ANMELDENJantung Evelyn berdegup kencang saat ia berdiri mematung di depan pintu kaca putih ruang kerja CEO ruangan daddynya sendiri. Ia meremas kedua tangannya, mencoba mengumpulkan sisa keberanian untuk melangkah masuk.“Kenapa?” Tanya Dafa pelan ia merasa heran kenapa Evelyn diam seperti patung.“Emm enggak kok gak apa-apa ayo masuk,” ucapnya.TokTokTokPintu kaca itu berayun terbuka, menampilkan sosok pria muda dengan setelan jas yang tampak sangat rapi. Ia adalah Willy, asisten pribadi sang CEO.“Silahkan nona,” ucap Willy mengangguk sopan ia juga turut menyapa Dafa dan Dafa membalas dengan senyuman tipis.Evelyn melangkah masuk lebih dulu dengan Dafa yang mengekor di belakangnya. Di balik meja besar itu, ia mendapati daddynya tengah bergelut dengan tumpukan berkas, lengkap dengan kacamata yang bertengger manis di hidung mancungnya.“Dad,” panggil Evelyn.“Hmm,” jawab Daddy Jason tanpa menoleh.“Aku membawa asistenku,” ucap Evelyn.Goresan pena di atas kertas itu mendadak terhenti. Dadd
Suara sepatu hak Evelyn berdentum keras di atas lantai marmer putih, berpacu dengan napasnya yang memburu. Tanpa memedulikan tatapan heran para karyawan yang berpapasan dengannya, ia terus memacu langkah menuju lobi. Jarang sekali mereka melihat putri pemilik perusahaan itu kehilangan ketenangannya seperti sekarang.Evelyn menghentikan langkahnya sejenak saat melihat Dafa dari kejauhan. Pria itu berdiri menyamping dengan postur tegak, terbalut pakaian formal yang sangat rapi.“Itu Dafa,” ia berjalan dengan iringan senyum tipis diwajah cantiknya ia tak menyangka bahwa Dafa benar-benar menepati janjinya.Evelyn mengernyit dari kejauhan ada sesuatu yang salah. Dafa tampak terlibat konfrontasi sengit dengan sekuriti dan resepsionis yang berjaga. Rasa ingin tahu sekaligus cemas membuat Evelyn memacu langkahnya lebih lebar, mengabaikan rasa lelah di kakinya demi mencapai sosok pria itu.“Ada apa ini?” Suara Evelyn yang jernih namun dingin seketika memecah ketegangan di antara mereka. Seluru
Klik! Kayla memutus sambungan telepon itu dengan kasar sebelum mamanya sempat menyelesaikan kalimat. Ia melempar ponselnya ke atas kasur, napasnya memburu dengan dada yang terasa sesak. Rasanya sia-sia bicara dengan seseorang yang tidak pernah mau mengerti posisinya. “Mama bener-bener keterlaluan harusnya dia bantu aku supaya Dafa maafin aku, bukan malah ngomong ngalor ngidul gak jelas emang gampang apa bisa dapetin laki-laki kaya,” Suara gerutuan tertahan keluar dari sela bibir Kayla. Ia bersungut-sungut menahan kesal, menghentakkan kakinya ke lantai dengan geram. “Aduhh aku harus gimana dong sekarang, tabungan udah menipis sedangkan Cakra udah satu minggu ini gak kirimin aku uang,” Ia terduduk di pinggir ranjang, menatap kosong pada dompetnya yang mengempis. Rasa bersungut-sungutnya tadi kini berganti menjadi rasa dingin yang merambat di punggung. “Kayaknya aku harus telepon Dafa lagi, siapa tahu aja tadi malem dia lagi kesal. Sekarang pasti pikiran dia lebih dingin,” Kayla m
Semalaman Kayla tidak bisa memejamkan mata dengan tenang. Pikirannya begitu kalut hingga fajar menyapa, menyisakan lingkar hitam di bawah matanya dan rasa pening yang menusuk kepala. “Sshh, ini gila ini bener-bener gila,” Ia merintih pelan, jemarinya menekan pelipis yang terus berdenyut, sementara kata-kata keluar dari bibirnya dengan nada yang nyaris tak terdengar. “Mama… iya aku harus telepon mama,” Dengan gerakan yang sedikit tergesa, tangan Kayla terulur menyambar ponsel yang tergeletak di sampingnya. Butuh waktu beberapa detik hingga nada sambung itu berhenti. Begitu panggilan tersambung, suara yang sangat ia kenali terdengar. “Halo Lala?” ucap Mama. “Ma…” Suara Kayla terdengar sangat kecil, nyaris menyerupai rintihan yang tertahan. Nada bicaranya yang lemas itu seketika membuat Mama terkejut di ujung telepon.“La, ada apa? Kenapa suara kamu beda?” Suara mama Kayla terdengar panik.“Ma tolong aku, tolong Kayla mas Dafa…” suara isak tangis yang terdengar dari ujung telepon.
Susunlah kalimat dibawah ini Evelyn hanya tersenyum senyum melihat wajah kesal dafa sedikit ada rasa lega dihatinya karena sudah menemukan pria itu. “Kenapa malah senyum aku nyuruh kamu pulang,” tegasnya lagi.“Aku gak mau pulang kalau kamu masih disini,” ucap Evelyn santai.“Ck! Bener-bener,” gumam DafaEvelyn mengalihkan pandangannya pada embung malam itu. Suara jangkring ramai bersahutan, sementara cahaya bulan menyorot permukaan air yang tenang.“Tapi disini asyik juga, sepi dan menenangkan,” Evelyn duduk di kursi besi itu. Ia menyandarkan punggungnya, menutup mata, dan menghirup dalam-dalam aroma malam itu.Dafa mengambil tempat di samping Evelyn, meski masih memberi jarak. Tanpa ia sadari, tatapannya tertuju pada wajah Evelyn dari samping lama dan lekat.“Cewek ini, apa dia sengaja cari aku malam-malam? Tapi…” gumam Dafa dalam hati.Tepat ketika Evelyn akan membuka mata, Dafa segera membuang muka, berpura-pura menatap arah lain.“Dafa,” panggil Evelyn.“Hmm,” jawabnya.“Are yo
“Apa aku cari Dafa aja, ya?" Evelyn bergumam lirih. Jemarinya saling meremas kuat, sementara langkah kakinya tak bisa diam, mondar-mandir memenuhi ruangan dengan ritme yang kacau.Tatapan Evelyn tertuju pada jam dinding pukul sepuluh malam. Ia bimbang. Keluar rumah jam segini adalah tiket gratis menuju kemarahan Daddynya. Namun, rasa cemas yang merayap di dadanya jauh lebih menakutkan daripada omelan sang ayah. Ia tidak bisa hanya duduk diam.“Enggak gak bisa aku harus cari Dafa.”Akhirnya tubuh Evelyn melebur dengan kegelapan malam saat ia menyelinap menuju garasi. Setiap langkahnya penuh perhitungan, menghindari sorot lampu taman agar tak tertangkap radar para security. Jantungnya berdegup kencang, berpacu dengan keberanian yang dipaksakan.Begitu mesin mobil menderu hidup, keheningan malam pecah seketika. Suara itu langsung memancing perhatian para security di area taman. Tanpa membuang waktu, mereka meraih HT dan melapor dengan nada sigap kepada penjaga gerbang utama.TokTokEvel







