Masuk"Oma bagaimana ini? Sepertinya Mario marah sama aku," seru Cerry dengan manja. Nyonya Ratih tampak menenangkan gadis itu. "Jangan khawatir, Sayang! Oma pasti akan membantumu untuk mendapatkan Mario. Kamu yang sabar, ya!" jawab Nyonya Ratih. Setelah kejadian itu, Mario dan Jasmine makin dekat. Bahkan pemuda itu sudah bersiap menikahi Jasmine meskipun harus diam-diam. Jika dirinya mengatakan sekarang, mungkin keluarganya tidak akan menrestui hubungan mereka. Daripada hubungan mereka tidak jelas dan semakin menambah dosa. Mario memutuskan untuk menikahi Jasmine secara diam-diam. Setelah tiba waktunya, Mario pasti akan mengatakan kepada keluarganya tentang hubungan mereka. Siang itu, tanpa ada pemberitahuan, Mario datang ke sekolah Jasmine. Pemuda itu menjemput sang adik dan membawanya ke sebuah tempat yang sudah disiapkannya. Pria itu sudah menyiapkan segalanya bahkan ia juga sudah menyiapkan jawaban untuk Emma yang pasti tanya kenapa dirinya menjemput Jasmine agar tidak ada yang cu
Tamparan itu sangat keras sampai-sampai membuat pipi Cerry memerah. Semuanya terkejut bukan main lebih-lebih Nyonya Ratih. Wanita itu langsung mengomel dan mengata-ngatai Jasmine. "Jasmine! Kamu sudah kurang ajar sama Cerrry. Sini! Biar Oma kasih pelajaran buat kamu!" Nyonya Ratih sepertinya ingin memberikan hukuman pada Jasmine. Wanita itu tampak menyeret tangan Jasmine namun dengan cepat Mario menghalanginya. "Jangan sentuh Jasmine, Oma! kata pemuda itu sembari menepis tangan sang Oma. Nyonya Ratih langsung marah pada sikap Mario yang lebih membela Jasmine. "Mario! Kamu ini kenapa sih?" seru Nyonya Ratih. "Oma yang kenapa? Harusnya Oma membela Jasmine daripada Cerry!" jawab Mario yang kini menjadi garda terdepan bagi Jasmine. "Loh! Apa yang dikatakan Cerry itu benar. Oma setuju dengannya. Si Jasmine itu cuma anak pungut. Dia anak nggak jelas dan anak haram! Harusnya dia sadar diri dong. Dia ada di rumah ini karena kebaikan Mama dan Papa kalian saja. Oma sebenarnya tidak pernah
"Jangan bicara begitu, sebentar lagi Oma pasti akan mengakuimu sebagai cucunya!" sahut Mario. "Nggak mungkin!" "Kenapa nggak mungkin? Semuanya bisa saja terjadi. Kamu memang bukan cucu kandungnya tapi kamu akan menjadi cucu menantunya, aku pastikan itu!" ahut Mario. Kali ini pernyataan pemuda itu sukses mmebuat Jasmine tersipu malu. Akhirnya mereka memutuskan untuk kembali ke rumah. Jasmine berpindah duduk di kursi depan menemani Mario menyetir. Pemuda itu tampak begitu bahagia ketika Jasmine sudah menjadi miliknya. Sekaranga ia harus mempersiapkan untuk menikahi Jasmine secara sah. Dengan begitu hubungan mereka akan jelas. Sekitar satu jam setengah perjalanan, akhirnya mobil Mario tiba di rumahnya. Ternyata bukan cuma Nyonya Ratih dan Emma saja yang mencemaskan kedatangan Mario, tapi ada seorang wanita yang merupakan teman kkuliah Mario datang ke rumah untuk mengetahui bagaimana kabar Mario secara langsung. Dialah Cerry, gadis yang menyukai Mario dan berharap bisa mendapatkan
Sedangkan Nyonya Ratih dan Emma bingung setengah mati menunggu kepulangan Mario dan Jasmine. "Aduhhh, kakakmu ini pada ke mana sih? Mereke ini bikin panik aja!" gerutu Nyonya Ratih yang tak mendapati panggiannya dijawab. "Kita tunggu aja, Oma. Mungkin bentar lagi mereka datang!" jawab Emma. "Semua ini memang gara-gara si Jasmine. Kalau saja dia nggak pergi sama teman-temannya mungkin nggak jadi kayak gini. Ngerepotin aja tuh anak!" gerutu Nyonya Ratih lagi. Emma sendiri juga masih belum tahu ke mana dua kakakanya itu. Sedangkan menurut pengakuan Hilda saat Emma bertanya di mana Jasmine, ia mendapati informasi jika Jasmine sudah pergi bersama Mario semalam. "Kakak pada ke mana, ya? Semoga saja mereka ngggak kenap-kenapa. Mana ponselnya sama-sama nggak diangkat lagi!" gumam Emma. Sementara itu, Jasmine dan Mario sedang menikmati kebersamaan mereka. Napas mereka saling berkejaran seiring kenikmatan yang sangat mencengkeram hati mereka. "Ahhhhhh!" Lenguhan panjang itu mengisi selu
Mendengar pengakuan polos sang adik, Mario tersenyum lagi tapi kali ini senyumnya beda. "Jadi, kamu ingin mengulanginya?" tanya Mario tiba-tiba dengan tatapan matanya yang begitu dalam. Jasmine langsung terhenyak dan mulai panik. "Hah! Mengulangi bagaimana?" jawab gadis itu dengan kelopak mtanya yang berkedip berkali-kali. "Seperti katamu tadi, katanya kamu ingin merasakannya setelah efek obatnya hilang. Bukankah sekarang efeknya sudah hilang? Buktinya kamu sudah siuman dan sadar lagi, bukan? Ayo, kita ulangi lagi? Mau berapa ronde, aku masih kuat kok!" kata Mario dengan entengnya. Seketika Jasmine mendorong dada Mario keras-keras. "Ihhh apa sih, Kak! Jangan macam-macam, ya? Atau aku teriak!" ancam Jasmine. Mario terkekeh mendengarnya. "Teriak saja, kamu lihat kita ada di mana, hmm? Kita berada di tengah hutan, Sayang. Hanya ada kita berdua dan mungkin hewan buas!" jawab Mario. Tiba-tiba Jasmine merasa ketakutan dan menggeser duduknya sembari memperhatikan sekeliling. "Janga
"Kamu pasti baru bangun!" jawab pria itu yang ternyata adalah Mario sendiri. Pemuda iru sengaja keluar dari mobil karena ia hanya ingin menikmati udara pagi. "Kakak!" sahut Jasmine kebingungan. Ia juga panik sambil berusaha menutupi tubuhnya lagi dengan kemeja milik Mario. Sedangkan Mario, pemuda itu menunduk dengan kedua tangannya berpegangan pada atap mobil. Ia tersenyum menatap Jasmine yang tampak bingung. "Apa yang terjadi? Kenapa kita ada di sini, Kak? Dan aku! Di mana bajuku? Kenapa baju kakak ada di sini?" Gadis itu benar-benar masih tak ingat kejadian semalam. Sungguh ia benar-benar tak ingat jika semalam dirinya dan Mario telah melanggar batas-batas norma. "Jadi kamu nggak ingat?" tanya Mario. Jasmine menggelengkan kepalanya lagi. Namun ada sesuatu yang membuatnya bertanya-tanya. Bahwa dirinya merasakan ada yang terasa ngilu pada bagian tubuhnya. Dengan polos, Jasmine menjawab sambil menunjuk ke arah yang sakit. "Di sini! Di sini, rasanya ngilu banget, Kak. Kayak ada yan
“Diafff kamfu!” teriak Nadine lagi. Kali ini Juki berusaha untuk tidak tertawa meskipun ia ingin sekali tertawa mendengar jawaban wanita itu. Konyol, ini sangat konyol. Bagaimana nanti jika dirinya jadi hidup serumah dengan wanita itu, pasti hari-harinya dipenuhi dengan kegilaan. “Iya, iya, maafk
"Aduhhh, susah amat nusuknya, alot bener nih daging sampai pegel tangan!" Juki menggerutu saat ia sedang menusuk daging kambing yang teksturnya cukup keras. Seperti biasa Juki selalu membuat puluhan tusuk daging sapi dan kambing untuk dagangannya sebagai tukang sate. Namun tiba-tiba... "Daripada
Nadine memutar bola matanya mendengar ucapan Juki.“Nggak akan pernah! Membayangkannya saja aku udah ilfeel. Jadi jangan berpikir aku bakal ketagihan, dihh!” sahut Nadine dengan ketus.“Ya sudah terserah, Tante. Buruan pegangin! Lagipula saya juga belum tentu bisa tegang dielus-elus sama Tante. Say
Sepertinya Juki harus memberikan pengertian kepada Nadine bahwa itu bukanlah ular. "Ohhh, ini bukan ular, Tante. Tapi ini yang bakal bikin Tante hamil. Kalau nggak ada ini, ya gimana saya bisa transfer benih ke rahim Tante, masa lewat sedotan?!" kata Juki dengan entengnya.Akhirnya Nadine baru men







