เข้าสู่ระบบNyonya Emma langsung terlihat panik. Wajahnya tampak pucat seperti buah semangka yang pudar warna merahnya. "Memang begitu kan, Oma? Untuk apa kita menutup-nutupinya lagi. Jika ini adalah sebuah fitnah, maka aku pasti akan ngomong yang sebenarnya bahwa Kak Jasmine dan Kak Mario bukanlah saudara kandung. Biar jelas sekalian, nggak ada lagi yang difitnah!" lanjut Emma dengan lantang di tengah-tengah ruangan. Pak kepala sekolah pun langsung mengonfirmasi pada Nyonya Ratih apa benar yang diucapkan oleh Emma itu. "Apa benar itu, Nyonya? Jasmine bukan adik kandung Mario?" tanya kepala sekolah dengan penuh selidik. Nyonya Ratih enggan menjawabnya. Wanita itu tampak gelisah harus menjawab apa. Sedangkan ia ingin sekali membuat Jasmine malu karena gadis itu sudah sangat merepotkan keluarganya. "Emmm sebenarnya...!" Nyonya Emma sangat susah untuk berterus terang. Semua sedang menunggu jawabannya. Tapi wanita itu masih enggan dan terlihat membingungkan. Kepala sekolah terus mendesak agar
Semuanya menoleh dan terkejut dengan kedatangan Pak Purba yang tiba-tiba. Tak terkecuali Jasmine."Pak Purba!" seru gadis itu. Ia tak menyangka bisa bertemu dengan laki-laki itu di sekolah. Lantas, ada apa pria itu datang ke sana dan tiba-tiba saja masuk ke ruangan kepala sekolah dengan berani.Pak kepala sekolah dan guru lainnya tampak memberikan salam dan hormat pada laki-laki itu. Sepertinya Pak Purba adalah orang penting di sekolah itu."Pak Purba, selamat siang, Pak." Kepala sekolah menyalami pria itu dan tampak panik. Karena kedatangan Pak Purba berbarengan dengan kejadian yang tidak diinginkan.Guru-guru lainnya pun ikut menyalami pria itu. Bagitu juga Nyonya Ratih. Justru wanita itu terlihat lebih bangga saat Pak Purba tiba lantaran sebentar lagi pria itu akan menjadi besannya."Eh, Pak Purba. Kok Anda ada di sini?" tanya Nyonya Ratih seraya menghampiri pria itu. Di sisi lain Jasmine cuma menatap dari kejauhan dengan tatapan dendam dan penuh kecewa. Seetinya Pak Purba meliha
Nyonya Ratih langsung naik pitam mendengar ucapan dari Pak kepala sekolah. "Benar, Nyonya. Kami dapat laporan jika Jasmine dan kakaknya terlibat hubungan yang tidak sehat. Lebih mirisnya lagi, para siswa semuanya sudah tahu. Saya khawatir masalah ini akan membuat nama baik sekolah kita menjadi buruk. Jadi saya ke sini meminta penjelasan Nyonya mengenai hal ini, karena Nyonya adalah keluarga mereka!" kata kepala sekolah lagi.Nyonya Ratih masih terdiam. Namun hatinya sangat ingin mengumpat dan mengadili Jasmine. Tapi ia harus bersikap tenang agar kepala sekolah tidak mengecap dirinya sebagai nenek yang kejam."Oh, iya, Pak. Sebenarnya saya sangat menyayangkan ada masalah seperti ini. Namun perlu Bapak kepala dan guru-guru ketahui, Jasmine dan Mario adalah cucu saya, jadi tidak mungkin mereka punya hubungan aneh-aneh. Itu cuma gosip murahan saja dan sangat tidak penting. Mungkin saja foto itu cuma kebetulan saja. Saya yakin itu pasti fitnah!" jawab Nyonya Ratih.Kali ini Jasmine merasa
Semuanya menoleh ke arah Pak kepala sekolah. Sepertinya Emma juga dalam masalah besar. Namun Emma tak peduli, baginya ia sudah puas membalas ucapan Iwan yang menghina sang Kakak. "Emma! Ke rungan Bapak sekarang juga!" titah Pak kepala sekolah. Tanpa ragu sedikit pun Emma mengikuti perintah kepala sekolah. Di sisi lain Iwan segera dibawa ke ruang UKS untuk mendapatkan pertolongan pertama. Kini, kedua gadis adik Mario berada di ruang kepala sekolah. Jasmine terkejut melihat keadatangan sang adik di ruangan itu. "Emma!" serunya dengan tatapan kaget. Emma berdiri di samping Jasmine dengan dikelilingi oleh guru BK dan kepala sekolah. "Astaga! Apa yang terjadi pada dua gadis ini. Kalian berdua telah membuat masalah di hari yang sama. Satunya kasus foto mesum dan satunya kekerasan. Benar-benar hebat anak-anak Pak Julian ini, sepertinya kita harus mendatangkan orang tua mereka!" sindir Bu Vero sebagai guru BK. Emma langsung menyahuti perkataan sang guru karena kedua orang tuanya sedang
Jasmine sangat bersedih lantaran Dinda adalah teman sebangkunya yang selama ini sangat dekat dan baik padanya. Dinda menatap Jasmine dengan sinis. "Sorry, Jasmine. Aku bicara sesuai fakta. Kamu yang bikin kami kecewa. Aku nggak ngangka kamu melakukan hal serendah ini. Apa yang ada dalam pikiranmu sampai-sampai Kakakmu sendiri kamu embat. Kayak nggak ada cowok lain aja, kenapa harus Kak Mario? Dia itu saudara kamu, Jasmine! Bisa-bisanya kamu suka sama Kakak sendiri, jijik tahu, nggak!" "Tapi itu nggak benar!" sahut Jasmine membela diri. "Nggak benar katamu! Foto itu sudah sangat jelas, Jasmine! Itu foto kamu sama Kak Mario. Foto kalian itu udah menunjukkan bukti jelas jika kalian itu ada hubungan dan aku yakin banget sebenarnya kamu kan yang ganjen! Kalau bukan kamu yang merayu Kak Mario, mana mau dia mau-mau aja sama kamu, dasar ceek murahan!" lanjut Dinda. "Enggak! Itu nggak benar!" teriak Jasmine dengan keras di ruangan itu sehingga membuat kepala sekolah membentak gadis it
"Papa! Papa lebih belain gadis itu daripada aku anak Papa? Papa nggak sayang lagi ama aku!" sahut Cerry tak menyangka. Oak Purba terlihat panik san ia harus bisa membuat Cerry faham. Ia tahu sang anak pasti cukup susah menerima jika ia mengatakan yang sebenarnya. "Cerry, dengarkan, Papa! Papa nggak bermaksud bicara begitu, jangan salah paham dulu!" jawab Pak Purba. "Terus tadi itu apa! Ya udah Papa pergi saja ke sekolah dan bela itu anak sialan!" Emosi Cerry tak terkendali. Entah sebenci apa gadis itu pada Jasmine. Pak Purba sebisa mungkin memberikan penjelasan pada Cerry agar gadis itu bisa mengerti dan tidak menghakimi Jasmine lagi. "Dengar, Sayang! Jasmine adalah perempuan sama seperti kamu. Apa kamu tidak punya empati sedikit pun kepadanya? Jangan terlalu percaya dengan ucapan Nyonya Ratih karena semua itu belum tentu benar. Kita belum tahu apa kata Pak Juian dan istrinya karena mereka berdua yang membawa Jasmine ke rumah dan membesarkannya. Tidak mungkin mereka begitu saj
Nadine memutar bola matanya mendengar ucapan Juki.“Nggak akan pernah! Membayangkannya saja aku udah ilfeel. Jadi jangan berpikir aku bakal ketagihan, dihh!” sahut Nadine dengan ketus.“Ya sudah terserah, Tante. Buruan pegangin! Lagipula saya juga belum tentu bisa tegang dielus-elus sama Tante. Say
Sepertinya Juki harus memberikan pengertian kepada Nadine bahwa itu bukanlah ular. "Ohhh, ini bukan ular, Tante. Tapi ini yang bakal bikin Tante hamil. Kalau nggak ada ini, ya gimana saya bisa transfer benih ke rahim Tante, masa lewat sedotan?!" kata Juki dengan entengnya.Akhirnya Nadine baru men
Juki hampir saja keceplosan. Pemuda itu segera meralat jawabannya pada pelanggan setianya."Eh maaf, maksudnya saya sedang sibuk bikin sate di rumah Tante Nadine. Jadi, mohon dimaklumi. Besok saya udah jualan lagi kok!"Akhirnya pelanggan Juki mengerti. Pemuda itu hampir saja mengatakan sesuatu yan
"Aduhhh, susah amat nusuknya, alot bener nih daging sampai pegel tangan!" Juki menggerutu saat ia sedang menusuk daging kambing yang teksturnya cukup keras. Seperti biasa Juki selalu membuat puluhan tusuk daging sapi dan kambing untuk dagangannya sebagai tukang sate. Namun tiba-tiba... "Daripada







