เข้าสู่ระบบPapa Julian tercengang mendengar pengakuan sang anak. Entah ia harus marah atau diam saja. Sepertinya Papa julian harus meluruskan dan menjelaskannya pada keluarga besar agar tidak terjadi salah paham. "Hah, entahlah Papa pusing! Suka-suka kamu aja lah, Papa sendiri juga tidak bisa melarang. Bener yang kamu bilang, daripada menjadi dosa mending disahkan saja. Eh, tapi kalian nikah di mana?" cecar Papa Julian. "Di rumah Pak Kodir, Pa," jawab Mario dengan lantang. "Kamu pergi ke rumah Pak Kodir?" sahut sang Papa lagi. "Iya, Pa. Pak Kodir yang membantu kami untuk menikah. Pak Kodir juga yang menjadi saksi pernikahan kami hari ini." Mario akhirnya menjekaskan semuanya pada sang Papa. Setidaknya ia lega dan tidak sembunyi-sembunyi lagi menjalin hubungan. Papa Julian sempat memijit kepalanya yang mendadak pening. Sang anak sulung sudah terlanjur menikahi Jasmine. Sekarang kewajibannya adalah menjelaskan kepada keluarga besarnya tentang pernikahan sang anak. "Plis, Pa. Papa tolong Mar
"Tunggu-tunggu! Jangan sampai dugaan Papa benar nih. Kamu nggak main-main kan, Nak?" seru Papa Julian mulai serius karena ia tahu siapa gadis yang dimaksud oleh putranya itu. "Memangnya Papa sudah tahu siapa dia?" tanya Mario. "Jasmine!" Tanpa basa-basi sang papa langsung menyebut nama gadis itu yang tak lain adalah putri angkatnya sendiri, Jasmine. Mario langsung bereaksi. "Papa tahu dari mana?" sahut Mario heran pasalnya dirinya belum pernah mengtaakan kepada orang tuanya tentang perasaannya kepada Jasmine. "Papa sudah menduganya!" kata Papa Julian. Mario tampak malu tapi ia tidak mungkin bisa menyembunyikan ini untuk selamanya. "Iya, Pa. Gadis itu adalah Jasmine. Aku mohon Papa jangan marah!" ujar pemuda itu yang sedikit takut jika sang Papa akan murka karena kedua orang tuanya berharap ia mendapatkan gadis lain selain Jasmine. Papa Julian menghela napas panjang. Ini memang di luar kehendaknya. Cinta memang tidak bisa dipaksakan, lebih-lebih Mario sudah tahu bagaiamana stat
Ya, ternyata Papa Julian tengah menghubungi nomor sang anak sulung untuk menanyakan bagaimana kabar rumah. Nenek dan kedua adik perempuannya. "Halo, Pa!" sapa Mario terpaksa harus menunda obrolannya dengan Nyonya Ratih. "Hai, Son! Bagaimana kabar kalian?" jawab Papa Julian yang saat itu sedang berada di kamar bersama Mama Nadine yang juga sedang mengobrol secara virtual dengan Jasmine. "Alhamdulillah, kami semua baik, Pa. Papa dan Papa sendiri gimana kabarnya?" tanya balik Mario. Pemuda itu harus tenang agar kedua orang tuanya tidak khawatir. "Syukurlah!" jawab Papa Julian. "Iya, Pa. Di mana Mama, Pa?" tanya Mario mengalihkan pembicaraan sambil keluar dari kamar itu. Setidaknya ia bisa berbicara lebih leluasa dengan ayahnya. "Mamamu? Ada di sini. Dia sedang ngobrol dengan adikmu rupanya! Video call!" jawab Papa Julian. "Ngobrol dengan adikku? V-call dengan Jasmine?" sahut Mario. "Iya, sepertinya Mamamu terlihat serius. Entah apa yang mereka obrolkan!" kata Papa Julian lagi.
Di sisi lain, Mario dan Emma masih menemani Nyonya Ratih yang saat ini sudah berada di kamar. Wanita itu masih pura-pura sakit pinggang dan seolah-olah sakitnya sangat parah. "Aduh! Pinggang Oma sakit sekali. Pasti tulang Oma patah ini!" rintih wanita itu dengan manjanya. Tapi entah kenapa Mario tidak mempercayainya sama sekali. "Ya udah kita ke dokter aja biar tahu apa benar tulang Oma ada yang patah, Dengan begitu kita bisa mengobatinya dengan segera atau diopersi," seru Mario. Seketika Nyonya Ratih menyahutinya. "Tidak usah! Oma tidak apa-apa!" jawabnya sambil menggelengkan kepala. "Katanya tadi tulangnya rasanya mau patah. Ya ayo kita ke dokter biar Oma diperiksa langsung! Kalau beneran patah kan dokter segera menanganinya atau dioperasi," kata Mario. "kak Mario benar tuh, Oma. Kita ke dokter aja yuk biar kita nggak cemas. Kalau Mama dan Papa tahu pasti mereka bakal sedih. Kami nggak mau Oma kenapa-kenapa. Pasti Papa bakal marahin kita misal tahu apa yang terjadi jadi pada
"Papa! Papa kenapa?" Cerry sangat khawatir ketika sang Papa tiba-tiba mnegeluhkan kepalanya yang sakit. Pak Purba masih memegangi kepalanya yang berdenyut semakin nyeri. Cerry segera menelepon dokter untuk memeriksa kondisi sang Papa."Halo, Dokter. Bisa kah Dokter datang ke rumah kami sekarang? Papa, Dok. Sakit Papa kambuh lagi!" kata Cerry saat menghubungi dokter keluarga. Pak Purba sendiri masih tak percaya jika Jasmine ternyata adalah anaknya Ana. Ia susah payah mencari di mana keberadaan gadis itu. Tapi nyatanya kebenaran datang dengan sendirinya.Setelah Cerry menutup telepon, gadis itu langsung menghampiri ayahnya untuk menenangkan pria itu sampai dokter datang. "Ya ampun, Papa. Masih sakit, Pa? Aku sudah menelpon dokter, bentar lagi Dokter pasti datang," ucap Cerry sambil duduk di sampin sang Papa. Pak Purba tampak pucat dan lemas. Sesekali ia memejamkan matanya ketika rasa sakit menderanya begitu keras."Aaarrgghhhh sakit!" rintih pria itu yang terlihat begitu tersiksa. "Pa
Jasmine benar-benar terkejut dan tak percaya begitu saja. Pak Purba adalah pengusaha kaya dikenal baik. Pria itu merupakan relasi bisnis Papa Julian dan anaknya juga merupakan teman kuliah Mario, Cerry. "Nggak mungkin! Pak Purba adalah salah satu pelaku yang memperkosa Mama? Ini pasti salah aku harus mencari info yang jelas dan terpercaya. Kadang media bisa saja bohong dan ngawur!" gerutu gadis itu. Ia kembali melanjutkan pencariannya. Di saat Jasmine sedang sibuk mencari informasi tentang identitas para pelaku pemerkosa sang Mama. Di tempat lain yang berbeda, Pak Purba juga sedang gencar mencari informasi tentang anak almarhum Ana. Karena rasa bersalahnya yang begitu tinggi, pria itu harus mencari keberadaan anak perempuan yang dilahirkan oleh Ana. "Cari informasi tentang anak itu. Aku mau kalian menemukan di mana dia sekarang, di mana tempat tinggalnya dan dengan siapa dia tinggal," titah Pak Purba pada tim detektif suruhannya. "Baik, Tuan! Kami akan melaksanakannya!" jawab mere
“Diafff kamfu!” teriak Nadine lagi. Kali ini Juki berusaha untuk tidak tertawa meskipun ia ingin sekali tertawa mendengar jawaban wanita itu. Konyol, ini sangat konyol. Bagaimana nanti jika dirinya jadi hidup serumah dengan wanita itu, pasti hari-harinya dipenuhi dengan kegilaan. “Iya, iya, maafk
"Aduhhh, susah amat nusuknya, alot bener nih daging sampai pegel tangan!" Juki menggerutu saat ia sedang menusuk daging kambing yang teksturnya cukup keras. Seperti biasa Juki selalu membuat puluhan tusuk daging sapi dan kambing untuk dagangannya sebagai tukang sate. Namun tiba-tiba... "Daripada
Nadine memutar bola matanya mendengar ucapan Juki.“Nggak akan pernah! Membayangkannya saja aku udah ilfeel. Jadi jangan berpikir aku bakal ketagihan, dihh!” sahut Nadine dengan ketus.“Ya sudah terserah, Tante. Buruan pegangin! Lagipula saya juga belum tentu bisa tegang dielus-elus sama Tante. Say
Sepertinya Juki harus memberikan pengertian kepada Nadine bahwa itu bukanlah ular. "Ohhh, ini bukan ular, Tante. Tapi ini yang bakal bikin Tante hamil. Kalau nggak ada ini, ya gimana saya bisa transfer benih ke rahim Tante, masa lewat sedotan?!" kata Juki dengan entengnya.Akhirnya Nadine baru men







