LOGINJasmine benar-benar terkejut dan tak percaya begitu saja. Pak Purba adalah pengusaha kaya dikenal baik. Pria itu merupakan relasi bisnis Papa Julian dan anaknya juga merupakan teman kuliah Mario, Cerry. "Nggak mungkin! Pak Purba adalah salah satu pelaku yang memperkosa Mama? Ini pasti salah aku harus mencari info yang jelas dan terpercaya. Kadang media bisa saja bohong dan ngawur!" gerutu gadis itu. Ia kembali melanjutkan pencariannya. Di saat Jasmine sedang sibuk mencari informasi tentang identitas para pelaku pemerkosa sang Mama. Di tempat lain yang berbeda, Pak Purba juga sedang gencar mencari informasi tentang anak almarhum Ana. Karena rasa bersalahnya yang begitu tinggi, pria itu harus mencari keberadaan anak perempuan yang dilahirkan oleh Ana. "Cari informasi tentang anak itu. Aku mau kalian menemukan di mana dia sekarang, di mana tempat tinggalnya dan dengan siapa dia tinggal," titah Pak Purba pada tim detektif suruhannya. "Baik, Tuan! Kami akan melaksanakannya!" jawab mere
Mario langsung menoleh ke belakang. Pemuda itu sangat terkejut ketika meihat Nyonya Ratih jatuh. "Oma!" Mario langsung menghampiri Nyonya Ratih dan membantunya untuk bangun. "Maafkan aku, Oma. Oma nggak apa-apa, kan?" tanya Mario panik. Sepertinya Nyonya Ratih memiliki sebuah rencana. Ia melihat wajah Mario sangat cemas sehingga ia berpikir untuk memanfaatkan keadaan. "Aduuuhh pinggang Oma sakit banget!" rintih Nyonya Ratih sambil pura-pura memegangi pingganya. Sepertinya wanita itu telah memfitnah pinggangnya untuk membohongi Mario agar mau dijodohkan dengan Cerry. Di saat yang bersamaan, Emma datang dan melihat sang Oma berada di lantai dan Mario yang terlihat panik. "Astagfirullah, Oma. Oma kenapa?" tanya Emma yang langsung menghampiri mereka. "Oma kenapa, Kak?" Emma sendiri sangat cemas melihat sang Oma tampak kesakitan. "Oma jatuh!" jawab Mario. "Ya Tuhan, kok bisa sih jatuh? Mana yang sakit, Oma?" tanya Emma yang ikut panik. "Pinggang Oma rasanya mau patah, sakit sek
Di sisi lain Jasmine dan Mario tak sadar jika Nyonya Ratih tengah memperhatikan mereka. Keduanya justru asyik bercanda dan ketawa-ketawa. "Habis ini mandiin aku, ya?" bisik Mario di telinga Jasmine. Gadis itu merasa geli sambil mencubit pinggang Mario. "Nggak mau, mandi sendiri sono!" jawab Jasmine. "Ya nggak bisa. Pokoknya kamu kudu mandiin aku. Aku kan suamimu sekarang!" kata Mario lagi. "Ihhh, ogah! Kakak pasti mau jailin aku, kan? Aku yakin sekali!" jawab Jasmine yang sudah tahu isi kepala suaminya. Mario mengulum senyumnya dan spontan mencium pipi sang istri. Hal itu tanpa mereka sadari ada sepasang mata yang marah melihatnya. "Ihhh, jangan di sini, Bang. Nanti Oma ngelihat kita gimana?" seru Jasmine sambil mendorong dada pemuda itu. "Nggak urus! Biarin aja Oma tahu!" sahut Mario tak peduli sama sekali. Benar saja, keduanya dikejutkan dengan Nyonya Ratih yang tiba-tiba berdiri di depan mereka sambil menyilangkan kedua tangan menatap tajam ke arah kedua cucunya. "Oma!"
Jasmine langsung mencubit lengan suaminya. "Aduh!" pekik Mario sambil mengusap-usap bekas cubitan istrinya. "Udah ya, Kak. Mending kakak nggak usah pesan-pesan jamu segala!" kata Jasmine sambil mengerucutkan bibirnya. Mario dengan entengnya menjawab kata gadis itu. "Memangnya kamu nggak mau punya anak dari Kakak?" Jasmine langsung melototkan matanya dan tampak gemas dengan jawaban konyol Mario. "Apa sih kakak, nih! Aku masih sekolah jadi nggak mungkin aku punya anak!" sahut gadis itu. "Ya nggak apa-apa lah. Lagian sebentar lagi kamu juga lulus nggak bakalan kentara!" jawab Mario dengan santainya. "Tetap enggak! Kalau mau punya anak nanti-nanti saja. Aku nggak mau badan aku melar dan gemuk! Entar kamu jadi nggak tertarik lagi!" kata Jasmine. Mario langsung merangkul gadis itu sambil menggodanya. "Memangnya aku ada indikasi seperti itu?" tanya Mario sambil senyum-senyum. "Ya kali aja. Cowok kan rata-rata gitu. Kalau ceweknya udah jelek pasti deh ngelirik cewek lain. Kamu past
Sungguh, Pak Purba sangat ketakutan. Sepertinya pria itu merasa sangat bersalah kepada Ana. Lebih-lebih semua teman-teman yang turut melecehkan Ana sudah meninggal semua. Tinggal Pak Purba yang masih hidup sampai sekarang, itu pun ia mengalami penyakit yang aneh saat kadang kambuh kadang sembuh. Kepala pria itu mengalami cidera ringan akibat pukulan botol di kepalanya oleh Ana ketika wanita itu dipaksa melayani empat orang pria. Ya, Pak Purba dan ketiga temannya menggilir Ana sampai wanita itu tak sadarkan diri dan Pak Purba lah yang paling banyak melakukan pelecehan. Sekarang, penyesalan menimpa dirinya. Ia sering merenung dan sangat berdosa pada Ana. Bahkan ia sempat ingin meminta maaf pada wanita itu dan bertaggung jawab lantaran wanita itu diketahuti mengandung setelah kejadian perkosaan itu. Tapi sayang, Ana sudah keburu meninggal dunia dan Pak Purba belum sempat meminta maaf padanya. Hanya saja yang ia ketahui Ana melahirkan anak perempuan hasil perkosaan itu yang kini enta
Di saat Mario dan Jasmine belum pulang. Nyonya Ratih mengajak keluarga Cerry untuk ketemuan. Sepertinya wanita itu sedang merencanakan sesuatu untuk mendekatkan Mario dengan Cerry. Ya, wanita itu membicarakan tentang perjodohan Mario dan Cerry. Sepertinya Nyonya Ratih sangat antusias untuk segera menikahkan Mario dengan Cerry yang merupakan anak seorang pengusaha kaya raya. "Selamat siang, Nyonya Ratih. Senang bisa bertemu dengan Anda!" ucap seorang pria kepada Nyonya Ratih. Pria itu bernama Pak Purba, pemilik beberapa perusahaan di kota itu. "Siang juga, Pak Purba!" jawab Nyonya Ratih. "Mari, silakan duduk!" seru Pak Purba. "Terima kasih!" Lantas, Nyonya Ratih segera membucarakan rencananya untuk segera mempercepat pertunangan Mario dan Cerry agar dirinya punya alasan untuk memisahkan Jasmine dan Mario lantaran ia khawatir jika Jamsine dan Mario makin dekat mengingat mereka bukan saudara kandung. "Bagaimana kalau bulan depan kita percepat pertunangan mereka? Kebetulan
Juki hampir saja keceplosan. Pemuda itu segera meralat jawabannya pada pelanggan setianya."Eh maaf, maksudnya saya sedang sibuk bikin sate di rumah Tante Nadine. Jadi, mohon dimaklumi. Besok saya udah jualan lagi kok!"Akhirnya pelanggan Juki mengerti. Pemuda itu hampir saja mengatakan sesuatu yan
"Ba-baik, Tante!" jawab Juki. Nadine sendiri juga bingung. Sungguh, wanita itu nampak gusar seolah ia juga sangat gugup."Ya ampun, bisa kah aku melakukannya? Aku takut sekali. Hah, kalau saja Oma nggak maksain aku buat punya anak. Aku nggak bakalan ngelakuin hal gila kayak ini. Apalagi sama cowok
Nadine memutar bola matanya mendengar ucapan Juki.“Nggak akan pernah! Membayangkannya saja aku udah ilfeel. Jadi jangan berpikir aku bakal ketagihan, dihh!” sahut Nadine dengan ketus.“Ya sudah terserah, Tante. Buruan pegangin! Lagipula saya juga belum tentu bisa tegang dielus-elus sama Tante. Say
Sepertinya Juki harus memberikan pengertian kepada Nadine bahwa itu bukanlah ular. "Ohhh, ini bukan ular, Tante. Tapi ini yang bakal bikin Tante hamil. Kalau nggak ada ini, ya gimana saya bisa transfer benih ke rahim Tante, masa lewat sedotan?!" kata Juki dengan entengnya.Akhirnya Nadine baru men







