LOGINPapa Julian terkejut ketika tubuh Mama Nadine mendadak terhempas. Bukan cuma Papa Julian saja yang terkejut namun Jasmine dan Mario juga tak kalah terkejutnya. "Mama!" teriak Papa Julian sambil menghampiri istrinya. "Mama! Mama kenapa, Pa?" seru Jasmine di mana video call itu masih terhubung namun ia masih tidak bisa melihat dengan jelas apa yang terjadi di sana. Sepertinya Papa Julian meletakkan ponselnya begitu saja. Di sisi lain Mario merasa jika sang Mama kenapa-kenapa. Ia khawatir terjadi sesuatu yang serius pada sang wanita itu. "Mama!" pekik pemuda itu sambil mengusap rambutnya kasar. Sedangkan Papa Julian langsung memeluk istrinya yang tiba-tibs lemas. Ponsel yang semula digenggamnya tiba-tiba lepas dan tergeletak di atas kursi. "Sayang, kamu kenapa?" tanya Papa Julian sambil menepuk ringan pipi sang istri, ia juga menyenyuh kening wanita itu, khawatir jika sang istri sakit tiba-tiba. "Aku nggak apa-apa, Pa. Aku cuma pusing saja. Anakmu si Mario....!" Belum sampai
Jasmine langsung salah tingkah antara takut dan bingung. Wajah gadis itu langsung pucat dan ia bingung harus berkata apa. "Emmm Papa...!" Suaranya terbata-bata dan terlihat sekali jika gadis itu sangat panik. "Kamu tidak usah sembunyikan apa pun dari Papa. Papa sudah tahu semuanya!" lanjut Papa Julian lagi. Kali ini Jasmine makin panik. Apa benar sang Papa sudah tahu semuanya. Berarti dugaannya benar. Mario dan sang Papa mengobrol lewat ponsel itu memang sedang membicarakan dirinya, dan sekarang sang Mama yang sedang mengobrol dengan sang Kakak. Jasmine bingung harus menjawabnya bagaimana sedangkan ia begitu malu untuk mengakuinya. Tapi di sini Papa Julian terlihat lebih tenang agar Jasmine bisa bicara leluasa dan merasa nyaman. "Kenapa kamu diam, Nak? Papa benar, kan?" seru Papa Julian saat melihat mimik wajah Jasmine yang tampak kebingungan karena takut. Jasmine memang takut. Ia takut kalau-kalau kedua orang tau angkatnya benar-benar marah dengan keputusannya bersama Mario
Seketika Mario terkesiap dan melihat layar ponselnya. Kenapa ada suara sang Mama. Lalu ke mana Papa Julian? "Shit! Itu kan suara Mama!" gerutu Mario panik. Di sisi lain Papa Julian langsung menghampiri istrinya dan menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi. "Eh, Mama. Sini biar Papa yang ngomong sama Mario!" seru Papa Julian meminta ponselnya dari tangan sang istri. Dengan tegas Mama Nadine menolaknya. "Enggak! Papa diem aja biar Mama yang ngomong!" sahut Mama Nadine. Papa Julian tak bisa berkutik. Pria itu garuk-garuk kepalanya dan sepertinya ia harus bersiap-siap mendengar amarah dari sang istri saat tahu apa yang sudah anak mereka lakukan pada Jasmine. Mama Nadine kembali menempelkan ponsel itu di telinganya. Dengan wajah kesal wanita itu kembali meminta Mario untuk mengulangi kata-katanya. "Halo, Mario! Ini Mama yang ngomong. Kamu bilang apa tadi? Ulangi!" desak sang Mama dengan tegas. Mario manjdi bingung. Ia pikir sang Papa masih ada di sana ternyata bukan. Justru sang M
Papa Julian tercengang mendengar pengakuan sang anak. Entah ia harus marah atau diam saja. Sepertinya Papa julian harus meluruskan dan menjelaskannya pada keluarga besar agar tidak terjadi salah paham. "Hah, entahlah Papa pusing! Suka-suka kamu aja lah, Papa sendiri juga tidak bisa melarang. Bener yang kamu bilang, daripada menjadi dosa mending disahkan saja. Eh, tapi kalian nikah di mana?" cecar Papa Julian. "Di rumah Pak Kodir, Pa," jawab Mario dengan lantang. "Kamu pergi ke rumah Pak Kodir?" sahut sang Papa lagi. "Iya, Pa. Pak Kodir yang membantu kami untuk menikah. Pak Kodir juga yang menjadi saksi pernikahan kami hari ini." Mario akhirnya menjekaskan semuanya pada sang Papa. Setidaknya ia lega dan tidak sembunyi-sembunyi lagi menjalin hubungan. Papa Julian sempat memijit kepalanya yang mendadak pening. Sang anak sulung sudah terlanjur menikahi Jasmine. Sekarang kewajibannya adalah menjelaskan kepada keluarga besarnya tentang pernikahan sang anak. "Plis, Pa. Papa tolong Mar
"Tunggu-tunggu! Jangan sampai dugaan Papa benar nih. Kamu nggak main-main kan, Nak?" seru Papa Julian mulai serius karena ia tahu siapa gadis yang dimaksud oleh putranya itu. "Memangnya Papa sudah tahu siapa dia?" tanya Mario. "Jasmine!" Tanpa basa-basi sang papa langsung menyebut nama gadis itu yang tak lain adalah putri angkatnya sendiri, Jasmine. Mario langsung bereaksi. "Papa tahu dari mana?" sahut Mario heran pasalnya dirinya belum pernah mengtaakan kepada orang tuanya tentang perasaannya kepada Jasmine. "Papa sudah menduganya!" kata Papa Julian. Mario tampak malu tapi ia tidak mungkin bisa menyembunyikan ini untuk selamanya. "Iya, Pa. Gadis itu adalah Jasmine. Aku mohon Papa jangan marah!" ujar pemuda itu yang sedikit takut jika sang Papa akan murka karena kedua orang tuanya berharap ia mendapatkan gadis lain selain Jasmine. Papa Julian menghela napas panjang. Ini memang di luar kehendaknya. Cinta memang tidak bisa dipaksakan, lebih-lebih Mario sudah tahu bagaiamana stat
Ya, ternyata Papa Julian tengah menghubungi nomor sang anak sulung untuk menanyakan bagaimana kabar rumah. Nenek dan kedua adik perempuannya. "Halo, Pa!" sapa Mario terpaksa harus menunda obrolannya dengan Nyonya Ratih. "Hai, Son! Bagaimana kabar kalian?" jawab Papa Julian yang saat itu sedang berada di kamar bersama Mama Nadine yang juga sedang mengobrol secara virtual dengan Jasmine. "Alhamdulillah, kami semua baik, Pa. Papa dan Papa sendiri gimana kabarnya?" tanya balik Mario. Pemuda itu harus tenang agar kedua orang tuanya tidak khawatir. "Syukurlah!" jawab Papa Julian. "Iya, Pa. Di mana Mama, Pa?" tanya Mario mengalihkan pembicaraan sambil keluar dari kamar itu. Setidaknya ia bisa berbicara lebih leluasa dengan ayahnya. "Mamamu? Ada di sini. Dia sedang ngobrol dengan adikmu rupanya! Video call!" jawab Papa Julian. "Ngobrol dengan adikku? V-call dengan Jasmine?" sahut Mario. "Iya, sepertinya Mamamu terlihat serius. Entah apa yang mereka obrolkan!" kata Papa Julian lagi.
Nadine memutar bola matanya mendengar ucapan Juki.“Nggak akan pernah! Membayangkannya saja aku udah ilfeel. Jadi jangan berpikir aku bakal ketagihan, dihh!” sahut Nadine dengan ketus.“Ya sudah terserah, Tante. Buruan pegangin! Lagipula saya juga belum tentu bisa tegang dielus-elus sama Tante. Say
Sepertinya Juki harus memberikan pengertian kepada Nadine bahwa itu bukanlah ular. "Ohhh, ini bukan ular, Tante. Tapi ini yang bakal bikin Tante hamil. Kalau nggak ada ini, ya gimana saya bisa transfer benih ke rahim Tante, masa lewat sedotan?!" kata Juki dengan entengnya.Akhirnya Nadine baru men
Juki hampir saja keceplosan. Pemuda itu segera meralat jawabannya pada pelanggan setianya."Eh maaf, maksudnya saya sedang sibuk bikin sate di rumah Tante Nadine. Jadi, mohon dimaklumi. Besok saya udah jualan lagi kok!"Akhirnya pelanggan Juki mengerti. Pemuda itu hampir saja mengatakan sesuatu yan
"Ba-baik, Tante!" jawab Juki. Nadine sendiri juga bingung. Sungguh, wanita itu nampak gusar seolah ia juga sangat gugup."Ya ampun, bisa kah aku melakukannya? Aku takut sekali. Hah, kalau saja Oma nggak maksain aku buat punya anak. Aku nggak bakalan ngelakuin hal gila kayak ini. Apalagi sama cowok







