LOGINJasmine meminum jusnya tinggal separuh. Gadis itu memang sangat haus. Lalu Yongki mengajak gadis itu untuk beristirahat sejenak dengan alasan menunggu kedua orang tuanya datang. Gadis itu pun menurut tanpa ciriga. "Duduklah! Kamu bisa santai-santai dulu sambil nunggu Mamaku datang," kata Yongki yang juga ikut duduk di sofa. Jasmine tersenyum dan sedikit canggung karena baru kali pertama dirinya dikenalkan dengan orang tua Yongki, cowok terkeren di sekolahnya. Di jalan, Mario fokus untuk segera sampai di tempat Yongki. Kurang lima kilometer lagi ia sudah sampai. "Jasmine, kenapa kamu nggak mau dengerin ucapanku! Hah, dasar keras kepala!" umpat Mario dengan mengeratkan giginya. Sesekali ia memukul setir mobilnya saat teringat bagaiman Jasmine yang tak mau mendengarnya. Jasmine sendiri setelah beberapa menit meminum jus itu. Entah kenapa kepalanya menjadi pusing, pandangan matanya jadi kabur dan ia berat untuk berdiri. "Aduh kepalaku!" rintih gadis itu sambil memegangi kepalanya y
Emma geleng-geleng kepalanya saat mendengar jawaban Nyonya Ratih. Gadis itu tak habis pikir jika Nyonya Ratih akan bicara demikian. Sementara itu, Jasmine masih berusaha merebut ponselnya dari teman-temannya. Gadis itu menjadi kesal karena teman-temannya sudah sangat keterlaluan. "Balikin HP-ku! Kalian jahat banget sih!" teriak Jasmine yang terlihat kelelahan mengejar teman-temannya. Gadis itu tampak kelelahan sambil memegangi perutnya. Di saat yang bersamaan seorang pria datang menghampiri Jasmine sambil mengulurkan tangannya. "Bangunlah!" kata laki-laki itu kepada Jasmine. Gadis itu mendongak sambil melihat siapa yang mengulurkan tagan padanya. Jasmine melihat wajah pemuda yang sangat dikenalinya. "Kak Yongki!" katanya dengan wajah yang berbinar. Ya, pemuda itu adalah Yongki. Pemuda itu datang membantu Jasmine. Jasmine berdiri sambil meraih tangan Yongki. Lalu, Yongki meminta agar ponsel Jasmine dikembalikan. Tak lama, ponsel Jasmine dikembalikan dan gadis itu mendapatkan k
Emma yang semula ada di dalam, gadis itu terkejut saat melihat Mario yang pergi terburu-buru. "Kakak mau ke mana buru-buru?" Gadis itu berlari mengikuti kepergian Mario. Mario sendiri buru-buru karena ia harus menyelamatkan adiknya. Ia memiliki firasat buruk tentang Jasmine. "Kakak! Kakak mau ke mana?" tanya Emma saat Mario membukan pintu mobil. Mario menoleh dan pria itu langsung memarahi adik bungsunya. "Kamu! Berani sekali kamu bohongi kakak!" jawab Mario dengan emosi. "Maksud kakak apa?" tanya Emma bingung karena tiba-tiba saja Mario memarahinya. "Hah! Aku tidak punya waktu banyak. Jasmine sedang dalam bahaya, ngerti!" kata Mario yang langsung masuk ke dalam mobilnya. BRAAKKK Suara pintu mobil ditutup dengan keras. Lalu Mario segera menghidupkan mesin mobilnya dan segera melajukan mobilnya ke jalan raya. Emma langsung berpikir apa mungkin yang dikatakan sang Kakak benar jika Jasmine sedang dalam bahaya. "Kak Jasmine dalam bahaya? Kok Kak Mario tahu?" batin Emma lebih bi
Mario menoleh tanpa berucap. Pemuda itu disindir oleh adik bungsunya sendiri. Ia hanya menatap kedua gadis itu. Bibirnya diam tapi ia tahu pasti ada sesuatu di balik kepergian Jasmine kali ini. Emma pun berkata pada sang Kakak dan membujuk Mario agar pemuda itu mengizinkan Jasmine pergi. "Aduh kakak, biarin aja lah kak Jasmine pergi. Toh, kak Jasmine pergi sama teman-teman ceweknya!" kata Emma merayu. Mario pun buka suara soal pakaian Jasmine yang menurutnya terlalu berlebihan. "Iya kakak tahu, kamu nggak lihat bajunya? Itu di atas lutut, kayak nggak ada baju yang lain saja!" protes Mario sammbil menunjuk ke arah Jasmine. Emma menoleh ke arah Jasmine. "Ya elah, aku juga sering pakai baju yang panjangnya segitu. Nggak apa-apa tuh, yang penting kita bisa jaga diri. Lagian ya kita perginya rame-rame. Cewek-cewek semua lagi. Masa kakak nggak percaya sama adek sendiri? Kalau kakak mau gabung ya udah gabung aja sama mereka biar tahu gimana dunia cewek itu!" kata Emma. Kali ini Mario m
Jasmine setuju dengan pendapat adiknya. Mungkin dengan cara ini ia bisa melupakan Mario. Dilema berat antara memilih Mario dan orang tuan angkatnya yang sangat menyaynginya. "Maafkan aku, Kak. Tak seharusnya kita seperti ini. Aku nggak bisa mengecewakan Mama dan Papa. Aku harus berbakti pada mereka meskipun aku harus mengorbankakn perasaan sendiri," batin Jasmine. Tapi tidak bagi Mario. Pemuda itu akan terus memperjuangkan cintanya kepada Jasmine. Bahkan ia rela menerobos aturan keluarga tentang Jasmine yang harus ia anggap sebagai adiknya sendiri. Sepertinya Mario tidak bisa menganggap Jasmine sebagai saudaranya. Ia tahu Jasmine datang saat dirinya berusia tujuh tahun dan Mario sendiri sudah mengincar Jasmine sejak gadis itu berada di dalam perut Ana. "Jasmine, setelah Mama dan Papa pulang dari Belanda, aku akan mengumumkan jika aku akan menikahimu. Aku tak peduli omongan orang-orang. Aku pasti akan menjadikanmu sebagai istriku secepatnya!" batin Mario yang sudah sangat yakin de
Malam ini akhirnya Mama Nadine dan Papa Julian terbang Belanda untuk perjalanan bisnis. Selama kurang lebih dua sampai tiga bulan mereka akan tinggal di sana dan meninggalkan anak-anak bersama nenek mereka. "Mama dan Papa hati-hati, ya! Kita semua pasti merindukan kalian!" ucap Emma pada kedua orang tuanya sebelum take off. "Tentu saja, Sayang. Kami berdua juga pasti merindukan kalian. Baik-baik ya sama Oma. Jangan nakal, ingat!" jawab Mama Nadine sambil mencubit hidung si bungsu. "Emmm enggak lah, Ma. Mana ada kita nakal. Yang ada kakak tuh yang nakal," jawab Emma sambil menunuk ke arah Mario yang berdiri di samping Papa Julian. Pemuda itu cuma diam namun matanya seolah berkata akan memberikan hukuman pada Emma. Semuanya tertawa dan Mario tampak cuek dan tidak peduli. Di sisi lain Nyonya Ratih mendoakan pada anak dan menantunya agar bisnis mereka sukses dan kembali ke Indonesia dengan selamat. Lalu Mario juga mengucapkan selamat jalan pada kedua orang tuanya. Selama Mama Nadine
“Diafff kamfu!” teriak Nadine lagi. Kali ini Juki berusaha untuk tidak tertawa meskipun ia ingin sekali tertawa mendengar jawaban wanita itu. Konyol, ini sangat konyol. Bagaimana nanti jika dirinya jadi hidup serumah dengan wanita itu, pasti hari-harinya dipenuhi dengan kegilaan. “Iya, iya, maafk
"Aduhhh, susah amat nusuknya, alot bener nih daging sampai pegel tangan!" Juki menggerutu saat ia sedang menusuk daging kambing yang teksturnya cukup keras. Seperti biasa Juki selalu membuat puluhan tusuk daging sapi dan kambing untuk dagangannya sebagai tukang sate. Namun tiba-tiba... "Daripada
Juki hampir saja keceplosan. Pemuda itu segera meralat jawabannya pada pelanggan setianya."Eh maaf, maksudnya saya sedang sibuk bikin sate di rumah Tante Nadine. Jadi, mohon dimaklumi. Besok saya udah jualan lagi kok!"Akhirnya pelanggan Juki mengerti. Pemuda itu hampir saja mengatakan sesuatu yan
"Ba-baik, Tante!" jawab Juki. Nadine sendiri juga bingung. Sungguh, wanita itu nampak gusar seolah ia juga sangat gugup."Ya ampun, bisa kah aku melakukannya? Aku takut sekali. Hah, kalau saja Oma nggak maksain aku buat punya anak. Aku nggak bakalan ngelakuin hal gila kayak ini. Apalagi sama cowok







