LOGINNadine akan mengabarkan kabar baik ini untuk suaminya. Akhirnya Nyonya Hanum akan sembuh karena sudah berhasil mendapatkan donor jantung dengan golongan darah yang sama. Meskipun ia harus kehilangan sang sahabat untuk selamanya. Dokter segera melakukan bedah untuk mengambil organ jantung dari jenazah Ana. Lalu mereka segera melakukan prosedur dengan pihak dokter Nyonya Ratih. Tuan Andi sangat bahagia karena sang istri telah mendapatkan donor jantung yang tepat. Meskipun ia tahu siapa pendonor itu yang tak lain adalah mantan menantunya. Tuan Andi juga sangat kehilangan Ana apalagi wanita itu pernah menjadi bagian dari keluarganya. Berkali-kali ia menghubugi Julian, tapi sang anak masih terlelap karena kelelahan. Akhirnya pria itu memutuskan sendiri untuk mengurus opreasi jantung sang istri. Nadine pulang ke rumah. Wanita itu sudah tahu jika sang suami telah menghubunginya berkali-kali tapi ia tidak mengangkatnya lantaran waktu itu Ana sedang kritis dan ia mematikan ponselnya. "
Sementara itu Julian yang sudah sampai di rumah. Pria itu langsung mecari anaknya yang masih menangis. Ia berusaha menenangkan Mario yang terus saja rewel. "Cup, cup, sayang. Sini sama Papa!" Untuk kali ini Julian harus bisa tenang demi buah hatinya meskipun perasaannya sedang campur aduk. Pria itu tampak menggendong Mario dan menenangkannya. Bocah itu terus memanggil sang ibu sambil menunjuk ke luar agar ayahnya mau mencarikan ibunya. Kali ini Julian harus berjuang keras untuk membujuk dan menenangkan sang anak. Bahkan pria itu membujuk anak laki-lakinya itu sambil bermain bersama. Usahanya cukup efektif. Mario yang semula rewel akhirnya bisa tenang dan tertidur. Julia menidurkan putranya di tempat tidur. Tanpa disadari, pria itu pun ikut tertidur di samping putranya. Di sisi lain, Nadine masih bersama Ana. Wasiat perempuan itu sungguh tak pernah Nadine bayangkan. Ibu mertuanya mendapatkan donor jantung dan pendonor itu adalah Ana, mantan menantunya sendiri. "Enggak, An. Kam
Julian sangat terkejut mendengar ucapan pengasuh anaknya. Apa mungkin terjadi sesuatu pada istrinya atau Nadine sedang berbohong? "Iya, Pak. Bu Nadine belum pulang. Saya mohon Pak, Bu Nadine suruh pulang biar Mario nggak nangis terus. Kasihan dari tadi nggak mau berhenti nangis!" jawab pengasuh itu apa adanya. Mendengar itu, Julian mengepalkan tangannya. Jika benar Nadine belum pulang, lantas ke mana perginya sang istri. "Baik, kamu jaga Mario dan tunggu aku pulang!" sahut Julian yang sudah sangat geram dengan tingkah istrinya. Ia sedang kalut memikirkan kesehatan sang ibu, tapi istrinya justru tidak menurut dan menelantarkan anaknya. "Nadine! Kamu di mana!" gerutu Julian. Pria itu langsung menghubungi nomor istrinya untuk mengetahui di mana sebenarnya wanita itu. Tapi sayangnya, Nadine tidak mengngkat telepon suaminya karena tasnya ia letakkan di atas meja dan ia tidak mendengarnya. Karena tak ada jawaban dari istrinya, Julian semakin marah. Ia pun mencari tahu sendiri di mana
Ya, Ana merespon ucapan Nyonya Hanum dengan menangis. Nyonya Hanum semakin bersedih. Kenapa sang putri mengalami nasib seburuk ini. Sebagai seorang ibu, tentu saja wanita tak ingin melihat putrinya menderita. Ia ingi putrinya sembuh dan hidup normal seperti yang lainnya. Tapi. jika melihat kondisi wanita itu saat ini. Nyonya Hanum harus bisa ikhlas, ia rela jika sang pencipta mengambil putrinya daripada melihatnya menderita seperti sekarang. Di saat yang bersamaan. Nadine datang. Wanita itu melihat sang sahabat yang tengah terbarng lemah di atas tempat tidur. Sedangkan di samping tempat tidur, Ia melihat seorang bayi lucu yang diletakkan di dalam kotak bayi. Nadine menatap wajah bayi cantik itu. Sepertinya bayi itu menyapanya karena tampak ia sedang tersenyum. "Halo, Sayang. Kamu cantik sekali, Nak." Nadine menimang sejenak bayi kecil Ana itu. Anehnya, sang bayi seperti sedang bahagia saat Nadine gendong. Seolah bayi itu begitu nyaman berada dalam gendongan Nadine. Wajahnya yang im
"Bu Ana, Anda kenapa?" tanya dokter panik. "Nggak tahu, Dok. Perut saya mules sekali, Mungkin anak saya sedang main sepak bola di dalam, rasanya sakit sekali!" rintih Ana sambil memegangi perutnya. "Ya Tuhan, Anda sepertinya mau melahirkan!" kata Dokter. Lalu Ana segera dibawa ke ruangan khusus. Nyonya Hanum langsung meluncur ke rumah sakit setelah mendapat informasi jika putrinya mau melahirkan. Di sisi lain, kondisi Nyonya Ratih makin kritis. Dokter tidak punya waktu lebih lama lagi. Wanita harus segera mendapatkan donor jantung secepatnya. Julian sangat terpukul dan frustasi. Ia sudah berusaha mencari indormasi donor jantung, namun sampai saat ini ia belum mendapatkan kabar baik. Bahkan ia sudah bayar mahal orang-orang yang suruh untuk mencari informasinya. Tetap saja hasilnya nihil. "Aarggghh! Kita harus bagaimana lagi? Apa mungkin nyawa Mama nggak akan tertolong?" rintih Julian sambil menatap iba sang Mama yang terbaring lemah di kamar ICU. Tuan Andi sepertinya sudah pasrah
Setlah menjawab pertanyaan suaminya. Nadine langsung membuka pintu mobil dan keluar dari sana. Rasanya napas semakin sesak saat berdua di dalam mobil bersama suaminya. Julian pun ikut menyusul sang istri dengan turun dari mobil. Setelah keduanya berada di luar. Nadine dan Julian segera pergi ke kamar di mana Nyonya Ratih dirawat. Kali ini Nadine berjalan di belakang suaminya, biasanya ia berjalan di samping pria itu. Tapi entah, sejak kejadian tadi siang, Nadine menjadi enggan untuk jalan bareng dengan Julian. Hal itu ia lakukan untuk membuat suaminya sadar dan jera. Sementara itu Tuan Andi selalu setia menemani istrinya. Pria itu berharap sang istri segera mendapatkan donor jantung dan nyawanya bisa diselamatkan. Setelah tiba di kamar Nyonya Ratih, Julian dan Nadine melihat kondisi Nyonya Ratih dari kejauhan. Wanita itu masih belum sadarkan diri sejak dirinya tak sadarkan diri. "Bagaimana kondisi Mama, Pa?" tanya Julian pada Tuan Andi. "Eh kamu, Jul. Seperti yang kamu lihat sek
Nadine memutar bola matanya mendengar ucapan Juki.“Nggak akan pernah! Membayangkannya saja aku udah ilfeel. Jadi jangan berpikir aku bakal ketagihan, dihh!” sahut Nadine dengan ketus.“Ya sudah terserah, Tante. Buruan pegangin! Lagipula saya juga belum tentu bisa tegang dielus-elus sama Tante. Say
Sepertinya Juki harus memberikan pengertian kepada Nadine bahwa itu bukanlah ular. "Ohhh, ini bukan ular, Tante. Tapi ini yang bakal bikin Tante hamil. Kalau nggak ada ini, ya gimana saya bisa transfer benih ke rahim Tante, masa lewat sedotan?!" kata Juki dengan entengnya.Akhirnya Nadine baru men
Juki hampir saja keceplosan. Pemuda itu segera meralat jawabannya pada pelanggan setianya."Eh maaf, maksudnya saya sedang sibuk bikin sate di rumah Tante Nadine. Jadi, mohon dimaklumi. Besok saya udah jualan lagi kok!"Akhirnya pelanggan Juki mengerti. Pemuda itu hampir saja mengatakan sesuatu yan
"Ba-baik, Tante!" jawab Juki. Nadine sendiri juga bingung. Sungguh, wanita itu nampak gusar seolah ia juga sangat gugup."Ya ampun, bisa kah aku melakukannya? Aku takut sekali. Hah, kalau saja Oma nggak maksain aku buat punya anak. Aku nggak bakalan ngelakuin hal gila kayak ini. Apalagi sama cowok







