MasukAna langsung menoleh ke arah Carlota yang sedang tertawa."Heh! Kenapa ketawa?" tanyanya dengan mata melotot. Julian sendiri sebenarnya juga ingin tertawa. Suara tawa Carlota terdengar begitu renyah dan lucu."Enggak, Nyonya. Nggak ada. Saya cuma ketawa karena keinget mimpi semalam nabok pantat sapi, hehehe!" jawabnya pura-pura. Julian makin geli ingin ketawa terus. Namun ia berusaha untuk menyembunyikannya dengan menutupi mulutnya dengan tangan dan sedikit menundukkan kepalanya."Nabok pantat sapi. Dasar! Mimpi kok aneh-aneh!" umpat Ana. Carlota cuma cengar-cengir sambil melihat ke arah Julian yang seperti sedang menertawakan dirinya."Ya sudah ayo, Mas! Dokter Boynche pasti sudah nungguin!" ucap Ana langsung kepada suaminya. Lalu, ia berkata juga kepada Carlota."Dan kamu Carlota! Aku dan bapak pergi ke dokter. Ingat! Jika ada tetangga baru itu minta tolong atau butuh sesuatu, kamu bilang nggak bisa. Gitu, ya! Awas saja kalau kamu ketahuan bantuin tetangga baru itu. Aku pecat kamu!"
Julian terhenyak melihat video itu. Rupanya hubungannya dengan Soraya bukan sekedar hubungan biasa. Tapi ini sudah di luar kendali. Apa mungkin Soraya adalah wanita pengganti Nadine. Karena apa yang dirasakannya sama persis dengan apa yang dilakukannya pada Nadine. "Soraya!" gumamnya. Ana langsung menarik ponselnya dan segera menyimpannya kembali. "Mas, kau tahu apa artinya ini? Jika Mama Ratih tahu kamu berselingkuh dengan perempuan itu. Aku nggak yakin Mama akan baik-baik saja. Jadi, jangan sampai berita menjijikan ini didengar oleh Mama. Kamu tahu resikonya, kan?" kata Ana mengingatkan tentang penyakit jantung Nyonya Ratih jika tahu putranya berselingkuh. Pasti penyakitnya akan kambuh lagi. Julian tahu itu. Ia berharap Ana tidak menceritakan hubungannya dengan Soraya kepada Nyonya Ratih. "Jangan! Aku mohon jangan katakan pada Mama. Ini bisa bahaya!" ucap Julian memohon. Ana tersenyum senang. Sepertinya ini adalah senjata ampuh untuk membuat Julian menurut padanya. "Ohhh, tida
Secara tidak sadar, Ana menelan ludahnya susah-susah. Tubuh kekar suaminya telah membuat wanita itu gugup dan membayangkan bagaimana keperkasaan suaminya yang cuma hanya di lamunannya saja. "Gila! Suamiku memang secepatnya ini. Tubuhnya benar-benar sempurna dan gagah. Beruntung sekali Nadine bisa merasakan keperkasaannya. Sedangkan aku? Melihatku saja dia tidak mau. Seandainya saja dia mau menyentuhku, pasti aku nggak mau lepas dari pelukannya, pingin dikekepin terus!" Ana bergumam dalam hatinya. Julian mendekati istrinya yang sedang melamun. Lalu, ia memetik jari di depan wajah wanita itu untuk menyadarkan Ana. "Hei, apa yang kamu lihat?" seru Julian dengan sedikit menundukkan kepalanya. Memperhatikan wajah Ana yang sedang tidak fokus. Ana terkesiap, wanita itu kembali menelan ludahnya dan melihat Julian yang tengah berdiri di depannya dengan hanya bertelanjang dada. Ana membalasnya dengan menyentuh dada pria itu. Ia berharap Julian tertarik padanya dan mau menyentuhnya. "Mas,
Carlota tetap mengelak. "Ya ampun, Nyonya. Beneran saya tidak melihat siapapun apalagi Pak Julian. Tadi saya langsung pulang dan masuk ke dalam mau tidur lagi. Eh, nggak tahunya Nyonya datang lagi. Apa Bu Soraya mengusir Anda? Eh, maksud saya apa dia marah karena Nyonya berani masuk ke rumahnya?" kata Carlota memang sengaja menyindir Ana. "Siapa yang berani marah padaku? Aku tidak takut sama siapa pun termasuk wanita jalang itu. Dia itu perempuan munafik. Kita lihat saja nanti. Aku pasti akan membuatnya mati, aku sangat membencinya!" gerutu Ana dengan wajah serius. Rupanya hal itu cukup membuat Carlota khawatir. Ana pasti sedang merencanakan sesuatu yang buruk terhadap Soraya. Sama halnya dengan yang dilakukannya terhadap Nadine. "Gawat! Pasti perempuan ini sedang merencanakan sesuatu untuk menyingkirkan Bu Soraya. Sepertinya aku harus melakukan sesuatu. Semua ini aku lakukan demi Bu Nadine. Wanita ini tidak boleh menguasai Pak Julian. Lewat Bu Soraya, aku yakin sekali dia wanita
Julian akhirnya pulang ke rumahnya bersama Carlota. Sedangkan Ana, wanita itu masih sibuk berbicara dengan Soraya untuk mencari keberadaan sang suami. "Sekarang katakan tidak usah berbelit-belit. Di mana suamiku kamu sembunyikan, katakan!" desak Ana. Soraya nampak tersenyum sambil menyilangkan kedua tangannya. "Ya ampun, sudah masuk rumah orang tanpa permisi, sekarang nuduh aku menyembunyikan suamimu. Mau kamu apa sihh, Nyonya? Kalau suamimu pergi ya itu salahmu kenapa kamu nggak gembok aja pintu rumahmu. Lagian buat apa aku sembunyikan suami orang!" kata Soraya sambil mengibaskan rambutnya. Ana semakin geram. Entah kenapa ia masih curiga jika Soraya lah yang telah bersama suaminya. Apalagi saat itu Soraya hanya mengenakan lingerie seksi yang sangat terbuka dan tubuhnya nampak keringatan. "Bohong! Aku tahu kamu pasti bersama suamiku. Dasar wanita jalang! Kamu goda suamiku dan kamu juga yang sudah merusak rumah tangga orang lain. Aku tidak akan biarkan kamu hidup tenang. Aku p
Julian membelalakkan matanya saat seorang wanita sedang memanggil dirinya. Lalu dengan cepat pria itu menoleh dan seketika kedua matanya kembali melotot. "Carlota!" panggil Julian. Ya, wanita yang memanggilnya adalah Carlota, pembantu rumah tangganya. "Pak Julian dari mana?" tanya Carlota pura-pura meskipun wanita itu sudah tahu. Apalagi lampu sudah menyala. Dirinya juga bingung bagaimana bisa lampunya menyala dengan sendirinya. Atau kah Soraya memang sengaja melakukan itu demi untuk bersamanya. "Aku! A-aku nggak dari mana-mana," jawab Julian panik. "Kalau nggak dari mana-mana kenapa pak Julian takut? Terus, kenapa bapak keringetan gitu?" tanya Carlota lagi. "Ohhh, iya, ini tadi aku habis olahraga. Ya biasalah ya, kalau habis olahraga pasti keringetan!" jawab Julian sambil mempraktekkan dirinya yang sedang berolahraga dengan menggerakkan kaki dan tangannya. Sebenarnya Carlota ingin sekali tertawa mendengar alasan Julian yang tidak masuk akal. Wanita itu sangat yakin sekali jika
"Aduhhh, susah amat nusuknya, alot bener nih daging sampai pegel tangan!" Juki menggerutu saat ia sedang menusuk daging kambing yang teksturnya cukup keras. Seperti biasa Juki selalu membuat puluhan tusuk daging sapi dan kambing untuk dagangannya sebagai tukang sate. Namun tiba-tiba... "Daripada
Nadine memutar bola matanya mendengar ucapan Juki.“Nggak akan pernah! Membayangkannya saja aku udah ilfeel. Jadi jangan berpikir aku bakal ketagihan, dihh!” sahut Nadine dengan ketus.“Ya sudah terserah, Tante. Buruan pegangin! Lagipula saya juga belum tentu bisa tegang dielus-elus sama Tante. Say
Sepertinya Juki harus memberikan pengertian kepada Nadine bahwa itu bukanlah ular. "Ohhh, ini bukan ular, Tante. Tapi ini yang bakal bikin Tante hamil. Kalau nggak ada ini, ya gimana saya bisa transfer benih ke rahim Tante, masa lewat sedotan?!" kata Juki dengan entengnya.Akhirnya Nadine baru men
Juki hampir saja keceplosan. Pemuda itu segera meralat jawabannya pada pelanggan setianya."Eh maaf, maksudnya saya sedang sibuk bikin sate di rumah Tante Nadine. Jadi, mohon dimaklumi. Besok saya udah jualan lagi kok!"Akhirnya pelanggan Juki mengerti. Pemuda itu hampir saja mengatakan sesuatu yan







