로그인Malam itu, sesuai rencana Damar, sebuah pertemuan besar diadakan di kediaman utama Tuan Hardian. Ruang makan yang luas itu terasa seperti medan perang. Tuan Hardian duduk di kepala meja dengan wajah kaku seperti patung, sementara Reno duduk di sisi kanan dengan senyum kemenangan yang belum pudar dari wajahnya. Riana juga hadir, duduk bersandar dengan gaya provokatif.Damar masuk ke ruangan itu dengan langkah tegap, namun yang mengejutkan semua orang adalah sosok di sampingnya. Kiara berjalan dengan dagu terangkat, mengenakan gaun hitam yang elegan dengan syal biru laut milik Lela tersampir di bahunya. Ia tidak lagi tampak seperti gadis desa yang rapuh; ia tampak seperti seorang nyonya besar yang siap mempertahankan wilayahnya."Ah, pahlawan kita sudah datang," sindir Reno, matanya berkilat saat melihat map yang dibawa Damar. "Dan dia membawa beban tambahannya. Berani sekali kamu muncul di sini, Kiara."Kiara tidak membalas. Ia duduk di kursi yang ditarikkan oleh Damar, menatap Reno te
Lampu-lampu kota Jakarta yang berkilauan di balik jendela mobil tampak seperti garis-garis cahaya yang buram di mata Kiara. Meskipun genggaman tangan Damar di atas jemarinya terasa hangat dan nyata, ada rongga besar yang mendadak tercipta di ulu hatinya. Rasa bersalah itu datang terlambat, namun menghantamnya dengan kekuatan yang melumpuhkan.Ia teringat betapa kasarnya ia memperlakukan Damar beberapa jam lalu. Betapa ia telah membiarkan amarah membutakan logikanya, hingga ia nyaris kehilangan satu-satunya pria yang benar-benar berkorban untuknya."Mas..." bisik Kiara, suaranya parau karena sisa tangis.Damar menoleh, sorot matanya yang tajam melunak seketika. "Ya, Sayang? Ada yang sakit?"Kiara menggeleng pelan. "Aku... aku minta maaf. Aku sudah menjadi pengecut dengan melarikan diri ke desa tanpa menunggumu bicara. Aku membiarkan Riana dan Reno menang karena emosiku sendiri. Harusnya aku percaya padamu sejak awal."Damar menarik napas panjang, lalu mengecup punggung tangan Kiara tan
Damar mengabaikan amarah ayahnya. "Ada apa, Pa?"Ekspresi Tuan Hardian melunak, namun matanya masih tajam. "Reno... dia kembali. Dan dia datang bukan dengan tangan kosong.""Apa maksud Papa?" tanya Damar, firasat buruk merayap di benaknya."Dia memiliki rekaman dan foto-foto rahasia rumah tanggamu. Dia mengancam akan membocorkannya ke media jika kamu tidak menyerahkan jabatanmu padanya ."Dunia Damar terasa runtuh. Ia terkejut, tidak percaya. "Rekaman apa? Kenapa Reno punya itu? Bukankah selama ini dia ada di luar negeri?""Dia mengaku mendapatkan semua itu dari seseorang di dalam perusahaan. Tapi aku yakin itu ulah ibunya, Indri yang selalu berambisi anaknya mendapat jabatan penting di perusahaan." Tuan Hardian mengepalkan tangan. "Papa tidak pernah menyetujui cara mereka, tapi sekarang… kita di posisi yang sulit. Perusahaan kita bisa hancur jika dia melakukannya. Saham kita sudah anjlok sejak berita ini tersebar di kalangan investor.""Papa tahu keluaga Reno sangat licik, Pa! Perusa
Dunia Tiara kembali hancur berkeping-keping. Pemandangan pegunungan yang tadinya menenangkan kini terasa mengejek. Ia merasakan kebodohan yang menyakitkan. Bagaimana bisa ia sebodoh itu, kembali menumbuhkan harapan pada janji yang diucapkan tergesa-gesa di tengah jalan? Kata-kata Damar, "Aku akan kembali," terasa kosong dan hampa, sama seperti mobilnya yang kini hanya menyisakan debu.Tiara bangkit perlahan, kakinya terasa berat seperti dibebani timah. Ia tidak bisa tinggal di sini, menunggu janji yang mungkin tidak akan pernah ditepati. Kebingungan dan rasa sakit yang sama persis seperti enam bulan lalu kembali menyelimuti dirinya. Hatinya menuntut kejelasan, namun akalnya menyuruhnya lari. Kali ini, ia memilih untuk menghadapinya. Jika Damar memilih Lela, ia akan menerima kenyataan itu. Jika tidak, ia akan menuntut penjelasan yang sesungguhnya. Ia akan kembali ke Jakarta.Di saat yang sama, Damar duduk gelisah di kursi belakang mobilnya, menelepon berkali-kali namun tidak ada jawaba
Fajar menyingsing, memercikkan jingga keemasan di ufuk timur. Tiara memandang deretan pegunungan yang tampak seperti lukisan, siluetnya berpadu dengan kabut tipis yang masih enggan beranjak. Kalimat singkat yang ia kirimkan pada Damar terasa seperti batu yang baru saja dilepaskan dari dadanya, ringan sekaligus membebani. Apakah ia terlalu cepat? Ataukah justru terlambat?Suara gemerisik daun kelapa yang tertiup angin pagi mengisi keheningan. Tiara memutuskan untuk berjalan-jalan kecil di sekitar desa, menghirup udara pegunungan yang segar. Langkah kakinya membawanya menyusuri jalan setapak berbatu, melewati sawah terasering yang hijau membentang bagai permadani. Aroma tanah basah dan embun pagi menenangkan jiwanya yang bergejolak.Saat melewati sebuah warung kopi sederhana, Tiara mendengar sayup-sayup obrolan dari dalam. Sesuatu tentang “wanita kota” dan “pria mencari” menggelitik telinganya. Jantungnya berdesir. Ia mempercepat langkah, mencoba mengabaikan rasa penasaran yang menusuk.
Malam datang dengan sunyi yang menyesakkan. Di rumah kecil yang hanya diterangi lampu gantung temaram, Tiara masih belum juga bisa memejamkan mata. Putri semata wayangnya sudah tidur sejak dua jam lalu, tapi gelisah dalam dada sang ibu terus bergejolak. Sudah hampir enam purnama ia pergi dari rumah. Meninggalkan semua kenangan buruk yang membuatnya memutuskan untuk menghilang dari kehidupan suaminya. Hingga saat ini tak ada sedikit pun kabar dari rumah. Bahkan Tiara yakin suaminya kini sedang sibuk mengurusi istri satunya. Mengingat wanita yang mengaku bernama Lela itu sedang sakit parah, Tiara meyakini lelaki yang pernah membuatnya seperti dicintai dengan sangat itu mencarinya hanya karena rasa bersalah dan takut kehilangan. Kehilangan cinta dan wanita yang memujanya.Tiara duduk di tepi ranjang, memeluk lututnya. Tubuhnya bersandar pada dinding, dan pandangannya menerawang ke jendela yang tak tertutup rapat. Di luar sana, suara jangkrik bersahutan, menyelimuti malam dengan irama al







