula saya juga belum tentu bisa tegang dielus-elus sama Tante. Say
Sepertinya Juki harus memberikan pengertian kepada Nadine bahwa itu bukanlah ular. "Ohhh, ini bukan ular, Tante. Tapi ini yang bakal bikin Tante hamil. Kalau nggak ada ini, ya gimana saya bisa transfer benih ke rahim Tante, masa lewat sedotan?!" kata Juki dengan entengnya.Akhirnya Nadine baru men
Juki hampir saja keceplosan. Pemuda itu segera meralat jawabannya pada pelanggan setianya."Eh maaf, maksudnya saya sedang sibuk bikin sate di rumah Tante Nadine. Jadi, mohon dimaklumi. Besok saya udah jualan lagi kok!"Akhirnya pelanggan Juki mengerti. Pemuda itu hampir saja mengatakan sesuatu yan
"Aduhhh, susah amat nusuknya, alot bener nih daging sampai pegel tangan!" Juki menggerutu saat ia sedang menusuk daging kambing yang teksturnya cukup keras. Seperti biasa Juki selalu membuat puluhan tusuk daging sapi dan kambing untuk dagangannya sebagai tukang sate. Namun tiba-tiba... "Daripada







